Pengalaman Menghadapi Kista Ovarium Tanpa Operasi

by - Oktober 26, 2017

Hasil USG rutin setiap bulan
Ada yang punya pengalaman memiliki penyakit kista ovarium? Bagi perempuan yang peduli dengan kesehatan, mendengar kata kista mungkin bukan hal yang asing, tapi bagi aku kista adalah sesuatu yang tabu, tabu banget. Sampai pada akhirnya aku memiliki pengalaman dengan penyakit kista ovarium yang membuat aku belajar banyak. Makanya aku mau berbagi pengalaman pribadiku ketika satu tahun yang lalu aku mengidap kista. Lebih tepatnya kista ovarium.

Saat itu usiaku 21 tahun, belum menikah tapi memiliki penyakit kista. Kok bisa? Dulu aku cuma tahu kalau kista hanya menyerang perempuan yang sudah menikah, ternyata salah. Sebelumnya aku kenalkan dulu ya sama yang namanya Kista Ovarium. Kista ovarium merupakan sebuah kantung berisi cairan yang berkembang pada ovarium (indung telur wanita). Ovarium merupakan organ yang menghasilkan sel telur serta hormon estrogen dan progesteron. Kerja ovarium dipengaruhi oleh hormon dari kelenjar pituitari dan hipofisis di otak. Singkatnya, gangguan hormon tersebut akan mengganggu fungsi ovarium sehingga menyebabkan penimbunan folikel sel telur yang tidak sempurna. Nah folikel tersebut gagal mengalami pematangan dan melepaskan sel telur, namun justru terisi cairan dan membentuk kista.

Pengalamanku memiliki penyakit Kista Ovarium berawal dari hobi minum kopi dan susah makan nasi, akhirnya tubuhku tumbang. Maklum sih, waktu itu lagi ada something yang bikin pusing. Alhasil berdampak dengan pola hidupku, dasarnya memang susah makan ketambah lagi suka begadang akhirnya beneran tepar.
Dulu zaman hidup di kos-kosan, kebetulan malam itu aku menginap di salah satu kos temenku, sebut saja namanya cabe. Ceritanya kita pulang kemalaman, kosku tutup jam 21.00 wib, nah kebetulan kos cabe nggak ada tutupnya tuh. Ya sudah akhirnya tidur di kosan dia. Baru merem beberapa menit, tiba-tiba perutku sakit banget, banget, banget, banget. Nggak bisa ditahan, keringat panas dingin mulai datang. Aku berusaha memanggil cabe yang tidur bersebelahan denganku. Dia kebingungan, bener-bener panik liat kondisiku yang saat itu hampir tidak sadarkan diri. Aku dilarikan ke RS WijayaKusuma Purwokerto, sesampai di sana aku disuruh opname oleh dokter, tapi aku bocah ngeyel yang suka nurutin keinginan sendiri. Aku menolak perintah dokter untuk opname. Kata dokter diagnosa awal, asam lambungku naik jadi antara maag dan gejala tifus gitu *menurutku paling juga gara-gara begadang tiap hari, nggak pernah makan nasi, minumnya kopi. Hmmm

Beberapa jam kemudian kondisiku sudah membaik setelah minum obat dari dokter, akhirnya aku memutuskan kembali ke kosan cabe. Sakit perutku sudah membaik, esok harinya aku bisa berangkat kuliah jam 7 pagi. *Sok strong bangget nggak sih

Naah, baru jam 9 pagi sakit perutku kambuh lagi, sakitnya itu beneran sakit banget. Nggak bisa ditahan, bisanya cuma nangis sampai sesenggukan. Aku telpon ibu meminta untuk dijemput pulang, dua jam perjalanan Banjarnegara – Purwokerto ibuku langsung membawaku ke RS Goeteng Taroenadibrata Purbalingga, ternyata ruang opname di RS Goeteng Taroenadibrata penuh. Pindah ke RS Nirmala dan RS Harapan Ibu Purbalingga pun sama nggak ada ruangan kosong, saking mangkelnya semua rumah sakit di Purbalingga penuh, akhirnya aku memutuskan pulang karena perutku juga udah kaya biasa lagi. Ajaib deh, kambuh-sembuh-kambuh-sembuh.

