Gagal Ke Hutan Mangrove Pekalongan? Yuk, Nikmati Senja di Pantai Sari Saja!

oleh - Juli 07, 2020

Perjalanan menuju Pekalongan
Kami melangkahkan kaki begitu cepat saat kereta yang akan kami tumpangi bersiap meninggalkan stasiun keberangkatan. Alhamdulillah, kami bisa duduk dengan tenang sebelum kereta api melaju pelan. Siang itu aku bersama BB Idah dan BB Rois hendak menuju kota Pekalongan, bukan untuk menghadiri event, pun bukan untuk menyelesaikan urusan yang urgent. Pokoknya ibarat nggak ada hujan nggak ada angin tiba-tiba banjir, eh maksudnya tiba-tiba kami ingin meng-explore kota Pekalongan. Sebetulnya rencana awal kami ingin meng-explore kota Cirebon, namun sayangnya kami hanya memiliki waktu dua malam, sudah pasti kurang puas untuk meng-explore kota Cirebon dong ya? Maklumlah karena kami kudu bolos kerja dulu. Hhh

Perjalanan dari stasiun Purwokerto ke stasiun Pekalongan membutuhkan waktu sekitar 4 jam 30 menit. Memang di dalam kereta nggak banyak hal yang bisa kita lakukan, tapi buatku duduk diam, mendengarkan lagu kesayangan, dan melemparkan pandang ke jendela kereta adalah kenyamanan yang jarang ku rasakan. Apalagi sambil menyantap segelas pop mie, duh ya ampun. Soalnya naik kereta banyak banget kenangannya, kadang suka senyum-senyum sendiri ingat isi pesan singkatku yang mengabarkan kalau sebentar lagi tiba di stasiun tujuan, dan itu tandanya kamu kudu sudah siap menjemput dong. Ah sudah ah, ngapain malah jadi bahas beginian. 

Sesampainya di stasiun Pekalongan, kami mencari makan siang sebelum menuju ke hotel. Kesan pertama yang dirasakan saat menginjakkan kaki di kota Pekalongan adalah P-A-N-A-S, sungguh. Apakah karena kami anak nggunung yang terbiasa dengan hawa adem? Entahlah. Selesai makan siang, kami bergegas check in dan bersiap menuju ke Hutan Mangrove Pekalongan.

Perjalanan ke Hutan Mangrove Pekalongan

Kami sudah siap di lobby hotel menunggu grab car yang akan mengantarkan kami ke Hutan Mangrove Pekalongan, sayangnya sudah tiga kali nyantol di aplikasi tapi kok driver menolak tanpa alasan yang jelas, buru-buru cek maps karena takut salah titik, ternyata nggak salah dong! Terus kami mencoba order sekali lagi dan akhirnya ada driver yang mau. Begitu masuk ke mobil, ternyata drivernya langsung bilang.
‘mau ke hutan mangrove? Saya nggak bisa mengantar sampai ke hutan mangrove, mbak! Kan di sana lagi banjir rob. Mobil nggak bisa lewat sana, terpaksa nanti tak turunkan di pinggir jalan, ya!’ sahutnya ketus.
Aku dan BB Idah saling pandang, kaget lah pasti. Ketemu driver yang ketusnya masya ampun dan berasa nggak bertanggungjawab dengan penumpang, mbok bisa bilang dengan kata yang lebih santai dan sopan. Mungkin bakal lebih enak didengar kalau ngomongnya begini
‘mbak, maaf ya karena jalur ke Hutan Mangrove sedang terjadi banjir rob, nanti bakal saya antar menyesuaikan kondisi di sana ya? Atau mbaknya bisa ganti destinasi dengan bersantai di Pantai Sari Pekalongan, karena banjir robnya di rute Pantai Sari-nya.’
Nah kan lebih enak didengar ya? Iya laaah! Apalagi pas BB Rois menanyakan rekomendasi tempat wisata di kota Pekalongan ke driver-nya, beeeh ketusnya gila.

