Aplikasi Let's Read: Inovasi yang Jadikan Minat Baca Anak Meningkat

oleh - Juni 12, 2020

Let's Read: Inovasi yang Jadikan Minat Baca Anak Meningkat
Kali ini, aku akan berbagi sekelumit cerita dunia literasi. Aku yakin di luar sana teman-teman sebayaku banyak yang memiliki segudang koleksi buku saat memasuki usia anak-anak, bahkan tidak menutup kemungkinan usia balita pun sudah dikenalkan buku oleh orang tuanya. Beruntunglah jika hal demikian yang teman-teman rasakan. Kondisi ini berbanding terbalik, karena aku tumbuh di keluarga yang jauh dari dunia literasi. Terbukti hingga saat ini aku tidak pernah menemukan koleksi satu buku pun milik mbah, ayah, ibu, bude, pakde, om, atau pun tante. Mereka membaca buku hanya saat mengenyam pendidikan, berpuluh tahun silam. Sebatas itu. Memang, kami tinggal di perbatasan desa antar kabupaten. Untuk membeli buku rasanya merupakan hal yang mustahil di keluarga kami karena harus menempuh perjalanan berpuluh kilo meter ke kota yang terdapat toko buku ternama. Belum lagi, akses jalan yang kurang mumpuni.

Bukan hanya keluargaku yang jauh dari dunia literasi, namun lingkunganku juga demikian. Kami terbiasa hanya akrab dengan buku pelajaran yang diberikan oleh guru sekolah dasar. Boro-boro sekolah kami memiliki perpustakaan, kebagian satu buku paket untuk empat anak rasanya sudah senang bukan kepalang. Jika ada PR yang tidak bisa dikerjakan, mau tidak mau, salah satu diantara kami harus berjalan kaki menuju rumah teman yang membawa buku paket untuk mencari materi. Miris memang, tapi itu kenyataan yang aku alami 12 tahun silam. Majalah Bobo? Majalah Mentari? Jangan tanya. Kami tidak mengenal. Apalagi dihadiahi buku oleh orang tua karena prestasi? Oh, kami juga tidak pernah merasakan. Ahahaha

Mungkin ini salah satu kondisi yang menyebabkan minat baca anak di Indonesia sangat rendah.

Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Minat Baca Anak

Menurut hasil studi "The World’s Most Literate Nations" ternyata Indonesia berada di urutan ke-60 dalam kebiasaan membaca. Sama halnya pada tahun 2016 penelitian yang dilakukan organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan PBB (UNESCO) terhadap 61 negara di dunia menunjukkan kebiasaan membaca di Indonesia sangat rendah. Minat dan kebiasaan membaca di Indonesia tergolong rendah bukan tanpa sebab, berdasarkan Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) salah satu penyebabnya adalah kurangnya akses buku bacaan, terutama di daerah terpencil.

Sebelum membahas bagaimana tips meningkatkan minat baca anak, ada baiknya kita juga mengetahui faktor apa saja yang membuat minat baca anak Indonesia terbilang rendah. Nah berikut ini beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya minat baca anak, antara lain:

Akses Buku yang Terbatas

Kasus ini sama seperti yang kualami 12 tahun silam. Sulitnya mendapatkan akses buku menjadi salah faktor utama rendahnya minat baca anak. Bahkan, saat ini rasio jumlah buku cerita terhadap anak Indonesia baru mencapai 1:3, artinya 1 buku diakses secara bersama-sama oleh 3 anak. Padahal UNICEF menyarankan setiap anak dapat mengakses sedikitnya tiga buku cerita demi menunjang tumbuh-kembang mereka. Sebetulnya, menurutku minat baca anak Indonesia sangat tinggi, namun karena buku bacaan anak-anak terbatas, maka minat anak-anak untuk membaca terkesan rendah. Mereka hanya bisa menikmati buku-buku pelajaran yang notabene sangat 'membosankan' karena berisi materi pelajaran yang  cenderung monoton.

Kualitas dan Kuantitas Buku yang Kurang Menarik 

Poin kedua juga turut menjadi penyebab kurangnya minat baca anak. Kebanyakan buku-buku di perpustakaan hanya menyediakan buku-buku pelajaran saja, meskipun terdapat buku bacaan anak, namun bahasa yang digunakan tergolong 'kaku' atau sulit diterima anak-anak. Pun biasanya perpustakaan hanya menyediakan koleksi buku bacaan anak keluaran zaman dulu. Jika seperti ini kondisinya, bagaimana kita bisa menumbuhkan minat baca anak baik di rumah ataupun di sekolah?

Rendahnya Kesadaran Orang Tua

Mungkin ada puluhan juta anak di luar sana yang memiliki nasib sama seperti kami, jauh dari dunia literasi karena berbagai faktor. Salah satu faktornya adalah rendahnya kesadaran orang tua dalam mengenalkan literasi sejak dini. Sebagian orang tua di lingkunganku beranggapan bahwa membeli buku merupakan hal yang sia-sia. Pemborosan. Hal ini dikarenakan kesadaran orang tua terhadap manfaat membaca sangat minim. Meskipun aku mengalami hal serupa, namun aku merasa beruntung karena saat mulai remaja diizinkan mengoleksi berbagai buku bacaan.

