Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim

untuk Hidup Berkelanjutan

Siang itu, gerbong kereta api yang kami tumpangi melesat meninggalkan stasiun demi stasiun. Sesekali derit gerbongnya mencicit nyaring karena beradu dengan lintasan besi. Sepanjang perjalanan menuju Stasiun Gambir, kami disuguhi berbagai pemandangan alam yang luar biasa. Bentangan sawah, gugusan gunung-gunung, hingga berbagai tanaman berjejer rapi menghiasi jendela kereta yang kami tumpangi. Begitu kereta api melewati Stasiun Jatinegara, samar-samar pemandangan tersebut berganti dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi.

Sambil menggenggam tangan suami, aku bergumam pelan, akhirnya kami bisa menginjakkan kaki lagi di Jakarta. Namun, belum selesai merapal mantra syukur, di lubuk hati sana terbesit ribuan rasa khawatir. Pasalnya, dari balik jendela kaca kereta api, langit Jakarta tampak berkabut. Bukan kabut yang biasa kami saksikan di desa tempat tinggal kami. Melainkan, kabut tebal yang menyerupai asap seolah berkerumun menyelimuti gedung-gedung pencakar langit.

Kabut asap akibat polusi di Jakarta
Kabut asap akibat polusi di Jakarta

Lamunanku pecah saat mendengar announcement dari petugas kereta api yang menginfokan jika kami sudah tiba di Stasiun Gambir. Kami bergegas keluar dari gerbong, berjalan menyusuri padatnya kerumunan para penumpang. Untungnya, tak lama taksi online yang kami pesan tiba di Stasiun Gambir. Sore itu udara Jakarta terasa cukup panas, padahal rintik gerimis mulai turun. Aku yang terbiasa hidup di pedesaan merasa kurang nyaman dengan kondisi udara di Jakarta. Kabut tipis yang biasa aku rasakan setiap pagi, udara sejuk yang kuhirup setiap detik, hingga kokok-an ayam dan cicit-an burung seolah menjadi hal mewah yang tidak aku rasakan selama di Jakarta.

Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Kelestarian Keanekaragaman Hayati yang Harus Diwaspadai

Selama ini aku mengira jika kabut seperti yang aku jumpai di Jakarta hanya perkiraan kualitas udara di tahun mendatang. Namun, kemarin aku menyaksikan sendiri, kabut tebal yang menyelimuti langit Jakarta adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dielakkan. Barang kali, hal ini adalah secuil perubahan iklim yang jarang disadari.

Memang, perubahan iklim adalah suatu keniscayaan. Namun, kita sebagai penghuni bumi ini bisa mengupayakan agar perubahan iklim setidaknya bisa diperlambat. Aku tidak bisa membayangkan jika manusia tidak peduli dengan masalah perubahan iklim ini, apa yang akan terjadi dengan kelestarian keanekaragaman hayati di bumi ini? Padahal, keanekaragaman hayati memiliki peran penting dalam mengatur iklim. Selain itu, keanekaragaman hayati juga memberikan kontribusi sebagai kunci untuk mitigasi.

Lantas, muncul pertanyaan “Bagaimana perubahan iklim dan kelestarian keanekaragaman hayati saling berpengaruh?” Tentu saja kedua hal ini sangat erat kaitannya. Karena bila kita mampu memperlambat perubahan iklim, maka kita dapat menjaga kelestarian keanekaragaman hayati yang menjadi kunci dalam mengatur iklim, mitigasi, dan adaptasi untuk masa depan yang lebih baik.

Saat ini, potensi kerusakan bumi akibat aktivitas manusia dan industri yang tidak berkelanjutan makin marak terjadi. Keegoisan dan keserakahan manusia seolah menjadi faktor utama yang menyebabkan perubahan iklim dan rusaknya keanekaragaman hayati. Penggunaan bahan bakar fosil merupakan salah satu penyebab utama yang memicu terjadinya perubahan iklim.

Selain itu, eksploitasi alam, seperti perluasan pertanian, pembakaran hutan, penangkapan ikan berlebihan, hingga polusi menjadi faktor hilangnya keanekaragaman hayati yang berkontribusi pada perubahan iklim. Padahal sejatinya, perubahan iklim juga dapat mempengaruhi dinamika ekosistem, distribusi, dan kelimpahan spesies serta habitat.

Kebakaran Hutan

Kenaikan Air Laut

Polusi Udara

Kerusakan Vegetasi

Dampak perubahan iklim

Menurut laman web Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim menyebutkan temuan IPCC telah membuktikan bahwa perubahan iklim berdampak nyata pada ekosistem dan manusia di dunia. Perubahan iklim yang terjadi dapat menimbulkan risiko besar bagi kesehatan manusia, keamanan pangan global, dan pembangunan ekonomi.

