Ada Doa Yang Tak Pernah Redup

oleh - Maret 06, 2019

Bunyi bel kereta api sudah terdengar saat kereta akan berhenti. Derit gerbong makin terasa saat announcement kereta api dibunyikan. Tak seperti biasa, sesampainya di stasiun, aku dijemput oleh seseorang yang sudah lama tak saling sapa, bertanya kabar pun tak pernah. Kami hilang begitu saja, seperti langit keemasan yang meninggalkan rona jingga di sore hari, kemuning berubah menjadi kemerahan, lalu lambat laun warna merah memudar bercampur warna keunguan. Mataku menjelajah ke sudut ruang tunggu stasiun, hingga akhirnya menangkap sosok yang kucari.

Assalamu’alaikum, sambil menjabat tanganku.

Aku menerima uluran tangannya sembari menjawab salam.

Canggung? Aneh? IYA! Mungkin hanya aku yang merasakan. Dia terlihat cukup tenang, rileks, seolah tidak pernah ada lara dalam dirinya. Mungkin dia sudah selesai dengan dirinya sendiri. Sedangkan aku? Boro-boro bisa selesai, berdamai dengan diri sendiri saja susah setengah mati.

Aku nggak bawa motor, nduk.. Suaranya memecah langkah kaki kami.

Serius? Terus ngapain kamu jemput aku? Aku kan bisa naik grab sendiri, kamu nggak perlu repot-repot jemput! Nadaku meninggi, tapi dalam hati, aku yakin dia sudah mempertimbangkan yang terbaik.

Tahu nggak? Liat tuh langitnya (sambil menunjuk langit) di sana tadi mendung banget. Daripada kehujanan, kan.

Belum sempat aku menjawab, dia sudah kembali berkata,

Kita makan bubur, ya.

What? Bubur? Tumben banget ngajakin makan bubur, seingatku dulu saat kami masih bersama, dia anti sarapan apalagi makan bubur. Hmmmm.. Mulai curiga kalau ibuku nyolong start kabarin dia perihal aku. Whatever lha, toh tujuanku ke kota ini hanya mengambil obat supaya aku bisa bertahan hidup lebih lama.

Kami makan bubur bertiga, bersama teman dekatnya. Entah apa yang mereka bicarakan di WAG mereka, agak risih sih. Ya gimana, kita bertiga, tapi mereka berdua sibuk dengan gadgetnya sambil ketawa bebarengan. Semoga aku dan kalian nggak pernah memperlakukan orang lain seperti itu, ya. Bukan karena sekarang aku mudah tersinggung, ini lebih ke sikap menghargai orang aja. Apalagi saat kami mengambil helm ke kantor temannya, spontan temannya kaget saat tahu aku yang memboncengnya. Ekspresi kaget sambil bilang ‘she is the girl?’ dengan raut muka ‘ih’. Dalam hati, ada yang salahkah dengan aku? Lagi-lagi nggak mau berprasangka. Kami pun melajutkan perjalanan sesuai wishlist.
***
Di ruang itu terdapat banyak barang yang nggak asing di mataku, ini kali pertama aku berkunjung setelah gegar otak yang aku alami beberapa tahun lalu. Barang-barang yang ada di sana dominan dengan warna kesukaanku, merah. Banyak barang yang berbau club bola kecintaan kami, dan segambreng foto yang menempel di dinding, entah foto siapa saja. Dari kejauhan terlihat ada foto sosok perempuan berambut panjang, aku sengaja tak ingin melihat lebih detail, sengaja tak ingin tahu terlalu banyak, sengaja tak ingin berprasangka. Toh kami sudah bukan siapa-siapa.

Tak banyak yang bisa kami bicarakan, tak ada topik menarik untuk didiskusikan. Kami larut dengan diri kami sendiri. Paling hanya meributkan mau makan apa, pengin ke mana, selebihnya kami hanya diam. Sesekali hanya terdengar petikan gitar yang loncat dari cord E ke G ke F ke D.

Aku benci dengan diri sendiri ketika berada di hadapannya. Pagi itu tak terasa pipiku basah, pagi itu semesta memberiku ruang, pagi itu aku duduk memeluk kedua kaki sambil menggeleng pelan menjawab pertanyaan ‘sakit perut, nduk?’ sambil memastikan aku baik-baik aja. Tapi apakah kamu tahu? Pagi itu bukan hanya sakit perut yang aku rasakan, pagi itu perang batin antara melanjutkan hidup atau berhenti pulang kepadaNya terus bergejolak.

Berkali-kali aku menarik napas dalam-dalam, berharap rasa ngilu di dada berkurang seiring napas yang aku hembuskan.

Tapi saat itu juga, aku memutuskan untuk mengusap air mata (lagi).
Memutuskan untuk melanjutkan hidup (lagi).
Memutuskan untuk mencintai diri sendiri (lagi).
Memutuskan untuk menghargai diri sendiri (lagi). 
Memutuskan untuk percaya dengan keajaiban Tuhan (lagi).


Karena aku tahu, di sana ada doa yang tidak pernah redup, ada support yang tidak pernah berhenti, ada seseorang yang bahkan siap menemani selama aku butuh.

Setelah makan, kami berpisah saat keretaku sudah tiba di peron. Giliranku menjabat tangannya, mengucapkan salam dan terima kasih. Aku melangkahkan kaki, menuju barisan gerbong yang siap membawa penumpang pergi untuk kembali, kembali bertemu rutinitas, keluarga, atau kekasih hatinya. Perkara es pisang hijau, terima kasih sudah berusaha memesan lewat gofood. Maaf, belakangan ini aku sudah mengusik kedamaianmu. Semua akan kembali seperti semula. :)

Dear kamu yang sedang merasa sendiri, merasa sedang tidak baik-baik saja, merasa sedang melawan penyakit, merasa sedang berjuang tapi sia-sia, sini aku kirim peluk. Kalian nggak sendirian. Sun jauh dari sini, yaaaa!


Mungkin Kamu Suka

0 komentar