Kenali dan Jaga Kesehatan Mental dengan Mudah

oleh - Mei 19, 2020

Kesehatan Mental
Ngomongin kesehatan mental selalu bikin flash back beberapa tahun lalu. Tepat tahun 2017 setelah sidang skripsi, aku mengalami kecelakaan hingga kepalaku cidera. Katanya, saat dibawa ke rumah sakit darah segar mengucur dari kepalaku, mual muntah tak bisa lagi ditahan. Saat itu aku masih tersadar, mataku masih bisa melihat langit-langit ruang IGD meskipun lama kelamaan memudar hingga pandangan kabur dan gelap. Cidera kepala membuatku berusaha sekuat tenaga untuk bertahan dari gangguan mental hingga akhirnya bisa kembali 'normal' seperti sekarang, meskipun kadang mood berantakan tapi masih wajar.

Cidera Kepala yang Berujung Cidera Mental

Enam bulan lamanya aku hanya bisa mengingat secuil masa lalu, awalnya ku kira gegar otak itu hanya ada di sinetron, tapi ternyata gegar otak nyata adanya. Meskipun dokter mendiagnosa gegar otak ringan, namun perjuangan adaptasi dengan keadaan nggak semudah membalikan telapak tangan. Iya, rasanya enam bulan hampir 'gila'. Aku benar-benar membatasi diri, kepercayaan diri lambat laun mulai hilang ketika teman-teman menjengukku. Aku butuh waktu untuk bertemu orang lain, karena tiap mereka mengajakku ngobrol, aku merasa menjadi orang bodoh sebodoh-bodohnya meskipun di depan mereka aku mencoba biasa saja. Namun, ketika mereka beranjak pulang, aku nggak bisa mengontrol emosi, seringkali menangis sesenggukkan menjadi kebiasaanku setiap hari.

Ketika teman-temanku asyik mengobrol, aku hanya pura-pura ikut tertawa dan menanggapi. Padahal sebenarnya aku nggak ngerti dan nggak paham obrolan mereka. Marah, benci, nggak percaya diri, merasa nggak ada yang bisa ngerti, merasa nggak diperhatikan, dan paling parah merasa nggak berguna hidup di dunia campur menjadi satu. Sampai pada akhirnya orang yang kusayang meninggalkanku kembali saat aku mengalami gangguan mental. Makin hancur? Iya pasti! Bukan merangkul dan mensupport melainkan memilih pergi. Saat itu, aku benar-benar merasa kehilangan diriku sendiri, makin nggak berani membuka diri. Takut kalau teman-temanku mengetahui kesehatan mental yang kualami akan meninggalkanku sama seperti orang yang kusayang. Bersyukur memiliki Ibu yang tangguh dan sabar luar biasa. Sentuhan dan pelukkan beliau selalu aku rasakan ketika aku mulai nggak 'normal'.

Mengenal Kesehatan Mental

Mengenal Kesehatan Mental
Dua tahun lamanya aku nggak pernah berani membalas chat dari teman-teman lamaku. Meskipun di medsos aku terlihat sehat dan baik-baik saja. Fisik kelihatan sehat, tapi apakah kesehatan mental juga baik-baik saja? Jawabnya belum tentu! Definisi sehat bukan hanya kesehatan fisik semata, melainkan meliputi sehat mental, sosial, dan sehat jiwa. Menyeluruh. Menurut WHO, kesehatan mental adalah keadaan dimana seseorang sadar akan potensi yang dimilikinya. Sedangkan gangguan mental adalah jika seseorang memiliki pola perasaan, pikiran, atau perilaku yang pada akhirnya menimbulkan distres untuk dirinya sendiri sehingga membuat dirinya kehilangan potensi untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Sederhananya, gangguan mental akan terjadi jika muncul konflik seperti harapan dan kenyataan yang berbeda. Ketika mind kita maunya yang menyenangkan saja sedangkan kenyataannya nggak sesuai dengan apa yang kita mau, hal semacam itu bisa membuat mental cidera. Penyebab mental cidera ada banyak sekali, mulai dari permasalahan pendidikan, kesehatan, asmara, karir, keluarga, dll. Jujur hayooo, siapa yang pernah mengalami gangguan mental? Sebenarnya perasaan sedih, marah, benci,  dll wajar kita rasakan ketika kita mengalami suatu masalah, namun saat perasaan dan pola pikiran mengganggu aktivitas sehari-hari atau bahkan sampai melakukan self harm (menyakiti diri sendiri) serta produktivitas kita menurun, maka sudah saatnya kita meminta pertolongan ke ahli. Please, jangan meremehkan kesehatan mental yang kita alami. It's okay kalau kita masih bisa mengolah emosi, kalau kita masih bisa mengontrol diri. Yakinlah, gangguan mental ini bukan aib. Gangguan mental ini akan berlalu asal kita bisa melakukan treatment dan penanganan yang tepat.