Tak hanya itu, pengaruh perubahan iklim bagi spesies dan ekosistem juga tampak jelas di depan mata. Saat ini, banyak spesies-spesies makhluk hidup yang makin menyebar ke arah kutub, terjadinya bencana kebakaran hutan, banjir, hingga pemutihan karang. Oleh karena itu, adaptasi untuk menghadapi risiko perubahan iklim merupakan hal yang sangat krusial untuk kehidupan mendatang.

Ancaman Nyata Perubahan Iklim

Bagi Kehidupan

Pernahkah teman-teman mencoba bertanya kepada diri sendiri, kondisi bumi di masa depan ini akan seperti apa, sih? Apakah akan terus memberikan kenyamanan untuk dihuni? Atau malah makin rusak karena perubahan iklim yang terus terjadi? Ah ya, barangkali agar bumi ini tetap lestari kita bisa bertindak untuk mengurangi emisi. Selain itu, kita juga bisa mulai beradaptasi dengan mempersiapkan menghadapi beberapa risiko perubahan iklim. Lalu, apa saja sih ancaman yang bisa terjadi bila adaptasi perubahan iklim tidak dihiraukan?

Meningkatnya Temperatur dan Suhu Bumi

Apakah teman-teman sadar dengan peningkatan temperatur suhu bumi saat ini? Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, secara umum akan terjadi kenaikan temperatur rata-rata di wilayah Indonesia sebesar 0,5-3,92 ̊C pada tahun 2100 dari kondisi baseline tahun 1981-2010. Sementara itu, suhu udara minimum akan mengalami peningkatan sebesar 0,04-0,07 ̊C.

Selaras dengan Kajian Risiko dan Adaptasi Perubahan Iklim di Kota Tarakan, Sumatera Selatan, dan Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu) yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup pada tahun 2012 menunjukkan data-data sebagai berikut:

+ 0 °C
Kota Tarakan

Untuk Kota Tarakan, tren kenaikan suhu sebesar 0,63°C sepanjang 25 tahun terakhir

+ 0 °C
Prov. Sumatera

Provinsi Sumatera Selatan mengalami tren kenaikan suhu sebesar 0,31°C di sekitar Palembang dan 0,67°C secara rata-rata seluruh provinsi.

+ 0 °C
Malang Sekitarnya

Sementara itu, wilayah Malang Raya tren kenaikan sebesar 0,69°C.

Badan Meteorologi Britania Raya (Met Office) juga memprediksi bahwa ada peluang sekitar 50% pemanasan global meningkat di atas 1,5°C dalam lima tahun ke depan. Jika hal ini terjadi, maka akan berdampak pada gletser di seluruh dunia hilang secara keseluruhan atau kehilangan sebagian besar massanya.

Aku jadi teringat dengan film dokumenter yang berjudul “Our Great National Parks”. Rasa takjub kian membuncah saat melihat ribuan penyu di kawasan Great Barrier Reef yang merupakan sistem terumbu karang terbesar di Australia. Di kawasan Great Barrier Reef ini terdapat satu pulau kecil yang berdampak besar bagi kehidupan penyu di dunia.

Video footage ribuan penyu menuju Pulau Raine untuk bertelur

Sayangnya, perubahan iklim seperti meningkatnya temperatur dan suhu bumi ini menjadi penentu jenis kelamin bayi penyu. Pasalnya, jenis kelamin penyu ditentukan oleh suhu di dalam sarang, jika sarang pasirnya memanas berarti 99% bayi penyu memiliki jenis kelamin betina. Bayangkan saja, jika temperatur dan suhu bumi terus naik, hal ini tidak menutup kemungkinan bayi penyu jantan perlahan akan punah. Keberlangsungan hidup penyu pun jadi terancam.

Terjadinya Iklim Ekstrem yang Memicu Berbagai Bencana Alam

Dampak dari perubahan iklim di Indonesia yang tidak kalah menakutkan yakni meningkatnya kejadian iklim ekstrem. Saat ini, musim kemarau dan penghujan makin tak menentu. Timeline media sosial pun dipenuhi dengan informasi banjir dan tanah longsor di berbagai daerah Indonesia. Bahkan, beberapa pekan lalu aku juga menyaksikan video fenomena hujan es yang terjadi di Kendal dan Kudus, Jawa Tengah.

Menurut laman web Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim mengenai Dampak Perubahan Iklim, bahwa frekuensi kejadian El Nino dan La Nina normalnya terjadi 5-7 tahun. Namun, karena perubahan iklim, kejadian ini terjadi lebih sering, yakni sekitar 3-5 tahun.

