Mengunjungi Pemandian Permaisuri di Taman Sari Yogyakarta

oleh - September 11, 2020

Taman Sari
Area Kolam Taman Sari

Taman Sari Yogyakarta - Sedari masih di atas kereta api yang melewati jalur Purwokerto – Lempuyangan, kami merencanakan akan mengunjungi Taman Sari (Water Castle) Yogyakarta keesokan harinya. Jika dihitung, mungkin sudah puluhan kali aku menginjakkan kaki di sana. Sambil mendengarkan dia menyusun itinerary selama kami di Yogyakarta, aku terus menikmati hamparan sawah dari balik jendela kereta api. Segelas pop mie yang ku genggam terlihat mengepulkan asap, bumbu pop mie merebak ke segala arah. Dia tersenyum, mengingatkanku untuk makan nasi terlebih dahulu sebelum menyantap makanan kesukaanku. Ah ya, mengingat perjalanan sebelum adanya pandemi memang sungguh mengasyikkan, terlebih dengan orang tersayang. Eh

Taman Sari Yogyakarta menjadi salah satu destinasi wisata yang kami kunjungi sebelum pandemi merebak ke berbagai wilayah, tercatat sudah 6 bulan lamanya kami menahan diri untuk bepergian. Mungkin nggak hanya kami, tapi teman-teman juga demikian. Rela membatalkan berbagai rencana yang sudah disusun matang. Nggak apa ya, semoga bulan depan kondisi sudah memungkinkan untuk kembali melangkahkan kaki, menaiki kereta api, dan juga untuk berbagi informasi destinasi wisata yang bisa dikunjungi.

Gapura Panggung
Gapura Panggung

Lokasi

Setelah selesai sarapan nasi kuning kesukaanya, kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Sari yang berlokasi di jalan Tamanan, Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Zaman sekarang mencari lokasi gampang banget ya, tinggal ketik di gmaps auto diarahkan ke pelaminan. Eh maksudnya diarahkan ke lokasi yang kita tuju. Ekekekek. Begitu kami sampai di parkiran Taman Sari, kami langsung menuju loket tiketnya dong. Sayangnya pintu gerbang loket masih tutup, padahal jam tangan sudah menunjukkan pukul 08.35 WIB. Beberapa pengunjung juga sudah mengantre, namun kami memilih menunggu sembari jajan jasuke di dekat area parkir. 25 menit berlalu, gerbang Taman Sari akhirnya dibuka.

Suasana Taman Sari Yogyakarta

Gapura Agung
Gapura Agung

Kami bergegas ikut mengantre dan menyiapkan uang tunai untuk membayar tiket. Begitu tiket sudah di tangan, perlahan kami melangkahkan kaki menuju bangunan Taman Sari. Saat pemeriksaan tiket masuk, kami diingatkan untuk nggak mengambil video di dalam bangunan Taman Sari, semua pengunjung hanya diperbolehkan untuk memotretnya. Kami menganggukkan kepala, lantas melanjutkan menuruni anak tangga. Beberapa kali langkah kaki kami terpaksa terhenti karena mendapat tawaran tour guide, tapi kami menolaknya dengan pelan. Ya, Taman Sari memang memiliki segudang cerita sejarah yang melegenda. Konon, Taman Sari dibangun di bekas keraton lama, Pesanggrahan Garjitawati, yang didirikan oleh Susuhunan Paku Buwono II.

Begitu kami menuruni beberapa tangga, di depan sana terlihat dua kolam dengan air yang begitu jernih kebiruan. Mungkin baru saja di kuras kali ya, soalnya dulu pernah ke sana pas kolamnya lagi dikuras. Hihihi. Konon, kolam ini dulunya merupakan tempat pemandian para permaisuri. Bangunan yang masih berdiri kokoh dengan warna cat cokelat muda yang memulai memudar membuat bangunan ini makin eksotis. Kami nggak begitu lama di area kolam ini, karena tujuan awalnya adalah area Sumur Gumilang. Oya, jika kita sudah keluar dari area kolam Taman Sari maka kita nggak diperbolehkan masuk lagi ya.

