Pertama Kali Shalat Di Mushala Dome Teletubbies

by - Maret 09, 2018

Taman kanak-kanak Dome Teletubbies
Mobil melaju pelan saat kami memasuki desa wisata New Nglepen yang berada di Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Dari kejauhan terlihat rumah warna-warni berbentuk kubah berjejer rapih. Aku terus mengamati rumah dome dari balik jendela kaca mobil. Sepanjang perjalanan imajinasiku melayang membayangkan bagaimana rasanya tinggal di komplek rumah dome seperti ini. Lamunanku pecah saat mobil berhenti di parkiran. Alhamdulillah sudah sampai, kata BB Idah yang duduk di belakang sopir.

Terik matahari sore itu tidak membuat langkah kakiku berat. Satu dua anak terlihat asyik bermain bulu tangkis di depan rumah. Mereka melempar senyum menyapa kami. Seolah mereka sudah terbiasa dengan orang asing yang berkunjung ke mari. Sepontan aku melontarkan pertanyaan "adek suka tinggal disini? Seneng dek?" mereka menjawab bergantian, "seneng kak, suka". "Kakak mau coba tinggal disini?" Tanya salah satu diantara mereka sambil asyik melayangkan raket.

Seketika aku teringat peristiwa gempa di Yogyakarta pada tahun 2006. Ketika ayahku menerima kabar gempa dari mbah kakung di Gunungkidul, ayah dan ibuku langsung bergegas menuju Yogyakarta. Sepanjang jalan raut wajahnya terlihat gelisah. Aku yang masih duduk di bangku sekolah dasar belum paham sepenuhnya dengan situasi seperti itu. Aku masih beranggapan jika kami mudik ke Yogyakarta artinya kami akan memulai petualangan baru, jalan-jalan bersama bu lik dan saudara yang tinggal di Yogyakarata.

Tetapi ketika kami memasuki wilayah Yogyakarta, ibu dengan sabar memberi pengertian bahwa kami ke Yogyakarta bukan untuk jalan-jalan. Melainkan menjemput mbah dan saudara yang ada di sana karena mereka terkena dampak gempa. Aku pun hanya manggut-manggut tidak begitu peduli. Hingga paham dengan sendirinya karena menyaksikan langsung atap rumah, ruko, dan bangunan yang sebagian besar rata dengan tanah. And then! Aku baru tahu kalau dampak gempa waktu itu juga menghancurkan puluhan rumah di bukit Nglepen hingga amblas sedalam tujuh meter.

Sebanyak 34 kepala keluarga (KK) kehilangan rumah tinggal. Mereka mendapat relokasi di tempat baru dan bantuan rumah dome yang berasal dari Domes For The World, lembaga nirlaba dari Amerika Serikat, dan donatur perorangan dari Arab Saudi. Rumah dome ini hanya ada di lima negara yaitu Indonesia, Sri Lanka, India, Ethiopia, dan Haiti. Kabarnya rumah dome dibuat tahan gempa, tahan api, badai, dan topan.

Rumah Dome Teletubbies


Sekretariat Rumah Dome Teletubbies
"Sekretariat Rumah Dome TELETUBBIES". Tulisan itu terpampang di pintu rumah dome. Kami dipersilahkan melihat ruangan rumah yang dijadikan sampel. Saat pertama kali menginjakan kaki di rumah dome ini, aku langsung menoleh ke atas. Seolah memastikan rumah dome ini betul-betul beratap beton, gerak mataku masih terus menyelidik ke sudut rumah. Rasa penasaran membawaku masuk semakin dalam, rumah dome yang berpondasi 20 meter ke dalam tanah ini memiliki dua lantai. Lantai bawah terdapat ruang tamu, dua kamar tidur, dan dapur. Sedangkan lantai atas biasa digunakan sebagai ruang keluarga. Sebagian penduduk menganggap rumah dome dengan diameter tujuh meter dan ketinggian puncak sekitar lima meter ini terlalu sempit, tidak heran ada penduduk yang membangun rumah tambahan tepat di samping rumah dome ini.

Dinding Atap Rumah Dome Teletubbies
Sekitar sepuluh menit berlalu, keningku sudah basah oleh keringat. Padahal aku masih ingin mengamati dinding beton sekretariat rumah dome teletubbies. Kurangnya ventilasi udara di dalam rumah membuat hawa panas semakin terasa meskipun kipas angin sudah menyala. Akhirnya aku menyerah, aku berjalan keluar sambil mengamati bangunan unik yang ada di depan mataku.

Di New Nglepen ini terdapat 80 unit bangunan dome, tetapi hanya 71 bangunan yang dijadikan tempat tinggal. Sisanya dijadikan sebagai fasilitas umum seperti taman kanak-kanak, mushala, aula, dan poskesdes serta beberapa toilet bersama untuk setiap kompleks.

Mushala Dome Teletubbies


Mushala Dome Teletubbies

Saat aku tengah berkeliling kompleks di rumah dome teletubbies, suara adzan lelaki tua terdengar nyaring dari speaker mushala. Aku pun melangkah menuju ke mushala. Mencari kran air untuk mengambil air wudlu. Air kran yang mengucur terasa hangat, mungkin karena penampungan air terkena cahaya matahari dari pagi. Perlahan ku basuh muka hingga mata kaki lalu kembali mengenakan jilbab.

Mushala ini memiliki bentuk yang sama persis dengan rumah dome yang dijadikan tempat tinggal. Berdinding dan beratap beton serupa kubah. Bedanya mushala ini tidak memiliki dua lantai. Saat aku mengambil mukena di almari mushala, mataku melirik tumpukkan al-quran di sudut meja, seolah menarik ingatanku semasa kecil, dulu jika adzan ashar berkumandang aku dan teman-temanku sibuk bermain di surau menunggu iqamah dilanjut mengaji. Tetapi tampaknya berbeda dengan suasana di mushala ini, aku hanya mendapati dua ibu lanjut usia dan satu bapak yang mengimami kami.

Suasana di dalam mushala pun tak kalah panasnya, padahal tiga kipas angin yang menggantung di dinding mushala sudah menyala. Rasa syukur tiba-tiba menyelimutiku saat berada di mushala. Aku tidak bisa membayangkan jika harus tinggal di rumah dome seperti ini, bukan aku sedang merasa lebih beruntung daripada orang-orang yang tinggal disini. Toh, anak-anak yang tadi aku tanya, mereka merasa senang tinggal di rumah dome teletubbies. Do'aku semoga  penduduk New Nglepen ini senatiasa diberi kesehatan dan keselamtan. Aamiin

Kompleks Rumah Dome Teletubbies
Poskesdes Dome Teletubbies
Saat ini rumah dome teletubbies telah menjadi salah satu destinasi wisata. Cukup membayar Rp. 5ribu/orang kita sudah bisa bebas berkeliling rumah dome teletubbies. Selain berkeliling, pengunjung bisa merasakan sensasi menginap di rumah dome teletubbies dengan harga Rp. 200ribu/malam. Di komplek ini juga sedang dibangun taman bunga dan taman payung yang akan dijadikan spot foto. Jika beruntung, kamu bisa bermain langsung dengan tokoh teletubbies. Sayangnya, saat kami berkunjung para teletubbies sedang berisitirahat.

Semua biaya di atas akan masuk ke dalam dana kas desa, apalagi tanah desa hingga kini belum dibebaskan sehingga penduduk yang tinggal di rumah dome teletubbies masih dikenakan biaya sewa tanah Rp. 11 juta/tahun.

You May Also Like

35 komentar

  1. Semoga warga ngelepen bisa lagi memanfaatkan kunjungan wisata dengan berbagai sarana baru. Agar bisa menjadi penghasilan tambahan bagi warga

    BalasHapus
  2. Rumahnya imut imut y kayak saya
    Btw disana ketemu tungku wingky dipsi lala sama Poo Engga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mereka semua lg bobok manja, jd waktu aku kesana nggak bisa berpelukan dg mereka deh😂

      Hapus
  3. Iyaa desain bangunannya dibikin biar tahan goncangan goncangan kenangan gitu mbak *eh

    Aku dulu pas ke sini sama temen kos malah nggak ngerti harus ngapain sih di sini. wkwkwkw
    Akhirnya cuma numpang salat duhur aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. 😰goncangan kenangan? Ngeri bgt sik😑
      Nggak masuk ke rumah skretariatnya mas?

      Hapus
  4. Tahu ada rumah teletubies ini di liputan tv trans7.
    Pengen bisa ke sana, eh sudah keduluan mbak ella

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ayo kesana mas, biar nggak cuma liat di tv. Hehehe

      Hapus
  5. yogyakarta betul-betul penuh pesona ya sis , belum lagi ibu kotanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener, dr bencana bisa dijadikan destinasi wisata :)

      Hapus
  6. kreatif sekali bisa membuat tempat yang bagus sangat kreatif sekali..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya, bencana yg mendatangkan berkah judulnya😂

      Hapus
  7. Belum pernh ke rumah domenya,,hanya ada di 5 negara, berarti negaranya sm2 dpt bantuannya. Srilanka kayaknya jarang dengar beritanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yak bener mas Idris, coba deh googling aja.. Bisa buka ke websitenya dome for the world :)

      Hapus
  8. Xixiix senengnya mbak ella ni jalan2 k dome teletubis ya... ehehehe ternyata rumah dome itu bisa digunakan untuk orang2 yang sedang mengungsi juga ya... dan ternyata tiket masuknya murah ya 5 rb aja.. itung2 jajan awet sambil cuci mata.. pengen ih kesana, nti deh bkin agenda kalau k jogyakartaaa hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rumah dome ini memang khusus diperuntukan untuk korban gempa tahun 2006 di Yogyakarta mbak vika :)

      Hapus
  9. Ih lucu-lucu ya rumah"nya sampe musholanya jg dibentuk kaya gitu, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya semua bangunanya dome, kecuali rumah tambahan yg dibangun warga karena menganggap rumah dome ini terlalu sempit :)

      Hapus
  10. aku pernah ke sini sekali
    maunya sih bikin video teletabies2an tapi kok ya gimana gitu wkwkw

    BalasHapus
  11. mushola uni dan klasik banget, keren juga tempat dan sepertinya asyik untuk nongkrong

    BalasHapus
  12. Mba kalo ga salah ini yang mau ke arah Candi ratu Boko bukan dari arah prambanan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yappp betul betul betul.. Udah pernah kesini ya?

      Hapus
  13. Semua bangunanya ala ala teletubbies ya mbak.. keren,.. musholanya juga keren, Masya Allah...
    mungkin kapan-kapan pas lewat boleh nih mampir :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yak, mampir aja.. Sekalian ke bukitnya ya, kemarin aku nggak sempet ke bukitnya :D

      Hapus
  14. Itu perkampungan teletubies haha
    Keren ini yg bikin, dan ngakak bca tulisan sekretariat dome teletubies, lucu ... hihi

    Kreatif banget. Kompor gas!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, iya itu relokasi buat warga yg kena gempa tahun 2006, plis deh nggak usah jadi kompor. Panas hidupnya😂

      Hapus
  15. Sudah pernah kesana. Tapi barutau kalau mrk masih sewa. Mahal juga ya sewanya secara lokasinya cukup jauh dr kota.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener mbak, 11jt/tahun... Hhh
      Tp mungkin karena pertimbangan keamanaan rumah dr bencana alam, jd mahal kali ya.. *eh aku kok sok tau😂

      Hapus
  16. tontonan teletubies sangat dikenang ya. ditempatku juga ada yg namanya bukit teletubies. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya buat generasi tahun 90n teletubbies jadi idola bgt, tp kl anak zaman sekarang mah nggak pd tau, hhh

      Hapus
  17. Huaha aku udah agak lama di Jogja ini, blm sempat kesana. Jadi penasaran lg kalo ke sana, tp kira² bisa ngapain aja ya ? selain foto² ?

    BalasHapus
  18. Rumah untuk korban gempa yang juga menjadi destinasi wisata.

    Kasihan juga masyarakat yang tinggal di sana karena harus bayar sewa tanah. Btw yang benar yang mana mbak Ella, 11 juta/bulan atau 11 juta/tahun?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Imah, sewa tanahnya 11juta/tahun.. Aku gagal fokus, makasih ya sudah mengingatkan 😘😘😘

      Hapus