Contoh berbagai bencana alam akibat iklim ekstrem

Teman-teman tahu, kan? Jika fenomena La Nina ini dapat menimbulkan dampak berupa banjir karena curah hujan yang tinggi. Sebaliknya, fenomena El Nino dapat menimbulkan kekeringan ekstrem karena rendahnya curah hujan. Hal ini bisa menimbulkan dampak lanjutan seperti kejadian kebakaran hutan dan lahan hingga merusak sistem keseimbangan alam.

Naiknya Permukaan Air Laut

Saat planet memanas dan air laut naik, tempat bertelur berbagai spesies di bibir laut bisa terbenam dan menenggelamkan telur-telur tersebut. Padahal, sebagian besar pantai di dunia memiliki jarak hanya beberapa sentimeter di atas laut. Fakta mengejutkan dari penelitian Simple Ocean Data Assimilation (SODA) menyebutkan bahwa terjadi kenaikan permukaan air laut mencapai 0,8 mm/tahun antara tahun 1960-2008.

+ 0 mm
per tahun
+ 0 cm
tahun 2100

Lantas, berapa banyak kenaikan muka laut di masa mendatang? Belum lagi jika ada pengaruh lain seperti faktor pencarian es, kenaikan muka air laut di Indonesia dapat mencapai 175 cm pada tahun 2100. Kalau bukan kita yang memulai adaptasi untuk mitigasi perubahan iklim, mau siapa lagi?

Punahnya Berbagai Keanekaragaman Hayati

Rasanya dada ini sesak saat melihat deretan fakta dan data berbagai spesies di bumi perlahan mulai hilang. Lagi-lagi, karena ketidakpedulian manusia dengan ancaman nyata dari perubahan iklim ini. Keanekaragaman hayati merupakan aset yang tidak ternilai yang dimiliki Indonesia. Menurut Rosichon Ubaidillah, Profesor Riset Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), beberapa penelitian menunjukkan krisis iklim berdampak pada meningkatnya fenomena pergeseran biogeografis, ketidakcocokan tanaman berbunga dan penyerbuknya, dan mungkin meningkat hingga tingkat kepunahan.

Dampak dari perubahan iklim ini bukan hanya mempengaruhi satu dua spesies saja, melainkan dapat merusak sistem alam yang saling berkesinambungan. Misalnya, sekitar 80-90% tanaman berbunga bergantung pada penyerbukan alami yang dilakukan oleh serangga untuk beregenerasi dan memproduksi buah atau makanan. Nah, buah atau makanan ini sebagai bahan makanan untuk hewan lain. Sesimpel proses penyerbukan serangga saja bisa menjadi salah satu rantai keberlangsungan beragam makhluk hidup, bukan? Barangkali aku tidak berlebihan jika menyebutkan bahwa ekosistem dan kita adalah keterhubungan alam.

Ilustrasi punahnya keanekaragaman hayati
Ilustrasi punahnya keanekaragaman hayati

Sayangnya, makin tahun kerusakan hutan, kebakaran, dan alih fungsi hutan menjadi salah satu faktor penyebab populasi sejumlah satwa langka di Kalimantan Selatan. Satwa-satwa yang terancam punah, seperti beruang madu, owa-owa, kijang emas, dan Bekantan. Dalam dekade terakhir saja, ada dua spesies mamalia yang punah, yakni kelelawar yang dikenal dengan nama Pipistrelle Pulau Natal dan tikus Melodi Bramble Cay.

Langkah Kecil

Adaptasi Perubahan Iklim

Adaptasi perubahan iklim merupakan proses penyesuaian dan respons terhadap dampak perubahan iklim dari kondisi iklim aktual atau iklim di masa depan

- Intergovernmental Panel on Climate Change -

Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk meminimalkan dampak perubahan iklim adalah dengan menerapkan adaptasi perubahan iklim dalam kehidupan sehari-hari. Menurut IPCC, 2014 adaptasi perubahan iklim merupakan proses penyesuaian dan respons terhadap dampak perubahan iklim dari kondisi iklim aktual atau iklim di masa depan.

Jika dari sisi manusia, adaptasi ini bertujuan untuk menghindari bahaya. Sementara itu, dari sistem alam adaptasi yang berbentuk intervensi dari manusia untuk dapat memfasilitasi penyesuaian terhadap kondisi iklim. Memang, adaptasi perubahan iklim ini sangat kompleks karena dibutuhkan kerja sama berbagai sektor untuk mewujudkan kehidupan mendatang yang lebih baik.

Kita sebagai masyarakat biasa bisa turut andil dalam menyebarkan ajakan adaptasi perubahan lingkungan, salah satu caranya adalah dengan melakukan penghijauan. Kita bisa memulainya dengan hal-hal kecil seperti tanaman hias atau pun turut andil dalam melakukan kegiatan reboisasi. Saat ini banyak organisasi/komunitas yang menjadi wadah dalam kegiatan reboisasi.

