MENJADI NASABAH BIJAK

untuk Lindungi Diri dari Kejahatan

Siber yang Kian Melonjak Memuncak Marak

by Ella Fitria | 14 September 2022

Saya masih ingat betul saat pertama kali tertipu belanja online di tahun 2015. Dulu, marketplace dengan sistem pihak ketiga yang menjadi penengah antara penjual dan pembeli belum begitu booming di Indonesia. Saat itu, saya pun masih awam dengan seluk beluk modus penipuan belanja online. Alhasil, saya tertipu untuk dua kali transaksi dalam satu hari.

Awalnya, saya hanya ingin membeli jaket outdoor yang harganya lebih murah dibandingkan dengan toko offline. Saat itu, saya langsung melakukan diskusi dengan seller mengenai ukuran jaket yang saya mau hingga lanjut ke proses pembayaran. Singkat cerita, setelah saya melakukan pembayaran, tiba-tiba seller kembali menawarkan produknya. Kali ini, produk yang ditawarkan berupa sepatu dan tas outdoor yang menurut saya matching dengan jaket yang sudah saya pesan. Saya pun kembali tertarik karena lagi-lagi harganya relatif lebih murah.

Dengan semangat yang menggebu, saya kembali bergegas ke ATM terdekat untuk melakukan pembayaran agar barang segera dikirim. Karena saat itu, seller menginformasikan jika proses pembayaran sebelum pukul 12.00 WIB, maka produk akan langsung dikirim hari itu juga. Rasanya bahagia sekali karena akhirnya bisa membeli barang yang sudah lama saya impikan.

Namun, sesampainya saya di rumah, tiba-tiba nomor saya diblokir. Lantas, saya buru-buru menghubungi seller dengan nomor ponsel yang berbeda. Tujuannya, untuk menanyakan pesanan yang sudah saya bayar. Lagi-lagi, nomor saya yang lain di blokir juga. Rasanya campur aduk, marah, kecewa, kesal, dan sedih. Uang Rp1.600.000 yang saya kumpulkan berbulan-bulan dari uang saku langsung ludes hari itu juga karena kecerobohan saya sendiri. Ini baru sekelumit contoh kecil kejahatan siber berupa penipuan online yang saya alami.

Kejahatan Siber

Makin Marak Terjadi di Masa Pandemi

Saat pandemi mulai masuk ke Indonesia, berbagai sektor menerapkan sistem online demi meminimalkan penyebaran virus Covid-19. Maka, tidak heran jika pengguna internet di Indonesia meningkat tajam. Berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) periode 2019-kuartal I 2020 pengguna internet mencapai 73,7% atau 196,7 juta jiwa hingga kuartal II 2020. Sayangnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum aware dengan perkembangan digital. Alhasil, oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab memanfaatkan kondisi ini untuk melakukan kejahatan siber.

Peningkatan Serangan Siber Tahun 2019-2020

2019

290,3 Juta

2020

495,3 Juta

Selaras dengan meningkatnya pengguna internet, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) juga mencatat serangan siber tahun 2020 meningkat 41% atau mencapai 495,3 juta kasus. Padahal, pada 2019 hanya 290,3 juta kasus. Adapun dari laporan tersebut terdeteksi terjadinya email phishing sebanyak 2.549 kasus yang terjadi di bulan Maret hingga Mei 2020. Tindak kejahatan siber memang tidak hanya dalam bentuk phishing saja, melainkan bisa dalam bentuk social engineering, skimming, penipuan online, hingga stealer malware.

Nah, berikut ini beberapa bentuk kejahatan siber yang makin marak terjadi di masa pandemi.

Phishing

Phishing merupakan cara penipu untuk membujuk korbannya supaya memberikan informasi pribadi, seperti nomor rekening bank, password hingga nomor kartu kredit. Umumnya, kejahatan siber dalam bentuk phishing dilakukan melalui email, pesan teks, situs web, panggilan telepon atau bahkan melalui media sosial.

Modusnya, penipu akan berpura-pura menjadi customer service bank, perusahaan telepon, atau penyedia internet. Biasanya, penipu akan memberi tahu ada “aktivitas yang tidak sah atau mencurigakan telah terjadi di akun Anda”. Selanjutnya, penipu akan meminta informasi data penting korban dengan alasan untuk membantu mengatasi masalah tersebut.