Langkah Mudah Menjaga Kesehatan Mental

Langkah Mudah Menjaga Kesehatan Mental
Semua orang berpotensi mengalami gangguan mental, jadi buat kamu di luar sana yang sedang stres, depresi, atau mengalami kecemasan hebat dan susah mengontrol emosi, percayalah kamu akan baik-baik saja. Kamu nggak sendirian dan kamu mesti berjuang karena sebenarnya banyak orang yang peduli denganmu. Peluk jauh dulu, sini. Nggak apa-apa, semua bakal baik-baik aja. Yang penting percaya dan yakin kalau kita bisa melewatinya. Sama halnya aku, untuk membedakan hewan serigala dan harimau aja nggak bisa, karena benar-benar nggak ingat. Jadi mau nggak mau kudu belajar dari nol lagi supaya bisa menjalani kehidupan ‘normal’. Sekuat aku berlatih mengenal hal yang sebenarnya sepele. Kadang marah, emosi, ngomong sama diri sendiri ‘ih nginget nama hewan aja nggak bisa, nggak tahu. Kalah sama anak TK’. Tapi balik lagi, aku meyakini semua bakal berlalu. Nah, berikut ada beberapa langkah sederhana menjaga kesehatan mental:

Kontrol Emosi 

Jujur, nggak mudah memang mengontrol emosi. Kita harus mencoba mengenali diri sendiri supaya nggak mudah tersinggung omongan orang. Sebisa mungkin pilah omongan-omongan yang masuk ke hati. Biasanya kalau aku sedang emosi, memilih diam barang sebentar. Lalu mendoktrin pikiran dengan hal-hal yang menyenangkan. Mencintai diri sendiri dengan menerima apapun keadaan yang terjadi akan membantu mengolah emosi yang kita rasakan. Sakit hati, nggak papa. Terima aja, jangan dilawan. Toh nanti bakal pergi sendiri kalau kita sudah menerimanya.

Mencoba Hal Baru

Kadang kalau sedang kalut dan bosan dengan rutinitas aku mengalihkan kegiatan dengan mencoba hal baru yang aku sukai. Istirahat sejenak dari rutinitas memang membantu mengcharge mood supaya makin produktif. Hal baru yang belakangan kucoba adalah berkenalan software editor. Aku punya prinsip meskipun sakit hati nggak akan bisa menghentikanku untuk selalu berkarya. Nggak lain, demi menjaga kewarasan kan? Hhhh

Bercerita kepada Orang lain 

Poin ke tiga ini mesti hati-hati, jujur meskipun aku banyak omong di depan teman-teman tapi hanya satu dua teman yang menjadi teman cerita. Memilih teman bercerita memang sangat penting, nggak mau kan ketika kita bercerita justru mendapat judgment (kurang salat, jauh dari Tuhan, lebay, atau bahkan alah masalah sepele doang). Teruntuk kamu, terima kasih sudah menjadi teman tumbuh yang sabar dan menguatkan.

Jalan-jalan

Btw, poin keempat jangan dilakukan dulu ya. Soalnya lagi pandemi, kudu di rumah aja. Ahahaha. Jalan-jalan versiku adalah pergi ketempat sejuk yang bisa membuat pikiran adem, sawah, laut, hutan, sungai, danau atau tempat apapun yang asri-asri. Karena lagi masa pandemi, keluar rumahnya cukup di halaman rumah aja sambil berkebun menaman bunga atau biji sayuran.