Oya, aku jadi teringat beberapa bulan lalu, saat hujan turun sangat deras, air hujan masuk ke dalam rumahku. Seumur hidup ini, aku baru pernah merasakan kondisi rumah kebanjiran. Coba saja jika aku dan suami sudah mulai menerapkan adaptasi perubahan iklim dengan membuat drainase untuk pengelolaan air atau membuat resapan biopori, tentu rumah kami tidak akan terkena banjir. Nah, belajar dari kejadian ini, kami pun langsung membuat sistem drainase agar air tidak masuk ke dalam rumah lagi saat hujan turun.

Air hujan yang masuk karena sistem drainase yang buruk

Selain peran masyarakat umum, adaptasi perubahan iklim juga harus diterapkan di berbagai sistem, mulai dari sistem pertanian, kesehatan, ekonomi, produksi pangan, dan lainnya. Jika teman-teman penasaran dengan adaptasi perubahan iklim yang bisa dilakukan di sistem-sistem tersebut, simak uraian berikut ini, ya!

Adaptasi Perubahan Iklim di Sistem Pertanian

Dampak nyata dari perubahan iklim adalah menurunnya produksi panen di sektor pertanian. Hal ini bisa disiasati oleh para petani dan berbagai lembaga terkait untuk meningkatkan pengetahuan dan informasi tentang perubahan iklim melalui berbagai cara. Selain itu, menjadi petani di era sekarang juga harus mampu menyesuaikan jenis dan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap perubahan lingkungan agar terhindar dari risiko gagal panen. Hal yang tidak kalah penting dalam adaptasi perubahan iklim di sistem pertanian adalah menerapkan teknologi hemat air terutama pada lahan yang rentan terhadap kekeringan.

Adaptasi Perubahan Iklim di Sistem Kesehatan

Akhir-akhir ini, di komplek tempat tinggalku banyak anak-anak dan lansia yang mengalami demam. Mungkin, salah satu penyebabnya adalah peralihan musim yang saat ini sedang terjadi. Selain lebih mempersiapkan kondisi tubuh di masa sekarang, perlu adanya dukungan dari pemerintah dalam menerapkan adaptasi perubahan iklim. Salah satunya adalah pemetaan kerawanan terhadap penyakit akibat perubahan iklim, seperti malaria, demam berdarah, dan antraks, serta integrasi antara perencanaan mengenai mitigasi wabah.

Adaptasi Perubahan Iklim di Sistem Produksi Pangan

Food waste merupakan penyumbang perubahan iklim yang cukup besar dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bisa kita siasati dengan langkah kecil, seperti melakukan food preparation dan mengolah bahan makanan ugly food. Dengan begitu, harapannya, ketersediaan bahan pangan kita akan tetap ada. Namun, hal ini juga membutuhkan kerja sama seluruh komponen produksi, baik pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Misalnya, petani bisa mengubah masa tanam dan masa panen mengikuti perubahan iklim, melakukan tumpang sari, dan pengenalan tanaman lokal sebagai bahan pangan baru.

Pentingnya Menjaga Keanekaragaman Hayati dimulai dari

Diri Sendiri

Kita adalah generasi pertama yang merasakan dampak perubahan iklim sekaligus generasi terakhir yang dapat bertindak

- Our Great National Parks -

Dampak perubahan iklim di atas hanya secuil contoh, karena pada dasarnya perubahan iklim dapat mempengaruhi sistem alam yang sangat kompleks. Barangkali dengan sekelumit contoh dampak di atas dapat mengetuk dan melembutkan hati kita untuk lebih peduli dengan masa depan. Terlebih, Indonesia sangat rentan terhadap perubahan iklim karena memiliki pulau lebih dari 17.000.

Penduduk Indonesia tinggal di wilayah pesisir
65%

Selain itu, sebagian besar ibu kota provinsi dan hampir 65% penduduk Indonesia tinggal di wilayah pesisir. Lantas, apa saja adaptasi perubahan iklim dan peran kita untuk menjaga keanekaragaman hayati yang dapat mendukung pengurangan efek negatif perubahan iklim? Yuk, simak langkah-langkah kecil berikut ini!

Gunakan Perangkat Elektronik yang Hemat Energi

Salah satu cara yang bisa kita lakukan dalam adaptasi perubahan iklim adalah menggunakan peralatan elektronik yang hemat energi. Misalnya, mulai menggunakan perangkat elektronik smart home seperti lampu dan sakelar yang bisa mati secara otomatis jika sudah tidak digunakan. Jadi, kita hanya perlu mengatur jadwal lampu kapan akan menyala dan kapan akan mati.