Contoh website phishing login akun Internet Banking BRI

Bahkan, dalam beberapa kasus, penipu telah menyediakan situs web “duplikat” untuk mengelabui korban seolah-olah situs tersebut resmi dari penyedia layanan. Hal ini bertujuan agar korban mudah terkecoh, kemudian korban memasukkan informasi penting ke situs abal-abal tersebut.

Social Engineering

Bentuk kejahatan siber selanjutnya adalah social engineering (soceng). Akhir-akhir ini, bentuk kejahatan siber ini sedang marak terjadi karena penipu akan memanipulasi psikologis korban untuk mendapatkan informasi tertentu. Penipu tidak akan menyerang inti perbankan karena keamanannya yang berlapis. Namun, penipu ini memiliki cara lain dengan menyerang lapisan keamanan paling lemah, yakni kepada para nasabah.

Contoh social engineering perubahan tarif transaksi

Saat ini social engineering yang paling sering terjadi adalah pemberitahuan tentang perubahan skema tarif biaya transaksi yang sebelumnya Rp. 6.500 menjadi Rp150.000 per bulan (autodebit) melalui rekening secara otomatis. Selain itu, ada juga penawaran khusus untuk menjadi nasabah prioritas. Saya pun pernah mendapatkan chat WhatsApp yang mengatasnamakan admin BRI menawarkan skema perubahan tarif serupa. Untungnya, saya tidak termakan tawaran penipu tersebut.

Skimming

Tak hanya phishing dan social engineering, kejahatan siber dalam bentuk skimming juga tak kalah membahayakan. Skimming merupakan tindakan pencurian data pengguna ATM untuk membobol rekening. Biasanya, untuk melancarkan aksi ini, pelaku kejahatan menggunakan alat khusus yang bentuknya mirip dengan mulut slot kartu ATM.

Alat skimming dan pad palsu pada ATM

Cara kerjanya, begitu kartu ATM di masukkan ke dalam mulut slot mesin ATM, otomatis alat tersebut akan merekam informasi dari kartu ATM korban seperti nomor kartu dan data lain yang nantinya dijadikan kartu ATM duplikat. Pencuri pun akan merekam pin ATM korban dengan kamera atau pad palsu. Alhasil, uang di rekening bisa raib dalam hitungan menit setelah korban meninggalkan mesin ATM.

Penipuan Online

Selain kasus yang saya alami saat belanja online, bentuk kejahatan siber penipuan online ini sangat luas. Modusnya sangat banyak, salah satunya adalah pengumuman pemenang undian atau kuis. Pelaku biasanya akan meminta detail kartu untuk membayar pajak atau biaya ongkos kirim. Seperti yang tercatat dalam portal PatroliSiber.id, hanya dalam kurung waktu 6 tahun terakhir terdapat sebanyak 25.759 aduan masyarakat terkait penipuan online dengan total kerugian mencapai Rp5,05 triliun.

Stealer Malware

Stealer malware merupakan malware untuk mencuri data transaksi yang digunakan untuk kepentingan finansial. Umumnya, malware ini akan masuk ke komputer melalui email attachment atau website yang tidak terpercaya. Nah, website tersebut sengaja dibuat mirip dengan website resmi suatu bank/perusahaan. Tujuannya untuk memperdaya korban agar mengunduh dan memasang aplikasi dari web tersebut.

Selain melalui email attachment, malware juga bisa dikirimkan melalui SMS, WhatsApp, Facebook Messenger, atau telepon. Berikut data-data yang biasanya dicuri melalui stealer malware, seperti:

  • Nomor Kartu Kredit/Debit
  • User ID & Password App
  • Password di browser
  • Log input keyboard
  • Screenshot dari perangkat
  • Data yang tersimpan
  • Email dan password di perangkat

Selain modus kejahatan siber di atas, sebenarnya masih banyak modus-modus kejahatan siber lainnya yang harus diwaspadai. Nah, agar terhindar dari berbagai bentuk kejahatan siber yang marak terjadi, berikut ini ada beberapa kiat-kiat untuk menghindari kejahatan siber.

Sadari Pentingnya Literasi keuangan di

Era Digital

Salah satu cara agar terhindar dari kejahatan siber adalah menjadi nasabah bijak yang memahami literasi keuangan dengan baik. Sayangnya, berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLK) 2019, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan indeks tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia masih tergolong rendah, yakni hanya sebesar 38,03%.