Sesampainya di rumah, aku merasakan sehat kembali. Selang beberapa jam, kambuh lagi. Sebenarnya penyakit apa sih, ngeselin banget kan. Aku dibawa ke RSI Bawang Banjarnegara, diagnosanya adalah radang usus. Kata dokter ususku ada yang luka, ya salaaaam ngeri banget kan usus sampai luka gitu karena susah makan.
Setiap tiga jam sekali, sakit perutku kambuh. Sakitnya nggak bisa kompromi banget, dari ujung rambut sampai ujung kaki udah nggak merasakan apa-apa ketika sakit perutnya kambuh.

Setiap kambuh disuntikan cairan ke dalam selang infusku, antara pegel dan adem banget rasanya perlahan masuk ke darahku dan abakadabrah nunggu 10 menitan obatnya langsung bereaksi. Aku pikir beneran udah sembuh, tapi ternyata setiap tiga jam sekali kambuh dan mesti mendapat suntikan itu.

Pegeeeel banget. Entah berapa kali suntikan itu masuk ke tubuhku.
Aku ditangani oleh dokter spesialis dalam, empat hari di RSI Bawang Banjarnegara menurutku nggak ada perubahan, tapi dokter mengatakan kalau kondisi ususku sudah bagus dan sudah dibolehkan pulang. Ya gimana mau pulang doooook, perutku aja bentar-bentar sakit!!!

Pagi harinya kata ibu, aku mau di USG. What? USG? Aku nggak hamil kali, lelucon apalagi ini. Aku kudet banget asli, aku cuma tahu kalau USG ya untuk cek kehamilan. Ternyata fungsi dari USG itu cukup luas, karena ultrasonografi (USG) merupakan alat bantu pemeriksaan dengan menggunakan gelombang suara untuk dikonversi menghasilkan gambar yang dapat membantu dokter mengetahui apa yang ada di dalam tubuh manusia.

Oke fix, pagi-pagi aku siap di USG. Jam 6 pagi aku disuruh puasa nggak makan apa-apa, tapi disuruh menghabiskan air putih 2 liter. Yaaah ketemu air putih lagi, mual banget. Dasarnya nggak suka minum air putih sih.
Jam 9 pagi aku didorong menggunakan kursi roda menuju ruang USG, masuk ruang USG langsung nyessss, takut, deg-degan dan ah rasanya parno banget. Maklum lah belum pernah melakukan USG sebelumnya cuma lihat di sinetron-sinetron doang. Aku disuruh rebahan lalu perutku dikasih cairan dingin, nggak tahu cairan apaan. Selang beberapa menit alat USG menempel diperutku. Terdapat layar yang menampilkan isi perutku, tapi aku nggak mudeng blas apa yang ditampilkan layar monitor itu. Sekitar 10 menit perutku dijelajah oleh alat mungil itu, lalu perawat menuntunku kembali ke kursi roda dan didorong menuju ruangan opnameku.

Siang hari hasil USG keluar, bapak ibuku dipanggil ke ruang perawat. Aku sih tenang-tenang aja, nggak khawatir sama sekali tapi nggak nyangka juga ibu bapakku kembali ke ruanganku dengan mata berkaca-kaca. Ibuku mencium keningku dengan penuh kasih sayang, lalu bapakku menatap mataku dengan tatapan yang layu. Kata ibu aku harus kuat, kata bapak aku harus sembuh. Lah dalam hatiku, aku bertanya, aku sakit apa? Kok dramatis banget ya, eh ternyata aku sakit kista. Ada kista ovarium 4 cm di dinding rahimku. 

Gelap sudah hidupku, antara percaya dan nggak percaya. Aku harus gimana? Terus aku mesti ngapain? Aku nggak tahu kista itu apa, apa bahayanya, apa efeknya kalau dinding rahimku ada kista.

Nggak banyak mikir aku langsung mengetik "KISTA" di google, muncullah berbagai artikel mengenai kista. Aku baca satu-satu dengan mata basah, bukan karena takut dengan penyakit kista ini. Tapi justru karena aku merasakan kekhawatiran bapak ibuku. Hari keenam di RSI Bawang Banjarnegara aku dipindah ke ruang kebidanan, 48 jam dipantau oleh para perawat.
Pagi harinya ketemu dengan dokter spesialis kandungan terbaik di Banjarnegara, beliau adalah dokter Haryata. Pagi harinya dokter Haryata berkunjung ke ruanganku, stetoskop langsung ditempelkan ke perutku, beliau kurang lebih nanya begini “sakit nggak mbak?” Aku jawab, “nggak dok” lalu asistennya menyerahkan rekam medisku kepada dokter Haryata. Setelah membuka rekam medisku dokter Haryata memasang muka kaget, dengan nada agak aneh beliau bergumam “4 cm” lalu memeriksa perutku kembali, beliau mengulang pertanyaannya dengan nada heran “beneran nggak kerasa sakit?” Aku cuma menggelengkan kepala, ya gimana ya. Aku bingung, wong ditanya ya aku jawab jujur aja. 