Olahraga dan Makan yang Bergizi

Olahraga nggak harus muluk-muluk lari 1000 meter atau berenang berjam-jam kok. Dulu aku suka melakukan senam yoga hanya berbekal dari chanel youtube. Rasanya setelah melakukan senam yoga pikiran dan hati lumayan adem karena nggak terfokus ke masalah yang sedang dialami.

Meditasi

Yap! Meditasi ngefek banget di aku. Sungguh dengan meditasi pikiran yang ricuh bisa sedikit kucontrol. Teknik meditasi juga kudapatkan di chanel youtube, cukup dengan melakukan meditasi 10-15 menit perhari.

Istirahat yang Cukup

Gimana mau sehat kalau kurang istirahat, ya kan? Meskipun ini masih susah ku terapkan, jadi kalau lagi produktif bisa semalaman di depan laptop. Tapi bersyukur banget punya teman tumbuh yang nggak bosan mengingatkan. Kalau perlu batasi jam kerja dan penggunaan gadget supaya bisa istirahat lebih maksimal.
Konsultasi Dokter Online
Nah, itu tadi adalah pengalamanku ketika mengalami cidera kepala yang berujung cidera mental. Semoga melalui tulisan ini bisa membuat kita lebih aware terhadap issue kesehatan mental. Karena kesehatan mental bukan aib yang harus dibungkus rapat, melainkan harus mendapat treatment yang tepat dari ahli. Kalau sekiranya kamu mengalami gangguan kesehatan mental yang mengganggu aktivitasmu, kamu bisa coba konsultasikan ke ahli, ya. Atau bisa juga konsultasikan ke dokter Halodoc. Jangan lakukan self diagnose karena nggak akan menyembuhkan ke khawatiranmu.


Mungkin Kamu Suka

25komentar

  1. Wah ternyata gegar otak separah itu ya. Bersyukur sekali mba sudah melewatinya *huugs*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Smpe nggak bisa punya semangat hidup. Wqwqwq
      Alhmdulillah skrg udh membaik bangeeettt

      Hapus
  2. Hai, Mbak. Merasa senasib nih, tapi aku penyebabnya adalah berbagai kejadian masa lalu yang tidak selesai alias nggantung. Kupikir hal sepele saja, tapi rupanya itu bikin gangguan di masa-masa ke depannya. Aku merasa dihantui terus sama hal-hal yang nggak kuselesaikan di masa lalu tersebut, melihat ciri-cirinya aku berkesimpulan punya gejala depresi. Tapi belum berani ke dokter, dan sepertinya nggak akan. Untungnya sudah berkeluarga, dan ada kesibukan, jadi ya sangat membantu sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi, Mas.. Alhmdulillah kl skrg udah membaik, yaa. Tp kl bisa jgn self diagnose yaa. Lebih baik minta bantuan ke ahli supaya bisa ditangani dg tepat :)
      Stay safe di sana :)

      Hapus
  3. Sekitar 4 th yg lewat sempet berada pada fase seperti depresi atao apa gt, cemas yg ga jelas,ketakutan yg ga jelas, sampe berefek ke tubuh, Allhamdullilah bisa melewati semuanya berkat bantuan org" baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahhh terima kasih sudah bertahan dan berhasil melewati semua ini mbak Santuy. Peluk jauh yaaa.. Semangat terus kita :)

      Hapus
  4. kontrol emosi ini nih yang susah, kadang kalo gak enak bawanya pengen marah-marah terus.. mencari hal baru its okelah bisa di lakukan.. cerita ke orang lain curhat, ini juga sebenernya susah untuk di lakukan untuk orang pendiem seperti gw :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahahaaha. Aku aja yg crewet masya allah untuk curhat ke orang pilih2 bgt mas. Agak susah jg. Apalagi yg pendiem yaa :(
      Tetap cemunguddd yasss

      Hapus
  5. Tips diatas bisa dijadikan pedoman nih di Massa Pademi Covid 19 ini. Karena banyak mental orang yang tertekan.😊

    So apapun itu intinya jaga kesehatan dan tetap semangat.💪💪

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat bgt bang Satria, supaya tetap waras dan sehat mental bisa coba tips di atas :)

      Hapus
  6. Selama pandemi ini aku coba buat ikutan berbagai sesi soal mindfullness dan lumayan banget bisa dapet banyak hal soal overthinking, naturopati, plant-based nutrition, dall. Beneran ngebantu buat bikin kita tetep waras pas di rumah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat bgt mbak. Beberapa kali juga smpet ikutan kelas mindfullness. Lumayan bikin hati tenang :)

      Hapus
  7. Mungkin bisa hidup seperti larry 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. njirrr... mantap 😂😂😂

      Hapus
    2. Kelvin: haruskah aku menyelam ke dalam air? Ahaha

      Postinks: apakah km juga mendukungku hidup seperti larry? Ahahaah

      Hapus
  8. Meditasi ampuh banget mbaak untuk terapi gangguan mental. Hati dan pikiran jd lebih tenang dan ringan, bsa lebih mahir kontrol emosi jugaa. . .aku biasanya meditasi tiap malem kalau uda penat, stress kerjaan dan penuh hawa negatif mbaak. selepas meditasi lebih tenang gtu jdnya . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beneeer bgt, memang paling ampuh bikin suasana menjadi tenang ya meditasi ini. Sekali dua kali pikiran masih ramai tp lama2 kl udh terbiasa meditasi enak bgt. Hhh

      Hapus
  9. Trimakasih ya mbak Ella udh mampir ke channel YouTube ku.

    Nggak nyangka setelah baca artikel ini ternyata mbak Ella dulu pernah mengalami kecelakaan sepeda motor. Menurutku itu berat loh sampai keluar darah dikepala.

    Beruntung Sang Pencipta masih mengasihi mbak sehingga bisa dipulihkan walaupun harus siap mental mengalami hal2 yg tidak mengenakkan di hati. Bersyukur lah seorang ibu yg penuh kasih selalu disamping anak gadisnya.

    Saya salut mbak udh bisa mengalahkan keadaan dan situasi yg berat dgn melakukan sesuatu yg positif. Seperti tulisan mbak Ella yg keren ini. Sungguh inspiratif sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 mas Aris. Semangat berkarya selalu yaaa.. Iya bener masa kelam bgt 2017,kadang mikir Tuhan baik bgt masih memberi hidup yg lebih baik dr tahun2 sblmnya. Berkat dukungan orang2 terbaik juga :)

      Hapus
  10. Kayaknya treatment kesehatan jiwa ini sudah bener-bener mesti diperhatikan saya pemangku kebijakan kesehatan ya, Mbak. Apalagi sekarang makin banyak daerah di Indonesia yang bercorak urban, yang buat kenal tetangga aja susah, yang kalau mau berteman mesti berkomunitas dulu. Keren banget sih Halodoc udah mulai melirik soal kesehatan mental. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, bener bgt. Kadang nggak sadar kl sebenernya kita mengalami gangguan kesehatan mental. Byk jg yg menutup diri minta bantuan ahli krna takut sanksi sosial yg menganggapnya gila :(

      Hapus
  11. Orang2 di Indonesia rasanya masih blm mau terlalu terbuka kalo ada masalah di kesehatan mental. Mungkin Krn ga mau dianggab gila oleh orang2 lain. Mereka sengaja nutupin yg berakibat malah makin parah.

    Aku sendiri ga anti dengan yg namanya psikiater. Malah bersyukurlah ada dokter2 ahli jiwa ini Krn sbnrnya dengan kita curhat apapun, mereka LBH menegerti dan jd tau salahnya kita di mana :).

    Malah enak skr ada aplikasi halodoc gini ya mba. Jd mau konsultasi bisa online. Kali aja msh ttp risih berhadapan lgs :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak bener. Byk yg beranggapan demikian. Ikutan senang jg pas halodoc menyediakan psikiatri untuk membantu orang2 di luar sana yg sedang berjuang dg gangguan mental :)

      Hapus
  12. Loh pernah jatuh to mbak? Alhamdulillah sekatang udah sehat lagi.

    Aku juga kadang ngerasa gangguan mental. Terutama pas tanggal tua. Gajian belom masuk tapi tagihan udah antri kaya ular-naga-panjangnya-bukan-kepalang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas. Alhmdulillah sudah pulih dan membaik. Kl itu sih bukan gangguan mental tp gangguan pengeluaran. Wkwk

      Hapus

Buka Yuk!
Join on this site

Jangan Ketinggalan, Klik Ikuti