Sumur Gumilang Salah Satu Spot yang Diburu Wisatawan

Sumur Gumilang
Sumur Gumilang

Kami melanjutkan perjalanan menuju Sumur Gumilang dengan mengandalkan peta. Untuk menuju Sumur Gumilang ini kami harus berjalan di area pemukiman warga, banyak juga warga yang menawarkan jasa untuk menunjukkan lokasi Sumur Gumilang. Soalnya di sana memang nggak ada petunjuk jalan yang jelas, tapi tanpa tour guide pun kami berhasil menemukan Sumur Gumilang dong. Meski sudah pernah ke sana, tapi lupa banget rutenya. Wkwkwk

“Capek nggak?” tanyanya sambil menengok ke arahku.

Aku menggeleng, masih antusias berjalan di lorong Sumur Gumilang.

“Eh, foto di sini bagus nih, mau nggak? Mumpung nggak ada orang lewat” sahutnya.
Lorong Menuju Sumur Gumilang
Lorong Menuju Sumur Gumilang

Aku ditawari pephotoan, ya auto pose-pose dong. Ahahaha. Sungguh sekian kali kesini baru kali ini bisa leluasa pephotoan di lorong Sumur Gumilang, meski kadang harus menunggu karena ada orang yang lewat juga. Tapi masih lumayan sepi sih, soalnya masih pagi juga. Tapi sayangnya pas masuk ke area Sumur Gumilang agak kecewa karena ruamai buanget. Dari bagian atas, tengah, bawah, semua orang sedang mengantre untuk bergantian berfoto di spot utama. Dia langsung menarik tanganku, mengajak berjalan ke sudut-sudut Sumur Gumilang sambil berharap spot utama bakal sepi. Tapi makin ditunggu malah makin banyak orang uy. Akhirnya kami memutuskan keluar dari area Sumur Gumilang karena waktu yang makin siang.

Bangunan Belakang Loket Tiket
Bangunan Belakang Loket Tiket

Harga Tiket

Begitu keluar dari area Sumur Gumilang, kami langsung mencari tempat istirahat dan menikmati segelas es untuk melepas dahaga. Saat menuju area parkir, nggak sengaja kami menemukan spot yang instagenic banget, sungguh ih. Menggemaskan, ternyata belakang bangunan ticketing kece juga lho. Sepi pula, sayangnya panasnya kebangetan. Maklumlah aku cuma anak gunung yang lebih sering kedinginan daripada kepanasan. Ahahaha, untuk harga tiket masuk Taman Sari Yogyakarta cuma Rp. 5 ribu/ orang, lalu ada tiket tambahan tiket Rp. 3 ribu/ kamera jika pengunjung membawa kamera untuk memotret.

Fasilitas Taman Sari Yogyakarta

Kebetulan saat berada di area kolam Taman Sari kami mencari toilet, namun nggak menemukan. Malah saat keluar dari area kolam kami menemukan toilet umum milik warga setempat, hhh. Untuk mushala sepertinya ada di komplek perumahan warga juga deh. Kalau teman-teman haus dan lapar banyak warung jajan yang menyediakan berbagai menu kok. Untuk kebersihan di area kolam dan area sumur gumilang mantap sih, beneran nggak ada sampah berserakan. 

Semangkuk Bakso Tulmud di Depan Taman Sari 

Sebelum kami melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya, kami menyempatkan jajan lagi. Soalnya nggak tahan dengan aroma bakso yang menggoda. Saat masuk ke warung tenda, tertulis "Bakso Tulmud Pak Imam". Ternyata Tulmud itu singkatan dari Tulang Muda sapi. Nggak lama menunggu, semangkuk bakso dan segelas es jeruk sudah ada di depan kami. Aku mengambil sendok, menyesap kuah bakso yang terasa segar sekali. “Emm tulmudnya juga enak nih, nggak keras, baksonya juga kenyal, beneran enak” gumamku. 

Bakso Talmud Pak Imam
Bakso Talmud Pak Imam

Saat kami sedang mengobrol tetiba pak Imam penjual bakso ikut nimbrung menanggapi kelezatan bakso yang sedang kami nikmati. Kami ngobrol ngalor ngidul, ternyata beliau berasal dari desa yang sama dengan Ayahku. Desa Semanu, Gunungkidul. Bagiku Semanu merupakan rumah kedua yang penuh kehangatan. Meski rasanya lama sekali nggak mudik karena pandemi, nggak apa. Asal semua sehat dan pandemi ini bisa segera berakhir.

Selesai menyantap bakso Tulmud, pak Imam mendoakan keselamatan kami, beliau juga berpesan jika esok lusa main ke Taman Sari lagi jangan lupa untuk mampir lagi. Kami tertawa dan mengiyakan, lalu berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.