Literasi keuangan bisa dikatakan sebagai pengetahuan dan kecakapan untuk memahami konsep dan risiko keuangan. Bila seseorang memahami literasi keuangan, tentunya akan makin mudah dalam membuat keputusan yang efektif. Nah, tingkat literasi keuangan ini diukur melalui empat piramida pengetahuan finansial yang dikeluarkan oleh OJK. Berikut ini empat tahapan literasi keuangan, kira-kira kita berada di tahap mana, nih?

Not Literate

Bila seseorang tidak memiliki pengetahuan tentang produk dan jasa lembaga keuangan, artinya orang tersebut termasuk dalam tingkatan not literate. Umumnya, seseorang pada tingkatan ini tidak memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan.

Less Literate

Untuk tingkatan yang kedua adalah less literate yang berarti orang tersebut memiliki pengetahuan dasar mengenai lembaga jasa keuangan serta produk dan jasa keuangan saja.

Sufficient Literate

Jika seseorang berada pada tingkat sufficient literate, artinya orang tersebut telah memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga jasa keuangan serta produk dan jasa keuangan. Termasuk memahami fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan. Namun, pada tingkatan ini, orang tersebut belum terampil dalam menggunakan produk dan jasa keuangan.

Well Literate

Jika seseorang berada pada tingkat well literate, artinya orang tersebut memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga jasa keuangan serta produk jasa keuangan. Termasuk memahami fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan. Selain itu, orang tersebut memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan.

Nah, jika pemahaman seseorang terhadap literasi keuangan sudah berada di tingkatan well literate, tentu tidak akan mudah tertipu dengan berbagai modus kejahatan siber yang kini makin merajalela. Selain membekali diri dengan pemahaman literasi yang mumpuni, sebaiknya kita juga tetap waspada di era digital ini. Berpikir tenang, kendalikan emosi, dan tidak mudah terpengaruh orang lain bisa menjadi benteng untuk membekali diri sendiri.

Libas Kejahatan Siber

agar Saldo Rekening Aman dalam Genggaman

Menurut laporan A.T Kearney pada 2018, menyebutkan bahwa kesadaran masyarakat tentang keamanan siber masih dalam kategori nascent (baru lahir/terbentuk). Hal ini juga selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) pada 2017. Setelah dilakukan penelitian terhadap sembilan kota besar yang meliputi DKI Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Palembang, Bali dan Makassar ternyata hanya sebanyak 33% masyarakat yang sadar akan pentingnya melakukan keamanan siber.

Presentase Masyarakat Sadar Akan Pentingnya Keamanan Siber

Aware

33 %

Semoga, melalui tulisan ini, saya bisa ikut berkontribusi menjadi nasabah bijak yang dapat mengajak masyarakat untuk lebih sadar betapa pentingnya melakukan keamanan siber. Dengan begitu, kasus kejahatan siber bisa lebih diminimalkan. Berikut ini ada beberapa hal yang bisa diterapkan agar kita bisa melibas kejahatan siber.

Jaga Data Pribadi untuk Keamanan yang Mumpuni

Terkadang, kita tidak sadar sudah oversharing di media sosial hingga mengekspos data pribadi, seperti tanggal lahir, alamat, atau bahkan foto KTP dan NPWP. Hal ini sebenarnya sangat riskan jika data diri tersebar karena dapat meningkatkan risiko kejahatan siber. Padahal, poin utama agar terhindar dari kejahatan siber yakni menjaga data pribadi, seperti data identitas diri, kode OTP, pin, UserID, password, kode mToken, nomor kartu, kode CCV, dan masa berlaku kartu.

Kenali Akun Media Sosial dan Situs Web yang Resmi

Kebetulan, beberapa waktu lalu saya mengikuti akun Instagram Bank BRI. Selang sepersekian detik, tiba-tiba ada direct message yang masuk mengatasnamakan BRI. Akun tersebut mengirimkan tautan berupa nomor WhatsApp dan mengimbau agar saya menghubunginya jika membutuhkan informasi seputar Bank BRI. Namun, setelah diamati, ternyata akun tersebut merupakan akun palsu karena tidak verified (tidak ada ikon centang biru). Dalam beberapa kasus, banyak nasabah yang tertipu jika tidak teliti karena nama dan username-nya sangat mirip.

