Kebimbangan Menolak Hingga Pukulan Telak

by - November 07, 2018

Suatu sore di sebuah Pelabuhan
Pada hati yang siap mendengarkan, aku ingin bercerita suka maupun duka. Kemarilah, duduk di sampingku. Selagi hujan turun, selagi gerimis berlangsung akan kumulai cerita supaya kau tak perlu tahu jika air mataku jatuh secara tiba-tiba.

Pada sesal yang sudah tertinggal jauh. Aku berusaha menolak karena perasaan mengajakku membelalak. Aku selalu mempunyai alasan untuk menolak, tetapi aku tak bisa beralasan kenapa aku terpikat. Tiap detik aku selalu membaca situasi, maka aku harus tahu porsi. Tiap menit aku selalu introspeksi diri, maka dari itulah aku harus sadar diri.

Kau memang benar, tetapi aku tidak salah. Kau memang benar, maka jangan salahkan perasaan yang menggelegar. Mungkin waktu tak tepat, atau aku kurang akurat? Entahlah. Yang pasti aku percaya, Tuhanlah yang sepenuhnya menggengam hati kita supaya tidak ada yang "merasa" tersakiti diantaranya.

Aku tak ingin merusak, karena aku pernah merasakan sampai terisak. Heiii kau, terima kasih sudah menguatkan, terima kasih sudah berbagi, terima kasih sudah selalu mengkhawatirkan kondisi, dan terima kasih sudah selalu menemani disegala keadaan.

Tanpa harus kuucap beribu kata, aku yakin kau tahu apa yang ada dalam benak jiwa. Tak apa, aku baik-baik saja. Kau tak perlu bergegas menguatkanku, lambat laun aku pun akan terbiasa tanpamu.

Heeiii kau, berbahagialah... Agar kau terjaga dari sakit akan luka. Dan ingatlah. Di sana, di tempat yang paling dekat dengan napasmu ada hati yang harus kau jaga. Bahagiakan ia, jangan sampai kau buat terluka. Aku tak apa, bahagiaku sederhana. Bermain bersama robotmu, misalnya.

Terima kasih kau tak segera beranjak dari sampingku, meski aku tahu, jika membahas perihal "hati" kau selalu saja ingin menyudahi. Yah tak apa, setidaknya saat ini aku dan kau sama-sama belajar. Belajar untuk tidak lagi mengkahwatirkan, dan belajar untuk sama-sama melepaskan.

You May Also Like

8 komentar

  1. Semoga belajarnya berhasil ya mbak, untuk keputusan terbaik, hehehe.

    BalasHapus
  2. Udah lepasin aja.... kan udah ada Robot-robotannya. bisa kan bahagia main sama Robotnya. :)

    si dia udah ada yang lain ya? #Kepo.
    Loh kok tau? itu di dekat napas ada yang harus di bahagiakan. :)

    BalasHapus
  3. Kalau begitu, duduk lah dipangkuan ibumu dan ceritakan tentang kita, ingat jangan terlalu lama duduk dipangkuan ibumu, berat tau hehe

    BalasHapus
  4. semoga cita-citanya tercapai mba
    indah banget ya pemandangannya

    BalasHapus
  5. "Aku tahu senja tak selamanya abadi di hari yang sama. Ya, memang berat untuk mengabadikan senja selamanya. Layaknya memegang lilin agar tetap menyala ketika hujan di bulan November. Namun, senja terbenam hanya untuk terbit kembali. Memberimu harapan."
    Hope Springs Eternal

    BalasHapus
  6. Perempuan yang dalam kecewa (tafsir dari yang saya baca) mampu menulis sebijak ini, luar biasa. Dia dipilih Allah SWT untuk merasakan sakit, sakit, dan sakit, karena Allah SWT tahu dia mampu, mampu, dan mampu melewatinya. Semangat Kak Ella!

    BalasHapus
  7. belajar untuk melepaskan.... ah sulit tapi harus bisa.....
    apa kabar Mbak Ella?

    sukses selalu ya..

    BalasHapus
  8. tetap semangat, ketika harus memilih mana jalan yang terbaik untuk semuaaa

    BalasHapus