Mungkin Kamu Suka

39komentar

  1. Waktu aku studytour ke Taman Sari, kok kami nggak dibawa ke sumur Gumilang ya 😭 padahal tempatnya terlihat bagus sekaliii. Apa mungkin tempat ini baru dibuka untuk umum?

    Lalu, aku salah fokus sama baksonya hahaha. Ternyata mampu membuat ngiler 🤤

    BalasHapus
    Balasan
    1. area sumur gumilangnya beda dengan area kolam mbak, mesti jalan menyusuri perumahan warga. setahuku sudah dibuka lama juga kok, iya nih jadi pengen bakso tulmudnya lagiii

      Hapus
  2. Mbak Ella Ulala...

    Udah pantes banget mbak poto sambil gendong anak..

    Wkwkwkwk

    BalasHapus
  3. Oh ternyata spot yang diburu di taman sari itu sumur Gumilang ya mbak, cuma tempatnya agak tersembunyi ya, kalo yang ngga tahu harus pakai tour guide kali.

    Harga tiketnya murah amat ya, cuma 5 ribu plus 3 ribu kalo bawa kamera. Kenapa tempat wisata di Yogyakarta murah meriah ya? Padahal kan harus ada pemeliharaan tempat wisata agar tetap bagus.

    Waduh, bakso tulmud nya jadi bikin paper nih, traktir dong.😀😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kang Agus, bener banget areanya terpisah dengan area kolamnya. mesti kuat2in insting dan buka maps, wkwk
      lah iya, aku pun heran. tiket masuk keraton, museum kereta, taman sari murah2 ih. hayuk meet up di jogja, kita makan bakso tulmud ramai2 ajak Kang Satria juga. ahaha

      Hapus
  4. Yaa ampun tempatnya mecing banget biayanya murah lagi..😊😊

    Jadi kepengen kepemandian permaisuri Yogyakarta yuuks! Mbak Ell kita sana lagi berdua Hiiihiii..🤣🤣

    Eehh pose photo kamu keren2 lhoo..😊😊😁😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh jangan berdua. nanti kamu di cariin kang Agus, kan kalian mau syuting bareng. wkwkwk
      posenya gitu2 doang, nggak bisa sambil guling2 karena bukan di pasir pantai, ahaha

      Hapus
  5. Akh aseek pesan pedagang bakso untuk lain kali datang lagi ke Taman Sari dan mampir njajan bakso tulmud di warungnya 😁 ...
    Pinter ya ngerayunya ..., hihihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas Him, udah pernah nyicip bakso tulmud Taman Sari belum nih?

      Hapus
  6. Tempatnya keren-keren.
    Coba deket dari Bungbulang, mungkin bisa sering main ke sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mas Asep, kl dekat dari Banjarnegara juga bakal sering ke sana aku tu. hihi

      Hapus
  7. kok gak ikut mandi mb ... kayaknya seger banget tuh kolamnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. tolong ya tolong, aku bukan permaisuriiiii. wkwkwk

      Hapus
  8. kok jadi ngebayangin permaisuri berendam bersama dayang2nya... duh saya benci pikiran saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah kan Bang Day memang ya. ati2 lho, nanti kl pikirannya nggak dijaga usaha kos-kosan, nasgor, dllnya BANG DAY rusak, wkwk. eh

      Hapus
  9. mba ella lagi sesi photo shoot pejen ya hehehe
    tapi emang si ini engga bakal bosen buat didatengin
    temenku aja yang ke YK langsung ke sini dan engga ke malioboro dulu
    mek ya iku panase subhanallah

    dan ke sumurnya itu jadi wajib banget sayang klo kelewatan

    BalasHapus
    Balasan
    1. mana ada pejen pose dan pakai kaus panjang begitu mas Ikrom, wkwkwk
      bener banget, panase macam lihat mantan menikah dengan orang tersayangnya ya. eh

      Hapus
  10. terakhir ke taman sari kayaknya sebelum menikah deh. huhu. Malah abis nikah meski stay di jogja nih ga pernah ke sana lagi. Emang yaaa, paling enak jalan2 itu sama si dia, apalgi pas lagi masa-masa pacaran, hihi