Efisiensi energi menggunakan perangkat cerdas
Efisiensi energi menggunakan perangkat cerdas

Selain itu, hal kecil seperti mencabut stop kontak yang sudah tidak digunakan juga bisa menjadi kontribusi untuk memperlambat perubahan iklim, lho. Kita juga bisa memulainya dengan memilih perangkat elektronik yang membutuhkan daya listrik rendah untuk menghemat penggunaan listrik. Aku dan suamiku pun selalu melakukan diskusi mengenai berapa besar daya listrik yang diperlukan jika kami akan membeli barang elektronik. Kalau kita bisa memilih untuk menghemat listrik, kenapa tidak?

Bijak Menggunakan Sumber Daya Alam

Memang sudah kita ketahui bahwa bumi ini memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah ruah. Namun, hal tersebut bukan menjadi alasan untuk tidak menghematnya. Toh masih ada generasi mendatang yang membutuhkannya. Untungnya, didikan orang tuaku untuk selalu mematikan kran air yang sudah tidak digunakan, menampung air hujan dengan ember besar, menjemur pakaian tanpa bantuan pengering mesin cuci, dan lainnya terus terngiang hingga kini.

Beli air saat musim kemarau tiba
Beli air saat musim kemarau tiba

Saat musim kemarau tiba, di kampung kami selalu kekurangan air bersih. Maka tidak heran, jika orang tuaku selalu meneriaki anak-anaknya yang menggunakan air seenaknya, meskipun saat musim penghujan tiba. Selain itu, kita juga bisa memanfaatkan limbah air yang tidak terkontaminasi dengan zat kimia untuk menyiram berbagai tanaman.

Kelola Sampah Semaksimal Mungkin

Menurut laporan earthday.org, Indonesia masuk urutan kedua penyumbang plastik di dunia sebanyak 3,22 juta ton metrik pertahun, lho. Sementara itu, menurut KLHK dan Kementerian Perindustrian pada tahun 2016, jumlah timbunan sampah di Indonesia sudah mencapai 65,2 juta ton pertahun. Barangkali, beberapa upaya di bawah ini bisa meminimalkan timbunan sampah yang kita hasilkan setiap hari.

Sort

Compose

Reuse

Reduce

Pertama, kita bisa mulai memilah sampah organik dan anorganik. Kedua, kita bisa memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk tanaman dan sampah anorganik menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Ketiga, kita bisa menggunakan kembali barang-barang yang masih bisa dimanfaatkan, misalnya penggunaan kantong plastik, sedotan, botol, kaleng, dll. Keempat, kita juga bisa belajar konsisten membawa tas belanja sendiri untuk meminimalkan penumpukan plastik dan kantong belanja.

Menyulap kardus bekas menjadi box pakaian
Menyulap kardus bekas menjadi box pakaian

Beruntungnya, suamiku sangat mendukung kegiatanku yang gemar membuat sesuatu dengan memanfaatkan sampah. Seperti kemarin, saat aku memiliki sampah berupa kardus tebal, aku bersama suamiku berinisiatif menyulap sampah kardus menjadi box untuk penyimpanan baju-baju. Rasanya ada kepuasan sendiri jika berhasil menyulap barang bekas menjadi sesuatu yang bermanfaat. Lumayan, hitung-hitung bisa menghemat ratusan ribu untuk membeli box penyimpanan.

Menggunakan kantong atau kotak makanan untuk meminimalkan sampah
Menggunakan kantong atau kotak makanan untuk meminimalkan sampah

Selain itu, kami juga terbiasa membawa kantong belanja atau kotak makanan saat belanja di pasar tradisional atau pun supermarket. Selain bisa menghemat tidak membeli kantong belanja, hal ini juga menjadi salah satu kontribusi kecil dalam adaptasi perubahan iklim.

Terapkan Sustainable Living

Siapa nih yang suka belanja setiap menginjakkan kaki di mall atau setiap harbolnas? Tidak ada yang melarang ketika teman-teman ingin membeli sesuatu kok, hanya saja biasakan untuk mempertimbangkannya dengan matang. Gaya hidup berkelanjutan bisa dimulai dengan memilih dan menggunakan produk yang ramah lingkungan.

Contoh lain dalam menerapkan sustainable living seperti saat kita makan di salah satu restoran all you can eat, usahakan untuk mengambil makanan secukupnya. Jangan malah menjadikan kesempatan untuk membuang-buang makanan karena hal ini menjadi pemicu food waste.

Terlebih, secara global sampah makanan menimbulkan 4,4 Giga ton CO2 atau sekitar 8% dari total emisi gas rumah kaca (GRK) antropogenik. Tumpukan sampah makanan ini juga menjadi sumber gas metana. Padahal, gas metana lebih berbahaya 23 kali dari karbon dioksida. Gas metana ini juga ikut berkontribusi dalam global warming.

Ajak Orang-orang Terdekat Untuk Peduli Lingkungan

Adaptasi perubahan iklim ini akan lebih maksimal jika dilakukan bersama-sama. Meskipun kita hanya melakukan hal-hal kecil, tetapi jika dilakukan bersama-sama tentu akan membuahkan hasil. Kita bisa mulai mengajak orang-orang terdekat untuk ikut andil dalam mitigasi perubahan iklim ini.

Mengajak orang-orang terdekat untuk peduli lingkungan

Mulai dari mengajak orang tua kita, pasangan, anak, saudara, tetangga, hingga rekan kerja. Dengan begitu, kita bisa menularkan energi positif untuk lebih peduli dengan alam terutama terkait dengan perubahan iklim ini. Aku tidak akan bisa memperlambat laju iklim sendirian. Jadi, aku membutuhkan kamu, dia, mereka, dan kita semua untuk sama-sama melakukan adaptasi perubahan iklim meskipun dengan cara melakukan hal-hal sederhana yang konsisten.

Berkontribusi dalam Kegiatan Pelestarian Lingkungan

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna jika dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Maka, sudah sepantasnya manusia turut mendukung kegiatan pelestarian lingkungan dengan berbagai cara. Kita bisa mengikuti berbagai aktivitas, seperti menanam pohon, turut menyebarkan informasi seputar adaptasi perubahan iklim, hingga bergabung menjadi volunteer. Selain itu, saat ini banyak komunitas/organisasi yang menjadi wadah dalam mengumpulkan donasi baik berupa uang maupun berupa kegiatan di bidang pelestarian hutan dan perlindungan hewan.

Masa iya, kita sebagai manusia kalah dengan Monito (monyet kecil gunung) yang berada di jantungnya Afrika, Taman Nasional Volcan Rwanda? Pasalnya, Monito ini selama hidupnya membantu menyebarkan setidaknya 20 spesies tanaman berkat sisa makanan berupa biji-bijian yang dijatuhkan ke tempat baru. Jadi, bisa dikatakan, pelestarian sebagian pepohonan besar di Rwanda sangat bergantung pada Monito si monyet kecil.

Dukung Pelestarian Keanekaragaman Hayati Bersama

MSIG Indonesia

Setidaknya, kita bisa memulai dari diri sendiri untuk ikut berkontribusi dalam pengembangan ekosistem agar keanekaragaman hayati tetap terjaga. Adaptasi perubahan iklim menjadi salah satu cara tepat dalam mitigasi berbagai dampak yang akan terjadi sekarang dan di masa depan. Sungguh, aku takjub dengan salah satu perusahaan asuransi umum, yakni MSIG Indonesia yang memiliki misi menciptakan masyarakat dinamis dan berkelanjutan. Selain itu, MSIG juga mendukung berbagai upaya konservasi di seluruh ASIA.

Peta kontribusi MSIG dalam upaya konservasi di Asia
Peta kontribusi MSIG dalam upaya konservasi di Asia

PT. MSIG Insurance Indonesia merupakan bagian dari MS&AD Insurance Group sebagai perusahaan Asuransi Umum (Asuransi Umum adalah Asuransi yang memberikan ganti rugi kepada Tertanggung atas kerusakan atau kerugian harta benda) yang telah beroperasi selama 40 tahun. Nah, berikut ini CSR dalam Program MSIG Biodiversity yang turut berkontribusi dalam menjaga keanekaragaman hayati di Indonesia.

Melakukan Restorasi Hutan dan Konservasi Laut

MSIG bermitra dengan Conservation International Asia-Pacific (CIAP) demi melindungi keanekaragaman hayati dengan cara mendukung konservasi hutan dan laut. Sejak tahun 2008, Conservation International bersama otoritas pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan berbagai mitra mendukung pemerintah Indonesia dalam upaya restorasi di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Dukungan ini terwujud melalui proyek ‘Green Wall’ yang berfokus pada pemulihan dan pemeliharaan 300 hektar hutan yang rusak.

Restorasi hutan MSIG dan Conservation International Asia-Pacific (CIAP)

Selain itu, kemitraan ini juga berkontribusi terhadap perlindungan Bird’s Head Seascape (BHS) yang dikenal sebagai episenter global. BHS merupakan rumah bagi lebih dari 1.800 spesies ikan, 3/4 dari karang batu di dunia, dan habitat berbagai spesies baru. Tak sampai di situ, kemitraan ini pun menyediakan edukasi konservasi, peningkatan penghidupan, dan memberikan bantuan untuk mengembangkan pariwisata laut yang berkelanjutan.

Memberdayakan Generasi Mendatang melalui Pengetahuan Keanekaragaman Hayati

Melalui program Biodiversity Fun Class, MSIG mengajak siswa sekolah dasar terpilih di Jakarta, Bogor, dan Tangerang untuk mempelajari berbagai hal mengenai keberlanjutan dan konservasi alam. Materi yang disampaikan berupa bagaimana melindungi Keanekaragaman Hayati dan pentingnya mengurangi limbah dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, anak-anak juga mendapatkan informasi seputar dampak deforestasi di Indonesia melalui studi kasus Suaka Margasatwa Paliyan.

Menurutku, kelas-kelas seperti ini sangat diperlukan untuk edukasi generasi mendatang. Dengan menyajikan kelas yang menyenangkan, tentunya dapat mendorong partisipasi dan meningkatkan pemahaman siswa. Nah, sejauh ini, pencapaian MSIG dalam program Biodiversity Fun Class adalah sebagai berikut:

0
Sukarelawan

staf MSIG dilatih dalam pendidikan lingkungan

0
Siswa

dididik tentang perlindungan keanekaragaman hayati

0
Sansevierias

atau Lidah Mertua ditanam di berbagai sekolah di Jakarta, Bogor, dan Tangerang

Memulihkan Hutan untuk Menghidupi Masyarakat dan Menghadapi Perubahan Iklim

Sejak tahun 2005, MSIG bekerja sama dengan Departemen Kehutanan di Indonesia, Mitsui Sumitomo Insurance, Jepang. Kerja sama ini bertujuan untuk memulihkan dan merehabilitasi hutan di Suaka Margasatwa Paliyan. Kerennya hingga saat ini, sekitar 300.000 pohon asli, pohon buah, dan pohon bermanfaat lainnya telah ditanam. Selain itu, MSIG juga memberikan pelatihan metode pertanian dan pemanenan yang berkelanjutan kepada masyarakat sekitar Suaka Margasatwa Paliyan.

MSIG juga berkolaborasi dengan Universitas Gajah Mada untuk menerapkan pendidikan lingkungan. Masyarakat sekitar dibekali dengan pelatihan metode penanaman dan pemeliharaan. MSIG terus mendistribusikan bibit pohon dan benih-benih untuk mendukung terwujudnya pertanian dan agrikultur yang berkelanjutan pada masyarakat setempat. Dengan begitu, Suaka Margasatwa Paliyan lebih terlindungi dan masyarakat sekitar dapat memperoleh pendapatan.

Menyuguhkan Konten-konten Berkualitas Seputar Edukasi Pelestarian Lingkungan

Seiring berjalannya waktu, kerusakan lingkungan yang diakibatkan ulah manusia terus terjadi. Sebenarnya banyak cara yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi dalam mengingatkan sesama. Salah satu contohnya adalah MSIG yang selalu menyuguhkan konten-konten berkualitas seputar edukasi pelestarian lingkungan seperti video dan infografis yang di unggah di akun media sosial MSIG.

Kita pun bisa meniru kampanye Biodiversity MSIG Indonesia dalam membuat konten-konten pelestarian lingkungan. Dengan begitu, harapannya akan makin banyak masyarakat dari berbagai kalangan yang lebih aware dengan adaptasi perubahan iklim. Kita tidak bisa bergerak sendiri dalam melindungi keanekaragaman hayati. Maka, kita membutuhkan gerakan sesama yang bersifat fundamental untuk mengembangkan ekosistem. Karena ekosistem ini merupakan penyedia sumber daya vital, seperti makanan, air, dan obat-obatan.

Yuk, lakukan gerakan adaptasi lingkungan untuk keberlangsungan hidup kita di masa sekarang dan mendatang. Mulai dengan melakukan hal-hal kecil, konsisten, dan selalu melembutkan hati untuk peduli dengan lingkungan. Semoga, generasi mendatang masih bisa merasakan udara sejuk, jernihnya sungai-sungai, bahan makanan dan obat-obatan yang melimpah, dan menikmati kekayaan alam Indonesia yang luar biasa. Tentunya dengan tetap saling menjaga. Karena bila kita menjaga keanekaragaman hayati, hidup kita juga akan terjamin.

Sumber:

  • https://dlhk.jogjaprov.go.id/keanekaragaman-hayati-mengapa-harus-lestari

  • http://ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/index.php/aksi/mitigasi/implementasi/10-tentang/19-dampak-perubahan-iklim#:~:text=Perubahan%20iklim%20juga%20menyebabkan%20pergeseran,kutub%20dan%20ekosistem%20terumbu%20karang.