Singkat cerita kami diturunkan di jalan Pantai Sari, padahal sih jalanan masih aman dari banjir rob. Tapi ya sudah, karena saking muak dan enegnya sama si driver auto deh kami turun dari mobil. Untung saja, kita bisa menikmati senja di pinggir pantai Sari Pekalongan. Serius, seumur-umur baru pernah mengunjungi pantai di pinggir jalan begini, di seberang sana juga terdapat pemukiman warga. Terus tiba-tiba jadi membayangkan bagaimana senangnya punya rumah yang menghadap ke pantai begini, begitu buka pintu rumah auto kelihatan pantainya dong. Tapi ngeri juga kalau pas banjir rob atau amit-amitnya tsunami, wkwkwk

Tiba di Pantai Sari Pekalongan

Pantai Sari Pekalongan
Jujur, kami kurang mencari informasi tentang Hutan Mangrove Pekalongan, memang penting banget untuk riset tempat-tempat wisata yang bakal dikunjungi supaya nggak ada penyesalan seperti yang kami rasakan. Nah sialnya pas kami ke Pekalongan bulan September 2019, ternyata sedang terjadi banjir rob di daerah jalan Pantai Sari. Tapi ada hikmahnya juga sih ke Pekalongan pas musim banjir rob gini, jadi bisa melihat dan merasakan langsung suasananya karena selama ini cuma melihat banjir rob di televisi.

Setahuku, Pantai Sari ini nggak ada loket tiketnya. Pengunjung bebas menikmati pantai karena letak pantainya benar-benar di pinggir jalan dan pemukiman warga. Sepanjang jalan banyak warung-warung yang menyediakan aneka ragam jajan seperti bakso bakar, mie ayam, sosis, es degan, dll. Kami pun menepi ke warung yang agak sepi untuk menikmati deburan ombak, merasakan hempasan angin sepoi, sembari memanjakan mata melihat keagungan-Nya.

Sunset Pantai Sari Pekalongan
Ternyata makin sore, sepanjang jalan Pantai Sari dipenuhi oleh muda mudi yang sekadar duduk santai menikmati senja. Lalu lalang jalan Pantai Sari juga makin padat karena kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat terparkir semrawut. Aku duduk di bebatuan sambil mengamati dua anak kecil yang sedang asyik berenang dan bermain pasir. Tawa mereka pecah tiap kali ombak menyapa tubuh mungilnya. Kedua anak ini diawasi oleh pria paru baya yang mungkin ayahnya, sesekali si ayah berteriak untuk menjauh dari air pantai, tetapi kedua anak ini malah saling dorong ke arah air pantai.

Menikmati Senja Pantai Sari Pekalongan

Senyumku mengembang saat tanpa sengaja melempar pandangan ke langit nun jauh di sana, rona keemasan makin memancar menggantikan langit yang putih kebiruan. Orang-orang yang berlalu lalang seketika berubah menjadi siluet, kesibukan jalan Pantai Sari terasa syahdu dengan balutan cahaya keemasan dan pantulan cahaya dari genangan air akibat banjir rob.
Bakso Bakar Pantai Sari
Sunset Pantai Sari Pekalongan

Sesekali aku berdiri, berpindah posisi untuk mengambil gambar senja di Pantai Sari kemudian kembali duduk sembari menikmati setusuk bakso bakar. Hal yang nggak pernah kulewatkan saat menikmati senja adalah ritual merapal doa. Buatku, melambungkan harapan di waktu senja adalah sebuah keromantisan aku dengan-Nya.
Sunset Pantai Sari Pekalongan
Oya, katanya, kita bisa belajar dari sepotong senja. Belajar untuk menerima hal indah yang berlalu begitu mudah, belajar untuk memahami bahwa setiap hal yang kita sukai nggak selamanya abadi, pun belajar dari cahaya temaramnya yang mampu menutupi raut wajah kesediahan bagi orang-orang yang lelah dalam menjalani kehidupan. Bagiku, senja adalah hal magis yang mewah untuk dinikmati, perubahan dari siang dan malam ataupun dari malam ke siang patut untuk kita syukuri.