Eh ternyata beliau baru saja mengoperasi pasien kista ovarium yang berukuran 2 cm. Pasien tersebut sudah tidak bisa beraktivitas seperti biasa karena kista dengan ukuran 2 cm ada di dinding rahimnya. Lah kistaku 4 cm tapi aku biasa aja kalau lagi nggak kambuh, malah masih bisa naik gunung, ngcamp di pantai, haha hihi sama temen-temen, begadang tiap malem. Duh, aku kok nggak peka banget ya sama tubuhku sendiri. *jangan ditiru ya

Setelah dokter Haryata keluar dari ruanganku, aku justru diomelin bapak ibuku. Dikira udah lama aku ngrasain sakit tapi diem aja dipendem sendiri gitu. Padahal ya biasa aja, ketika menstruasi memang perutku sakit tapi masih bisa aku tahan kok nggak kaya waktu di RS sakit perutnya beneran kaya orang mau melahirkan jabang bayi *eh nggak tahu juga ding. Lha wong aku juga belum pernah melahirkan. Haha

Belum ada perintah dokter untuk mengoprasi kistaku, tapi bapak ibuku sudah berpesan, “nduk jangan mau dioperasi ya, masa depanmu gimana? Kamu belum menikah, kalau nggak bisa punya anak gimana?” justru bapakku yang khawatir banget. Ibuku lebih tenang karena mungkin tahu kalau anak perempuannya nggak bakal mau dioperasi. Kekhawatiran bapak ibuku membuat aku makin sering mencari info tentang kista, tentang operasi kista dan tentang kehamilan. 

Ternyata meskipun kista dioperasi, masih ada kemungkinan kista itu tumbuh kembali. Karena apa? Karena operasi itu ibarat hanya memotong rumput bukan mencabut rumput dan ada kemungkinan rumput itu bakal tumbuh kembali. Ingat juga ya, walaupun kista dioperasi tidak menutup kemungkinan untuk hamil kok, tetap bisa hamil pastinya dengan izin Gusti. Fiyuhhhh, makin galau kan. Harus gimana coba.

Tiba-tiba aku merasa nggak percaya dengan hasil USG di RSI Bawang Banjarnegara, mungkin karena hatiku belum bisa menerimanya. Akhirnya aku pulang dengan perimtaan pulang pasien. Aku pindah ke RSIA Ummu Hani Purbalingga, secara di sana rumah sakit ibu dan anak lebih fokus dalam penanganan penyakit kista. Aku di USG kembali, ternyata memang benar. Ada kista 4 cm di dinding rahimku. Ya sudahlah, pasraaaaaaah. Tetep nggak mau dioperasi kalau memang ada jalan lain.

Nggak cukup di RSIA Ummu Hani Purbalingga, aku memutuskan untuk rutin USG di RSU Santa Elisabeth Purwokerto karena sementara aku tinggal di Purwokerto.

Setelah konsultasi dengan dokter dan diberi segambreng obat untuk mencegah kista tumbuh lebih besar aku benar-benar manut dengan apa kata dokter. 

Nah dari pengalaman pribadiku ini, aku jadi belajar banyak hal tentang penyakit Kista Ovarium. Ada beberapa hal yang mesti kamu lakukan agar terhindar dari penyakit Kista Ovarium seperti berikut ini :
1. Stop makanan yang bermicin, stop jajan yang mengandung micin, stop sayur mayur yang menggunakan micin.
2. Hindari makanan yang menggunakan pewarna makanan, pemanis buatan dan pengawet makanan.
3. Hindari junk food dan makanan cepat saji.
Hindari minuman yang mengandung banyak pewarna, pemanis, dan pengawet buatan. Beneran kudu di stop.
4. Istirahat yang cukup, pola hidup sehat.
5. Hindari stres.
6. Olahraga yang teratur.

Setelah manut apa kata dokter aku rutin USG setiap sebulan sekali, alhamdulillah selama hampir delapan bulan kistaku tidak tampak lagi. Karena benar-benar menjaga pola hidup sehat. Bahaya banget kalau kista sampai pecah, bisa berakibat fatal. Huhuhu

Oya periksa USG untuk mengetahui ada atau tidaknya kista dalam rahim kita, biayanya sekitar Rp 150ribuan belum termasuk obat yang diberikan ya, nggak apa-apa kan menyisihkan uang segitu daripada nunggu parah. Atau yang punya BPJS kesehatan dimanfaatkan aja, biayanya bisa ditanggung oleh BPJS kesehatan.

