Kapan Nikah? Kapan Punya Anak? Lha Situ Kapan Mati?

oleh - Februari 22, 2018

Sah? Sah.. Foto Maya dan suami😍
Beberapa bulan yang lalu, teman main saat kecil menghubungiku via telepon. Dia meminta pertimbangan konsep pernikahan padaku. Fufufu, tanpa basa basi aku langsung nyrocos ini itu berlaga seperti sudah pernah melangsungkan pernikahan. Padahal kan, lamaran aja gagal. Mmm... Tenang saudara, tenang! Kali ini aku nggak akan bahas mantan kok *etapi aku nggak yakin ya* hahaha

Tentunya aku ikut bahagia dong, memiliki teman yang akan dipersunting lelaki pujaannya. Hampir empat tahun mereka menjalin hubungan tanpa kepastian, tapi alhamdulillah Gusti memperlihatkan kuasaNya. Hari ini, teman main semasa kecilku resmi menjadi istri orang. Terlihat senyum bahagia menggantung di bibirnya menghiasi wajah ayunya setiap bersalaman dengan para tamu undangan.

Aku menghadiri acara pernikahannya bersama kelima temanku. Hanya tersisa aku yang belum menikah. Tak apa, meski temanku udah ada yang punya dua anak. Hahaha
Etapi ada juga yang belum memiliki keturunan. Punya anak kan katanya rezeki ya, sedangkan yang mengatur rezeki itu Gusti. Pun sama dengan menikah. Jadi ya gimana lagi. *membela diri sendiri*

Kami berlima udah kaya orang yang nggak ketemu bertahun-tahun. Ya memang, kesibukan dan jarak yang memisahkan kami. Setelah menikah mereka memilih ikut suaminya. Jadi maklum ya, saat itu meja kami anget banget bercanda ini itu. Ketika kami sedang asyik berghibah, ada ibu-ibu tetangga komplek menyapa kami. Kami pun mengulurkan tangan bersalaman, ibu tersebut membuka percakapan :

Ibu Komplek : ini mbak Fifi kan? Makin cantik aja ya, kaya masih gadis.

Fifi (temanku) : Nggih bu, makasih.. Ibu juga makin cantik. Saya pangling sama ibu. *sambil senyum*

Ibu : mbak Fifi udah "isi" belum nih? Udah nikah lama lho, nggak baik nunda-nunda punya anak. Teman-temannya aja udah ada yang punya dua anak mbak.

Fifi : doain aja bu. Semoga segera dikasih sama Gusti. *nadanya melirih*

Ibu : iya aamiin, jangan takut gendut atau takut jelek mbak. Punya anak bikin keluarga rame lho. Eh ada mbak ella juga *sambil ngelirik aku* kapan nih mbak ella mau nyusul teman-temannya? Nggak pengin nikah gitu? Dulu denger-denger mau sama orang ***** ya? Kok nggak jadi sih? Kenapa?

Aku : doain aja bu, siapa tahu setelah didoain sama ibu, besok aku nikah. *sambil pasang wajah memelas*

Ibu : besoknya kapan? *sambil ketawa*

Temenku yang lain : eh bu, dicariin sama temannya tuh.

Ibu : oh ya, malah keasyikan ngbrol sama cewek cantik disini. Yaudah ya. *sambil meninggalkan kami dengan muka sumringah*

Aku mung iso mesem. Ajur iki loh atiku. Tapi nggak seajur Fifi yang memang sedang mendambakan buah hati. Kalau aku sih udah kebal dengan pertanyaan kaya gitu, di kantor juga tiap hari diledek. Aku anggap bercandaan aja. Toh hidup, mati, rezeki, dan jodoh udah tertulis di Lauhul Mahfudz. *Yaelah kaya mamah dedeh aja*

Kami pun melanjutkan ghibah yang tadi sempat terhenti gegara si ibu rempong. Masih dengan suasana yang sama, tetapi tidak dengan Fifi yang sedari tadi dicecar pertanyaan perihal anak. Dari pandangannya sudah terlihat kosong. Duh, pertanda mesti cepat pamit pulang dengan penganti nih.