Lokasi Pantai Sari Pekalongan

Sebetulnya cukup mudah menemukan lokasi Pantai Sari Pekalongan, kalau di tempuh dari stasiun Pekalongan kurang lebih membutuhkan waktu sekitar 18 menit. Nggak jauh kok karena jaraknya hanya 6,7 KM, bisa diakses dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Tapi kalau mau ke Pantai Sari Pekalongan kudu cari informasi dulu ya, biar nggak kecelik sudah sampai sana malah ada banjir rob. Hhhh

Btw, fasilitas di Pantai Sari minim banget. Ya mungkin karena pantai ini nggak diperuntukkan sebagai tujuan wisata ya? Soalnya di sana, aku nggak melihat toilet, mushala, atau tempat sampah. Mungkin ada sih tapi akunya yang kurang ngeh karena memang seberang jalan ini langsung pemukiman warga. untuk HTMnya gratis ya, paling bayar parkir aja kalau ke sana membawa kendaraan sendiri.
Banjir Rob Jl. Pantai Sari
Setelah langit sempurna tertutup oleh cahaya senja, kami kembali memesan grab car dan menuju ke hotel untuk mandi, siap-siap makan malam sekaligus bertemu dengan teman-teman blogger Pekalongan.

Duh ya, rupanya semangatku terasa terbakar lagi nih saat menuliskan senja di Pantai Sari Pekalongan. Semoga pandemi Covid-19 segera berakhir ya, biar bisa mantai-mantai lagi :(




Mungkin Kamu Suka

70komentar

  1. Wah mantep tenan kii mbak sore sore nyunset sambil menikmati hidangan yang lezat itu, mungkin kalau aku hidanganya bakwan sama mendoan :D :D
    .
    Btw sudah new normal kayaknya bakalan sering ngetrip ki sampean ? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Laaah mau banget bakwan sm mendoan disiram sambel pecel. Uwww
      Iya Mas, udah pengen bgt budal :(

      Hapus
  2. Sunsetnya😀😀 ditemani bakso bakar makin nikmat. Ternyata memang banyak pelajaran yang bisa diambil dari alam ya. Segala sesuatu yang Allah ciptakan di dunia ini selalu berhasil bikin kita terkagum-kagum.
    Dulu waktu masih kecil saya suka lihat matahari terbenam di dekat rumah sambil ngitungin. Seru banget rasanya. Bisa merasakan langsung perpindahan siang ke malam😊
    Btw. Itu drivernya nyebelin banget ya. Mau jadi driver apa dep colektor sih. Galak amat.... Apa jangan-jangan lagi pms😲
    Ha..ha...😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Ntaps bgt nyunset sambil nyemil. Emg indah bgt waktu pergantian siang ke malam ya. Duuh
      Lah iya kayake drivernya lg ada masalah sm istrinya deh makanya gitu. Sok tau bgt kita🤣

      Hapus
  3. Itu yang pakai kerudung saat sunset siapa ya? Boleh dong kenalan.😄

    Pengemudi grab car nya mungkin lagi ngambek kali ngga dikasih jatah sama bininya, jadi dia marah marah.😂

    Pantai sari enak juga ya buat rekreasi, cuma fasilitas pendukung ngga ada ya. Harusnya Pemda Pekalongan membenahi dan dikasih fasilitas umum. Kalo nanti dimintai tiket aku rasa wajar saja asal bagus tempatnya.😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak boleh kenalan nnti takut bikin perang dunia. Ahahha
      Iya seumur2 baru ktmu driver macam itu Mas Agus :(
      Sepakat bgt sih, kl fasilitasnya memadai ada tiket masuk jg nggak masalah, asal masih terjangkau :D

      Hapus
  4. Biasanya tempat seperti ini malah menyenangkan. Aku beberapa kali ke pantai tanpa ada target apapun. Hasilnya malah jauh lebih menyenangkan heeee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas Sitam. Uwwww bangeeet
      Besok pandemi berakhir ajakin nyunset belakang rumah ya. Akakak

      Hapus
  5. Wah sunsetnya bagus tuh di pantai Sari.
    Pernah aku main ke Pekalongan cuma lihat pasar batik, malah ngga tau ada pantai keren juga
    Kurasa drivernya ngambek gegara ngga diajak foto barengan sama kak Ella yang caem, wwkk 🤭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cus kudu ke pekalongan lg Mas Him. Wkwkw
      Btw ke pasar batik Setono bukan nih?
      Ih nggak ya, kami baru naik mobil aja udah jutek kek rentenir aja :(

      Hapus
  6. bakso bakarnya bikin ngiler :D.. suasana senjanya juga epik banget mbak, cocok banget ya di nikmati sambil makan bakso bakar :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beli cilok aja, yuuk ..
      Belum nemu bakso bakar nih hari ini :D

      Hapus
    2. Beli tauto saja mas Hino kalo ngga nemu cilok dan bakso bakar. Tauto itu soto babat campur tauco, bukan teman Naruto.😄