Akun palsu yang secara serentak melakukan DM ke nasabah

Sebaiknya, sebelum kita percaya begitu saja, kita bisa mengecek jumlah follower akunnya. Umumnya, akun palsu memiliki follower yang sedikit, bahkan hanya hitungan jari dan tidak verified. Selain akun palsu di Instagram, banyak juga akun palsu di Twitter yang bertebaran. Modusnya, akun palsu akan menanggapi keluhan atau pertanyaan nasabah yang mention akun Bank BRI. Selanjutnya, penipu akan berpura-pura memberikan kontak WhatsApp agar nasabah menghubunginya.

Identifikasi keaslian dan keamanan situs

Selain akun media sosial, kita juga harus mengenali situs web resmi dari layanan yang kita gunakan. Sangat penting bagi kita untuk mengetahui alamat situs yang benar, mulai dari ejaan hingga ekstensi domain yang digunakan. Jangan sampai kita terkecoh dengan nama domain dan tampilan web yang sangat mirip dengan situs resminya. Selain itu, pastikan situs yang dikunjungi telah terenkripsi dengan Secure Socket Layer (SSL) terpercaya. Dengan adanya SSL, transaksi data penting akan lebih aman karena tidak mudah dibaca dan dicuri.

Jangan Mudah Tergiur dengan Tawaran di Luar Nalar

Jika menerima lampiran surat elektronik dan URL yang terindikasi mencurigakan (menggunakan situs palsu dengan domain yang mirip atau pun tidak menggunakan domain TLD) sebaiknya abaikan saja. Kita perlu waspada terhadap email, chat WhatsApp, Direct Message akun media sosial, telepon atau tautan (link) dari website yang tidak dikenal. Biasanya, modus penipuannya adalah menawarkan produk free, harga lebih murah dari pasaran, urgency (memaksa untuk segera dilakukan), atau pengumuman pemenang hadiah/giveaway dari pihak yang tidak dikenal.

Penipuan berkedok giveaway

Saya jadi teringat dengan video yang beberapa pekan lalu pernah viral. Ada seorang ibu paruh baya yang katanya memenangkan giveaway. Nah, syaratnya adalah ibu tersebut harus mentransfer sejumlah uang dengan iming-imingi akan ditransfer kembali oleh si penipu sebesar dua kali lipat. Untungnya, aksi tersebut berhasil digagalkan oleh satpam BRI. Makanya, penting sekali untuk tidak tergiur dengan tawaran di luar nalar yang dilakukan oleh para penipu.

Periksa Data Bank secara Berkala

Pemantauan rekening secara realtime melalui SMS Banking

Saya memiliki kebiasaan setiap hari untuk mengecek saldo dan transaksi perbankan melalui aplikasi digital BRImo. Selain itu, saya juga mengaktifkan fitur notifikasi sms banking agar semua transaksi perbankan selalu terpantau dengan mudah. Hal ini akan membantu kita lebih cepat mengetahui apakah ada transaksi gelap atau transaksi yang mencurigakan. Dengan begitu, kita bisa langsung menghubungi bank untuk mengamankan dan memblokir rekening yang kita gunakan. Selain itu, kita juga bisa lebih cepat menyadari dan melaporkan kejahatan siber ini ke pihak berwenang.

Gunakan dan Ganti Password dengan Teliti

Jujur, dulu sebelum mengalami modus penipuan online, rasanya sangat malas mengganti password secara berkala. Saya beranggapan bahwa kejahatan siber tidak akan menghampiri saya, toh kasus kejahatan siber hanya terjadi di kota-kota besar. Namun, makin ke sini, saya makin menyadari bahwa anggapan saya tentu keliru karena saat ini kejahatan siber bisa menyerang siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.

Tips Aman Kode OTP dari Bank BRI

Nah, salah satu cara untuk meminimalkan kejahatan siber adalah menggunakan password yang tidak mudah ditebak oleh orang lain. Hindari menggunakan tanggal lahir atau tanggal pernikahan untuk membuat password. Usahakan kombinasikan password dengan karakter, huruf besar/kecil hingga angka. Saya juga rutin untuk memperbarui password dan menggunakan two-factor authentication (2FA) atau kode OTP untuk menjamin keamanan berlapis.

Hindari Menggunakan Wi-Fi Publik yang Tidak Terenkripsi untuk Keperluan Transaksi

Mengetahui kemanan Wi-Fi Publik

Sebisa mungkin, jangan menggunakan Wi-Fi publik yang tidak terenkripsi untuk melakukan transaksi mobile banking atau internet banking. Alasannya, karena jaringan yang tidak terlindungi (not encrypted) membuat data yang dikirim rentan dan mudah dibaca oleh peretas (man-in-the-middle). Jika kita terpaksa menggunakannya, pastikan kita menambahkan aplikasi enkripsi tambahan di perangkat atau browser.