  • https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20220512161740-199-796032/suhu-bumi-berpotensi-tembus-batas-15-derajat-celsius-5-tahun-lagi

  • http://lipi.go.id/berita/krisis-iklim-ancam-kepunahan-keanekaragaman-hayati-sampai-titik-terkecil/21932

  • https://nationalgeographic.grid.id/read/132180069/manusia-ancaman-kepunahan-massal-keanekaragaman-hayati-di-bumi?page=all

  • https://www.kompasiana.com/bobby18864/606cd562d541df3a5e54fab8/7-kiat-cerdas-gaya-hidup-minim-sampah-makanan-mulai-dari-rumah?page=all

  • https://www.kemenpppa.go.id/lib/uploads/list/53eff-buku-pedoman-teknis-perubahan-iklim-teknis-full-lampiran-email.pdf

  • http://owncloud.jatengprov.go.id/index.php/s/bmgWHFvPReNUqqf

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Adaptasi_perubahan_iklim

  • https://www.msig.co.id/about-us#OurBrandStory

  • https://www.msig.co.id/id/biodiversity

  • https://www.msig.co.id/id/biodiversity#our-partnership

  • https://www.msig.co.id/id/biodiversity#ecosystems

  • Serial dokumenter yang berjudul “Our Great National Parks”

  • KLHK dan Kementerian Perindustrian tahun 2016, jumlah timbunan sampah di Indonesia

  • freepik
  • lottiefiles
5 1 vote
Rating Artikel
guest
20 Komentar
Feedback Sebaris
Lihat semua komentar
Aji Ervanto
16 November 2022 11:28

“Kita adalah generasi pertama yang merasakan dampak perubahan iklim sekaligus generasi terakhir yang dapat bertindak”

Quote of the day

Firman Hali
Firman Hali
Balas ke  Aji Ervanto
16 November 2022 15:37

Nice

Nanik Kristiyaningsih
31 Oktober 2022 08:21

Luarr biasa, pantes Mbak Ella sering menang lomba, paparannya sungguh luar biasa mau skip baca eman banget, jadi lanjut deh terus baca sampai habis, hehe.
Btw bener banget mbak, langkah detail menuju perbaikan konsisi bumi, pasti dan konsisten terhadap perubahan iklim ini tentu sangat berpengaruh terhadap perlambatan perubahan iklim itu sendiri.
Dimulai dari diri sendiri dan lingkungan di sekitar kita, semoga bumi ini masih tetap terjaga dan terus lestari hingga waktu yang lebih lamaaa lagi.
Aamiin.

Antung Apriana
Antung Apriana
24 Oktober 2022 15:21

berasa banget ya memang sekarang perubahan iklim ini. kayak suhu bumi yang makin panas dan terjadinya cuaca ekstrem di berbagai wilayah. semestinya kita memang bisa melakukan usaha sekecil mungkin dalam menyelamatkan bumi ini

asihmufisya
asihmufisya
23 Oktober 2022 22:13

Pemaparan yang lengkap dan setuju banget Mbak. Siapa yang akan peduli dan perhatian dengan bumi ini kalau bukan kita. Mulai dengan melakukan hal-hal kecil, konsisten, merupakan bentuk kepedulian yang bisa kita lakukan untuk lingkungan.

Diah Alsa
23 Oktober 2022 13:23

Mbak Ella kalau nulis emang selalu lengkaaap dan runut.
Kalau bukan kita dan bukan sekarang kita memulai untuk mencegah perubahan iklim, siapa dan kapan lagi ya? Toh semua juga nantinya kembali ke kita dan generasi selanjutnya. Gak mau kalah dong dengan si Monyet kecil itu. Semoga semakin banyak yang aware dengan perubahan iklim ini dan konsisten untuk menjaga lingkungan.

Haeriah Syamsuddin
23 Oktober 2022 06:24

Keren banget ulasan dan penyajian materinya. Bikin kita yang tadinya cuek dengan alam sekitar, bisa kembali untuk peduli. Ya, bagaimanapun kita sebagai makhluk yang hidup di bumi ini sudah seharusnya turut mengambil bagian dalam upaya2 pelestariannya.

Hastinpratiwi.com
21 Oktober 2022 22:41

Ternyata adaptasi iklim bukan hanya perlu bagi kita sebagai penghuni bumi, ya. Lingkungan alam pun juga sama, memerlukan kemampuan beradaptasi dengan kondisi yg ada. Tentunya, dengan dukungan kita, penghuninya.

HappyDyah
19 Oktober 2022 15:14

Keren materinya. Aku banyak belajar dari tulisan mba Ella. Dan amazing dengan tampilan artikelnya yang ciamik banget. Juara pokoknya

Aji Ervanto
17 Oktober 2022 16:14

Air, udara, tanah, dan keanekaragaman hayati. Itu lah yang membuat kita tetap hidup. Maka dari itu, kita hidup untuk menjaga dan melestarikannya.

Dhika Suhada
17 Oktober 2022 15:03

Masya Allah mba Ella… saya speechles baca paparan mba Ella di artikel ini. Luar biasa keren dan membuka wawasan bangettt. Bahkan gara2 tulisan ini bikin aku semangat untuk bisa lebih baik lagi beradptasi dengan lingkungan. Superb mbaaa .