      Hapus
    3. Khanif : iya Mas, efek korona jd bikin serba dramatis. Kangen jalan2 :(

      Mas Him : hayuk bangett, tak tunggu depan rumah. Akakak

      Mas Agus : tp kenapa aku nggak doyan tauto :(

      Hapus
  7. harusnya kalau engga corona aku udah rencana ke tegal pekalongan dan brebes atau wonosobo
    siapa tahu bisa ketemu mbak ella hehehe
    ya sudah
    tapi jadi mupeng ya pas naik kereta kle JKT lewat pantai di pekalongan kayak gini asyik banget

    apalagi sunsetnya duh kan mupeng beneran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah padahal menarik bgt ya Mas. Berkabar aja kl pas main ke Banjarnegara yaaa, kita mitap! Ahahaha
      Iya kl aku dr st. Pwt ke St. Semarang jg liat pantai dr jendela kaca kereta, syahdu bgt :(

      Hapus
  8. Waaduuhh sudah mempersiapkan acara ke Hutan Mangrove malah batal karena kondisi Roop..😲😲

    Dan cuma bisa menikmati suasana pantai Sari Pekalongan. Yaa tapi mau bagaimana lagi yaa mbak Ell. Dan apapun itu semua harus tetap di syukuri. Karena suatu perbedaan bisa mempertemukan dan bersatu.😊😊

    Sebagai contoh ingin ke Hutan Mangrove, Siapa sangka akhirnya cuma menikmati Nuansa pantai Sari. Siapa tahu Pantai Sari punya kesan tersendiri yang tanpa mbak Ella Sadari ciiieeee!..😁😁 Tetap semangat.👏👏👏👏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha Mas Satria bisa aja deh. Tp emg seneng bgt sih pas bisa nikmatin sunset di pantai Sari ini. Pengen ke sana lagi :D

      Hapus
  9. Welcome to my city, mbak.

    Kalau boleh jujur, pantai di pekalongan emang nggak ada yang menggairahkan.
    tapi seru mbak ella bisa dapat spot sunset yang bagus juga.

    Kalau berwisata ke pkl, lebih asik kulineran malah.

    Btw, ada komunitas blogger pekalongan nggak ya? Mau gabung juga dong haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada doong.. Komunitas Blogger Pekalongan (KBP) sdh ada sejak 2017 lhoo.. yuuk gabung.. Cek info di akun IG @blogger_pekalongan ya..

      Eh, Neng Ella, numpang promo ya..hehe..

      Hapus
    2. Tengkyu Mas Jusuf. Memang ya dimanapun tempatnya kl menikmati sunset rasanya duh ada kenangan tersendiri. Tuh ada komunitas blogger pkl mas, cus gabung aja. Akakak


      Mbak Me : santai mbaaak, mas Jusuf ajakin gabung yaa.. Xixi

      Hapus
  10. eh saya justru penasaran banget itu dengan hutan mengrove, saya kan juga tahunya dari televisi. Jadi ingin tahu kayak apa sebenarnya
    Tapi tak apalah ya, pantai sari menjadi pengobat kecewa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kl ke hutan mangrove nggak kuatnya digigit nyamuk huhu. Tp seru, cm ya nggak papa gagal ke hutan mangrove. Tp bisa nyunset di pantai sari :D

      Hapus
  11. Masha Allaaaahhh, sunsetnyaaa.... bakso bakarnya, duh kangen jalan-jalan rasanya.
    Tapi kok ya masih deg-degan banget kalau mau keluar :D

    Btw, jadi kangen ke hutan mangrove di Surabaya juga deh, di sini ada 2 tempat kalau nggak salah, dan saya baru datangi 1 aja.

