Bukti #MakeTheFuture bersama Shell Eco-Marathon Asia 2018

oleh - April 27, 2018

Beberapa minggu yang lalu di ruang yang sama, ruang yang tidak terlalu luas, kami membahas tentang ‘Energi Dalam Kehidupan Sehari-hari’. Mulai dari jenis energi yang dapat diperbaharui hingga energi yang tidak dapat diperbaharui serta kegunaan energi dalam kehidupan. Seperti biasa, sebelum aku menyampaikan materi, aku menggali informasi sejauh mana mereka mengetahui materi yang akan aku sampaikan. Istilahnya memberi apresepsi, selanjutnya kami melakukan diskusi. Tiba-tiba ada salah satu anak mengangkat tangan pertanda ingin berpendapat atau sekedar bertanya.

Zaki : "Bu... Seandainya minyak bumi di dunia ini habis, apakah masih ada kehidupan?"

Bella : "Makannya sebelum minyak bumi habis kita harus menghematnya, kamu aja berangkat sekolah antar jemput pakai sepeda motor terus, padahal rumahnya dekat." sahut Bella dengan nada protes.

Zaki : "Yee... Aku kan nanya ke bu guru, bukan ke kamu Bel. Nggak usah sewot gitu sih... Eh tapi ada benarnya juga apa kata Bella tadi. Teman-teman gimana kalau mulai besok kita berangkat ke sekolah naik sepeda aja?" seru Zaki dengan suara lantang.

Ozi : "Nggak mau ah, capek ngayuh sepeda. Kalian aja!" kata Ozi dengan nada ketus.

Aku pun segera melerai keributan di dalam kelas. Setelah kelas kondusif, mulailah aku memberi sedikit gambaran kepada mereka, bahwa hal kecil yang bisa kita lakukan dalam menghemat energi salah satunya seperti yang Bella katakan, yaitu membiasakan diri berjalan kaki jika jarak rumah dengan sekolah tidak terlalu jauh.

Mereka anak-anak usia sepuluh tahun memiliki kekhawatiran di masa depan jika minyak bumi kian menipis, bahkan habis. Sementara konsumsi energi di Indonesia terus meningkat, angka konsumsi energi terbesar dimiliki oleh sektor transportasi, disusul sektor industri, dan rumah tangga. Belum lagi dampak dari pemakaian minyak bumi yang tidak ramah lingkungan, salah satunya dampak negatif polusi udara. Berdasarkan data dari WHO, tingkat pencemaran udara yang melewati ambang batas sudah lebih dari 80% negara di dunia.

Salah satu penyebab polusi udara di Indonesia adalah emis transportasi yaitu sekitar 85%. Emis buruk ini dikarenakan perawatan kendaraan yang tidak baik, atau penggunaan bahan bakar kendaraan dengan kadar timbal yang tinggi. Memang mencari solusi energi baru bukan perkara mudah, karena tidak hanya bagaimana menemukan energi baru untuk kebutuhan satu dua orang di wilayah tertentu saja dalam jangka waktu singkat, melainkan bagaimana sumber energi tersebut mampu menjawab ketahanan #energimasadepan.

Shell Indonesia
Seperti halnya Shell, sebuah perusahaan energi internasional dengan keahlian dalam eksplorasi, produksi, pemurnian, pemasaran minyak dan gas alam, serta manufaktur dan pemasaran bahan kimia. PT. Shell Indonesia yang dikenal dengan merek Shell telah memproduksi bahan bakar Shell, minyak dan pelumas mesin sejak 1907 yang peduli terhadap perkembangan sumber energi.

Perusahaan ini memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan dunia yang semakin meningkat akan solusi energi yang lebih banyak dan lebih bersih dengan cara yang bertanggungjawab secara ekonomi, lingkungan, dan sosial. Produk Shell ini lebih efisien, ramah lingkungan, serta membuat meningkatkan kondisi mesin dan membantu memaksimalkan energi dari bahan bakar.

Tidak hanya memaksimalkan energi bahan bakar namun produk Shell juga membantu mengurangi hingga 80% endapan yang menghambat performa mesin. Sehingga dapat mengurangi polusi udara yang diakibatkan oleh pembakaran mesin yang kurang optimal.

Terbukti pada #Shellecomarathon Asia yang sudah berlangsung pada tanggal 8-11 Maret 2018 di Changi Exhibition Centre Singapura, tim dari Indonesia menjadi pemenang UrbanConcept kategori Internal Combustion Engine (Mesin Pembakaran Dalam) dengan menempuh jarak 315 km/liter. Kereeennnnnn uyyyy, 315KM/liter. Dudududuu!

Btw, apa sih Shell Eco-Marathon?


Shell Eco-Marathon Asia 2018
Shell Eco-Marathon adalah kompetisi tahunan yang disponsori oleh Shell, dimana peserta membuat kendaraan khusus yang bisa melakukan efisiensi bahan bakar. Shell Eco-Marathon salah satu program kompetisi efisiensi energi terkemuka di dunia. Peserta ditantang untuk merancang, membangun, dan menguji mobil hemat energi. Kompetisi ini dimulai pada tahun 1939 ketika karyawan Shell Oil Company di AS membuat taruhan hemat energi dengan cara menempuh perjalanan sejauh-jauhnya dengan jumlah bahan bakar yang sama. Jadi, mobil siapa yang dapat menempuh perjalanan terjauh dengan bahan bakar yang sudah ditetapkan, maka dia menjadi pemenang.

Lokasi Shell Eco-Marathon 2018


Shell Eco-Marathon Asia 2018 di Singapura
Kompetisi ini berlangsung ditiga lokasi yang berbeda, yakni:
  1. Shell Eco-marathon Asia: 8-11 Maret di Changi Exhibition Centre Singapura.
  2. Shell Eco-marathon Americas: 19-22 April di Sonoma, California, AS.
  3. Shell Eco-marathon Eropa: 5-8 Juli di London, Inggris.
Peserta Shell Eco-Marathon 2018

Sesuai ketentuan di web Shell, peserta dikhususkan untuk pelajar di seluruh dunia. Lebih dari 120 tim mahasiswa dari 18 negara berkumpul di Singapura untuk mengikuti Shell Eco-Marathon. Indonesia pun tak mau ketinggalan, sekitar 26 tim dari Indonesia mengikuti kompetisi ini.

Katagori Shell Eco-Marathon 2018


Kategori mobil listerik Shell Eco-Marathon Asia 2018
Kompetisi ini dibagi menjadi dua kelas atau kategori, yakni:
  1. Kelas Prototype berfokus pada efisiensi maksimum.
  2. Kelas UrbanConcept mendorong desain yang lebih praktis dengan memperhatikan bahan bakar yang digunakan. Mobil dibagi dengan tipe energi: Bahan bakar mesin pembakaran internal termasuk bensin, solar, bahan bakar cair yang terbuat dari gas alam dan etanol. Dalam kategori mobilitas listrik, kendaraan didukung oleh sel bahan bakar hidrogen dan baterai berbasis lithium.
Berikut kelima tim Indonesia peraih pemenang UrbanConcept kategori Internal Combustion Engine (Mesin Pembakaran Dalam), adalah:
  1. ITS Team 2 (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), dengan 315 km/liter.
  2. Semar Urban UGM Indonesia (Universitas Gadjah Mada), dengan 267 km/liter
  3. Garuda UNY Eco Team (Universitas Negeri Yogyakarta), dengan 215 km/liter.
  4. Nogogeni ITS Team 1 (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), dengan 205 km/liter.
  5. Bumi Siliwangi Team 4 (Universitas Pendidikan Indonesia), dengan 170 km/liter.
Sementara peraih penghargaan dalam kategori baterai elektrik, adalah:
  • Nogogeni ITS Team 1 (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) menempati juara kedua dengan pencapaian 125 km/kwh di bawah tim LH-EST dari Vietnam.
  • Bumi Siliwangi Team 4 (Universitas Pendidikan Indonesia) menempati juara ketiga dengan pencapaian 108 km/kwh.
Kelima tim dari Indonesia berhak mengikuti event Drivers World Championship-Regional Asia yang merupakan kompetisi adu cepat antara mobil-mobil hemat energi UrbanConcept terbaik di Asia, dimana para pemenang selanjutnya akan berlomba dengan pemenang-pemenang dari wilayah Amerika dan Eropa dalam ajang Drivers World Championship Grand Final di London, Inggris, yang akan diselenggarakan pada 8 Juli mendatang.

Kita doakan ya, semoga tim dari Indonesia mampu mengharumkan nama baik Negara tercinta untuk menuju #MakeTheFuture. Semoga dengan adanya event tahunan ini makin banyak inovator untuk membantu terwujudnya #MakeTheFuture yang mampu mengoptimalkan berbagai energi.

Shell Eco-Marathon Asia 2018
Kita patut berterimakasih kepada PT. Shell yang telah mengadakan event Shell Eco-Marathon 2018. Dengan adanya event ini, dunia tahu bahwa Indonesia sangat layak diperhitungkan. Ya kan, Indonesia sebagai peraih penghargaan terbanyak di Shell Eco-Marathon yakni lima dari tujuh penghargaan. Ya salaaaam!!! Nggak nyangka banget ya. Aku ikut bangga!

Sumber: www.shell.com/ecomarathon dan www.shell.com/makethefuture

Mungkin Kamu Suka

65 komentar