    Sumur gumilang nih sebelah mananya sih? Jadi penasaran, kenapa bnyk diburu sama para wisatawan yaa. Jangan2 pernah ke sana tapi nggak tahu namanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. duh mbak Ghina, jadi kangen dia kan. lama banget nggak jalan2 nih gegara korona, huhu
      sumur gumilangnya kudu jalan di area perumahan warga mbak, jadi kudu keluar dari area kolamnya dulu. hhh
      yang itu lho banyak tangga2 gitu

      Hapus
  11. Kaan...kaan.. Bacain postingan gini jadi pengen ke Jogja. Hiks... rencana tahunan ke Jogjaku jadi batal gegara pandemi:(

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayuk besok yukkk, kl korona dah pergi kita jalan2 ke YK

      Hapus
  12. Wah.. Fotonya kece-kece mbk, tempatnya juga keren. Jujur saya belum pernah ke taman sari sih, padahal tempat itu terkenal. jadi lihat bangunan gapura di atas, berasa kayak kerajaan-kerajaan gitu ya...
    Saya juga kangen pengen piknik...😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbaj Astria, konon ini dibangun pada masa kerajaan jadi ya gapuranya memang kerajaan banget, bangunannya pun juga demikian. Besok kl pandemi berakhir coba baik ke Taman Sari ya, hihi

      Hapus
  13. Sama dong kek aku. Ke sana beberapa kali tetep muter-muter nyari sumur gumilang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. panas nggak? panas pasti kan? wkwkkw, tapi nemu sumur gumilange kan, Mas?

      Hapus
  14. Penutupnya yang buat saya tertarik, baksonya bikin seger kayanya, kuah panasnya mantab kayanya nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya nih, auto kebayang dan bikin lapar uhuhu

      Hapus
  15. Yang paling saya suka dari kawasan Tamansari ini Pulau Cemeti-nya, Mbak Ella. Reruntuhan bangunan di utara istana air itu. Pagi-pagi kalau cerah bisa lihat Merabu, Merapi, Sumbing, dan Lawu dari sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama mas, ku juga suka. tp tiap kali ke sana pasti ruamainyaaa ampuun. jd pengen ke Pulau Cemeti pagi-pagi, siapa tahu rejeki bisa lihat Merbabu, Merapi, Sumbing, dan Lawu dari sana :)

      Hapus
  16. Eh ya ampun aku kangen banget main ke Taman Sari dan explore sendirian. Huhu. Kangen abis sama Jogja :")

    BalasHapus
    Balasan
    1. kadang buat sebagian orang explore destinasi wisata sendirian berasa me time ya mbak, tp aku lebih seneng explore sama dia sih, eh

      Hapus
  17. waktu pertama kali banget kesini, hepinyaaaa hahaha
    dan emang paling enak pas baru dibuka pagi pagi, pinginnya biar nggak terlalu rame, tapi kadang anggapan itu salah, yang antri udah banyak
    waktu kesana, aku nggak ke area sumur gumilang, kayaknya nggak tau dan nggak cari tau juga :D, astagahhh

    kalau kesana lagi mampir beli baksol tulmud ahh, siang siang makan bakso abis keliling taman sari kan enyakkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Ainun. nggak tahu nih sepinya kapan.. kwkwkwk
      cus kl ke sana cobain bakso tulmudnya.. enak, murah pula. Nah pak Imam, ku promosiin baskonya nih, xixixi

      Hapus
  18. Sementara ini kalau dolan ke Tamansari agak susah, dikejar waktu agar tidak berkumpul. Jadi kurang pas kala pandemi

    BalasHapus
  19. Bacanya buat jadi kangeeen Jogja.. Taman sari memang tempatnya seru untuk dikunjungi apalagi yang suka foto-foto hehe. Pengen pergi ke jogja lagi setelah pandemi covid usai. Terima kasih sudah mengingatkanku sama Jogja mbak Ella :’)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kak, sama. akupun jadi kangen Jogja pas nulis ini. hhh
      yap, nunggu pandemi kelar dulu baru jalan2 lagi ke sana ya :)

      Hapus
  20. Bacanya buat jadi kangeeen Jogja.. Taman sari memang tempatnya seru untuk dikunjungi apalagi yang suka foto-foto hehe. Pengen pergi ke jogja lagi setelah pandemi covid usai. Terima kasih sudah mengingatkanku sama Jogja mbak Ella :’)

    BalasHapus

Buka Yuk!
Join on this site

Jangan Ketinggalan, Klik Ikuti