Pesenku buat kamu yang merasakan gejala-gejala berikut ini segera periksakan diri ke dokter sedini mungkin ya.
1. Sakit perut saat atau ketika menstruasi, sakit perutnya tuh nggak bisa ditahan. Biasanya sampai ke pinggang bagian belakang kaya ketarik gitu. Mau durasi sakitnya sebentar ataupun lama, segeralah ke dokter kandungan daripada berujung fatal
2. Siklus menstruasi tidak lancar
3. Perut kembung
4. Merasa kelelahan dan pusing
5. Sering merasakan mual dan muntah
6. Mudah kenyang padahal kamu baru makan sedikit
7. Nyeri panggul sebelum menstruasi tiba atau sebelum menstruasi berakhir

Untuk perempuan yang memiliki kista ovarium. Jangan gegabah untuk memutuskan operasi ya, intinya berusaha ubah pola hidup dan berusaha nurut apa kata dokter dulu. Pengalaman yang aku dapatkan ini bisa menjadi salah satu contoh penanganan kista tanpa operasi. Semangat untuk kalian para pejuang kista. Jangan takut, jangan khawatir. Yakin saja, kalian pasti akan sembuh. Kista bukan akhir dari segalanya kok, pokoknya semangat berjuang yaaa..

Semoga curhat seriusku kali ini bermanfaat ya. Aamiin

You May Also Like

36 komentar

  1. Iyes bener dan kondisiku lebih parah kistaku pecah di indung telur sebelah kiriku jadi harus secepatnya dioprasi dan pengangkatan indung telur sebelah kiriku karna pendarahan luarbiasa diperutku , sedih berasa mimpi dalam nyata , tapi gimana lagi semua terjadi atas kehendak-Nya , perihal masa depanku itu semua aku serahkan sama allah , luarbiasa rasanya harus menjadi wanita paling kuat diantara yg kuat,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Vind, bersyukur yaaa.. Alhamdulillah masih bisa selamat, sehat sehat kak.. Jaga pola hidup sehat ya.. Jangan sampai kista itu kembali lagi ke tubuh kita😘

      Hapus
  2. dirimu kok "luar biasa" ya? kemarin malah taunya bolak-balik RS karena cek kepala sehabis kecelakaan, eh ini beda lagi.. GWS semoga ke depannya lebih sehat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, aamiin.. iya kemarin cek kepala pasca kecelakaan. Pas ketemu dirimu itu beda lagi. Setelah kena kista daya tahan tubuhku lemah banget. Mesti atur pola hidup sehat, makasih loh kak doanya😁

      Hapus
  3. Ampun dije, gaya hidup sehat emang kunci utama terhindar dr berbagai penyakit, apapun itu.
    kok gak ada yg ngabarin dirimu masuk RS ya. huhuhuuu...

    GWS lah ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin kau terlalu sibuk Mas, maklumlah emg wong sibuk.. Hukhuk
      Aamiin, makasih loh doanya

      Hapus
  4. Alhamdulillah mbak el.. udah gak ada kistanya..

    Jaga kesehatan ya mbak..
    Aku jg jadi belajar sama pengalamane mbak el..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Meiy, yuk jaga kesehatan. Semoga kita selalu sehat ya.. Aamiin

      Hapus
  5. wew alhamdulillah... gak pake operasi.. tapi kebayang si perjuangannya jaga pola makan sehat. ahahah. ada cilok ada ayam kaefsi ada ini itu tapi... gak boleh makan itu... hem.. nyiksa banget.. tp demi sehat ya kak....

    aku pernah tu makan di resto yang ala2 makan hidup sehat gt. pesen yang ada ayamnya... kagak enakkk. ayamnya direbus gt gak ada rasanya. huhuhuhu.. ayamnya gede dan akhirnya gak habis... sedih.... wkwkkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener kak, godaannya nggak nahan banget. Tapi demi sehat, demi sembuh. Diniati untuk hidup sehat, hidupnya anyeb kaya masakan tanpa micin😂

      Hapus
  6. Waah, alhamdulillah ya mbak, enggak harus operasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak.. Alhamdulilah banget.. Makasih sudah mampir ya

      Hapus
  7. Pengalaman yang seru banget ya mbak. Sekaligus menambah wawasan. BTW salam kenal ya :)

    BalasHapus
  8. waaah mbak, perjuangannya bener - bener deh strong banget. terharu :")
    nah yang susah ini nggak jajan sembarangan, masih suka jajan cilok, wkwkwk... sedikit demi sedikit ubah pola makan deh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, udah pernah kena kista juga kadang aku khilaf jajan cilok.. Wkwkwk

      Hapus
  9. La,,ya ampun aku kok jai sedih ya bacanya, aku dulu pernah alami operasi hamil diluar kandungan kan, itu awalnhya sama, sakit oerut kambuh dateng, kambuh, lalu USG biasa ga kliatan, baru deh transvaginal.

    Jangan suka minum kopi mulu ga makan nasi loh, fatal itu. Begadang mulu apalagi, hmm, bikin gemes sih pola hidup anak kos macem gini. Sehat2 la, sehat itu murah, kl sakit yg mahal kan ya. Sehat2 ya :*




    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbakku sayang.. Mbak juga sehat2 ya, emang susah banget jaga pola hidup sehat, apalagi anak kosan😂

      Hapus
  10. Haduh, ngeri ya dengan pola makan yang seenaknya,aku juga doyan kopi, dan makan yang sedap-sedang mbak, maklum, aku juga anak kost, jadi belinya di luar muluk, jarang masak. Semoga aku baik-baik saja, dan semoga kista mbak Ella, gak muncul lagi ya mba. Amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mbak Eka.. Semoga ya, diimbangi dengan olahraga rutin.. Makasih loh doanya😁

      Hapus
  11. Trus sekarang gmna keadaannya?
    tips pencegahannya,semuanya aku bgt sist, paling suka makan fitcin banyak2, jrg olhraga,suka jungfood dll itu.. kyknya kudu ninggalin kebiasaan itu, takut ah kalau smpe kista. serem juga. cepat sembuh sist ella..
    infonya bermanfaat sekali. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah sekarang aku sehat kak.. Iya bener harus dikurangin micinnya, sering olahraga ya.. Sehat sehat ya kak

      Hapus
  12. Wah kalo pengalamanku harus di operasi malah harus di kemoterapi karena sudah besar 20cm dan sudah tumor ganas (kanker). Kalo pengalaman-ku sekalipun disarankan operasi atau tidak, carilah second opinion, pilih dokter senior. Tapi bener banget pola hidup sehat dan management stress berpengaruh banget terhadap kesehatan.

    Semoga kita semua diberi kesehatan ya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kak ngeri banget yaa, bisa sampai 20 cm. Luar biasa perjuangannya. Aamiin, semoga kita semua selalu sehat..

      Hapus
  13. Semoga Mbak Ella sehat selalu. Amin Ya Rabbal Alamin. Makasih curhatannya, bisa jadi pembelajaran untuk kaum hawa secara luas. Yuk dukung GERMAS, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih loh doanya.. Iya harus GERMAS supaya terhindar dari banyak penyakit.. Hhh

      Hapus
  14. Sungguh hebat perjuangan mu mbak, untuk aku yang sebelumnya ga tahu sama sekali apa itu kista.
    Semoga selalu sehat dan dalam lindungan allah mbak, kudu strong 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, aamiin.. Semoga kita sehat selalu yak.. Makasih loh sudah di share😁

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Iya sama sama mbak, di share karena kisah inspiratif banget 😁
      Maaf itu komentar di hapus, soalny salah pakai akun. Ahaha

      Hapus
    4. Wkwkwk.. Iya sip kak, tengkyu yes

      Hapus
  15. Waduh serem juga baca ceritanya Mba, tp dirimu termasuk kuat ya. Hem, bs jadi pelajaran nih buat para wanita, untuk bisa lbh peka terhadap tubuhnya. Semoga Mba Fitri diberi kesembuhan total, dan kistanya gak balik2 lagi. Aamiin ya Robb..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mbak septi, semoga kita semua sehat yaa

      Hapus
  16. Berapa lama itu kistanya sembuh menjalani pola hidup sehat? Rutin chek nya ke rs elisabeth? Kebetulan aku juga kaya gtu.. Blm menikah juga jd suka stress klo kepikiran 😩😩😩😩

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, hampir setahunan wkt itu.. Semangat yaaa, jangan stres2.. Selow aja, bakal sembuh kok.. Yakin aja yak :)

      Hapus
  17. Pke obat apa kak.... ??? Mohon info
    Saya dsini dokter nya smwa nyaranin di oprasi..... Rese bgt dokter nya pingin gampang

    BalasHapus