Transformasi Kekinian BRI

untuk Mencegah Kejahatan Digital

0
kantor cabang
0
agen BRILink
0
e-channel

Sebagai bank yang telah eksis selama 126 tahun, kini BRI sedang bertransformasi ke arah digital. BRI menerapkan konsep hybrid bank, yakni bank yang menyediakan layanan konvensional dan digital secara bersamaan. Saat ini, BRI memiliki lebih dari 8.852 kantor cabang, 22.000 e-channel, 500.000 agen BRILink, dan 37.000 mantri yang tersebar di seluruh Indonesia. Untuk mendukung konsep hybrid bank, BRI menghadirkan transformasi kekinian untuk melindungi nasabahnya dari kejahatan siber yang marak terjadi. Salah satu transformasinya adalah sebagai berikut.

Penyuluh Digital menjadi Garda Terdepan dalam Edukasi

Penyuluh Digital merupakan gerakan bagi seluruh pekerja BRI supaya menjadi garda terdepan dari digitalisasi. Singkatnya, penyuluh digital ini bertugas untuk memberikan pendampingan kepada nasabah untuk memberikan edukasi seputar produk digital, risiko, dan keamanan produk digital. Selain itu, penyuluh digital BRI juga bertugas untuk mengedukasi masyarakat agar terbiasa dan familier dalam mengoperasikan aplikasi di gadget masing-masing.

Penyuluh Digital memberikan edukasi ke masyarakat (Sumber: bri.co.id)

Sebenarnya, ada tiga tugas utama penyuluh digital BRI, yakni pertama, memberikan informasi terhadap masyarakat yang belum paham dengan layanan perbankan digital sehingga lebih digital savvy, misalnya membuka rekening secara digital. Kedua, mengajak dan memberikan edukasi kepada masyarakat untuk melakukan transaksi secara digital. Nah, tugas ketiga adalah mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat untuk mengamankan rekeningnya dari kejahatan-kejahatan digital seperti kejahatan siber yang sudah saya ulas di atas.

Penyuluh digital ini sebagai salah satu bentuk dukungan BRI untuk menuju masyarakat yang lebih digital dan cashless dalam melakukan transaksi. Selain itu, adanya peran penyuluh digital BRI ini juga memberikan kesadaran terhadap masyarakat terkait dengan kejahatan siber.

Inovasi Artificial Intelligence (AI) untuk Memahami Pola Fraud & Threat yang Sering Terjadi

Direktur Digital & Teknologi Informasi BRI, Arga M. Nugraha mengungkapkan bahwa pihaknya telah menggunakan artificial intelligence (AI) untuk memahami pola fraud & threat yang terjadi. Dengan begitu, BRI dapat memberikan tindakan preventif dan respons yang cepat dan tepat.

Ilustrasi BRI Human-Centered AI (Sumber: bri.co.id)

Harapannya dengan inovasi ini, BRI dapat meminimalkan risiko-risiko kejahatan siber, seperti upaya pencurian data atau kebocoran data. Untuk perlindungan dan tata kelola data, BRI memiliki tata kelola yang mengacu kepada standar internasional. Selain itu, BRI juga melakukan serangkaian tahapan pengecekan keamanan dari setiap teknologi yang akan digunakan.

Melindungi Keamanan Nasabah dari Segi People, Process, dan Technology

Tidak hanya meluncurkan program penyuluh digital dan inovasi artificial intelligence (AI), BRI juga melakukan berbagai upaya untuk menjamin keamanan data nasabah dari segi people, process, dan technology untuk meminimalkan celah keamanan yang mungkin terjadi.

People

Untuk people, BRI telah membentuk organisasi khusus untuk menangani Information Security yang dikepalai oleh seorang Chief Information Security Officer (CISO) yang memiliki pengalaman dan keahlian di bidang Cyber Security.

Process

Kemudian dari sisi process, BRI memiliki tata kelola pengamanan informasi yang mengacu kepada NIST Cyber Security Framework, standar internasional, PCI DSS (Payment Card Industry Data Security Standard) dan kebijakan regulator POJK No.38/POJK.03/2016 tentang Penerapan Manajemen Risiko dalam Penggunaan Teknologi Informasi oleh Bank Umum.