Bermain Gadget Tanpa Pengawasan Orang Tua

Jujur, beberapa kali aku menyaksikan orang tua dengan entengnya memberikan gadget kepada anak supaya si anak bisa diam dan anteng. Tetapi pernahkah kita merefleksikan seberapa besar efek yang akan ditimbulkan ketika si anak mulai tumbuh besar? Lagi-lagi kesadaran orang tua harus lebih ditingkatkan. Tidak heran banyak orang tua mengeluhkan kebiasaan anaknya yang bermain gadget hingga lupa waktu. Seperti bermain game, menonton channel youtube, ataupun berselancar di media sosial. Mari flash back, seberapa sering bapak/ibu memberikan gadget kepada anak dengan dalih supaya anak bisa diam dan anteng?

Setitik Usaha Membangkitkan Minat Baca di Sekolah Swasta

Seperti yang sudah ku bahas, sebetulnya ada berbagai faktor yang menyebabkan kurangnya minat baca anak mulai dari minimnya kesadaran orang tua hingga akses buku yang terbatas. Meskipun demikian, peran pemerintah dalam pemerataan fasilitas yang menunjang dunia literasi terus digencarkan. Maka, tidak dipungkiri saat ini perkembangan infrastruktur dan pendidikan sangat berdampak bagi tempat tinggal kami. Akses jalan menuju kota rasanya semakin mudah dijangkau. Beruntung setelah lulus dari sekolah dasar, aku melanjutkan pendidikan di pusat kota. Akses untuk mendapatkan buku terasa semakin mudah, dimulai dengan kagumnya melihat buku-buku yang tertata rapi di rak perpustakaan sekolah hingga seringkali tanpa sadar tenggelam di rak-rak toko buku yang menawarkan ribuan koleksi buku. Pun aku merasa sangat beruntung, ketika beranjak dewasa berada di lingkungan yang "tepat" dimana sejak saat itu aku mulai merasakan bahwa membaca buku merupakan sebuah KEBUTUHAN. Yap! Kebutuhan. Tidak bisa ditawar lagi.

Kebetulan setelah lulus kuliah, aku kembali ke kampung halaman, mengabdikan diri di sekolah swasta. Meski belum berkeluarga dan memiliki anak, bermodalkan teori dan ilmu parenting yang seuprit aku mencoba masuk ke dunia anak-anak, menjadi teman bermain mereka sekaligus menjadi orang tua dan guru untuk mereka. Susah? Pasti. Bahagia? Sangat bahagia. Menurutku, rata-rata minat baca mereka tumbuh di kelas 1, 2, 3, dan 4 sekolah dasar. Untuk menumbuhkan minat baca pada anak memang dibutuhkan trik khusus supaya minimal anak-anak tertarik dengan buku. Guru seolah harus memiliki skill "marketing" didukung dengan fasilitas buku bacaan bersampul menarik dan isi cerita yang ramah anak, supaya anak tertarik untuk melakukan action (membaca). Treatment yang dilakukan untuk tiap tingkat kelas pun berbeda, karena untuk kelas tinggi 4-6 sekolah dasar, anak-anak sudah bisa diajak untuk berpikir abstrak otomatis diperlukan buku bacaan dengan tingkat yang lebih tinggi.

KBM di Sekolah yang selalu Dibudayakan Membaca
Beruntung, di sekolah tempatku mengajar tiap kelas memiliki pojok baca yang nyaman sehingga dapat menarik anak untuk mendekati area pojok baca. Selain itu, di rak buku terdapat berbagai buku bacaan dengan sampul warna-warni sehingga anak tertarik untuk membuka buku tersebut. Selama kurang lebih 3 tahun bersama mereka, aku bisa menarik kesimpulan bahwa sebenarnya minat baca anak-anak sangat tinggi terbukti setiap selesai mengerjakan tugas, mereka sangat antusias menghabiskan waktu di pojok baca untuk membaca buku cerita yang tersedia bahkan beberapa anak telah selesai melahap semua koleksi buku bacaan di pojok baca kelas.

Sama halnya dengan adik perempuanku yang saat ini duduk di kelas 3 SD. Sejak ia lahir, aku dan kedua orang tuaku tidak pernah memaksanya untuk menyukai membaca buku. Aku ingat betul ketika dia masih duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar, saat aku sedang membaca novel yang lumayan tebal. Dia bertanya padaku,
"mbak, ngapain baca buku tebal banget?"
Aku hanya tersenyum dan menjawab dengan santai
"baca buku tuh seru banget, lho. Asyik!"
Adik yang Mulai Suka Baca Buku Berkat Stimulus Kakak
Dengan menunjukkan wajah bingung, dia berlalu begitu saja. Saat ia duduk di kelas 2 sekolah dasar, baru terlihat tertarik dengan buku koleksiku. Bahkan hampir tiap hari dia mengambil buku-buku di rakku. Membaca judulnya, membolak-balikan lembaran demi lembaran. Jika menemui lembaran yang bergambar, tangan mungilnya berhenti. Matanya mengamati lalu melontarkan tanya. Tapi ketika ku sodorkan buku bacaan tanpa gambar, dia tidak peduli. Justru beralih membuka buku yang bersampul menarik. Sepertinya dia memang belum suka membaca, hanya sebatas tertarik dengan gambar-gambar yang ada di buku. Lambat laun, tiap kami ke kota dia tidak lagi minta bermain di pusat perbelanjaan. Mulai saat itu, yang diminta hanya satu, ke toko buku. Tanpa sadar, kebiasaanku membaca buku ternyata diam-diam diikutinya. Alhamdulillah.

Tips Menumbuhkan Minat Baca Anak

Sepengalamanku dalam menumbuhkan minat baca anak sebetulnya tidaklah sulit. Kita hanya butuh masuk ke dunia mereka untuk menjadi teman yang asyik dan menyenangkan supaya dapat "mengajak" anak dengan mudah bahwa kegiatan membaca adalah sebuah kebutuhan. Apalagi di era digital seperti sekarang, orang tua diharuskan memiliki inovasi dan 'ramuan' yang tepat supaya anak tertarik untuk membaca, karena dengan menumbuhkan minat baca pada anak diharapkan kebiasaan membaca akan terus dilakukan. Nah berikut ini adalah beberapa tips yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan minat baca anak.

Gali Potensi Anak

Hal pertama yang harus dilakukan supaya anak tertarik membaca buku adalah menggali potensi yang dimilikinya. Untuk menggali potensi yang dimiliki oleh seorang anak, orang tua ataupun guru bisa mengamati kebiasaan yang ia lakukan. Atau bisa juga dengan mendengarkan cerita dan pertanyaan si anak setiap harinya, biasanya minat anak akan terlihat dari apa yang sering ia ceritakan dan tanyakan. Orang tua dapat menanyakan kepada anak, kira-kira buku apa yang sedang ingin dibaca, dengan begitu biasanya anak akan lebih bersemangat untuk membaca buku.

Sediakan Buku Bacaan yang Sesuai Minat Anak

Setelah mengetahui minat anak, langkah selanjutnya adalah menyediakan buku bacaan yang berkualitas. Misalkan seorang anak sering bertanya atau bercerita mengenai benda-benda langit luar angkasa maka sebisa mungkin kita sediakan buku bacaan seputar benda-benda langit dan cerita luar angkasa. Simpelnya, buat si anak merasa senang dengan buku yang dibacanya. Jangan lupa, memilih buku bacaan yang mudah dipahami oleh anak dengan tambahan ilustrasi untuk membantu merangsang kemampuan berpikirnya. Selain itu, anak cenderung akan tertarik dengan buku berwarna-warni dan teks bacaan yang tidak terlalu panjang. Menurutku bacaan dengan teks panjang bisa diterapkan untuk kelas tinggi, kelas 4-6 SD.

Rutin Bacakan Cerita Kepada Anak

Tips ini bisa dilakukan saat anak belum mengenal huruf atau belum lancar dalam membaca. Orang tua berperan menghidupkan tokoh dalam cerita supaya karakter tokoh makin kuat sehingga dengan mudah anak dapat menangkap cerita yang disampaikan. Membacakan cerita kepada anak tidak memerlukan keahlian khusus, kok. Bermain intonasi dan melakukan pendekatan kepada anak menjadi kunci utama dalam bercerita.

Menjadi Contoh untuk Anak

Seorang anak memang peniru ulung, apapun yang ia lihat, dengar, dan amati sangat mudah ditiru. Untuk itu, orang tua atau guru sudah sepatutnya memberikan contoh untuk membangun minat baca anak. Seperti adik perempuanku yang tanpa sengaja sering melihatku membaca buku. Lambat laun apa yang ia lihat akan membekas di pikiran dan ada dorongan untuk melakukan hal yang sama.

Diskusikan Hasil Bacaan Anak

Peran orang tua dalam menumbuhkan minat baca anak sangat diperlukan. Dukungan orang tua bukan sebatas materi saja, namun menurutku dukungan orang tua juga meliputi komunikasi terhadap buku bacaan anak. Semisal dengan menanyakan isi cerita dari buku yang telah dibaca, atau memancingnya untuk menceritakan kembali apa yang telah ia baca. Cara ini juga dapat meningkatkan daya imajinasi anak, melatih kemampuan bercerita kepada orang lain, berpikir kritis, dan bersosialisasi. Selain itu, anak akan merasa dihargai ketika orang tua atau guru menanyakan tentang buku yang ia baca.

Manfaatkan Buku Digital

Pemanfaatan Gadget Sebagai Sarana Membaca Ebook
Salah satu alat yang bisa dimanfaatkan oleh orang tua atau guru untuk menumbuhkan minat baca anak adalah memanfaatkan gadget sebagai sarana membaca buku digital (ebook). Beberapa anak terkadang lebih menyukai bermain gadget ketimbang membaca buku fisik. Dari sini kreativitas dan kemampuan orang tua memang harus selalu diupgrade supaya menemukan 'ramuan' yang tepat dalam menumbuhkan minat baca anak. Selain itu, dengan memanfaatkan gadget dapat meminimalisir keterbatasan akses buku. Apalagi di masa pandemi ini kita dituntut untuk di rumah saja, sedangkan buku bacaan anak hanya tersisa itu-itu saja. Namun, kita tetap bisa mendapatkan ratusan cerita bergambar secara gratis dengan tetap di rumah aja, lho. Dengan bantuan aplikasi Let's Read yang bisa diunduh di playstore secara gratis di link berikut https://bit.ly/downloadLR

Membaca Menyenangkan dengan Aplikasi Let's Read

Aplikasi Let's Read bisa dikatakan sebuah perpustakaan digital yang menyuguhkan bacaan bergambar dengan fokus seni, budaya dan pendidikan. Let's Read diprakarsai oleh Books for Asia, yakni program literasi yang telah berlangsung sejak 1954. Program tersebut menerima U.S. Library of Congress Literacy Awards atas inovasi dalam promosi literasi pada bulan Desember tahun 2017. Melalui konsep digitalisasi #ceritabergambar, pengembangan buku cerita rakyat dengan kearifan lokal, serta penerjemah buku cerita anak berkualitas terbitan dalam dan luar negeri ke dalam bahasa nasional dan bahasa ibu diharapkan dapat meningkatkan minat baca pada anak. Let's Read mengusung misi membudayakan kebiasaan membaca pada anak Indonesia sejak dini.

Ratusan cerita bergambar gratis merupakan inovasi persembahan komunitas literasi, penerbit, dan @theasiafundation yang dapat menarik minat anak dalam membaca. Mengunduh aplikasi Let's Read rasanya seperti mendapatkan harta karun. Saking spechlessnya, aku langsung mengirimkan link download aplikasi ini ke adikku yang masih duduk di kelas 3 sekolah dasar dan mengirimkan link download ke grup wali murid sekolah. Tanggapan mereka sangat antusias, bahkan saat ku share link download di facebook beberapa orang berkomentar sangat antusias dengan menyisipkan screen shoot bukti download. Memang hal sepele, tapi aku merasa senang bisa membantu mereka yang membutuhkan informasi buku digital bacaan anak-anak.

Selain itu, aplikasi ini sangat membantu dalam menumbuhkan minat anak dalam membaca yang dilengkapi dengan berbagai fitur, yakni:

Gratis Baca Ratusan Cerita Bergambar Pilihan

Cukup dengan satu aplikasi Let's Read, kita bisa menikmati ratusan cerita bergambar pilihan secara gratis yang dapat membuat anak semakin tertarik untuk mencintai dunia literasi. Cerita bergambar ini terdiri dari ratusan judul yang bisa diakses secara cuma-cuma.

Dapat Dibaca Tanpa Koneksi Internet

Fitur ini menjadi salah satu fitur unggulan karena ratusan cerita bergambar dapat dibaca tanpa koneksi internet, asalkan sudah didownload terlebih dahulu, ya. Untuk mendownloadnya juga gratis, hanya menggunakan kuota data saja. Kemarin adikku langsung mendownload beberapa cerita, supaya tetap bisa membaca saat kuota datanya habis.

Membaca Lebih Seru dengan Gambar dan Teks yang Dapat Diperbesar

Pengaturan Ukuran Teks dan Gambar yang Dapat Diperbesar
Memang ya, fitur Let's Read benar-benar menyesuaikan dengan kebutuhan anak-anak. Fitur ini membuat anak semakin tertarik untuk membaca karena gambar dan teks bacaan dapat diperbesar sesuai keinginan anak. Cara untuk memperbesar gambar dan teks pada aplikasi Let's Read adalah: 
  • Pilih cerita terlebih dahulu
  • Klik baca
  • Klik icon A di pojok kanan atas
  • Silakan atur ukuran teks dan gaya teks sesuai dengan kemauan anak 
  • Klik OKE

Belajar Bahasa Inggris dengan Fitur Multibahasa

Jujur, saat adikku menggunakan aplikasi Let's Read, ia sangat senang karena dilengkapi dengan fitur multibahasa. Apalagi saat menemukan cerita berbahasa Inggris. Maklumlah, kami tinggal di desa dengan akses buku bahasa yang minim. Rata-rata di sekolah kami hanya menyediakan buku berbahasa Indonesia, meskipun ada buku berbahasa Inggris jumlahnya sangat terbatas. Makanya saat adikku mengetahui fitur multibahasa ini girangnya kebangetan.
"Akhirnya bisa membaca cerita bahasa Inggris tanpa berebut dengan temannya." katanya sambil memilih cerita berbahasa Inggris.

Cari Ratusan Judul Berdasarkan Tingkat Kesulitan, Bahasa, dan Topik

Fitur Let's Read rupanya sangat disesuaikan dengan kebutuhan orang tua dan anak. Kolom search bisa kita sesuaikan dengan pilihan bahasa, level tingkat kesulitan, dan label/topik bacaan. Bahasa yang digunakan di aplikasi ini sekitar 44 bahasa, terdapat beberapa bahasa daerah seperti Bahasa Sunda hingga Bahasa Jawa. Lengkap sekali bukan? Sementara itu, ada juga filter pilihan level kesulitan mulai dari buku pertamaku, tingkat 1-5. Dan ada juga filter label/topik yang bisa kita pilih, terdapat 18 topik pilihan seperti bacaan science, animals, nature, non-fiction, critical thinking, art and music, problem solving, dll. Kita bebas memilih dan menyesuaikan dengan potensi anak.

Filter Ebook Lets Read

Mari Menjadi Bagian dalam Menumbuhkan Minat Baca Anak

Untuk menjadi bagian dalam menumbuhkan minat baca anak bisa dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Mengubah mindset atau cara pandang terhadap manfaat membaca buku sangatlah krusial, memang manfaat membaca buku tidak bisa langsung kita rasakan, tidak seperti ketika sedang lapar, lalu makan, maka perut terasa kenyang. Manfaat membaca buku akan dirasakan dalam jangka panjang, seperti: dapat melatih kemampuan berpikir, meningkatkan pengetahuan dan wawasan, menambah perbendaharaan kosa kata, mengasah empati seseorang, dll. Apalagi kemudahan di zaman serba digital ini tanpa ilmu pengetahuan, kita akan tertinggal dengan yang lain. Ilmu pengetahuan dapat diperoleh dari mana saja termasuk dengan membaca.

Menumbuhkan minat baca pada anak bukan hanya kewajiban orang tua semata, namun merupakan kewajiban semua orang mulai dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, hingga lingkungan masyarakat. Sekarang, tidak ada alasan untuk abai dengan masa depan anak-anak. Semoga dengan adanya persembahan ratusan cerita bergambar gratis dari Let's Read dapat meningkatkan minat baca pada anak sehingga di masa depan tercipta generasi yang berkualitas.

Begitu pengalamanku dalam menumbuhkan minat baca anak, barangkali teman-teman punya tips tambahan boleh share di kolam komentar, ya!


Sumber bacaan:
https://reader.letsreadasia.org/

Mungkin Kamu Suka

70komentar

  1. Saya baru ngeh dengan aplikasi lets read ini setelah baca beberapa review teman-teman, dan ini juga.
    Bermanfaat banget nih aplikasi, terutama buat bacain buku bareng anak-anak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Rey bermanfaat bgt buat menarik minat baca anak karena dilengkapi dengan ratusan cerita bergambar :)
      isi ceritanya juga terfokus ke nilai budaya dan pendidikan. cocok bgt buat teman tumbuh anak :D

      Hapus
  2. Gambarnya gemes-gemes amat! Seneng banget ada aplikasi ini, harapannya anak-anak pun jadi lebih berminat untuk membaca buku, ya. Tapi jangan lupa, para orangtua atau kita yang sudah dewasa pun juga perlu untuk membiasakan diri agar lebih banyak membaca buku supaya orang-orang di sekitar kita ikut "keracunan". Hihihi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepakat mbak Sintia, dengan adanya aplikasi Let's Read ini semoga anak2 makin senang membaca ya. Selain itu, orang tua juga harus sadar untuk mendukung anak dlm proses menumbuhkan minat baca seperti memberi contoh dan membiasakan diri membaca buku di depan anak2.. hhh

      Hapus
  3. Beruntungnya anak-anak jaman sekarang ada aplikasi ini.. Semoga dengan aplikasi ini minat baca anak-anak Indonesia makin meningkat.

    Dulu saya kalau ndak ujian atau tes di sekolah gak baca buku :v.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, semoga aplikasi ini bisa membantu anak2 di luar sana yang sulit mengakses buku. Nah kan, baca bukunya kl mau tes atau ulangan doang ya, wkwk

      Hapus
  4. agak susah sekarang nemuin anak kecil yang suka baca baca, minim majalah waktu SD macam bobo, kalau dari kecil udah pernah disuguhi buku bacaan ringan, sepertinya sampe gede akan terbiasa, kayak aku hahaha
    sodara sodara aku kayaknya nggak ada yang suka 'koleksi' buku buku, kecuali sodara yang bekerja di bidang pendidikan, kayaknya banyak buku buku sekolahnya.
    apalagi jaman sekarang anak anak familiar dengan pegang hp, kayaknya dikenalinnya lebih mudah dengan aplikasi ini, bisa buka buka cerita bergambar dari hp, sepertinya menarik juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Ainun, kesadaran ortu memang jadi kunci utama untuk menumbuhkan minat baca anak sih. Selain ointer2 nyari cara supaya anak tertarik, memnafaatkan gadget di era sekarang menurutku salah satu pilihan yang tepat, hhh
      apalgi anak2 zaman now kan suka bgt main gadget, mending dikenalin sm app Let's Read, xixi

      Hapus
  5. Meski punya beberapa aplikasi untuk buku yang bisa diakses daring, aku lebih seneng baca buku cetak. Alasannya sederhana sih. Rasanya lebih nyaman aja buat dibaca. Apalagi kalau bukunya baru dibuka plastiknya. Harum bau kertas percetakan itu kok menenangkan ya. Sebulan setidaknya baca sekitar lima buku, tiga dalam bahasa Inggris, dua dalam bahasa Indonesia. Kebayang kan aku perlu rak dan dan meja buat menata koleksi buku-bukuku itu.

    Tapi setuju banget sih. Diriku sekarang cukup beruntung bisa mengakses buku dengan mudah, baik fisik maupun versi digital. Anak-anak di daerah itu kesulitan mengakses bahan bacaan salah satunya karena buku mahal, kalaupun versi digital, kebanyakan keburu males bacanya. Kalaupun disubsidi kuota, malah dipakai buat youtube-an. Serba susah emang. Tapi bukan berarti gak mungkin kalau memang niat mencari. Padahal sekarang perpus daerah koleksinya sudah beragam juga lho. Beberapa koleksi perpusnas juga bisa diakses daring. Jadi sebenernya, meski di daerah, asal ada jaringan internet, akses itu sebenarnya ada. Hanya orang kita aja mungkin yang lebih tertarik dengan dunia visual daripada literasi 😷🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaah keren nih mas Adie, patut ditiruuuu. Aku paling sebulan cm baca buku 1 doang mas, kadang 2. Nggak mesti sih, sesuai mood dan kebutuhan, xixixi
      tp yg jelas, sebulan memang diusahakan selalu baca buku, soalnya berasa kecanduan.. senang aja, mau buku digital atau fisik oke2. intinya lebih ke kesadaran orang tua untuk turut andil dalam meingkatkan minat baca anak, pelan2 buat edukasi, dan dimulai dari diri sendiri. Disini boro2 pd minat akses perpusnas, masih pd bingung karena SDM masih rendah, tp kl cuma sekelas aplikasi malah banyak yg familiar, dan merasa lebih praktis, hhh

      Hapus
  6. salah satu yang bikin minat baca berkurang juga karena lagi banyak main sosmed mbak kalau saya huhu. udah banyak lupa gimana rasanya tenggelam dalam cerita di buku bacaan. jadi ini solusi banget ya ketika gadget yang bikin lupa baca, dijadikan alat untuk meningkatkan minat baca. heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mbak Ajeng, salah satu solusi buat menafaatkan gadget bisa dengan aplikasi Let's Read, xixixi
      apalagi terdapat ratusan bacaan gratis yang bisa dinikmati meskipun tidak ada internet, asal buku bacannya sudah di download terlebih dahulu :)

      Hapus
  7. emang asyik banget pakai let's read ini. terus, aku amazed, itu ilustrasi kok bisa gayanya klasik gitu, ya? good job!

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, makasih mbak Farida :)
      Adikku juga tiap hari baca di aplikasi Let's Read saking senengnya punya app baru :)

      Hapus
  8. Whahaha sebisa mungkin tetap numbuhin minat baca anak sedari kecil sih, meskipun nanti kalau sudah besar, bakal tetap mau baca atau engga ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. berisik bet mas Febri di mana-mana ada sampeyan hmm
      itu mah kamu ngga mau baca walaupun udah diajarin baca sejak kecil :( hahaha

      Hapus
    2. Febri: kl dah gede tetep dong suka baca, baca perasaan dia. eak!

      Onix: biasa lah mbak, febri emg pengrusuh dimana2 itu

      Hapus
  9. Mbak Ella itu guru yaa? wha keren lho, soalnya saya pernah baca tulisan kamu waktu menang lomba Dompet Dhuafa. Semangat menularkan minat baca pada anak-anak, Mbak! :)

    Ngomong-ngomong, kalau dari gadget bacanya apa semua anak bisa mengakses?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, cm jd temen main anak2 mbak Onix :)
      terima kasih yaa.. kl di daerahku, karena toko buku jauh, dan memang kebanyakan anak pd dikasih gadget sm ortunya mungkin cara ini bisa diterapkan untuk merangsang minat anak dalam membaca, karena ada ratusan cerita bergambar yang bisa diakses secara gratis :)

      Hapus
  10. Oh ternyata mbak Ella guru ya, salam kenal Bu guru.😄

    Iya sih, memang aku lihat jarang ada anak yang hobi baca, sukanya main hape saja.

    Dulu waktu aku kecil sebenarnya hobi baca lalu ke perpustakaan SD. Nah, memang buku bacaan itu kebanyakan bahasanya kaku dan kurang menarik minat anak untuk membaca, tidak seperti majalah bobo. Tapi bagi yang hobi baca sih tetap baca juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahahah Mas Agus bisa aja laaah
      bener, kl anak2 pegang hp rata2 lg main game atau nonton youtube ya. Mungkin kl hpnya di donwnloadkan aplikasi Let's Read ini bisa bikin mereka tertarik membaca karena ada ratusan cerita bergambar dengan berbagai pilihan bahasa. hhh

      Hapus
  11. Aplikasinya bagus... Tips dan triknya juga.
    Mau saya coba sama keponakann yang hobinya dikit-dikit Upin, dikit-dikit hape, dikit-dikit mobil. Yah walaupun dia belum bisa baca. Kayanya ngebiasain buat ngebacain buku cerita bergambar bisa ngebiasain dia sama buku.

    Sekarang sih lagi hobi corat coret dia, di tembokkk.. di kertas, lemari.. haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. ipinnya masa mas Bay? kwkwkwk
      iya mas, karena mengenalkan literasi ke anak memang harus sedini mungkin, kl anak blm bisa membaca kita yang dewasa bisa berupaya membacakan cerita kepada mereka untuk mengasah kemampuan berpikirnya :)

      Hapus
  12. aku termasuk orang yang beruntung karena sedari kecil sudah dibelikan banyak bahan bacaan, mulai dari buku cerita rakyat, buku cerita umum, buku pengetahuan, majalah bobo dan lain-lain sehingga minat bacaku udah terbentuk sejak kecil, hanya saja minat menulis baru tumbuh setelah bekerja :D ..

    zaman sekarang udah canggih-canggih ya,, aplikasi let's read ini menarik bgt, semoga saja bisa menarik minat anak-anak untuk semakin gemar membaca, dan semoga Mbak Ella sukses mendidik generasi-generasi muda yang unggul. aamiin..

    -traveler paruh waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaaah senangnya mas Bara dr kecil sudah dikenalkan dan mengoleksi buku2 bacaan yaa. akupun, minat baca tumbuh saat SMP, lalu minat menulis tumbuh pas kuliah. wkwk
      ammiin, terima kasih doa baiknya mas Bara :)

      Hapus
  13. Duhh aku bersyukur berarti ya dari zaman baheula dlu udah kenal & langganan Majalah Bobo. Jadi minat baca tumbuh sendiri, gak usah dipaksa. Justru setelah tua ini agak males baca karena mata mulai cepet lelah 😄
    Aplikasi Let's Read ini bisa jadi salah satu cara agar anak gak melulu main game. Mindset membaca itu membosankan bisa terhempas dengan adanya aplikasi ini ya mbak Ella.
    Semoga ke depannya lebih banyak lagi orang tua yg sadar dgn keberadaan aplikasi ini & menumbuhkan minat baca utk anak mereka tanpa dipaksa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahahaha berarti mbak Hastin termasuk jd salah satu orang yg beruntung karena sedari kecil sudah dikenalkan dengan buku. Bener mbak, anak2 skrg lebih suka bermain game di hpnya, drpd baca buku fisik. hhh. Maka bisa jd solusi untuk menginstal app Let's Read supaya anak dekat dengan dunia literasi

      Hapus
  14. saya belom pernah menggunakan aplikasinya ini tapi sudah membaca review banyak orang soal ini termasuk punya mba, kayaknya memang sangat bagus ya untuk digunakan bersama anak-anak, selain gambarnya colorful dna tentunya isinya pasti tentang education semua, mau coba ah nanti kalau pulang pakai sama keponakan aku yang suka banget kalau baca itu gambarnya warna warni

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Mei, salah satu aplikasi baca yg bagus bgt dikenalkan ke anak2 sih ini. Selain karena tersedia ratusan bacaan bergambar yg gratis, Let's Read jg terfokus dalam bacaan budaya dan pendidikan jd sangat cocok menjadi teman tumbuh anak2.. :)
      wah semoga keponakannya suka yaa

      Hapus
  15. Aplikasi yang sangat menarik dan bermanfaat ini. Jadi penasaran saya blom doownlou Kakak.

    BalasHapus
  16. Sy juga merasa dulu kurang buku bacaan.. Perpustakaan nggak ada..beli nggak mampu :( Pas udah masuk pesantren rasa happy ketemu buku banyaaak. Alhamdulillah pas punya anak bisa sediakan buku bacaan lumayan apalagi sekarang bisa baca buku digital di lets read.. Tambah buku bacaan lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh kok nasib kita samaan mbak, di php sm yg itu juga sama. eh
      kabur ah takut disleding, wakakak
      semoga besok lusa kl q punya anak bisa memfasilitasi dan mengenalkan buku ke anak sejak dini :D aaminin dong mbaaak, maksaaaaa!

      Hapus
  17. Iya, akses buku untuk anak yang tinggal di desa agak sulit ya jadi terharu bacanya..dengan Lets Read orang tua yang tinggal di pelosok pun bisa punya akses perpustakaan digital..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe iya mbak Dewi, begini adanya. tp alhmdulillah saat ini akses jalan menuju kota sudah sangat mumpuni, tp tetap saja masih byk anak2 yg jauh dr dunia literasi karena kesadaran orang tua yang masih rendah. Bener bgt, semoga adanya aplikasi Let's Read bisa membantu anak2 yg tinggal di pedesaan merasakan nikmatnya membaca buku :)

      Hapus
  18. Alhamdulillah ya Mbak, sekarang Ada aplikasi seperti ini, jadi enggak ada alasan utk enggak kenal dunia literasi sejak dini, dimana mana menjamur fasilitasnya, bersyukur anak anak yg hdp zaman sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener bgt mbak Salbiah, semoga nggak ada anak2 seperti kami saat 12 tahun silam. Pun semoga banyak orang tua yg makin menyadari manfaat menumbuhkan minat baca pd anak :)

      Hapus
  19. Mba Ella punya adik kelas 3 SD, seneng banget siiy.. Aku baru tau kalo let's read bisa dibuka tanpa internet ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Dyah, hehehe
      bisa mbak, asal bacaannya sudah di download terlebih dahulu yaa

      Hapus
  20. aplikasi ini keren banget ya mbak, ilustrasinya juga bagus dan lucu pas banget buat anak. bagi anak-anak generasi alpha yang suka visualisasi ini bisa jadi salah satu alternatif mereka belajar di era serba digital ini ya mbak. makasih sharingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak Novya, selain itu banyak ratusan cerita bergambar yg bisa dinikmati secara gratis :)

      Hapus
  21. Keren kak Ella. Termasuk telaten bgt ya. Adeknya jadi mau belajar melalui Hp. Jadi gk bergantung pada game terus. Tapi baru tau. Kalau bisa dibuka tanpa internet seperti itu. Apllikasinya jadi memudahkan pembelajaran melalui gadged.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenernya q nggak kasih treatment apa2 sm adek mbak, cm dia sering liat q baca buku aja. wkwkwk
      eh malah dia jd ikutan ketagihan membaca, iya nih app let's read berguna bgt buat mengalihkan anak2 dr game, bisa diakses tanpa internet mbak asal udh download dlu bacaannya :)

      Hapus
  22. Aplikasi Let's Readnya keren, ulasannya dari Mbak Ella juga gak kalah keren wuihhh jadi tambah semangat menemani anak membaca. Insyaallah menumbuhkan minat baca dimulai dr anak2 saya dulu. Tfs Mbasay...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbak Mia :)
      semoga anak2 kita, makin semangat membaca ya :) (anak2 kita). ekkekek

      Hapus
  23. Selalu sedih tiap melihat fakta bahwa minat membaca kita kurang
    Jadi inget dulu suka dikomen baca Mulu kayak gak ada kerjaan aja hehe :D
    Sedih deh
    Semoga generasi d bawah kita bisa lebih lebih baik y Mbak apalagi didukung dengan adanya aplikasi yg seperti ini, generasi alpha bangett :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. padahal yg ngomong gitu nggak tau nikamtnya baca buku ya mbak, hhh
      aammin, doaku sama mbak. semoga makin banyak anak2 di luar sana yg bisa dpt akses buku dan terbiasa melakukan kegiatan membaca :D

      Hapus
  24. Aku juga punya lets read di hp mbak. Biasanya kalau udah mati gaya mau main apalagi, aku suka bacain dari HP. Pilihan ceritanya banyak dan yang lebih bikin umminya happy, ceritanya gratis. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Lely, solusi ortu buat mengenalkan bacaan sedini mungkin ke anak yaa. hhh
      memang sih yg gratis2 bikin bahagia bgt, ahahaha

      Hapus
  25. Ada banyak aplikasi lets read di IOS, tapi yang logonya gajah seperti ini tidak ada mbak, apa memang belum ada di IOS ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. barusan ku cek memang blm ada buat IOS mbak, semoga kedepannya Let's Read bisa hadir buat pengguna IOS ya biar makin banyak membantu anak2 dalam menumbuhkan minat baca :D

      Hapus
  26. Let's read menjadi solusi bagi masyarakat yang masih susah mendapatkan buku cetak. Isi ceritanya pun bagus-bagus anak saya suka

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Yeti, membantu bgt buatku. Apalagi toko buku ditempatku jauh sekali. harus menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam. kl mau beli online kadang adekku nggak suka, maunya yg liat langsung ke toko buku. huhu

      Hapus
  27. Baruu aja kemarin adek sepupuku nyari2 bacaan di rak buku kecil ku. Dia suka baca, tapi kayaknya di tahap yang suka baca banyak gambarnya gitu mbak. Dulu aku waktu kecil jg kalau nyari buku itu yg banyak gambarnya. Kayaknya Let's Read ini jadi alternatif yg oke buat mencari sumber bacaan (atau dongeng? wah aku blm pernah mendongeng ke adik sepupuku yg kecil2 sekarang ekek).

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah sama kaya adekku mbak, awalnya gt. kwkwk
      tinggal diarahin ke buku bacaan anak2 yg banyak ilustrasinya mbak kaya app let's read ini mbak.. Iya bisa buat bahan dongeng ini :D

      Hapus
  28. Terima kasih tipsnya Mbak Ela. Memang mengajarkan anak suka membaca perlu dibiasakan sejak dini dan ditunjang lingkungan yang mendukung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Lia, intinya dimulai dari diri sendiri dulu. Ya gmn bisa menyebarkan semangat membaca kl kesadaran ortu aja masih rendah dalam hal membaca kan , hhh

      Hapus
  29. Wuih keren ulasannya. Setuju banget sama alasan2 kenapa minat baca anak rendah. Nyari buku berkualitas susah. Untung ada let's read ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kaaak, minat baca anak2 terkesan rendah karena memang kurangnya akses bacaan anak2 uhuhhu
      semoga banyak ortu yang sadar pentingnya menumbuhkan minat baca anak, hhh

      Hapus
  30. Kayaknya dulu yang membentuk minat belajar saya itu bapak, Mbak Ella. Setiap hari Minggu saya ikut ke pasar untuk beli koran Minggu. Pulangnya, saya dibacakan dongeng-dongeng yang ada di sana. Yang paling saya inget sih cerita kancil. Terus dibacakan tiap Minggu sampai saya bisa baca sendiri. :D

    Tapi sekarang mungkin sudah lewat zaman begitu. Digital semua sekarang. Kayaknya Let's Read juga bisa dipakai para orangtua untuk menceritakan dongeng ke anak.

    Sama satu lagi, sih. Kayaknya kalau mindset soal komik (yang bukan cerita dewasa, tentunya) di kalangan orangtua berubah, nggak dianggap sebagai sesuatu yang negatif, membaca komik juga bisa jadi jalan bagi anak untuk memupuk minta baca. Lama-lama mereka pasti bosan dan pengen baca buku yang lebih tebal. Dari komik, buku-buku remaja, terus ke karya sastra yang lebih serius.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah salam hormat untuk Bapaknya ya, Mas..
      iya bener, sekarang anak2 lebih tertarik dg gadget karena selain akses buku bacaan yg sulit didapatkan, mereka lebih suka main game. hhh
      sepakat lg mas, tp kl di tempat tinggalku malah jarang bgt ortu yg peduli sm komik, boro2 mereka menganggap komik sesuatu hal negatif, mungkin byk juga mereka yg blm pernah liat wujud komik. saking memang kami jauh bgt dr dunia literasi, hhh

      Hapus
  31. Zaman sekarang anak-anak emang lebih suka main gadget daripada baca buku. Kalau zaman saya masih kecil dan gadget belum ada, perpusatakaan pasti rame banget. Dan saya adalah salah satu orang yang tiap hari selalu ke perpus. Sehari bisa baca lebih dari 3 buku yang halamannya 100 an, bahkan lebih enak baca buku ketimbang nonton tv😂

    Aplikasi let'read keren banget ya, bisa dibaca offline dan ada bahasa jawanya juga. Yang lebih menarik karena ada gambarnya jadi anak kecil pasti suka banget. Kudu kasih tahu adek nih, daripada dia main game aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah sungkem ke mbak Astria nih, rajin banget ke perpus ternyata ya.. hhh
      iya bener mbak, banyak bahasa yg tersedia di app let's read, ilustrasinya juga lucu2, apalagi bisa dibaca tanpa akses internet asalkan udah download bacaannya dulu :)

      Hapus
  32. baca terus baca terus, dari kecil sampe tuwek kok yo baca terus hehehe, tapi memang membaca ki mendapatkan banyak referensi ya tant

    BalasHapus
    Balasan
    1. wowowo anda luar biasa berarti, udah baca dari kecil samapi tuwek, wkwkw
      semoga makin banyak ortu di luar sana yg sadar dan paham manfaat membiasakan anak2 untuk membaca yaa :)

      Hapus
  33. Memang menyenangkan baca pakai let's read ya kak. Baru-baru ceritanya, gambarnya juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, adekku seneng bgt tiap hari pasti selesai baca 3 cerita di app let's read, hhh

      Hapus
  34. bagus ada apps sebegini sebab dapat menggalakkan anak-anak membaca. tapi secara peribadi saya prefer buku fizikal... sebab ia terasa 'lebih dekat' dengan pembaca...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Anies. Tp kl kami yg tinggal di desa dan finansial pas2ab rasanya agak susah untuk mewujudkan buku fizikal yaa.. Let's Read ini bisa jd solusi supaya tetap bisa membaca tanpa harus membeli buku

      Hapus
  35. Doanya doakan aku punya momongan lagi biar literasi dan aplikasi ini berlanjut penerusnya ya mbak ... Ngiler ...

    BalasHapus

Buka Yuk!
Join on this site

Jangan Ketinggalan, Klik Ikuti