    Entah kapan corona berakhir ya, sungguh kangen suasana wisata.
    Sementara nikmati sunset di depan rumah aja deh hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Rey jangan keluar2 dulu nunggu pandemi berakhir ya. Akupun ngeri :(
      Bisa nyunset depan rumah tah mbak? Wah asyiknyaaa

      Hapus
  12. Wah.... Gara-gara banjir rob, malah gagal ke destinasi utama.
    Tapi dapat gantinya juga sih, menikmati dan belajar dari momen matahari terbenam di Pantai Sari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas Rudi.. Gantinya lebih syahdu ternyata :)

      Hapus
  13. suka dengan suasana di situ...tenang lagi mendamaikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali mbak anies :)
      Tenang, damai, teduh, duh jd kangen nyunset di pinggir pantai :D

      Hapus
    2. saya bimbang kalau berada di sana, saya tak nak balik rumah hahahahaha

      Hapus
  14. wah, asyiknya bisa dapat sunset di pantura.
    serem juga ya itu sisa sisa banjir robnya, udah kayak habis hujan deres.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas Gall. Senang bgt bisa nyunset di sana. Ahahaha
      Iya kebayang kl pas bajir rob pemukiman warga auto kena karena sebrang jalan udh padat penduduk

      Hapus
  15. Aduh... jadi kangen jalan-jalan lagi, kayaknya udah lama banget gak berwisata.
    itu supir grabnya abis di putusin pacarnya kali, jadi bawaanya ketus gitu. :)
    jalan-jalan sama BB Idah dan Rois, terus si Dia mana?

    Ngomong-ngomong akau penasaran sama kisah si MANTAN, gimana kabarnya?

    terus, ini yang naik kereta udah pada mandi belum?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaa. Lg ada masalah sm istrinya kali. Tau ah, untung aja dpt spot sebagus ini kan Mas? Hhh
      Dia masih bekerja biar cepat bergelimang harta, kl mantan apa kabar ya? Kita doain sama2 biar bahagia sm pilihan hidupnya. Ow ow ow. Kenapa malah abis berdoa pengen ketawa sik? Wwkwkk

      Udah mandi lah woii😖

      Hapus
  16. Kalau ke pekalongan memang penting banget liat cuaca. Karena di sana, banyak daerah yang kena rob. Pernah merasakan ribetnya pergi ke daerah Pekalongan pas lagi rob. Hehehe. Tapi, selain pantai, pekalongan punya banyak destinasi yang "adem" koh. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah bener bgt sih Mas Bangkit. Kudu cari informasi dlu kl ke pekalongan. Btw bisikin dong destinasi yg adem di sana, siapa tahu kapab2 bisa main ke sana lagi :D

      Hapus
  17. Duh driver-nya ketus sekali 🙈 padahal bicara baik-baik juga mba pasti mengerti, kenapa harus begitu coba hhhh ~ by the way banjir rob itu maksudnya banjir bandang yah, mba? Saya baru pertama kali dengar istilah banjir rob soalnya 😆 maafkan.

    Ps: foto bakso bakarnya menggugah selera. Bisa kebayang makan bakso bakar maknyus sambil menikmati matahari terbenam. Well, meski akhirnya mba Ella gagal ke hutan Mangrove, semoga perjalanan ke pantainya tetap membuat hati mba senang 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha iya mbak Eno. Ngomong santai aja kami juga nggak akan maksa di antar menerjang banjir rob kok. Wkwk
      Senang bgt sih meski gagal ke hutan mangrove tp bisa dpt spot begini :)

      Hapus
  18. Sunset nya cantik banget,, ditemani bakso bakar maknyuss,, duuhh auto ngilerrr,, mungkin next time planning bereisata ke hutan mangrove bisa terlaksana.. Aamiin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak. Tp malah lebih pengen ke pantai sarinya lagi, karena susnet di sana ciamik bgt. Wkwk

      Hapus
  19. Wahh mantep banget,, duduk di pinggir pantai, menikmati senja sambil makan bakso bakar.. Anak Indihome yah mba Ella??
    Wahh sayang banget yah, padahal hutan manggrove pekalongan nggk kalah bagus sama hutan manggrove di Semarang.. Tak doain moga besok-besok ada kesmpatan buat kesana.. Aminn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku anak indomie mas Bay. Wkwkwk
      Malah udah nggak pengen ke hutan mangrove pkl, lebih pgn nyunset lg aja lah. Xixi

      Hapus
  20. seneng kalo bisa tinggal di daerah yang deket pantai masih di daerah kotanya. tinggal ngesot aja, kayak di banyuwangi
    haduhh kalo nemu driver kayak gitu, ya males juga kalau next nya ketemu lagi :D
    itu foto sunsetnya cakep, senengnyaa kalo sunsetan di pinggir pantai begini, syahduuu banget dah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ih ogah mbak kl ktmu driver itu lg. Wkwkwk
      Emg ya surga bgt kl punya rumah yg deket pantai, apalah aku cah nggunung mbak :(
      Iya syahdu tralalal trilili pokoknya :D

