Dari Tuhan, Kembali Ke Tuhan

oleh Ella Fitria

Derit gerbong mulai terdengar nyaring saat kereta mulai melaju, awalnya pelan tapi lama kelamaan cepat. Aku sandarkan kepalaku ke jendela kaca, pikiran terus ramai membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi. Di luar sana matahari masih malu-malu menampakkan dirinya. Perjalanan 3,5 jam akan menjadi rutinitasku pekan ini.

Teh panas yang kupesan sudah mendarat di tangan kananku, aku melemparkan pandangan ke arah jendela sambil menggenggam cup teh. Lagu Sorai yang keluar dari headsetku terdengar lebih syahdu dari biasanya. Baru mendengarkan bait pertama, telepon whastapp berdering. Namun sengaja tak kuangkat.

Setibanya di stasiun tujuan, aku melangkahkan kaki perlahan, menuruni pernon dengan senyum mengembang. Atmosfir stasiun ini masih sama seperti dulu, tak banyak yang berubah. Hanya saja sekarang yang menjemput sudah berubah. Eh tapi ya masih sama-sama makhluk Tuhan, sih.😹

Mobil kami melaju pelan menembus kemacetan, masih sekitar 1 jam lagi appointment dengan dokter Obgyn. Ah ya, sakitku ini menggemaskan, kalau siang sehat wal afiat, berasa mampu menakhlukkan gunung dan laut, tapi kalau malam seolah seperti bayi yang baru lahir (tidak bisa berkutik, hanya bisa nyengeng) dan berujung keluar keringat dingin segede jagung. Sampai akhirnya memberanikan diri mengumpulkan kekuatan untuk USG kembali.

USG? Kan belum nikah? Kan lagi nggak hamil, kok USG? Puluhan pertanyaan serupa memenuhi chat whatsapp. Aah ya, USG itu bukan hanya untuk ibu hamil, atau ibu muda yang sudah menikah. USG itu digunakan untuk memeriksa dan mengamati gerakan organ tubuh, seperti hati, jantung, kandung empedu, limpa, pankreas, ginjal, dll. Jadi keliru banget, kalau kalian berpikir USG hanya digunakan untuk melihat janin.

***

Aku berusaha meluruskan punggung sembari menunggu antrean, meski sudah membuat appointment, tetap saja harus sesuai dengan prosedur rumah sakit. Tak apa, setidaknya bisa memastikan bertemu dengan dokter. Mataku sesekali melirik monitor, tertera 4 pasien lagi giliran aku dipanggil. “sakit, nduk?” pertanyaan itu hampir kudengar 10 menit sekali, aku hanya menggelang dan tersenyum.

Tak sengaja mata kami saling beradu, aku baru merasakan tatapan yang kosong, sepi, tak ada kehangatan lagi. Buru-buru aku kembali menatap buku yang sedang kubaca. Pertanyaan yang sama kembali terdengar, kali ini aku menjawab pelan “jangan diteruskan jika ragu, selesaikan dulu masa lalumu” baru selesai aku bicara, namaku dipanggil, pertanda aku harus segera masuk ke ruang periksa.

Setelah cek tensi darah, cek berat badan, dan cek darah, aku diperintah untuk tiduran. Di sampingku terdapat monitor dan alat USG. Sebelum dilakukan USG, perutku diberi sejenis lotion, lalu dokter dengan sabar menggerakan alat USG di perut bagian bawah, aku bisa melihat hasil USG di layar monitor yang terpasang di dinding. Meski tidak bisa membaca hasilnya, tapi ada rasa haru saat melihatnya. Padahal udah puluhan kali USG, masih aja kagum.

Ketika dokter membacakan hasilnya, aku sudah menduga. Tidak heran sih, karena akhir tahun ini pola makan, tidur, dan olahraga berantakan semua. Sedikit kaget saat dokter memberi resep obat Visanne yang harus diminum selama 60 hari berturut-turut, tidak boleh terlewat. Visanne ini semacam obat pengontrol hormon, harganya juga lumayan dan susah dicari. Tapi tidak apa-apa, bismillah aja, sing penting yakin!

Setelah menyelesaikan administrasi, kami kembali duduk di ruang tunggu apotek. Beberapa menit kemudian, dia menyodorkan botol minum sambil melontarkan pertanyaan yang sama, lagi-lagi aku hanya menggelang dan tersenyum. Bagaimana aku mengkhawatirkan hidupku, jika semua milik Tuhan akan kembali ke Tuhan? Sama sekali tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

***

Sepanjang jalan dia hanya berbicara dengan ibuku, aku memilih memejamkan mata. Menyerahkan semua rasa pada Tuhan. Mungkin ini cara Tuhan mengenalkan bagaimana sejatinya berdamai dengan diri sendiri. Menuntun jemariku mengetik kalimat melalui direct message twitter hingga kami bertegur sapa, (semoga) dia bisa memenuhi janji kehidupan yang sudah tertinggal. Meski sesuatu yang pernah hilang kemudian pulang, rasanya tidak akan sama lagi. Tak apa.

Oya. Saat ini, kami satu kota, tapi kami memutuskan untuk tidak saling sapa. Semoga isi doa kami sama. Aamiin

Ella Fitria

You may also like

0 komentar

Ella Fitria 11 Mei 2019 - 01:10

Aamiin Mas Riza, sudah membaik kok 🙂

Balas
Ella Fitria 11 Mei 2019 - 01:10

syukron kang Nata 🙂

Balas
Ella Fitria 11 Mei 2019 - 01:09

siap mbak Meta… semangat banget ini 🙂

Balas
Ella Fitria 11 Mei 2019 - 01:09

Kang Nata, terima kasih emailnya sudah aku baca.. semoga kebaikan kang Nata dibalas Allah, ya.. aamiin

Balas
Ella Fitria 11 Mei 2019 - 01:08

Aamiin, terima kasih Mas Anggara.. 🙂

Balas
Ella Fitria 11 Mei 2019 - 01:07

mbak Tuteeeh, peluk jauh… aamiin, terima kasih yaa 🙂

Balas
Ella Fitria 11 Mei 2019 - 01:06

yaw Mas, beda sakit lagi. tp ya masih sekeluarga penyakitnya, wkwkwk
kuat dong mas, kuat. sudah agak sehatan kok 🙂

Balas
Ella Fitria 11 Mei 2019 - 01:05

Aamiin mbak Yani, terima kasih yaa.. salam kenal juga 🙂

Balas
1 2

Beri Komentar

%d blogger menyukai ini: