Wujudkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dari Rumah

oleh - Juni 01, 2020

Ilustrasi Keluarga Bahagia Tanpa Asap Rokok
Dua tahun lalu, beberapa kali aku harus menjalani rontgen dada atau toraks karena sering mengalami batuk dan napas terasa berat. Bukan tanpa alasan aku harus bolak balik ke Rumah Sakit demi bertahan hidup akibat paparan asap yang selama ini aku hirup. 22 tahun hidup di lingkungan yang bisa dikatakan "masa bodoh" dengan keberadaan asap, baik asap kendaraan maupun asap rokok. Meskipun aku tinggal di pegunungan dengan suasana dan udara yang sejuk, bahkan bisa dikatakan polusi udara di tempat tinggalku sangat minim jika dibandingkan dengan kota-kota besar, namun sayangnya aku termasuk salah satu orang yang kurang beruntung karena paparan zat beracun yang terkandung di dalam asap terutama asap rokok.

Menurut laman Halodoc, paparan asap rokok mengandung lebih dari 4000 senyawa kimia, yang mana 250 jenis diantaranya dikenal sangat beracun. Dan lebih dari 50 di antaranya bisa memicu kanker (Karsinogenik). Zat berbahaya dalam asap rokok mampu bertahan di udara selama kurang lebih empat jam. Alhasil, menghirup partikel-partikel ini hanya dalam hitungan menit dapat membahayakan kesehatan. Setelah lima menit, asap rokok yang masuk ke tubuh akan membekukan aorta. Sedangkan dalam 20–30 menit bisa menyebabkan pembekuan darah dan kurun waktu dua jam bisa membuat detak jantung tidak teratur.

Sejak kecil hingga menjadi mahasiswa, aku tak pernah sedikitpun merasa takut bahkan risau dengan kepulan asap rokok yang dihasilkan oleh orang-orang di sekitarku. Namun, nyatanya kekebalan tubuh seseorang berbeda-beda, lambat laun aku yang tidak pernah mengalami sesak napas dan tidak memiliki riwayat asma mulai merasakan napasku tersengal saat tanpa sengaja menghirup asap rokok. Batuk kian menjadi, hingga tekannya membuat perut terasa kram.

Hasil Rontgen Paru Ella Fitria di RSUD Hj. Anna Lasmanah
Saat itu ibuku kukuh memeriksakan kondisiku ke dokter spesialis paru di RSUD Hj. Anna Lasmanah, awalnya aku masih merasa tidak apa-apa. Tapi ternyata hasil rontgen menunjukkan adanya peradangan yang terjadi pada saluran utama pernapasan atau saluran bronkus yang membawa udara dari dan ke paru-paru (Bronchitis). Kaget? Pasti. Karena sekali lagi selama 22 tahun menjadi perokok pasif tidak pernah merasakan gejala apa-apa. Nyatanya, saluran pernapasanku terjadi peradangan.

Berawal dari Bronchitis, Wujudkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dari Rumah

Setelah melihat paruku lewat selembar  foto rontgen, orang rumah terutama adek dan bapak yang merupakan perokok aktif benar-benar peduli dengan kondisiku. Mereka tanpa diminta tidak lagi merokok di dalam rumah, pun dengan tamu, temanku, teman adikku mereka tidak lagi merokok di depanku bahkan di ruang tamu sekalipun. Meskipun, pada awalnya beberapa diantara mereka ada yang berkata dengan nada sinis,
Alah cuma asap rokok, lebay banget.
Seketika ingin marah, sedih, dan kecewa campur menjadi satu karena minimnya kesadaran mereka untuk peduli dengan orang lain. Padahal tanpa sadar, kenikmatan yang mereka rasakan justru perlahan membunuh orang-orang yang ada di sekitarnya. Mau sampai kapan ada "aku-aku" yang lain?

Beberapa perokok aktif juga ada yang beranggapan bahwa,
Kenapa mesti asap  rokok yang selalu disalahkan? Kenapa tidak mengangkat issue asap kendaraan, asap pabrik, dll. Toh mau ngerokok ataupun nggak, itu hak setiap orang.
I see, aku paham setiap orang memiliki kebebasan, tetapi apakah hak yang kalian nikmati tidak melanggar hak orang lain untuk bisa menghirup udara sehat?

Di masa pandemi seperti ini, rumah bisa dikatakan sebagai tempat perlindungan dari bahayanya virus Covid-19, namun apakah sudah tepat jika rumah dijadikan tempat yang aman untuk berlindung terutama bagi seorang anak? Sedangkan kepulan asap rokok mengudara setiap saat? Aku menghela napas pelan saat mendengarkan penjelasannya Talkshow Ruang Publik KBR episode Rumah, Asap Rokok, dan Ancaman Covid-19 bersama Dokter Spesialis Paru, dr. Frans Abednego Barus, Sp.P dan Manajer Komunikasi Komnas Pengendalian Tembakau, Nina Samidi.


Menurut pemaparan dr. Frans Abednego Barus, Sp.P, selain perokok pasif atau secondhand smoker yang menghirup asap rokok secara langsung di udara, ada juga perokok pihak ketiga atau third hand smoker yakni seseorang yang terkena zat sisa asap rokok yang menempel di permukaan benda di sekitarnya. Balita serta anak-anak, lebih rentan menjadi third hand smoker karena seringkali balita dan anak-anak saat bermain menyentuh permukaan benda yang terpapar zat beracun dari rokok. 

Kemudian perokok aktif ada yang beranggapan,
Kan pas aku ngrokok, anak istri masuk ke dalam kamar, jadi nggak ada masalah.
Seberapa efektif cara demikian dilakukan? Karena menurut Dr. Georg Matt peneliti dari Universitas San Diego, zat sisa asap rokok dapat bertahan di permukaan benda, khususnya dalam rumah. Entah itu sofa, baju, gorden, dll.

Kawasan Tanpa Rokok (KTR) merupakan ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan dan/atau mempromosikan produk tembakau. Pemerintah melalui UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan PP No. 109 Tahun 2012 Tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan telah mewajibkan pemerintah daerah untuk menetapkan KTR di wilayahnya masing-masing melalui Peraturan Daerah (Perda) atau peraturan perundang-undangan daerah lainnya.

Ilustrasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
Nyatanya, penerapan kawasan tanpa asap rokok (KTR) belum maksimal dilakukan. Dari 514 kabupaten/kota di Indonesia, ada 19 Provinsi dan 309 daerah yang sudah mempunyai peraturan daerah khusus KTR, namun hanya 29 daerah yang sudah menerapkan tindak pidana ringan (tipiring) berupa sanksi pembayaran denda bagi masyarakat merokok di kawasan yang sudah ditetapkan. Kebijakan KTR ini merupakan bagian dari Gerakan Masyarakat Hidup Sehat yang tertuang dalam Instruksi Presiden No 1/2017. 

Mewujudkan KTR dari Lingkungan Keluarga
Mewujudkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dari rumah tidaklah mustahil. Kesadaran dan kepedulian antar anggota keluarga sangat diperlukan untuk menciptakan kesepakatan rumah sehat tanpa asap rokok. Berikut ini indikator Kawasan Tanpa Rokok (KTR) secara umum menurut website resmi pemerintah kabupaten Buleleng.

Indikator Kawasan Tanpa Rokok (KTR)

  1. Tidak tercium asap rokok
  2. Tidak terdapat orang merokok
  3. Tidak terdapat asbak/korek api/pemantik
  4. Tidak ditemukan puntung rokok
  5. Tidak terdapat ruang khusus merokok
  6. Terdapat tanda larangan merokok
  7. Tidak ditemukan adanya indikasi merek rokok atau sponsor, promosi dan iklan rokok di area KTR
  8. Tidak ditemukan penjualan rokok (pada sarana kesehatan, sarana belajar, sarana anak, sarana ibadah, kantor pemerintah dan swasta, dan sarana olahraga kecuali: pasar modern/mall, hotel, restoran, tempat hiburan dan pasar tradisional)
  9. Penjualan rokok tidak di-display (dipajang)
Dari indikator di atas, kita bisa menerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dari ruang lingkup terkecil seperti rumah untuk mewujudkan pola hidup sehat serta turut mendukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

Asap Rokok dan Ancaman Covid-19

Lanjut pemaparan dari dr. Frans Abednego Barus, Sp.P dalam Talkshow Ruang Publik KBR bahwa,
Setiap asap rokok yang dihidup masuk ke dalam paru, itu akan merusak namanya bangunan saluran napas yang memiliki daya tahan mekanik dan daya kimia. Daya tahan mekanik yaitu rambut-rambut halus namanya silia untuk mengusir kuman dan mengarahkan namanya skret, dahak, real, dan lain-lain untuk memudahkan dikeluarkan dari saluran napas, benda asing dikeluarkan dari saluran napas. Kalau perokok dia lumpuh atau sudah gundul, rambut silianya sudah tidak ada lagi. Untuk daya tahan mekanik. Yang kedua daya tahan kimia yaitu IGA akan berkurang sekali di sepanjang saluran napas. Hal inilah yang kami pikirkan jadi klinisi kenapa pasien anak justru lebih kuat daripada pasien dewasa dalam menghadapi Covid-19 karena mereka belum terpapar polusi secara usianya dan belum menjadi seorang perokok. Jadi fakta ini harusnya menjadi perhatian para perokok.
Sedangkan Manajer Komunikasi Komnas Pengendalian Tembakau, Nina Samidi berpendapat,
Perilaku merokok dapat mengakibatkan infeksi saluran pernapasan sehingga dapat meningkatnya resiko infeksi Covid-19. Seharusnya hal demikian dapat dijadikan dasar Pemerintah untuk menerapkan aturan pengendalian tembakau yang lebih ketat, agar tujuan learning education bisa tercapai. Jika pemerintah ingin menurunkan angka penularan Coivd-19, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah memblock resiko awalnya terlebih dahulu salah satunya yakni perilaku merokok.
Tuturnya dalam Talkshow Ruang Publik KBR episode Rumah, Asap Rokok, dan Ancaman Covid-19.

Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Sudah kita ketahui bahwa sebatang rokok mengandung zat berbahaya berupa; Karbonmonoksida (CO) salah satu gas yang beracun menurunkan kadar oksigen dalam darah, sehingga dapat menurunkan konsentrasi dan timbulnya penyakit berbahaya. Zat TAR, yakni zat berbahaya penyebab kanker (Karsinogenik) dan berbagai penyakit lainnya. Nikotin, zat berbahaya penyebab kecanduan (adiksi).

Dampak kesehatan akibat rokok merupakan masalah yang terjadi secara global. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat lebih dari 7 juta kematian terjadi akibat penyakit yang ditimbulkan oleh asap rokok setiap tahunnya. Sekitar 890.000 kasus kematian tersebut terjadi pada perokok pasif di seluruh dunia.

Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Selain mengganggu kesehatan, merokok juga menghasilkan sampah yang sulit terurai karena putung rokok merupakan golongan sampah berbahaya (B3) yang memerlukan waktu 10 tahun untuk terurai. Indonesia adalah urutan ke-3 konsumsi rokok di dunia. Data Riskesdas 2013 menyebutkan perokok di Indonesia menghabiskan minimal 12 batang setiap hari. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa industri rokok memproduksi rata-rata 338 miliar batang rokok untuk memenuhi adiksi lebih dari 90 juta perokok aktif di Indonesia. 

Upaya Pemerintah dalam Pengendalian Tembakau

Menurut Nina Samidi, perhatian pemerintah terhadap pengendalian tembakau melalui UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan PP No. 109 Tahun 2012 Tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan dirasa belum kuat sehingga perlu adanya revisi.

Upaya pemerintah dalam pengendalian tembakau sebenarnya dapat belajar dari Boswana, Afrika Selatan yang mana di negara tersebut berlaku pelarangan penjualan rokok yang secara otomatis akan mengurangi perilaku merokok. Boswana juga melarang impor rokok sehingga pengendalian tembakau dapat dikontrol oleh pemerintah karena keterbatasan akses.

Dalam Pergub Jateng Nomor 3 Tahun 2019 tentang Kawasan Tanpa Rokok di Provinsi Jawa Tengah tampaknya juga belum maksimal. Mau tidak mau, peduli tidak peduli, kita harus bersinergi dalam mewujudkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), dimulai dari ruang lingkup terkecil seperti rumah. Adanya kesepakatan dan kepedulian sesama anggota rumah sangat dibutuhkan dalam mewujudkan Rumah Tanpa Rokok. 

Secercah Harapan dari Secondhand Smoker untuk Kawasan Tanpa Rokok (KTR)

Melalui tulisan ini, aku berharap orang-orang di luar sana semakin aware dan peduli dengan diri sendiri serta keluarga dari bahayanya asap rokok yang beterbangan di sekitar kita. Teruntuk perokok aktif, sungguh aku tidak melarang kalian merokok, toh kita sama-sama memiliki hak. Namun, alangkah baiknya ketika menikmati hak yang seharusnya kita dapatkan coba gunakan hati nurani dan akal sehat karena dampak yang ditimbulkan berjangka panjang.

Semoga, di luar sana semakin banyak perokok aktif yang mau peduli dengan orang di sekitarnya, bahkan semoga semakin banyak yang berani untuk #PutusinAja ketergantungan dengan rokok. Pun, semoga Indonesia bisa mewujudkan Kawasan Tanpa Asap (KTR) demi mendukung target Generasi Emas 2045.

Semoga lagi, pemerintah segera mengambil tindakan tegas terhadap perilaku merokok dan melakukan upaya pengendalian tembakau yang lebih konkrit seperti penutupan akses penjualan rokok di Indonesia. Aku juga berharap semoga suatu saat Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang dimulai dari rumah dapat meluas ke lingkungan RT, Desa, bahkan Kecamatan dilengkapi dengan penyediaan fasilitas area merokok sehingga diharapkan dapat mengurangi paparan asap rokok yang dapat terhirup bebas oleh siapapun.

Tertanda dari aku, salah seorang yang saat ini tidak mampu terkena asap rokok.



Sumber:
  1. https://www.kbrprime.id/listen.html?type=story-telling&cat=ruang-publik&title=rumah-asap-rokok-dan-ancaman-covid-19
  2. http://p2ptm.kemkes.go.id/infografhic/kandungan-dalam-sebatang-rokok-bagian-2
  3. http://www.p2ptm.kemkes.go.id/Inforgraphic/15-pesan-menjelang-armina/akibat-asap-rokok
  4. https://bulelengkab.go.id/detail/artikel/memahami-lebih-dalam-tentang-kawasan-tanpa-rokok-ktr-54
  5. https://www.halodoc.com/alasan-perokok-pasif-lebih-berbahaya-dari-yang-aktif
  6. https://www.viva.co.id/gaya-hidup/kesehatan-intim/1189364-indonesia-penyumbang-limbah-puntung-rokok-terbesar-kedua-di-dunia
  7. https://dinkesjatengprov.go.id/v2018/2019/07/11/sosialisasi-pergub-jateng-nomor-3-tahun-2019-tentang-kawasan-tanpa-rokok/
  8. https://m.mediaindonesia.com/read/detail/238306-penerapan-kawasan-tanpa-asap-rokok-belum-maksimal

Mungkin Kamu Suka

88komentar

  1. Kalau di Singapura merokok di tempat umum kena denda ya mba. Di INdonesia belum bisa diterapkan sepertinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sejauh ini blm ada penerapan denda jika merokok ditempat umum sih, tp beberapa kawasan memang ada yg ketat dg peraturan area smoking

      Hapus
  2. Setuju juga jika ada kawasan tanpa rokok soalnya kasihan orang yang tidak merokok. Cuma sepertinya tidak mudah karena perokok di Indonesia itu bandel bandel.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas Agus. Dulu inget bgt kantin kampusku asap penuh asap rokok krna memang nggak ada aturan untuk bebas asap rokok :(

      Hapus
    2. Oh, sekarang kantinnya sudah bebas asap rokok ya mbak? Berarti pada patuh sama aturan ya.

      Semoga menang ya mbak dan jadi juara.😃

      Hapus
  3. Alhamdulillah di rumah saya sudah lama bebas asap rokok. Kalaupun terpaksa banget ada tamu yang harus merokok biasanya mereka langsung minta izin keluar ruangan.

    Nah justru yang lebih bikin waspada itu kita. Sebagai perokok pasif kadangkala kita tidak sengaja ikut menghirup asap rokok saat di luar rumah, ke warung, ke acara kantor, dan lain-lain. Beruntung, sejak pandemi ini dan social distancing dilaksanakan, saya tidak perlu harus keluar rumah, rapat pun bisa daring via zoom, dan transaksi keuangan juga secara daring. Semoga sih bisa terhindar dari bahaya asap rokok. Dan juga covid19 ini 😷

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhmdulillah Mas Adie.. Aku baru 1 tahun terakhir ini rumah bebas asap rokok, hhh
      Aamiin semoga sehat selalu yaa

      Hapus
  4. Agak susah melepaskan rokok di kehidupan. Entah, bagaimanapun caranya tembakau menjadi potensi yang bias menggerakkan perekonomian. Meski kita tahu dampak merokok pada dasarnya tidak baik. Semoga ada cara yang baik untuk mengatasi secara bersama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap. Semoga perokok2 di luar sana bisa membatasi diri buat nggak sembarang ngrokok di tempat umum. Hhh

      Hapus
  5. Emang lebih bahaya kalau jadi perokok pasif. Makanya suka sebaliknya banget lihat orang yang masih santuy merokok sembarangan. Pengen ngasih kantong plastik saja rasanya terus dipakein ke kepalanya. Biar asapnya enggak ke mana-mana 😤

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa bisaaa hayuk kekepin aja mbak. Biar asepnya ditelen sendiri. Wkwk

      Hapus
  6. Aku juga paling gak bisa kena asap rokok. Alergiiii~ Bener-bener gak baik buat kesehatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mbak Sintia. Aku dikit aja kena asap rokok atau asap auto batuk2.. Hari berikutnya pasti napas terasa berat, sengsara bgt pokoknya :(

      Hapus
  7. Semoga kelak semakin banyak rumah di Indonesia ini yang terlepas dari rokok dan juga asap rokok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga demikian, jd rumah bener2 jd tempat yg nyaman untuk berlindung dr berbagai ancaman di luar rumah :(

      Hapus
  8. Setuju banget, Mbak El. Merokok atau tidak memang hak setiap orang. Tapi perokok aktif seharusnya juga menghargai hak orang lain yang gak merokok juga dong. Boleh sih, merokok, asal di ruangan yang memang disediakan khusus buat merokok aja supaya gak mengganggu kesehatan orang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah sepakat
      Boleh kok mereka mo ngrokok kek apa kek, asal asapnya nggak menganggu orang lain.. Intinya ngrokok pd tempatnya ya mbak
      Hhh

      Hapus
  9. waduh, setelah 22 tahun jd perokok pasif akhirnya paru2 kena ya el,, semoga ke depannya sehat2 trs yaa..

    sejak aku sd, bokap udh berenti merokok..setelah itu sampe skrg aku jarang bersinggungan dg asap rokok. perokok di lingkunganku alhamdulillah pada tau tempat..

    -traveler paruh waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap Mas Bara. Aamiin
      Sehat2 laah, kmrin sok2an nganggep nggak apa2 ada orang ngrokok di sekitarku. Tp nyatanya napasku auto terasa berat dan batuk2 huhu. Baru setahunan ini rumahku alhmdulillah bebas asap rokok

      Hapus
  10. wah ini sangat bagus sekali mba artikelnya, kebetulan aku termasuk orang yang anti rokok, mencium asapnya aja langsung sesak saya, apalagi suka kesal kalau ada anak kecil mereka dengan santainya cueknya merokok. Kalau sudah ada payung hukumnya kita bisa lebih mudah menerapkan kawasan bebas rokok ya termasuk ddi rumah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak Mei. Ditempatku juga masih banyak bapak/kakek yg menggendong anak/cucunya dg santainya sambil merokok. Sayang bgt kesehatan anak/cucunya kan, aku buktinya krna dr dulu ga pernah peduli dg asap rokok. Giliran besar, baru deh efeknya terasa

      Hapus
  11. Emang perokok tuh manusia paling egois di muka bumi.. Susah dikasih tau, kalau dikasih tau malah mereka yang ngegas.. Asap rokok salah satu musuh pencetus asma saya. Alhamdulillah Bapak udh berhenti ngerokok setelah nggak sengaja ngerokok di depan saya, terus asma kambuh, obat lagi nggak ada. otomatis masuk RS dirawat.. ahahahah, setelah itu bapak agak parno... dan mutusin buat berhenti rokok dengan permen, dibantu terapi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas Bayuu. Apalagi kl perokok yg nggak tau tempat, suka miris. Sedih. Pekewuh mau negur, tp kl nggak negur kita yg bakal merasakan efeknya huhu. Alhmdulillah ya kl bapak udh berhenti ngrokok. Sehat2 ya mas Bayu

      Hapus
  12. sedihnya karena sekarang masih banyak yang belum sadar akan peringatan bahaya rokok dan masih banyak yang merokok sembarangan tanpa mikir efeknya buat orang lain. semoga dengan tulisan mbak ella ini jadi makin banyak orang yang peduli bahaya rokok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mbak Risma. Aku pun berharap demikian, semoga di luar sana byk perokok yg memperhatikan "tempat" untuk merokok supaya nggak mengganggu kesehatan orang lain

      Hapus
  13. aku setuju mbak..memang asap rokok itu silent killer juga ya. masa kecil adik dan kakakku pun pernah mengalami seperti mbak karena paparan asap rokok dr bapak. ahv sedihnya, alhamdulillah kami semua mendaptkan suami yang ga merokok...semoga kawasan tanpa rokok dari rumah makin banyak ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Efeknya bakal terasa jauh2 hari yaa. Semoga kelak q juga dpat suami yg nggak ngrokok. Aamiin kenceng bgt nih. Xixixi

      Hapus
  14. Sebenarnya dilema juga buat pemerintah Indonesia karena bea cukai rokok cukup besar buat pajak perekonomian negara.
    Pabrik rokok dihentikan juga imbasnya meluas.
    Tapi kalau diteruskan, kesehatan masyarakat juga buruk karena asap rokok ymtak cuma berbahaya buat perokok aktif.

    Semoga kesehatan kak Ella semakin membaik.
    Ikut kudoakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas him. Tp semoga ada upaya yg tepat dr pemerintah supaya bisa mengontrol peredaran tembakau, dan semoga juga adanya upaya untuk menciptakan kawasan tanpa asap rokok leboh banyak lagi. jd kl mau ngerokok udh dikasih tempat khusus supaya asapnya nggak ganggu orang lain

      Hapus
    2. Setuju.
      Alangkah baiknya pemerintah memberlakukan aturan ketat larangan penjualan rokok seperti di Boswana, Africa.

      Nah, kalau stop total perdagangan begitu pasti program larangan merokok akan terlaksana.

      Hapus
  15. Mendalam banget tulisannya, Mbak Ella. Semoga juara, ya. :)

    BalasHapus
  16. Salah satu hal yang saya syukuri sekarang adalah, anak-anak bebas asap rokok.
    Suami nggak merokok, meski kadang masih ikutan kalau di luar, mertua juga nggak ngerokok.
    Di keluarga suami bersih rokok.

    Jadi anak-anak bisa dibilang selalu tidak terpapar asap rokok.
    tapi di rumah ortu saya masih banyak asap rokok, untung juga kami jarang mudik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Rey
      Semoga besok suamiku bukan perokok juga. Aamiin
      Aku baru setahunan ini rumah bebas asap rokok :)

      Hapus
  17. Senang ya ella kalau orang rumah jadi support system terbaik dengan meniadakan kebiasaan ngerokok, buat kesehatan anak dan kakak tercinta #tsah

    Wah dari baca ini aku jadi tahu untuk kategori anak2 ternyata imunnya lebih kuat ya daripada usia dewasa, sebab yang dewasa sebagian besar uda terpapar banyak polutan salah satunya ya asap rokok ini

    Hmm, ngomongin rokok, aku jadi ingat dulu skripsiku mbahas rokok dong, rokok kretek n rokok putih :D...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Nita. Alhmdulillah pd support, sayangnya beberapa teman awalnya menyepelekan krn dianggap lebay. Tp alhmulillah skrg sling menyadari dan menjaga. Wah keren nih skripsinya bahas rokok

      Hapus
  18. Yang tidak kalah bahaya adalah perokok pasif, dia tidak merokok, tapi tidak sengaja mengisap asap rokok di lingkungannya yang seharusnya bebas asap rokok. Nah, itulah perilaku sebagian orang mau enaknya sendiri dengan bersikap ngeyel, mirip-mirip saat ini ada saja yang ngeyel ke luar rumah tanpa masker

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget bang. Ngeyel. Mirip2 orang2 yg saat ini keluar rumah tanpa kepentingan yg mendesk dan mengabaikan protokol kesehatan

      Hapus
  19. Kawasan Tanpa Asap Rokok. Duh berharap banget bisa terwujud di banyak tempat ya. Dibutuhkan kesadaran para perokok aktif. Ini aja buka pintu samping rumah mendadak bete banget. Ternyata ada orang ngerokok sandaran tepat di depan pintu kami. Pantes kok ada bau rokok menyengat. Huhubu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener kak. Semoga terwujud dibanyak tempat, kesadaran perokok aktif memang sangat diperlukan supaya nggak mengganggu kenyamanan orang lain :(

      Hapus
  20. Alhamdulillah suamiku nggak merokok Mbak, di keluarga pun kalo ada yang kerumah dan merokok biasanya nggak kami izinkan masuk hehe, ngobrol di teras aja, soalnya di rumahku ada 2 balita jadi was-was banget, biar deh rumahku ini, harus ikut aturan yang punya rumah dong. Karena walaupun ngerokoknya di rumah tetepa aja bahaya ya karena residunya masih menempel di baju, makanya yg ngerokoj dilarang deket2 anak, galak ya aku, biarin deh hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat bgt mbak. Akupun. Kl masalah rokok begini harus tegas, tamu kudu ikuti aturan yg punya rumah. Hhh
      Apalagi ada balita di rumah kan. Semoga perokok2 aktif di luar sana makin sadar tempat buat ngrokok. Huhu

      Hapus
  21. dulu gw perokok aktif juga :D, tapi sekarang alhamdulillah bisa berhenti, dan bener banget, gw dulu lebih bodo amat dengan kesehatan diri sendiri, dan keluarga hahaha :D... untuk mewujudkan kawasan tanpa rokok menurut gw agak berat ya di indonesia, secara tau sendiri kan orang indonesia kayak gimana :D, yah moga aja sih kalo memang tujuanya baik bisa berjalan dengan baik :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha. Syukurlah kl skrg udah berhenti ngrokok, sayangi diri sendiri dan keluarga. Iya memang susah, tp kl saling pengertian bakal mudah kok. Yg ngrokok jgn ngrokok sembarangan supaya nggak ganggu kesehatan orang lain :)

      Hapus
  22. Dulu saya mantan perokok berat mbak, sehari bisa satu sampai dua bungkus rokok kretek. Sudah berkali-kali berusaha berhenti tapi gagal terus diganggu teman2 yg masih merokok. Akhirnya berhasil berhenti ketika saya di negeri kangaroo selama dua tahun.

    Disana aturan merokok sangat ketat, perokok jika merokok menjauh dari orang lain yg bukan perokok, dan nggak ada iklan rokok. Tapi sebulan pertama berhenti perjuangannya sangat berat banget. Karena sudah kecanduan. Tengah malam atau dini hari sering terbangun dgn keringat dingin, sampai kebawa mimpi merokok. Kepala sering pusing, jadi sebulan pertama sering minum paramex yg saya bawa.

    Bersyukur pada Tuhan, sekarang saya terbebas dari rokok, malahan tidak suka dgn bau asapnya. Nasihat saya sebagai mantan perokok berat: Jangan pernah mencoba rokok, entar kalau sudah kecanduan sulit sekali untuk berhenti.

    Selamat mbak Ella semoga sukses mengikuti lomba blog ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow.. Alhmdulillah ya mas udh bisa #putusinaja dr kecanduan rokok. Bener bgt, kty buat berhenti ngorkok tuh susah karena bikin kecanduan ya. Harapanku semoga makin banyak orang2 yg sadar seperti mas Aris ini supaya tidak ada lagi perokok pasif yg terancam bahanya :)

      Hapus
  23. terkadang yang merokok di tmpat umum suaah di tegur,mmalah saabyg di marahin, yaudah saya diem aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Laah benerrr. Hahaha
      Katanya mulut2ku. Rokok2ku beli sendiri pke uang sendiri. Ya kalau asapnya ditelen sendiri mah bodo amat lah ini orang lain ikutan kena zat beracunya woi. Hhh

      Hapus
  24. KAdang suka geram sama perokok yang nggak peduli sama sekitarnya yang nggak nyaman sama asap rokoknya. Mereka nggak sadar sudah merugikan orang lain dengan paparan asap rokoknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.. Kadang mereka ga sadar, diingetin malah marah. Kan serba salah ya. Pdhl mungkin banyak orang2 yg kaya q, yg nggak bisa kena asap rokok karena saluran pernapasan terinfeksi :(

      Hapus
  25. Kalau ada kawasan ini Di kotaku, wah sangat bahagia. Kalau Di rumah memang, selalu jadi KTR. Karena suami dan keluarga besarku memanh enggak ada yg jadi perokok aktif. Semua bisa dibilang enggak ngerokok..sayang buang buang uang Aja utk rokok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha alhmdulillah kl suami dan keluarga besar sedar demikian ya mbak. Jd nggak buang2 tenaga buat selalu ngingetin :D
      Iya kl diitung2 perokok aktif setahun butuh duit berapa tuh buat ngrokok. Bakar uang. Hihi

      Hapus
  26. menyadarkan untuk merokok pada tempatnya penting ini, juga dirumah harusnya ada tempat khusus sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas Rezky. Semoga banyak perokok aktif yg sadar tempat yaa. Jd asapnya nggak mengganggu orang lain :)
      Penting juga kl bertamu jgn merokok sembarangan di rumah empunya. Hihi

      Hapus
  27. Saya paling enggak suka kalau ada cowo yang merokok. Untungnya ayah dan suami bukan perokok. Cuman kalau berinteraksi dengan yang merokok bikin saya enggak betah. Buat saya asap rokok itu kadang bikin batuk atau ganggu, aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Lia. Sama, asap rokok bener2 bikin berat buat napas, pusing juga efeknya :(
      Alhmdulillah kl ayah dan suami mbak Lia bukan perokok :D

      Hapus
  28. Waktu remaja aku udah punya cita-cita ingin punya suami yang tak suka merokok karena bapak, embah dan adikku perokok dan Alhamdulillah terkabul mba. Sedih banget kalau pagi bangun tidur sudah ada yg menyulut rokok dan asapnya memenuhi ruang tamu dan beberapa ruangan di sekitarnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bner mbak. Rasanya engap bgt, buat napas berat bgt :(
      Syukurlah kl punya suami yg nggak merokok :)

      Hapus
  29. Paling sebel liat perokok yang suka seenaknya tanpa peduli dengan sekitarnya. Apalagi kalau udah diingatkan eh malah nyolot. Rasanya pengen sekalian langsung cabut rokoknya biar dia berhenti segera.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Nggak ngerti knpa mereka begitu, pdhl kan ya kl sama2 menghormati dan menghargai silakan aja ngrokok asal asapnya jgn mengganggu org lain kn. Huhu

      Hapus
  30. Saya juga perokok yg lumayan aktif tapi dulu, sekarang sudah jarang-jarang klo pas ingin aja hehe

    Tapi anehnya meskipun perokok tapi q nggak suka klo ada orang merokok di samping q, suka ikut plekikken,

    Dan dulu sukanya merokok sembarangan enggak peduli sekitar.

    Tapi itu dulu lo Mbak sekarang sudah enggak, krena laki enggak ngerokok nggak oke ktanya wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha.. Nah mas perokok aktif aja nggak suka kl ada orang yg ngrokok deket2 apalagi aku yg bukan perokok. Huhu
      Semoga besok lusa bisa berhenti dr rokok ya maas :)

      Hapus
  31. Semoga makin banyak KTR krn msh byk yg merokok d sembarang tempat atau tempat umum

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mbak Dyah. Semoga makin byk perokok aktif yg sadar akan bahayanya rokok :)

      Hapus
  32. Saya termasuk yg kesell bgt sm perokok aktif lebih2 yg suka bilang lebayy
    Moga2 pandemi ini membuat perokok menghentikan aktivitasny dan semoga jg makin banyak KTR y mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Awal2 punya aturan di rumah kl tamu nggak boleh ngerokok beberapa teman ada yg enteng bgt bilang lebay. Woi ini nyawaku satu doang nggak seenaknya dibunuh pelan2 sm kenikmatan sesaat. Wkwk

      Hapus
  33. Aku dulu perokok berat, bisa empat bungkus per hari. Sekarang malah benci banget asep rokok apalagi kalau ada orang merokok didekatku dan anak-anaku :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah keren mbak Irena bisa berhenti ngrokok yaa :)
      Mangats trus ya mbak. Emg suka engap kl menghirup asap rokok. Huhu

      Hapus
  34. Aku gak tahan banget sama asap rokok
    pas kecil punya gejala bronchitis juga
    sekarang lagsung sesek kalo kena asap rokok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mbak Ratu. Bedanya pas kecil q kebal bgt, eh giliran gede baru deh kena bronchitis :(

      Hapus
  35. ketje banget artikelnya mba, dan saya juga sama. Dulu tapi pas balita sakit flek paru paru karena ayah saya merokok. dan ini terjadi sama kepada dua adek ku juga, dan memang alasannya pun sama. asap rokok.makanya dulu pas cari suami ada satu syarat yang ngga bisa diganggu gugat, no smoker. Alhamdulilah skrang punya suami nggak ngerokok jadi anak insyaAllah aman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh adikki juga pas kecil kena flek paru mbak. Rutin minum obt selama 2 tahunan. Syukur deh kl punya suami yg nggak ngrokok. Besok q juga mo suami yg bukan perokok ah :D

      Hapus
  36. Alhamdulillah suami saya sudah sebulan ini lepas rokok Alhamdulillah terimakasih sudah diingatkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh syukurlah miss. Semoga lepas rokok untuk selamanya yaa. Sehat2 selalu yaaa

      Hapus
  37. paling sebel deh emang kalau ada orang yg cuek dengan bahaya asap rokok ini, padahal perokok pasif juga punya resiko tinggi, hikkss.
    sejak kenal dengan PakSu, udah bilang kalau saya gak suka dengan orang yg merokok apalagi dalam rumah, kalau terima tamu dia malah biasanya di luar rumah apalagi kalau tamunya tuh perokok. Alhamdulillah, suami sekarang udah berhenti merokok semoga gak pernah mau nyentuh lagi deh si rokok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah alhmdulillah mbak Diah, semoga paksu berhenti ngrokok selamanya yaa. Sehat2 di sana :)
      Pun semoga tamu2nya menghargai aturan KTR di rumah kita :)

      Hapus
  38. Untungnya bapak saya juga udah berhenti merokok. Sadar kalau rokok itu bahaya buat semua orang. Apalagi di wabah covid ini, semoga mereka yang masih suka ngerokok sadar diri juga.
    Dan semoga cepet sembuh ya mbak ella....😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak astria, aamiin.. semoga sama2 pengertian dan saling menjaga kesehatan :)

      Hapus
  39. Saya berhenti merokok pada tahun 2004. Sampai sekarang belum pernah mencoba lagi, meski hanya sebatang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah kl udah bisa lepas dr rokok ya bang, semoga sehat selalu :)

      Hapus
  40. Saya termasuk istri paling cerewet soal rokok. Meskipun di luar, aku pasti keendus tuh asap rokok dan langsung teriak-teriak hahaha... Suami akan menjauh karenanya. Memang harus tegas

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Yeti, baunya kadang tercium meski merokok di luar rumah, hhh
      semoga kita sehat selalu yaa

      Hapus
  41. sama nih mba, aku menghormati orang yang merokok tapi kalau asapnya kebangetan, aku milih yang menyingkir
    mungkin yang bikin nafas dan dada rasanya agak gimana bisa jadi dari asap rokok ini, kebanyakan lingkunganku adalah perokok, terutama kantor dan wilayah kerja dari pihak ketiga, isinya cowok semua dan rata rata ngerokok

    paling nggak enak kalo naik angkutan umum terus ada yang ngerokok, masalahnya ruangan di dalam angkutan umum nggak luas jadi pergerakan udaranya ya sedikit

    BalasHapus
    Balasan
    1. ih iya sama bgt mbak, skrg lebih suka ngilang kl ada yg ngrokok deket2, hhh
      iya susah kl di angkutan umum ya, mau ngilang blm sampai dilokasi tujuan, nggak ngilang engap. huhu

      Hapus
  42. Selalu galfok dengan grafis cakep dari mbak Ella 😍
    Aku salah satu penderita asma yg rencananya banget dengan asap rokok. Pokoknya klo ada orang yg ngerokok dekat aku pasti napas langsung agak tersengal dan gak nyaman. Better pergi menjauh dari situ.
    Jadi aku dukung banget putus hubungan dgn rokok ini meskipun efeknya juga pasti ada ya. Terutama bagi para karyawan pabrik rokok 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mbak Hastin :)
      iya samaaa, kl kena asap rokok dikit aja aku juga langsung bersin, smpe batuk2.. jd mending menjauh kan, hhh

      Hapus
  43. idea yang baik lagi bernas! tapi apa-apa pun bagi saya, bila hal-hal melibatkan (berhenti / larangan) rokok ini semuanya harus dimulakan dari diri sendiri...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat. Memang harus dimulai dr diri sendiri :)

      Hapus

Buka Yuk!
Join on this site

Jangan Ketinggalan, Klik Ikuti