      Hapus
  21. wow...indahnya sunset....enak memandangnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyunset sm makan bakso bakar lebih nikmat rasanya. ahaha

      Hapus
  22. Wuidih .. bakso bakarnya menggoda banget. Btw, harapannya sih kalau jalan ke Pekalongan nggak bakalan perlu kenalan dengan banjir rob. Serem juga. Tapi pantainya cantik juga di sore hari. Hanya saja, kalau nggak ada fasilitas turisnya, agak repot juga ya kalau jalan-jalannya sekeluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak kl main ke Pkl kudu bgt cari info dlu, takutnya lg rob kan :(
      Mungkin ada fasilitas toilet di rumah2 warga deh mbak. Cm memang nggak ada fasilitas khusus pengelola pantai ini

      Hapus
  23. Laaa..maafkan kelakuan minus si Abang driver itu yaa.. lagi PMS kali..hehe..

    Semoga lain kali bisa lebih lama di Pekalongan ya..

    Oya, kalo mo eksplor Cirebon ajak-ajak aku yaaa..hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Me.. Sudah terbayar dg sunset dan ktmu mbak Me malam harinya :)
      Siaaap, pengen mantai di Cirebon uhuy

      Hapus
  24. ngliat senja di pantai Sari pekalongan kayanya lebih makjleb ketimbang jika ngliat hutan mangrove deh jeng....wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat mang, akupun malah lebih seneng nyunset ketimbang ke hutan mangrovenya. Wkwkwk

      Hapus
  25. Apakah udah aman mbak bisa bepergian.. Soale aku pun udah kangen banget mau jalan"apalagi kalo pk kereta, kudu ada surat"nya yg kadang bikin malez ngurusnya 😑,liat suasana senja di pantai emng gimana gitu saat lgi sunset, kyak di cerpen", tu supir ga ngerti tata krama mbak, pdagal emng gawenta nganter pelanggan, kasih bintang satu aja mbak😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kl aku blm lega bepergian mbak. Apalagi yg agak jauh mesti naik kereta, nanti2 dlu deh nunggu kondisi bener2 aman. Iya emg sunset semenarik itu mbak Santuy. Hihi
      Auto kasih bintang satu memang :D

      Hapus
  26. Aamiin, semoga pandemi segera berakhir, aku jg udah kangen pantai. *Padahal 15 menit jg nyampe aku, hehe.

    Aku auto inget jaman kecil kalo diajak bepergian trs lewatin pantai yg di pinggir jalan gitu baca ini. Sekaligus ngiler bayangin sunset-an sambil makan bakso pwedes. Hmmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah mbak Sera ajakin aku kepantaiii dong. Uhuk
      Aku kl pgn ke pantai terdekat mesti ngabisin waktu 2 jam di perjalanan :(

      Hapus
  27. Huwowwww indah banget sunsetnyaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nggak ada kata yg bisa menggantikkan pokoknya. Eh

      Hapus
  28. Luar biasa nih, dibelai2n hanya buat liat sunset di kota lain.
    Btw sunset emg bikin hati syahdu ya

    ~Bang Day

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahahha iya bang, karena sking doyannya mbolang

      Hapus
  29. belum pernah ke pekalongan. semoga nanti ada kesempatan dan rezeki buat kesana ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. aammin, kudoakan ya semoga setelah pandemi bisa main ke Pekalongan

      Hapus
  30. pemandangan sunset selalu jadi favorit saat kita mau menenangkan pikiran..

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepakat bgt, adem, syahdu, duhlah kan kenapa ini jd kangen nyunset huhu

      Hapus
  31. Astaga itu perfect sekaleh pemandangannya pemirsaaahh.. :v

    BalasHapus
  32. saos bakso bakar le ngecrotna jan metutuk bgt hahahaha suka pedes mesti

    BalasHapus
  33. Kenapa gak mancing aja mbak mumpung di sana? Mancing keributan dengan warga sekitar maksudnya, wkwkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. INI MAH OM RIZA YANG MANCING KERIBUTAN TEROOOS

      Hapus

Buka Yuk!
Join on this site

Jangan Ketinggalan, Klik Ikuti