Menutup Liburan Dengan Infus Di Tangan? Tetep Bersyukur Dong!

oleh - Juli 19, 2018

Gambar ilustrasi dari @pixabay
Bulan Juli ini bener-bener nggak produktif blassss, ya gimana beberapa hari yang lalu aku diencuk infus selama 5 hari. Padahal udah merasa keren, hampir setahun nggak masuk rumah sakit untuk opname. Sampai ada temanku nyletuk, "ella tuh semakin sering ditinggalin ternyata semakin kuat fisiknya uy, eh tapi hatinya mana kita tahu ya" *tendangpintu!

Tapi nyatanya ella tu manusia Sist, bukan bidadari yang hidupnya di khayangan, bukan! Mungkin faktor kecapekan dan makan sembarangan yang menjadi penyebab bakteri Salmonella bersarang di tubuhku. Setelah trip ke pulau Nusakambangan, di lanjut menghadiri acara Borobudur International Art & Performance Festival 2018, Rafting Sungai Progo, dan kembali renang di Owabong sukses membuat selang infus nacep di tanganku. Tau nggak kalian? Perjalanan itu semua (Pulau Nusakambangan, Magelang, Purbalingga) menggunakan motor woy. Lha cuma mbonceng be! Oh No!!! Kali ini tagline mental mboncengan udah kebalik, kemana-mana malah aku yang mboncengin 😭

Sebelum ku tepar dan di opname tuh terjadi drama konyol yang bikin gempar orang sekomplek, ya gimana. Malamnya aku habis kondangan ke rumah teman kan, katanya rumah temanku tuh banyak indangnya. Kalian tahu indang? Nggak kan? Sama! Aku juga nggak tahu. Katanya lagi nih, indang itu sejenis jin atau hantu gitulah. Selama kondangan aku agak parno, soalnya di ruang tamu kondangan dikasih seket gorden gitu njuk katanya disitu tempat indangnya. Baiklah, antara percaya dan nggak sih.

Nah pagi harinya, dua krucil minta ditemenin renang ke Owabong. Mangkatlah ke Owabong naik motor bawa dua krucil. Awalnya renang berjalan mulus, tapi setelah renang selesai mulai tuh pandangan berkunang, cuma bisa ngomong dalam hati "oh mungkin minusku bertambah makanya pandangan berkunang", lalu aku buru-buru pakai kacamata dong berharap pandangan menjadi cerah bening lagi kaya lihat updatean mantan. Eh ternyata udah pakai kacamata tetep aja masih kunang-kunang. *aku kudu kuat!*

Masih dengan sepenuh tenaga, aku mandiin dua krucil, makan, lalu berkemas dan membujuk dua krucil pulang. Perjalanan menuju rumah kurang lebih memakan waktu 55 menit. Masih dengan pandangan berkunang aku mengendarai motor, beberapa kali memfokuskan pandangan, sedang dua krucil masih asyik bercerita keseruan renang. Pusing dan mual mulai menghampiri, aku berhenti sejenak di alun-alun Purbalingga dan jajan LUTIS. Ya kalian nggak salah baca, LUTIS! Tapi baru makan sekali langsung muntah. Bhaiq lah, bhaiq. Udah nggak bisa lanjut lagi, aku telpon mami, minta dijemput di alun-alun Purbalingga. (Banjarnegara-Purbalingga) hahahaha

Selama perjalanan aku memejamkan mata, masih bisa ditahan tapi sesampainya di rumah pandanganku seketika gelap gulita, nggak liat apa-apa Sist, pusing muter-muter, muntah sampai perut sengkil. Kata mami, aku udah mulai ngoceh nggak jelas, lebih parahnya katanya tuh aku ngerasa kalau aku kena indang, lha orang rumah makin panik kan. Jangan-jangan kena indang beneran. Duh! Apa itu indang, apa! Hahaha

Teman-temanku yang bareng saat kondangan langsung di telpon mami, kena semprotlah mereka. Wkwkwk, tapi aku udah nggak denger apa-apa, nggak kerasa apa-apa, gelap aja udah! Eh paginya kebangun ternyata udah diinfus. Trus aku merasa lagi main sinetron dong, nginget-nginget apa yang udah terjadi. Hahaha

Setiap temanku nengokin, mesti mereka ngledek. "eh kata dokter indangnya kaya apa, hitam gede tinggi nggak? Rambutnya gondrong nggak? Trus udah keluar dari badanmu belum?" kamprettttt, padahal aku nggak sadar kalau semalam ribut ngoceh kena indang. Hahahaha

Setelah cek darah aku dinyatakan typus Sist. Widalku +1/320, tensi darah cuma 90. Ya pantes kayak mau mati aja kan. Pandangan bertaburan kunang-kunang.
Setelah diinget-inget emang akhir-akhir ini aku sering jajan sembarangan, katanya kecapekan juga tapi aku nggak merasa capek tuh, atau karena nggak peka sama diri sendiri 😰*yah sama diri sendiri aja nggak bisa peka, apalagi sama orang lain kan. Mulai lagi mulai 😂

Menurut penelitian 1 dari 5 orang meninggal karena typus Sist, pada stage ini aku merasa lagi naik gunung, lagi diajak Gusti liat dataran yang luasnya nggak kebayang, lagi diajak flashback beberpa tahun yang lalu ketika aku berlaku semauku, menganggap remeh sebuah kehidupan.

Tapi alhamdulillah, sekarang Gusti membantuku untuk naik kelas, menyadari tanpa ada paksaan bahwa hidup itu harus dijaga, apapun yang terjadi kita patut untuk berjuang, again, again!

Teruntuk keluarga, sahabat, orang terkasih, tersayang, netijen budiman, terima kasih teramat dalam. Tanpa kalian, aku nggak akan dititik ini. Semoga aku bisa lebih peka dengan kondisi tubuhku. Aamiin
Do'akan aku supaya lekas pulih ya, sedih nih liburan nanduk satu minggu lagi :(
udah pengen gendong ransel dan pakai sepatu lagi 😭

Mungkin Kamu Suka

55 komentar