Technology

Sementara itu, dari sisi technology, BRI melakukan pengembangan teknologi keamanan informasi sesuai dengan framework NIST (Identify, Protect, Detect, Recover, Respond) dengan tujuan untuk meminimalkan risiko kebocoran data nasabah dengan mencegah, mendeteksi dan memonitor serangan siber.

Menghadirkan Konten-konten yang Menarik dan Ciamik

Menurut saya, BRI memiliki terobosan baru yang menyasar berbagai elemen dengan menghadirkan konten-konten yang menarik dan tidak membosankan. Pasalnya, konten-konten edukasi di akun media sosial BRI (Instagram, Twitter, dan YouTube) sangat menghibur, tetapi value-nya tetap tersampaikan. Memang ya, saat ini masyarakat lebih menyukai konten-konten yang terasa lebih dekat dan hangat. Dengan begitu, nilai yang disampaikan mengenai edukasi dari BRI tersampaikan dengan rinci dan jelas.

Seperti konten video yang berjudul “Anti Tipu-Tipu Club: Pengennya Dinotis Kamu, bukan CS Palsu” yang mengandung unsur humor, tetapi penyampaian mengenai edukasinya tetap tersampaikan dengan baik. Selain judul konten video tersebut, banyak juga konten-konten yang disuguhkan BRI untuk masyarakat Indonesia agar lebih berhati-hati dengan kejahatan siber.

Yuk, Jadi Pahlawan

untuk Diri Sendiri dan Orang Lain

Selain harus selektif dalam memilih bank dengan keamanan yang maksimal, sebagai nasabah juga memiliki peran yang besar dalam menjaga kerahasiaan data pribadi dan data perbankannya. Menurut saya, pihak bank dan nasabah harus bekerja sama dalam memberantas kejahatan siber yang marak terjadi. Kita sebagai nasabah bisa menjadi pahlawan untuk diri sendiri dan orang lain dengan cara menjadi Nasabah Bijak bersama BRI. Berikut ini ada beberapa hal yang bisa kita lakukan jika menemukan akun palsu atau mengindikasi penipuan.

  • Report akun penipu
  • Jika sudah terjadi penipuan, blokir nomor rekening kita
  • Laporkan ke pihak berwenang
  • Hubungi contact BRI 14017/1500017 atau mengirim email ke [email protected]

Ajak Kerabat dan Saudara Terdekat untuk Melek Literasi Digital

Melindungi diri sendiri dan orang terdekat dari kejahatan siber merupakan salah satu peran kita menjadi penyuluh digital. Kebetulan, keluarga besar saya tinggal jauh dari pusat kota sehingga mereka sangat awam dengan modus-modus kejahatan siber yang kini marak terjadi. Terlebih, beberapa kerabat sudah berusia lanjut sehingga sangat rentan dengan modus tipu daya penipuan. Saya berusaha untuk selalu mengingatkan jika mendapatkan informasi yang berkaitan dengan data diri apalagi perbankan, usahakan jangan pernah dihiraukan.

Konfirmasi, diskusi, edukasi dalam lingkungan keluarga dan kerabat dekat

Saya juga mengimbau kepada keluarga dan saudara untuk selalu mengonfirmasi terlebih dahulu kepada saya, suami, atau adik saya bila menerima pesan yang mencurigakan. Untungnya, keluarga saya dapat memahami dengan baik setiap penjelasan yang kami berikan. Sejauh ini, entah sudah berapa puluh kali anggota keluarga dan kerabat saya terselamatkan dari penipuan online yang modusnya meminta data pribadi dengan mengirimkan tautan (link).

Yuk, pahami literasi digital dan selalu waspada dengan berbagai modus kejahatan siber. Sebaiknya, selalu berpikir rasional sebelum melakukan sesuatu. Jangan mudah tergiur dan tetap waspada karena kejahatan siber selalu mengintai kita kapan saja dan dimana saja. Semoga, melalui sekelumit tulisan ini dapat meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap tindak kejahatan siber yang kian memuncak.