Di perjalanan pulang, aku mengajak Fifi mampir ke rumahku. Akhir-akhir ini dia sering sekali mengutarakan keinginannya untuk segera memiliki anak. Ada satu kalimat yang sering aku dengar darinya sampai aku hafal "kesempurnaan seorang wanita adalah ketika dia bisa mengandung dan melahirkan seorang anak, sedang aku belum bisa laaa". Ya Gusti pangeran. Aku harus jawab apa ya? Harus kasih solusi kaya gimana, lha wong aku sendiri juga belum pernah mengalaminya. Kalau pun aku menasehati untuk bersabar rasanya kok klise banget ya. Nggak tega, karena mengaplikasikan rasa "sabar" itu nggak segampang nggoreng mendoan. :(

Dia dan suaminya udah sering memeriksakan kondisi mereka, udah mencoba melakukan program hamil juga. Tapi ketika gusti belum "kun fayakun" maka manusia nggak akan bisa berbuat apa-apa. Yakan?
Sama halnya dengan kisah Nabi Zakaria yang sudah berpuluh tahun menantikan seorang anak sampai di usia senja, beliau tidak putus asa. Istri beliau pun tidak bisa hamil (mandul), secara logika manusia, mustahil memiliki keturunan kan. Tapi bagi Dia yang Maha Kuasa untuk memberikan apa yang Nabi Zakariya harapkan sangat mungkin. Hingga pada waktunya Gusti mengabulkan doa Nabi Zakariya, dengan lahirnya Nabi Yahya. Ada juga kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Imran yang senantiasa bersabar menanti buah hati hingga berpuluh-puluh tahun.

Beberapa kali aku menceritakan pada Fifi kisah-kisah penantian buah hati. Kadang hanya terdengar suara isak tangis di ujung telepon. Aku juga sering mengingatkan supaya Fifi jangan terlalu stres. Seminggu yang lalu, dia dan suami baru saja ke dokter spesialis kandungan. Dia bercerita dengan pipi basah, bukan karena tidak ada harapan untuk hamil. Tetapi karena tekanan dari orang-orang di sekitarnya. Seperti yang ibu rempong tadi tanyakan, ternyata tadi Fifi menahan air mata sekuat tenaga. Pertanyaan semacam itu hampir terlontar setiap hari, dari tetangga, dari saudara suaminya bahkan dari mertuanya. Ya salaam, kalau aku jadi Fifi nggak tau deh kaya apa rasanya :(

Memang pertanyaan "kapan nikah?" "kapan punya anak?" kerap kali kita dengar. Setelah ditanya kapan nikah, maka selanjutnya pertanyaan yang muncul adalah kapan punya anak. Fffft, rasanya pengin nanya balik ke orang tersebut dengan pertanyaan "situ kapan mati?" hhh *tapi nggak sopan kalau mau nanya begitu, takut kualat*😂
Solusinya kalau ditanya begitu mesti legowo, jawab santai aja. Siapa tahu setelah kita jawab, mereka malah mendoakan kita. Kan lumayan banyak yang mendoakan. E tapi memang suasana hati kadang bikin gampang sensi, apalagi dengan tekanan orang-orang di sekitar yang terus menanyakan. Tapi percayalah, gusti nggak akan memberi cobaan diluar kemampuan hambanya. Yakini aja, biar hati jadi adem. *kaya baca tweet mantan yang isinya lagi kangen sama kita, duh rasanya adem, andaikan kamu tau. Ku juga kangen* (ketok pala tiga kali) hahaha

Ketahuilah, saat ini dihadapanku ada perempuan dengan perasaan campur aduk ketika ditanya kapan punya anak. Percayalah, tanpa pertanyaan yang kalian lontarkan, ketika gusti berkehendak maka tidak akan ada yang bisa menolak. Daripada nyinyir dengan pertanyaan begitu, mending doain aja. Doa baik bakal kembali ke kita kok. Semangat ya, untuk Fifi-Fifi di luar sana. Untuk para perempuan yang sedang menanti buah hati, semoga segera dikabulkan dan diberi anak-anak yang shaleh/shalehah. Aamiin
Catet ya! Nothing is imposible for Allah SWT❤

Mungkin Kamu Suka

73 komentar