Bukan Untuk Saling Memiliki

oleh - Mei 15, 2018

Baturraden Adventure Flores
Sepulang kerja aku langsung merebahkan badan di atas tempat tidur, tak peduli masih mengenakan seragam lengkap. Ku usap layar ponsel memastikan tidak ada email yang belum ku balas. Tak lama berselang, rintik hujan terdengar berirama di luar. Aroma tanah yang terguyur oleh hujan mulai tercium. Hatiku bersorak riang, bukan karena suka dengan hujan, tapi karena akhir-akhir ini cuaca Banjarnegara selalu panas bahkan hingga malam hari.

Aku mulai memejamkan mata, berharap tubuh ini bisa terlelap untuk sedikit melupakan urusan dunia. Sekitar sepuluh menit ku coba menidurkan pikiran dan tubuh tapi otak ku terus bekerja, disusul perasaanku terus merasa. Lelah? Capek? Sudah pasti! Namun sejatinya lelah & capek, bukan karena kita kerja seharian, bukan karena kita sedang meraih mimpi-mimpi. Tetapi lelah adalah ketika kita menyimpan dendam, marah, sakit hati di dalam diri.

Sekuat tenaga aku mengendalikan pikiran dan perasaanku, berharap Gusti yang Maha membolak balikkan hati segera melembutkan hatiku untuk rela, 'merelakan'. Tapi tampaknya Gusti masih memberi ku keyakinan atas hal-hal yang belum tentu terjadi. Atau malah aku sendiri yang meyakini hal-hal tersebut? Entahlah, rasanya tak pantas untuk sekedar protes kepada Gusti.

Aku masih terpejam, sesekali ku tarik nafas agak panjang, berharap pikiranku sedikit tenang, kembali sadar bahwa aku masih diberi hidup, masih diberi kesehatan, masih diberi kesempatan untuk terus mengingat janji kehidupan yang pernah ia buat. Selama ini, tak sedikitpun yakinku goyah. Aku terlanjur menyimpan sebuah harapan, harapan yang jauh tercipta sebelum ia kembali. Karena sejatinya ia pulang untuk pergi, bukan pulang untuk kembali, meski setiap hari doa-doa telah melambung tinggi.

Ada banyak cerita yang ku terima perihal pengkhianatan. Ada sahabatku yang tetiba ditinggal menikah oleh pasangannya padahal mereka sudah tunangan, ada sahabatku yang tetiba gagal tunangan setelah pasangannya lebih memilih orang lain, ada sahabatku yang baru beberapa bulan menikah tapi akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah.

Aku belajar untuk tidak mengkhawatirkan perihal jodoh, aku tak ingin menghina Gusti karena kekhawatiranku dengan ketentuan dan ketetapanNya. Katanya dalam Q.S An-Naba "wa kholaqnakum azwaja" yang artinya Dan telah KU ciptakan manusia berpasang-pasangan. Maka, masih pantaskah meragukan janji Tuhan?

Dear Segala Jenis Manusia...
Semoga kita selalu mempertimbangkan apapun yang kita ucapkan, tidak mudah berjanji jika akhirnya tidak mampu menepati. Bukankah merampas janji kehidupan orang lain adalah sesuatu yang sangat menyakitkan? Oh Gusti, untuk berdamai dengan diri sendiri bukan perkara mudah. Butuh ribuan jam untuk menerima dengan penerimaan terbaik. Tapi, ada baiknya kita juga berkaca, barangkali janji-janji itu hanya fatamorgana yang kita buat dan kita yakini sendiri.

Kalau kata sepupuku gini :

Bukan dia tak baik, bukan kamu tak baik. Mungkin bila dia dan kamu bersama bisa tidak baik. Atau ada seseorang yang butuh dia untuk membaik, dan ada seseorang yang butuh kamu untuk lebih baik. Mungkin juga karena dia akan lebih baik dengan yang lain, atau kau akan lebih baik dengan lainnya. Bisa juga kamu dan dia dipertemukan untuk saling memperbaiki. Bukan untuk saling memiliki.


Bagaimana mungkin saling memiliki? Padahal tubuh kita saja bukan milik kita. 

Mungkin Kamu Suka

48 komentar