Sumber:

  • https://berkas.dpr.go.id/puskajianggaran/analisis-apbn/public-file/analisis-apbn-public-65.pdf
  • https://www.idxchannel.com/banking/waspada-bri-bbri-sebut-ada-lima-kategori-ancaman-siber-di-industri-perbankan
  • https://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/buku-literasi-finansial/
  • https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/publikasi/Pages/Strategi-Nasional-Literasi-Keuangan-Indonesia-2021-2025.aspx
  • https://www.liputan6.com/bisnis/read/5063621/kenali-jenis-jenis-kejahatan-siber-di-era-keuangan-digital-jangan-sampai-jadi-korban
  • https://www.republika.co.id/berita/rdohkt1117000/bri-manfaatkan-ai-untuk-antisipasi-kejahatan-siber
  • https://www.cnbcindonesia.com/market/20220531105954-17-343151/bri-optimalkan-peran-penyuluh-digital-ini-tugasnya
  • https://www.merdeka.com/sumut/12-jenis-jenis-cyber-crime-atau-kejahatan-dunia-maya-yang-perlu-diwaspadai-kln.html
  • https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/lexprivatum/article/view/33358
  • https://www.cnbcindonesia.com/tech/20220618190027-37-348269/bri-terapkan-standar-internasional-jaga-keamanan-data
  • https://www.cnbcindonesia.com/tech/20220330070956-37-327084/wajib-tahu-ini-ciri-ciri-atm-yang-dipasang-alat-skimming
  • https://www.cnbcindonesia.com/tech/20220413100835-37-331247/terungkap-cara-kerja-skimming-sedot-data-kuras-isi-atm
  • https://www.telkomsel.com/about-us/blogs/waspada-risiko-menggunakan-wifi-publik
  • https://www.bri.co.id/web/guest/detail-news?urlTitle=hadapi-era-digitalisasi-bri-optimalkan-peran-penyuluh-digital
  • https://digital.bri.co.id/article/bri-cari-partner-researcher-artificial-intelligence-ms2v
  • Freepik
  • Lottiefiles

8 komentar

Allamandawi 27 September 2022 - 20:29

Iya nih sekarang banyak banget kejahatan siber, semoga kita semua lebih aware akan hal ini di tengah bnyak.y kebocoran data masyarakat

Balas
Sayyidah Inayah 27 September 2022 - 01:01

Wow mbak ella.. maaf saya salfok pada gambar dan animasinya. Gak bosen baca tulisan mbak ella yang pauanjangg… namun menggunakan bahasa ringan dan mudah saya pahami bahasa!

Balas
HappyDyah 26 September 2022 - 13:23

Jadi makin paham tentang skimming, eeh, ulasannya lengkap mba ella

Balas
Muyassaroh 25 September 2022 - 22:23

Lengkap banget, Mbaaak…Sukaa. Memang ngeri ya kalau sampai kena tipu, sedangkan zaman sekarang makin marak aja penipuan dengan segala macam cara. Bahkan orang yang bisa dibilang nggak gaptek pun masih kena juga. Memang penting ya supaya bisa saling mengingatkan yang lain terutama keluarga juga. Supaya bisa sama-sama hati-hati…

Balas
hindunnisa 23 September 2022 - 18:25

mantap, penjelasan yang lengkap. beberapa waktu lalu heboh memang tentang kejahatan cyber. Bagi yang kurang paham literasi keuangan tentunya lebih berpotensi tertipu. Artikel ini mengingatkan untuk lebih waspada lagi

Balas
Rini Rahmawati 21 September 2022 - 12:26

tulisan yang sangat keren kak…!

Kejahatan cyber itu memang bisa terjadi pada siapa saja, memang kita perlu sedikit tahu untuk mengantisipasinya karena hal ini pernah terjadi juga pada keluarga dan tetangga saya. Kita perlu waspada dan hati-hati dalam segala hal apapun itu termasuk kejahatan seperti ini yang kadang tidak kita sangka

Balas
Novri - diarynovri- 20 September 2022 - 13:06

mba Ella, super duper lengkap tulisannya .. sangat bermanfaat mba. Untuk urusan cyber crime seperti ini memang masih rendah awareness dari masyarakatn yah.. mudah banget jadi korban kejahatan digital perbankan. Setuju untuk saling mengingatkan, mulai darilingkup keluarga dan teman, umumnya ke lingkungan sekitar. Semoga kita semua dilindungi dari kejahatan cyber, dan para penjahat cyber itu segera dapat hidayah untuk mencari nafkah yang halal..

Balas
fajry 15 September 2022 - 01:07

Mantap mbak semakin hari tulisanya semakin menginspirasi entah itu dari konten maupun visualnya.

Balas

Beri Komentar

%d blogger menyukai ini: