"Merawat Bumi Melalui Gaya Ramah Lingkungan"

oleh Ella Fitria | 31 Agustus 2023

Select the language:

[wpml_language_selector_widget]

Setelah selesai makan siang, seperti biasa aku memanfaatkan sisa waktu istirahat untuk melihat berbagai informasi yang sedang tren di platform media sosial. Pelan-pelan, aku mengusap layar handphone sambil mencari video atau konten yang menarik dan inspiratif.

Sampai akhirnya, mata dan jemariku kompak berhenti di salah satu influencer yang sedang melakukan mix and match hanya dengan beberapa pakaian yang ia miliki. Jujur, sejauh ini aku belum pernah menjumpai atau menemukan orang yang benar-benar menerapkan konsep capsule wardrobe ini.

Capsule wardrobe merupakan gaya hidup minimalis dengan pilihan pakaian yang dibatasi. Melihat video influencer tersebut seolah menyadarkanku terutama dalam hal sustainable fashion. Nah, dalam artikel ini, aku akan berbagai sekelumit cerita bagaimana dampak dunia fashion terhadap bumi ini.

Aku juga akan sharing tips-tips yang bisa kita lakukan agar tetap fashionable tanpa merusak bumi. Aku yakin, jika tips-tips di bawah ini kita lakukan bersama-sama secara konsisten, maka akan memberikan dampak positif yang nyata. Sebelum itu, mari kita tengok dan renungkan kerusakan dan dampak negatif yang diakibatkan oleh fashion.

Kerusakan bumi merupakan masalah serius yang sedang kita hadapi, bukan? Misalnya, polusi udara, limbah yang mencemari tanah, hingga limbah yang mencemari perairan yang berdampak pada kestabilan ekosistem makhluk hidup di bumi. Parahnya, dampak tersebut akan berpengaruh besar pada perubahan iklim.

Sebenarnya, ada banyak faktor yang memicu timbulnya kerusakan lingkungan, apalagi jika penyebarannya cukup kompleks dan terjadi secara masif. Salah satu hal yang sering kita lupakan adalah kerusakan bumi yang diakibatkan oleh industri fashion termasuk perilaku masyarakat dalam menyikapi tren fashion.

Memang, keelokan dan pesona dunia fashion bisa menginspirasi dan membawa kebahagiaan bagi banyak orang. Namun, pesona fashion juga berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan jika kita tidak bijak memanfaatkannya. Penasaran apa saja kerusakan bumi yang bisa terjadi akibat industri fashion? Yuk, simak artikel ini hingga selesai!

Eksploitasi Energi dan Sumber Daya Alam

Teman-teman, tahukah jika sebagian besar industri fashion atau tekstil sangat bergantung pada Sumber Daya Alam (SDA) tidak terbarukan? Bahkan, jumlahnya fantastis hingga 98 juta ton per tahun. Sumber daya alam tersebut meliputi minyak untuk memproduksi serat sintetis, pupuk anorganik, dan bahan kimia lain yang digunakan untuk proses mewarnai dan finishing.

Sumber daya alam tidak terbarukan yang dipakai dalam industri tekstil
Sumber daya alam tidak terbarukan yang dipakai dalam industri tekstil

Selain sumber daya alam tidak terbarukan, produksi tekstil juga menggunakan sekitar 93 miliar meter kubik air per tahun. Banyaknya penggunaan sumber daya yang besar juga akan berdampak pada masalah baru, yakni kelangkaan air. Aku sempat terkejut saat menemukan data dari World Wildlife Fund (WWF), pasalnya untuk membuat satu baju katun saja membutuhkan air sekitar 2.700 liter. Jumlah air tersebut setara dengan air yang diminum untuk satu orang dalam 2,5 tahun, lho. Sangat disayangkan, bukan?

0 M m³
air/tahun
0 L
/baju katun

Penggunaan sumber daya alam yang berlebihan tentu saja akan merusak keseimbangan ekosistem. Jika ekosistem rusak, hal ini akan berpengaruh pada kualitas udara, ketersediaan air, hingga terjadinya pemanasan global.

Pencemaran Air oleh Limbah Kimia

Industri tekstil juga berkontribusi besar dalam pencemaran air oleh limbah kimia yang digunakan saat proses produksi. Pasalnya, ada banyak industri tekstil yang membuang air dengan kandungan bahan kimia berbahaya ke lingkungan. Menurut data dari Ellen McArthur Foundation, 20% polusi air yang disebabkan oleh industri berasal dari limbah pewarnaan dan zat kimia tekstil. Zat kimia ini dapat membahayakan lingkungan sekitar, pertanian, bahkan para pekerja pabrik sendiri.

Terlebih, dalam beberapa tahun terakhir, industri tekstil diyakini menjadi salah satu penyumbang pencemaran plastik di laut. Kira-kira apa hubungannya industri tekstil dengan pencemaran plastik di laut? Padahal, industri tekstil tidak berfokus pada produksi plastik, kan? Nah, ternyata sebagian produk tekstil ini berbahan dasar plastik, lho. Ada material, seperti poliester, nilon, atau akrilik yang menjadi penyebabnya.

Siklus serat mikroplastik mulai dari pencucian pakaian hingga masuk ke tubuh manusia
Siklus serat mikroplastik mulai dari pencucian pakaian hingga masuk ke tubuh manusia
0 Jt ton
mikroplastik

Selama proses produksi, beberapa serat mikroplastik atau microplastic fiber terlepas dan berakhir di laut. Diperkirakan sekitar setengah juta ton serat mikroplastik menyumbang polusi air setiap tahun. Jika hal ini terus berlanjut, diperkirakan total ada 22 juta ton serat mikroplastik yang masuk ke laut dari tahun 2015 hingga 2050.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi laut jika hal tersebut terjadi. Pasalnya, limbah mikroplastik ini dapat mengancam habitat dan biota laut. Lebih parahnya lagi, serat mikroplastik juga dapat masuk ke tubuh manusia melalui makanan laut yang dikonsumsi. Mengerikan, bukan?

Pencemaran Udara oleh Emisi Gas

Selain pencemaran air, sektor fashion juga berpengaruh pada pencemaran udara, lho. Pada tahun 2015, emisi gas rumah kaca dari industri tekstil mencapai 1,2 miliar ton. Polusi udara tersebut terbilang besar, mengingat jumlahnya bahkan lebih besar dibandingkan gabungan gas emisi dari semua penerbangan internasional dan pelayaran laut.

Siklus hidup pakaian saat ini memberikan dampak negatif pada lingkungan berupa gas emisi
Siklus hidup pakaian saat ini memberikan dampak negatif pada lingkungan berupa gas emisi

Selain itu, menurut World Resource Institute, produksi poliester menghasilkan gas rumah kaca sebesar 706 miliar kg. Emisi gas tersebut setara dengan pengoperasian 185 pembangkit listrik tenaga batu bara setiap tahunnya.

0 M ton
CO₂ pada 2015
0 M kg
CO₂ pada poliester

Pencemaran udara oleh emisi gas rumah kaca (CO₂) ini tentu dapat memicu pemanasan global. Jika hal ini tetap berlanjut akan berdampak pada perubahan iklim ekstrem yang lebih intens. Misalnya, terjadinya bencana gelombang panas, kekeringan, hingga badai yang lebih kuat dan sering terjadi.

Hal ini yang membuat aku sangat tertarik untuk terus belajar bijak dalam berpakaian. Karena, pakaian yang kita gunakan bisa menyebabkan dampak yang lebih “mahal” dibandingkan uang yang kita keluarkan saat membelinya.

Pencemaran Tanah oleh Limbah Padat

Kerusakan bumi yang dipicu oleh industri fashion tidak hanya itu, pengelolaan limbah fashion yang buruk juga dapat mencemari tanah. Menurut data dari Ellen McArthur Foundation, 87% bahan pakaian berakhir di tempat pembuangan atau pembakaran setelah selesai digunakan. Pengelolaan sampah dan sistem daur ulang yang buruk menjadikan limbah tekstil ini tidak dapat dimanfaatkan dengan baik.

Limbah tekstil yang berakhir di tempat pembuangan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada lingkungan. Hal ini karena limbah tekstil berbahan serat plastik tidak akan terurai hingga beberapa puluh tahun. Lebih parahnya, produk berbahan poliester bahkan dapat terurai hingga 200 tahun. Padahal 60% produksi pakaian saat ini terbuat dari bahan plastik sintetis seperti nilon, poliester, dan akrilik.

0 %
bahan pakaian berakhir di tempat pembuangan atau pembakaran
0 %
produksi pakaian saat ini terbuat dari bahan plastik
0 Th
waktu yang dibutuhkan poliester untuk terurai

Teman-teman, mari coba renungkan bersama-sama, kira-kira satu baju yang saat ini kita pakai membutuhkan berapa banyak sumber daya alam? Minyak, air, dan sumber daya alam lainnya sudah sepatutnya tidak kita eksploitasi hanya untuk kesenangan semata. Belum lagi dampak lingkungan yang dipicu oleh berbagai limbah industri fashion.

Karena itu, sekarang sudah saatnya aku, kamu, kita semua aware dengan apa yang kita pilih. Istilah trennya adalah conscious consumption atau konsumsi secara sadar. Dengan begitu, saat kita membeli sesuatu bukan hanya memperhatikan nilai ekonomis dan fungsinya saja. Namun, kita juga harus mempertimbangkan dampak yang mungkin ditimbulkan.

Selain menerapkan konsep conscious consumption, kita juga perlu mengenal sustainable fashion untuk meminimalkan dampak dari industri fashion terhadap kestabilan ekosistem. Aku yakin, sebagian besar teman-teman sudah tidak asing dengan istilah sustainable fashion atau fashion berkelanjutan, kan?

Jadi, sustainable fashion merupakan gerakan yang menuntut supaya industri tekstil lebih mengutamakan lingkungan dan sosial dengan mengurangi dampak negatif. Tujuannya, untuk menciptakan pakaian yang ramah lingkungan termasuk untuk mengurangi polusi dan penggunaan sumber daya alam yang berlebihan.

Kriteria Sustainable Fashion yang Perlu Diperhatikan

Saat kita memutuskan untuk menerapkan konsep sustainable fashion, ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan. Artinya, ada standar yang menentukan pakaian atau industri tekstil tersebut benar-benar berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan dan sosial.

Hal ini meliputi penggunaan bahan berkelanjutan, proses produksi ramah lingkungan, hingga dampak positif jangka panjang. Berikut ini ada tiga kriteria utama sustainable fashion yang bisa menjadi salah satu upaya dalam mengatasi dampak negatif industri tekstil dan fashion.

Bahan Mentah yang Ramah Lingkungan

Bahan mentah merujuk pada penggunaan bahan-bahan yang memiliki dampak lingkungan lebih rendah selama bahan tersebut digunakan. Misalnya, penggunaan serat organik yang tidak mengandung plastik dan mudah terurai dengan alami di tanah, bahan daur ulang, atau bahan yang diperoleh dari sumber-sumber berkelanjutan.

Proses Produksi dengan Sumber Daya Alam yang Tidak Berlebihan

Proses produksi meliputi bahan mentah yang diolah hingga menjadi kain. Umumnya, proses produksi memerlukan sumber daya alam, seperti air, energi, dan bahan baku. Pemanfaatan energi biomassa terbarukan bisa menjadi salah satu solusi sehingga proses produksi lebih ramah lingkungan. Tujuannya, untuk mengurangi konsumsi sumber daya alam yang berlebihan dan menghindari dampak negatif terhadap ekosistem.

Dampak Lingkungan untuk Hidup Berkelanjutan

Kriteria utama lainnya dalam menerapkan sustainable fashion adalah memperhatikan dampak lingkungan dengan mengadopsi praktik yang mendukung keberlanjutan jangka panjang. Jadi, bukan sekadar meningkatkan keuntungan secara materi, tetapi ada kontribusi untuk masyarakat dan generasi mendatang. Misalnya dengan mengelola dan memanfaatkan limbah secara baik.

Mengenal Manfaat Positif dari Sustainable Fashion

Jika diterapkan dengan baik, sustainable fashion atau mode berkelanjutan ini memiliki beberapa manfaat yang berdampak positif, baik bagi lingkungan maupun masyarakat. Semoga beberapa manfaat di bawah ini bisa melembutkan hati kita sekaligus membakar semangat untuk menerapkan sustainable fashion di kehidupan sehari-hari.

Mengurangi Dampak Pada Lingkungan

Penerapan sustainable fashion memungkinkan pelaku industri tekstil mengadopsi proses produksi yang ramah lingkungan. Adopsi tersebut meliputi penggunaan bahan alami, produksi yang lebih efisien, dan manajemen limbah yang baik. Dengan begitu, proses tersebut dapat membantu mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

Meningkatkan Inspirasi & Inovasi Desain

Selain mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, sustainable fashion juga memiliki dampak positif, yaitu menumbuhkan inovasi dalam desain dan produksi pakaian. Desainer dapat menerapkan ide dan inovasi baru menggunakan bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, sustainable fashion juga dapat menumbuhkan inspirasi dan tren baru di masyarakat. Contohnya, seperti yang telah aku sebutkan di awal artikel yaitu capsule wardrobe.

Peningkatan Kualitas Produk

Manfaat yang tidak kalah penting dari sustainable fashion adalah peningkatan kualitas produk. Sustainable fashion mendorong penggunaan bahan baku yang lebih berkualitas dan tahan lama. Dengan begitu, produk tidak mudah rusak dan memiliki waktu pakai lebih lama.

Membuka Kesadaran Sosial

Yang terakhir, gerakan sustainable fashion ini dapat membuka kesadaran sosial akan pentingnya menjaga lingkungan. Harapannya, masyarakat terdorong untuk memakai dan memilih produk yang dibuat secara sustainable serta bertanggung jawab. Selain itu, sustainable fashion juga membuka kesempatan bagi komunitas lokal untuk tumbuh dan berkembang.

Jujur, aku memang belum sepenuhnya bijak dalam memanfaatkan pakaian. Namun, aku belajar dari berbagai dampak industri fashion yang bisa saja merusak bumi. Menurutku, hal ini bisa disiasati dengan kolaborasi industri tekstil dan kesadaran masyarakat untuk menerapkan sustainable fashion. Berikut ini ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk tampil bergaya tanpa merusak lingkungan dan kestabilan ekosistem.

Miliki Pakaian Secukupnya Pakai Lebih Lama

Bertambahnya usia membuatku makin sadar mana kebutuhan mana keinginan termasuk perihal pakaian. Aku prefer membeli pakaian yang bisa bertahan lama alias lebih mengutamakan kualitas. Selain itu, saat waktunya membeli pakaian, aku benar-benar mempertimbangkan berbagai aspek, misalnya pakaian yang terbuat dari bahan alami hingga model pakaian yang benar-benar aku butuhkan dan aku sukai.

Mulai belajar menerapkan capsule wardrobe
Mulai belajar menerapkan capsule wardrobe

Hal ini bisa menjadi salah satu solusi untuk meminimalkan pakaian yang berujung dibuang atau tidak terpakai. Aku pun membatasi diri, suami, dan anakku untuk membeli pakaian sesuai kebutuhan. Dengan memanfaatkan pakaian lebih lama, maka kita bisa mengurangi siklus cepatnya mode sekaligus mengurangi konsumsi berlebihan.

Mix and Match Pakaian Supaya Tetap Fashionable

Mix and Match Pakaian Supaya Tetap Fashionable​

Aku senang sekali saat melihat berbagai konten yang menyuguhkan gaya mix and match pakaian. Pasalnya, aku sedang belajar untuk tampil stylish dan tampak trendi tanpa membeli atau menambah koleksi pakaian. Harapannya, jika memadukan berbagai pakaian yang dimiliki akan mendapatkan look yang berbeda dan fresh. Dengan begitu, aku tidak perlu membeli pakaian baru untuk tampil modis.

Fix and Reuse Pakaian yang Rusak Ringan

Siapa di sini yang suka DIY pakaian rusak ringan? Sejak aku duduk di bangku sekolah menengah atas, aku memiliki ketertarikan untuk mencoba berbagai DIY pakaian yang rusak ringan. Misalnya nih, rok panjangku yang berlubang di bagian bawah karena terkena knalpot motor, aku guntung selutut sehingga bisa dipadu padankan dengan legging. Alhasil, bisa tampil stylish tanpa buang-buang uang dengan modifikasi rok yang berlubang.

Daur Ulang dan Berkreasi dengan Limbah Pakaian

Tas mini yang aku buat menggunakan limbah celana jeans
Tas mini yang aku buat menggunakan limbah celana jeans

Sebenarnya, jika kita mau berkreasi ada banyak pakaian yang tidak terpakai bisa diubah menjadi barang-barang bermanfaat. Aku pun pernah membuat tas mini dari celana jeans yang bagian lututnya berlubang karena kecelakaan. Jadi, aku ambil bagian atas celana jeans yang masih utuh, lalu aku jahit manual menggunakan tangan. Untuk talinya, aku manfaatkan celana jeans bagian lutut, lalu dibagi menjadi tiga bagian memanjang dan dikepang, deh. Sederhana tetapi tampak unik, bukan? Hal ini bisa menjadi salah satu cara daur ulang dan mengurangi pembuangan pakaian.

Donasikan Pakaian yang Tidak Terpakai

Mendonasikan beberapa pakaian bayi yang sudah tidak terpakai
Mendonasikan beberapa pakaian bayi yang sudah tidak terpakai

Tips selanjutnya yang bisa dilakukan untuk meminimalkan penumpukan pakaian adalah mendonasikan pakaian yang tidak terpakai. Namun, sebaiknya manfaatkan pakaian sampai pakaian tersebut benar-benar tidak bisa dipakai lagi, ya. Nah, jika teman-teman memiliki bayi seperti aku, aku memilih mendonasikan pakaian-pakaian bayi yang masih bagus dan layak pakai untuk saudara atau orang yang membutuhkan. Beberapa pakaian bayi anakku juga ada yang turun temurun dari keponakan. Selain dapat membantu orang lain, aku juga bisa mengurangi limbah dan membuat lemari lebih rapi. 

Pilih Pakaian yang Dibuat dengan ECO Friendly

Setelah aku tahu betapa banyak sumber daya alam yang digunakan untuk membuat satu pakaian, aku mulai tersadar. Kalau pun aku membutuhkan pakaian baru, aku akan memilih pakaian yang diproduksi menggunakan bahan dan proses produksi yang ramah lingkungan. Misalnya, kain berbasis serat alami seperti viscose rayon yang diproses dari pohon dengan pengelolaan secara berkelanjutan oleh Asia Pacific Rayon (APR) dan Sateri. Kedua perusahaan tersebut dikelola oleh Royal Golden Eagle (RGE) yang menerapkan sistem produksi secara berkelanjutan.

Royal Golden Eagle (RGE) mengelola perusahaan-perusahaan bertaraf internasional yang bergerak di bidang manufaktur berbasis sumber daya alam dengan produk-produk yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Misalnya, pulp dan kertas, kelapa sawit, selulosa khusus, serat viscose, hingga pengembangan sumber daya energi.

Menariknya, RGE mengambil tanggung jawab keberlanjutan dan sosial melalui berbagai inisiatif untuk memastikan pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab dan memberikan dampak positif terhadap komunitas lokal.

Tercatat, RGE mempekerjakan lebih dari 60.000 tenaga dan memiliki operasi di berbagai negara Asia, seperti Indonesia, Tiongkok, Brasil, Spanyol, dan Kanada. Tak hanya itu, RGE juga masih terus melebarkan sayapnya untuk melibatkan pasar dan komunitas baru.

Filosofi Bisnis 5C Royal Golden Eagle (RGE)

RGE memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup melalui pengembangan sumber daya secara berkelanjutan. Oleh karena itu, RGE berpegang pada filosofi bisnis 5C yang diterapkan dalam setiap operasional perusahaan. Harapannya, dengan filosofi ini RGE dapat meningkatkan kualitas di segala aspek kehidupan.

Good for Community Country Climate Customer Company

Good for Community

Filosofi yang pertama yaitu baik bagi masyarakat dan kepedulian sosial. Melalui berbagai program pemberdayaan, RGE menjalin kerjasama dengan komunitas lokal untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. RGE telah mengadakan berbagai program pelatihan dan pendidikan untuk membantu Usaha Kecil dan Menengah (UKM), petani, serta pengrajin. Tercatat setidaknya lebih dari 200 UKM di 40 desa telah diberdayakan melalui pelatihan, workshop, dan lapangan kerja.

 

Selain itu, melalui anak usahanya APRIL, RGE merintis sistem pertanian terpadu yang memberikan pelatihan kepada petani. Pelatihan ini berfokus pada pertanian berkelanjutan dan program pengembangan UKM.

Good for Country

RGE bermitra dengan pemerintah dalam upaya pemerataan pembangunan dan peningkatan kualitas hidup. Melalui Asian Agri, RGE mendukung program transmigrasi pemerintah dengan relokasi, pembekalan infrastruktur, dan pelatihan. Program ini telah menaikkan tingkat keterampilan, produktivitas, dan kualitas hidup di kalangan transmigran.

 

Sejak tahun 1987, setidaknya RGE telah memberikan manfaat untuk 30.000 keluarga. Sejak saat itu, RGE terus berkomitmen dalam pemberdayaan agar mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Keren banget, ya?

Good for Climate

Menurutku, filosofi berikutnya patut diacungi jempol, nih. Pasalnya, perusahaan yang operasionalnya sangat dekat dengan lingkungan berisiko untuk melakukan eksploitasi alam dan mencemari lingkungan, bukan? Namun, berbeda dengan RGE karena memiliki komitmen untuk selalu aktif dalam berbagai kegiatan konservasi, restorasi, dan pengelolaan sumber daya alam.

 

Hal ini dibuktikan dengan konservasi lebih dari 250 ribu hektare sebagai implementasi Kebijakan Pengelolaan Hutan Berkelanjutan (Sustainable Forest Management Policy/ SFMP). Selain itu, RGE juga berkomitmen melakukan daur ulang seperti paper upcycling dan menerapkan teknologi pengolahan air supaya kandungan limbah menjadi berkurang.

Good for Customer

RGE berdedikasi memproduksi dan mendistribusikan beragam produk berkualitas. Proses produksi dilakukan dengan pengembangan berkelanjutan atau sustainable. Dengan begitu produk yang dihasilkan mempunyai kualitas yang baik serta tetap mengedepankan penggunaan energi dan sumber daya yang efisien.

Good for Company

Terakhir, implementasi beberapa filosofi di atas tentunya akan menghasilkan timbal balik positif bagi perusahaan. Penerapan sustainable fashion dapat menambah nilai sebuah produk dan branding awareness ke arah positif. Konsumen yang makin sadar akan lingkungan dan sosial, cenderung memilih brand yang berkomitmen secara berkelanjutan dan bertanggung jawab. 

Nah, setelah kita tahu dampak negatif dari industri tekstil terhadap lingkungan, sekarang saatnya kita tengok bagaimana perusahaan dari RGE Group menciptakan inovasi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Di bawah ini ada beberapa inovasi RGE di bidang industri tekstil dari Sateri dan APR. Sebenarnya, banyak inovasi dan terobosan lain dari RGE dalam sustainability, tetapi aku akan membahas inovasi yang berkaitan dengan dunia fashion seperti FINEX dan Follow our Fibre.

FINEX: Inovasi Daur Ulang Next-Generation bersama Sateri

Sateri adalah salah satu produsen terbesar dalam bidang viscose rayon. Teman-teman tahukah jika viscose rayon ini merupakan serat alami yang terbuat dari pohon yang ditanam di perkebunan yang dikelola secara berkelanjutan? Nah, serat alami ini dapat terurai sendiri (biodegradable) karena ramah lingkungan. Oleh karena itu, viscose rayon menjadi pilihan populer untuk pakaian, bahan rumah tangga, dan berbagai produk kebersihan.

Siklus daur ulang FINEX
Siklus daur ulang FINEX

Salah satu inovasi Sateri yang terbuat dari serat alami adalah FINEX. FINEX (kependekan dari “Fibre Next”) merupakan serat alami generasi terbaru yang mengandung bahan daur ulang. Dalam pembuatannya, FINEX menggunakan serat alami yang berasal dari campuran limbah tekstil dan bahan daur ulang.

Dengan menggunakan produk yang terbuat dari FINEX, setidaknya kita bisa ikut berkontribusi dalam sustainability. Oh iya, jangan khawatir, meski berasal dari bahan daur ulang, produk yang terbuat dari FINEX juga nyaman dipakai. Karena bahannya lembut, ramah di kulit, dan tidak membuat gerah. Selain itu, warna yang dihasilkan juga tampak cerah. Karena itu, kita masih bisa melindungi bumi dengan tetap bergaya, kan?

Follow our Fibre: Transparansi Sumber Daya bersama APR

Sebagai konsumen yang peduli lingkungan, kita harus tahu dari mana produk kita berasal, bukan? Apakah berasal dari sumber yang terbarukan? Apakah dikelola secara bertanggung jawab? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sering membuat kita penasaran.

Menariknya, Asia Pacific Rayon (APR) meluncurkan inovasi Follow our Fibre. Follow our Fibre merupakan aplikasi berbasis blockchain untuk melacak sumber bahan serat dari seluruh rantai pasokan. Selain itu, kita sebagai pelanggan bisa melacak perjalanan produk dari tahap produksi hingga ke sumber penanaman bahan serat untuk mengetahui asalnya.

Tampilan App Follow our Fibre

Melalui teknologi blockchain, data produksi mulai dari lokasi penanaman, tanggal, pengiriman terekam secara realtime. Data ini dapat diakses secara publik dan tidak dapat diubah oleh siapapun sehingga menjamin kevalidan data dan transparansi. Pelanggan atau stakeholder hanya perlu memindai barcode menggunakan aplikasi untuk melihat semua data produksi. Dengan begitu, terjawab sudah semua pertanyaan dan kekhawatiran kita tentang asal muasal produk yang kita pakai.

Ingat, bergaya tidak perlu merusak buana, tetapi kita dapat bersua untuk saling memberi makna.

RGE berperan sebagai penyuplai bahan tekstil ramah lingkungan yang menjadi pionir berbagai perusahaan yang berfokus pada sustainability dan masa depan yang lebih baik. Sementara itu, tugas kita adalah menjadi konsumen yang bijak dan bertanggung jawab. Secara tidak langsung, dengan memilih produk-produk ramah lingkungan, kita juga mendukung merek-merek industri fashion yang peduli terhadap lingkungan dan sosial.

Semoga melalui artikel ini bisa melembutkan hati dan kesadaran kita untuk mengambil peran dalam mendorong perubahan positif khususnya dalam dunia fashion dan sustainable living. Kita bisa memulainya dengan cara sederhana seperti yang sudah aku tulis di atas. Jika bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga bumi untuk masa depan yang lebih baik? Ingat, bergaya tidak perlu merusak buana, tetapi kita dapat bersua untuk saling memberi makna.

Sumber referensi:

  • Ellen MacArthur Foundation, A new textiles economy: Redesigning fashion’s future, (2017, http://www.ellenmacarthurfoundation.org/publications)

  • https://www.wri.org/insights/numbers-economic-social-and-environmental-impacts-fast-fashion

  • https://www.wri.org/insights/apparel-industrys-environmental-impact-6-graphics

  • https://www.aprayon.com/en/media-english/articles/what-is-sustainable-fashion/

  • https://www.aprayon.com/en/media-english/articles/why-viscose-fabric-is-the-future-of-the-fashion-industry/

  • https://www.rgei.com/id/keberlanjutan/kepedulian-sosial

  • https://www.rgei.com/id/keberlanjutan/kepedulian-pada-negara

  • https://www.rgei.com/id/keberlanjutan/perlindungan-iklim

  • https://www.rgei.com/id/tentang-kami/perusahaan-kami

  • https://www.sateri.com/products/recycled-fibre-finex/
  • https://www.followourfibre.com/
  • https://www.rgei.com/attachments/article/1250/20190515%20-%20Follow%20Our%20Fibre%20Press%20Release.pdf

  • Foto dan dokumentasi milih pribadi
  • Foto dan dokumentasi dari RGE
  • Olah gambar oleh Ella Fitria dari sumber gratis freepik
  • Olah animasi oleh Ella Fitria dari sumber gratis lottiefiles
  • Olah ikon gratis font awesome
5 1 vote
Rating Artikel
Subscribe
Notifikasi
guest
28 Komentar
Feedback Sebaris
Lihat semua komentar
Nyi
Nyi
19 September 2023 14:34

makasih banyak tipsnya ya mba, aku juga allhamdulillah dapet lungsuran nggak begitu banyak beli, semoga kita jadi orang-orang yang menjadi penyelamat bumi

Alfimanzila
14 September 2023 06:41

Sakjane ya mbak ella saya sangat setuju istilah pakai dulu barang yang dipunya sampek rusak baru beli baru baru. 

Masalahnya lingkungan terdekat saya itu selalu menyudutkan saya soal pakain nggak pernah ganti. Katanya pakaian aku jelek, tiap bulan harus beli pakaian lah, kalo sudah gini gimana ya. Dikasih paham susah, karena berprinsip pakain seng bagus, mahal, harus gonta ganti

Linda
14 September 2023 00:23

Suka banget dengan tulisan ini, tidak banyak yang tahu lho, tepatnya sadar kalau fashion bisa berpengaruh ke kondisi alam, aku juga cendrung mix and match pakaian, dan fashionku dari awal pakai jilbab sampai sekarang gak berubah.

akarui cha
11 September 2023 21:29

Betah banget aku baca post-nya Kak. Aku pun turut menerapkan punya pakaian secukupnya saja dan sering mixand match agar bisa berganti-ganti gaya sesuai kebutuhan. Kalau mendonasikan pakaian, saat ini aku belum sih, karena memang sedari lama, aku menerapkan punya pakaian secukupnya. Tapi ketika pakaianku sudah nggak layak pakai, aku saat ini terbiasa mengirimkannya ke waste management yang khusus mengolah limbah textile.

Senang banget sekarang aku bisa sedikit berkenalan dengan Royal Golden Eagle.

Dian Restu Agustina
11 September 2023 10:31

Hm,, jadi terinspirasi untuk  nantinya memilih pakaian yang diproduksi menggunakan bahan dan proses produksi yang ramah lingkungan.seperti kain berbasis serat alami produksi Asia Pacific Rayon (APR) dan Sateri yang dikelola oleh Royal Golden Eagle (RGE) ini

Rahmah
Rahmah
11 September 2023 06:32

Saya jadi makin sering lihat lemari
Beli 1 keluar 2
Itu cara saya memperlakukan pakaian

vivi
10 September 2023 08:44

Saya rasa saya termasuk orang yang memakai pakaian dan menggunakannya untuk waktu yang lama.
Kalau masih bagus gak akan beli yang lain.
Beli kalau memang diperlukan saja.
Jika ada pakaian yang tidak memungkinkan untuk digunakan lagi, dan masih bagus, biasanya saya berikan ke yang mau atau yang membutuhkan sih.

Icha Marina Elliza
10 September 2023 02:15

Alhamdulillah saya gak beli baju lagi. Mencukupkan diri dengan beberapa baju dan jilbab yang dipadu padan saja. Memang ngeri banget mikroplastik bagi tubuh. Bisa menjadi penyebab penyakit berat seperti kanker.

Mugniar
9 September 2023 21:57

Saat ini, bahan ramah lingkungan untuk pakaian memang sudah menjadi urgensi ya, Ella. Salah satu hal yg bisa dilakukan juga adalah dengan membeli pakaian pre loved. Banyak juga kok pakaian pre loved bagus2.

Jihan
8 September 2023 05:21

Sempet anuu nih sama RGE, eh ternyata konsepnyaa ramah lingkungan yak ini.. aku baru tahu kalo mereka juga mengelola bahan bahan kain seperti ini. keren mba ellaa

Dian
6 September 2023 10:07

Pilihan fashion kita ternyata bisa menjadi andil dalam kelestarian bumi ya mbak
Sudah saatnya kita memilih sustainable fashion

Dian Restu Agustina
6 September 2023 09:52

Artikel yang super lengkap dan bikin jleb…Berasa dijewer rasanya. Padahal siapa saja bisa ya mengambil peran dalam mendorong perubahan positif khususnya dalam dunia fashion dan sustainable living ini dengan mix & match pakaian kita, donasi, pilih bahan eco friendly..dan lainnya

Oemy Ikbar
6 September 2023 09:10

Wah ternyata dampak kerusakan lingkungan dari fashion sangat luarbiasa. Mulai sekarang harus lebih aware serta bijak dalam memilih dan menggunakan produk fashion.

Anggita R. K. Wardani
6 September 2023 09:02

Bagus banget nih Royal Golden eagle dalam mengembangkan kain rayon viscose yang ternyata biodegradable ya. Dampaknya juga insyaAllah benar-benar berkelanjutan bagi lingkungan

Dailyrella
5 September 2023 21:32

Wah luar biasa ternyata ya dampak dari industri fashion ini terhadap lingkungan, nggak main-main damage-nya. Dan ketika kita beralih ke sustainable fashion, maka dampaknya juga cukup signifikan.

Aku cukup bangga sih sama diri sendiri, karena (kebetulan) nggak dalam posisi butuh banyak punya pakaian jadi selama bajunya muat dan nyaman dipakai, aku abuse sampai sudah nggak layak pakai lagi. Segitu aja aku masih harus sering decluttering baju2 dari lemari, bikin stress. hehe.

Shalikah
5 September 2023 11:50

Kadang memang kita kurang memperhatikan hal-hal semacam ini ya Kak. Untuk membuat baju saja ribuan liter air bersih harus dibuang percuma. Sebagai pribadi yang kadang masih tertarik dengan produk-produk industri fast fashion, jika baca artikel ini rasanya seperti tertampar. Kerusakan lingkungan yang sudah dibuat ternyata bukan main-main. Memang belajar menerapkan gaya hidup minimalis perlu dilakukan semua orang sejak dini.

lendyagassi
5 September 2023 11:40

Seringkali aku berpikir mengenai dunia fashion. Sebenernya kita gak perlu buru-buru berganti gaya ya.. karena biasanya fashion itu berulang. Dan lebih bijak kalau menghemat pengeluaran membeli pakaian dengan model yang long-lasting.

Aku jadi kenalan sama FINEX nih..Jadi ingin mencari tahu lebih banyak mengenai Asia Pacific Rayon (APR) yang bisa menjelaskan data produk yang kita pakai, agar lebih menghargai proses sebuah produksi.

Aji Ervanto
5 September 2023 08:29

Sudah saatnya kita menyelamatkan bumi dengan menerapkan sustainable living di segala aspek kehidupan termasuk fashion. Walaupun terdengar sederhana tapi dampaknya besar juga ya

Farida Pane
4 September 2023 04:19

Kalau soal pakaian, aku udah lumayan minimalis sih. Lebih memilih bahan yang tahan lama agar ga harus sering beli.

"Caring for the Earth Through Eco-Friendly Style"

by Ella Fitria | 31 Agustus 2023

Select the language:

[wpml_language_selector_widget]

After lunch, as usual I took advantage of the rest of the break to view various trending information on social media platforms. Slowly, I swap my smartphone screen while looking for interesting and inspiring videos or content.

Until finally, my eyes and fingers together stopped at one of the influencers who was mixing and matching her dress with just a few clothes that he owned. Honestly, so far I have never encountered or found anyone who really applies this capsule wardrobe concept.

Capsule wardrobe is a minimalist lifestyle with limited clothing choices. Seeing the influencer’s video made me realize, especially in terms of sustainable fashion. So, in this article, I will share a few stories about the negatif impacts of the world of fashion on the earth.

I will also share tips that we can do to stay fashionable without destroying the earth. I’m sure, if we do the tips below together consistently, it will have a real positive impact. Before that, let’s take a look and think about the damage and negative impacts caused by fashion.

The damage of the earth is a serious problem that we are facing, right? For example, air pollution, waste that pollutes the soil, and waste that pollutes waters which have an impact on the stability of the ecosystem of living things on earth. The worse, this impact will have a big influence on climate change.

In fact, there are many factors that trigger environmental damage, especially if the spread is quite complex and occurs on a massive scale. One of the things we often forget is the damage to the earth caused by the fashion industry, including people’s behavior in responding to fashion trends.

Indeed, the beauty and charm of the fashion world can inspire and bring happiness to many people. However, the charm of fashion also contributes to environmental damage if we do not use it wisely. Are you curious about the damage to the earth that can occur as a result of the fashion industry? Let’s read this article to the end!

Exploitation of Energy and Natural Resources

My friends, did you know that most of the fashion or textile industry is very dependent on non-renewable natural resources? In fact, the amount is fantastic, up to 98 million tons per year. These natural resources include oil to produce synthetic fibers, inorganic fertilizers, and other chemicals used for coloring and finishing processes.

Sumber daya alam tidak terbarukan yang dipakai dalam industri tekstil
Sumber daya alam tidak terbarukan yang dipakai dalam industri tekstil

Apart from non-renewable natural resources, textile production also uses around 93 billion cubic meters of water per year. The large use of large resources will also have an impact on a new problem, that is water scarcity. I was surprised when I found data from the World Wildlife Fund (WWF), just because to make one cotton shirt requires around 2,700 liters of water. This amount of water is equivalent to the water one person drinks in 2.5 years. It’s a shame, isn’t it?

0 B m³
water/year
0 L
/cotton cloth

Excessive use of natural resources will damage the balance of the ecosystem. If the ecosystem is damaged, this will affect air quality, water availability, and even global warming.

Water Pollution by Chemical Waste

The textile industry also contributes greatly to water pollution by chemical waste used during the production process. The reason is, there are many textile industries that discharge water containing dangerous chemicals into the environment. According to data from the Ellen MacArthur Foundation, 20% of water pollution caused by industry comes from dyeing waste and textile chemicals. These chemicals can harm the surrounding environment, agriculture, and even factory workers themselves.

Moreover, in recent years, the textile industry is believed to be one of the contributors to plastic pollution in the sea. Guess, what the relation of textile industry with plastic pollution in the sea? In fact, the textile industry is not focused on plastic production, right? Well, it turns out that some of these textile products are made from plastic, you know. There are materials, such as polyester, nylon, or acrylic that are the cause.

Siklus serat mikroplastik mulai dari pencucian pakaian hingga masuk ke tubuh manusia
Siklus serat mikroplastik mulai dari pencucian pakaian hingga masuk ke tubuh manusia
0 Mil ton
micro-plastics

During the production process, some micro-plastic fibers are released and end up in the sea. It is estimated that around half a million tons of micro-plastic fibers contribute to water pollution every year. If this continues, it is estimated that a total of 22 million tons of micro-plastic fibers will enter the sea from 2015 to 2050.

I can’t imagine what the condition of the sea would be like if that happened. The reason is, this micro-plastic waste can threaten marine habitat and biota. Even worse, micro-plastic fibers can also enter the human body through the seafood consumed. Terrifying, isn’t it?

Air Pollution by Gas Emissions

Apart from water pollution, the fashion sector also influences air pollution. In 2015, greenhouse gas emissions from the textile industry reached 1.2 billion tons. This air pollution is relatively large, considering that the amount is even greater than the combined emission gases from all international flights and sea shipping.

Siklus hidup pakaian saat ini memberikan dampak negatif pada lingkungan berupa gas emisi
Siklus hidup pakaian saat ini memberikan dampak negatif pada lingkungan berupa gas emisi

In addition, according to the World Resource Institute, polyester production produces 706 billion kg of greenhouse gases. These gas emissions are equivalent to operating 185 coal-fired power plants every year.

0 B ton
CO₂ in 2015
0 B kg
CO₂ on polyester

Air pollution by emission of greenhouse gases (CO₂) can certainly trigger global warming. If this continues, it will have an impact on more intense extreme climate change. For example, heat waves, droughts, and stronger and more frequent storms occur.

This is what makes me very interested in continuing to learn how to dress wisely. Because, the clothes we use can have a more “expensive” impact than the money we spend when buying them.

Soil Pollution by Solid Waste

Not only that, poor fashion waste management can also pollute the land. According to data from the Ellen MacArthur Foundation, 87% of clothing materials end up in landfills or incineration after use. Poor waste management and recycling systems mean that this textile waste cannot be utilized properly.

Textile waste that ends up in landfills can cause various negative impacts on the environment. This is because textile waste made from plastic fibers will not decompose for several decades. Even worse, products made from polyester can even decompose for up to 200 years. In fact, 60% of clothing production today is made from synthetic plastic materials such as nylon, polyester and acrylic.

0 %
clothing materials end up in landfills or incinerator
0 %
clothing production is currently made of plastic materials
0 Yr
the time it takes for polyester to decompose

Friends, let’s think about it together, guess how many natural resources requires of one shirt that we are currently wearing? Oil, water and other natural resources should not be exploited just for fun. Not to mention the environmental impact triggered by various fashion industry wastes.

Therefore, now is the time for me, you, all of us to be aware of what we choose. The trend term is conscious consumption. That way, when we buy something we don’t just pay attention to its economic value and function. However, we must also consider the possible impacts.

In addition to applying the concept of conscious consumption, we also need to recognize sustainable fashion to minimize the impact of the fashion industry on ecosystem stability. I’m sure, most of you are familiar with the term sustainable fashion, right?

So, sustainable fashion is a movement that demands the textile industry to prioritize the environment and socially by reducing negative impacts. The goal is to create environmentally friendly clothing, including to reduce pollution and excessive use of natural resources.

Sustainable Fashion Criteria

When we decide to implement the concept of sustainable fashion, there are several criteria that must be considered. This means that there are standards that determine whether the clothing or textile industry truly contributes to environmental and social sustainability.

This includes the use of sustainable materials, environmentally friendly production processes, and long-term positive impacts. In the following, there are three main criteria for sustainable fashion which can be one of the efforts to overcome the negative impacts of the textile and fashion industry.

Environmentally Friendly Raw Materials

Raw materials refer to the use of materials that have a lower environmental impact during their use. For example, using organic fibers that do not contain plastic and are easily decomposed naturally in the soil, recycled materials, or materials obtained from sustainable sources.

Production Process with Non-Excessive Natural Resources

The production process includes raw materials that are processed into cloth. Generally, the production process requires natural resources, such as water, energy, and raw materials. Utilization of renewable biomass energy can be a solution so that the production process is more environmentally friendly. The aim is to reduce excessive consumption of natural resources and avoid negative impacts on ecosystems.

Environmental Impact for Sustainable Living

Another main criterion in implementing sustainable fashion is paying attention to environmental impacts by adopting practices that support long-term sustainability. So, instead of just increasing material benefits, there is a contribution to society and future generations. For example by managing and utilizing waste properly.

Know the Positive Benefits of Sustainable Fashion

If implemented well, sustainable fashion has several benefits that have a positive impact, both on the environment and society. Hopefully some of the benefits below can soften our hearts as well as fuel our enthusiasm to implement sustainable fashion in everyday life.

Reducing Impact on the Environment

The implementation of sustainable fashion allows textile industry players to adopt environmentally friendly production processes. This adoption includes the use of natural materials, more efficient production, and good waste management. That way, this process can help reduce negative impacts on the environment.

Increasing Design Inspiration and Innovation

In addition to reducing the negative impact on the environment, sustainable fashion also has a positive impact, that is fostering innovation in clothing design and production. Designers can apply new ideas and innovations using alternative materials that are more environmentally friendly. Furthermore, sustainable fashion can also foster inspiration and new trends in society. For example, as I mentioned at the beginning of the article, namely a capsule wardrobe.

Product Quality Improvement

A benefit that is also important from sustainable fashion is improving product quality. Sustainable fashion encourages the use of higher quality and longer-lasting raw materials. That way, the product is not easily damaged and has a longer use time.

Opening Social Awareness

The last, the sustainable fashion movement can open social awareness on the importance of protecting the environment. Hopefully, people will be encouraged to use and choose products that are made sustainably and responsibly. Furthermore, sustainable fashion also opens up opportunities for local communities to grow and develop.

Honestly, I’m not entirely wise in using clothes. However, I learned from the various impacts of the fashion industry that can damage the earth. In my opinion, this can be overcome by collaborating with the textile industry and public awareness to implement sustainable fashion. Here are some simple things we can do to look stylish without damaging the environment and ecosystem stability.

Have Enough Clothes, Use It Longer

Getting older makes me more aware of needs and wants, including clothing. I prefer to buy clothes that can last a long time, meaning I prioritize quality. Also, when it’s time to buy clothes, I really consider various aspects, from clothes made from natural fabrics to styles that I really need and like.

Mulai belajar menerapkan capsule wardrobe
Mulai belajar menerapkan capsule wardrobe

This could be one solution to minimize clothes that end up being thrown away or unused. I also limit myself, my husband and my children from buying clothes according to their needs. By using clothes longer, we can reduce the fast cycle of fashion while reducing excessive consumption.

Mix and Match Clothes to Stay Fashionable

Mix and Match Pakaian Supaya Tetap Fashionable​

I am very happy when I see various content that presents mix and match clothing styles. The reason is, I’m learning to look stylish and look trendy without buying or adding to my clothing collection. The hope is that if I combine the various clothes I have, I will get a different and fresh look. That way, I don’t need to buy new clothes to look fashionable.

Fix and Reuse Slightly Damaged Clothing

Who here likes to DIY lightly damaged clothing? Ever since I was in high school, I have had an interest in trying out various DIY light damaged clothes. For example, my long skirt, which has a hole at the bottom due to the exhaust from the motorbike, I cut it to my knees so it can be mixed and matched with leggings. As a result, you can look stylish without wasting money by modifying a skirt with holes.

Recycle and Get Creative with Garbage Waste

Tas mini yang aku buat menggunakan limbah celana jeans
Tas mini yang aku buat menggunakan limbah celana jeans

In fact, if we want to be creative, there are lots of unused clothes that can be turned into useful items. I once made a mini bag from jeans that had holes in the knees due to an accident. So, I took the top part of the jeans that was still intact, then I sewed them manually by hand. For the straps, I used jeans at the knees, then divided them into three lengthwise sections and braided them. Simple but looks unique, right? This can be a way to recycle and reduce clothing disposal.

Donate Unused Clothes

Mendonasikan beberapa pakaian bayi yang sudah tidak terpakai
Mendonasikan beberapa pakaian bayi yang sudah tidak terpakai

The next tip that can be done to minimize the pile of clothes is to donate unused clothes. However, you should use clothes until they really can’t be used anymore, okay! So, if you have babies like me, I choose to donate baby clothes that are still good and usable for relatives or people in need. Some of my son’s baby clothes are also passed down from generation to generation. Besides being able to help other people, I can also reduce waste and make my wardrobe tidier.

Choose Clothing that is Made ECO Friendly

After I found out how many natural resources go into making one piece of clothing, it started to hit me. Even if I need new clothes, I will choose clothes that are produced using environmentally friendly materials and production processes. For example, natural fiber-based fabrics such as viscose rayon are processed from trees with sustainable management by Asia Pacific Rayon (APR) and Sateri. Both companies are managed by Royal Golden Eagle (RGE) which implements a sustainable production system.

Royal Golden Eagle (RGE) manages international companies engaged in natural resource-based manufacturing products that are beneficial to everyday life. For example, pulp and paper, palm oil, special cellulose, viscose fiber, to the development of energy resources.

Interestingly, RGE takes sustainability and social responsibilities through various initiatives to ensure responsible resource management and have a positive impact on local communities.

It is noted that RGE employs more than 60,000 workers and has operations in various Asian countries, such as Indonesia, China, Brazil, Spain and Canada. Furthermore, RGE also continues to spread its wings to involve new markets and communities.

Royal Golden Eagle (RGE) 5C Business Philosophy

RGE has a goal to improve the quality of life through sustainable resource development. Therefore, RGE adheres to the 5C business philosophy which is applied in every company operation. The hope of this philosophy, RGE can improve quality in all aspects of life.

Good for Community Country Climate Customer Company

Good for Community

The first philosophy is good for society and social care. Through various empowerment programs, RGE collaborates with local communities to improve people's quality of life. RGE has conducted various training and education programs to assist Small and Medium Enterprises (SMEs), farmers and craftsmen. At least more than 200 SMEs in 40 villages have been empowered through training, workshops and jobs.

 

In addition, through its subsidiary APRIL, RGE is pioneering an integrated agricultural system that provides training to farmers. This training focuses on sustainable agriculture and SME development programs.

Good for Country

RGE partners with the government in an effort to equitable development and improve the quality of life. Through Asian Agri, RGE supports the government's transmigration program with relocation, infrastructure provision, and training. This program has raised skill levels, productivity, and quality of life among transmigrants.

 

Since 1987, RGE has provided benefits to at least 30,000 families. Since then, RGE has continued to be committed to empowering them so they can have a better life. So cool, huh?

Good for Climate

In my opinion, the next philosophy deserves thumbs up. This is because companies whose operations are very close to the environment are at risk of exploiting nature and polluting the environment, right? However, it is different from RGE because it has a commitment to always be active in various conservation, restoration and natural resource management activities.

 

This is proven by the conservation of more than 250 thousand hectares as the implementation of the Sustainable Forest Management Policy (SFMP). In addition, RGE is also committed to recycling such as paper upcycling and applying water treatment technology so that the waste content is reduced.

Good for Customer

RGE is dedicated to producing and distributing a variety of quality products. The production process is carried out with sustainable development. In this way, the products produced are of good quality and still prioritize efficient use of energy and resources.

Good for Company

Finally, implementing some of the philosophies above will certainly produce positive feedback for the company. Implementing sustainable fashion can add value to a product and branding awareness in a positive direction. Consumers who are increasingly environmentally and socially conscious tend to choose brands that are committed to being sustainable and responsible.

So, after we know the negative impact of the textile industry on the environment, now is the time to see how companies from the RGE Group create innovations to overcome these problems. Below are several RGE innovations in the textile industry from Sateri and APR. Actually, there are many other innovations and breakthroughs from RGE in sustainability, but I will discuss innovations related to the world of fashion such as FINEX and Follow our Fiber.

FINEX: Next-Generation Recycling Innovation with Sateri

Sateri is one of the largest producers of viscose rayon. Friends, did you know that viscose rayon is a natural fiber made from trees grown on sustainably managed plantations? Well, this natural fiber can decompose itself (biodegradable) because it is environmentally friendly. Therefore, viscose rayon has become a popular choice for clothing, household materials, and various hygiene products.

Siklus daur ulang FINEX
Siklus daur ulang FINEX

One of Sateri’s innovations made from natural fibers is FINEX. FINEX (stand for “Fibre Next”) is the latest generation of natural fiber containing recycled materials. In its manufacture, FINEX uses natural fibers derived from a mixture of textile waste and recycled materials.

By using products made from FINEX, we can at least contribute to sustainability. Oh yes, don’t worry, even though they come from recycled materials, products made from FINEX are also comfortable to wear. Because the material is soft, friendly to the skin, and doesn’t make it hot. In addition, the resulting color also looks bright. Therefore, we can still protect the earth by staying stylish, right?

Follow our Fiber: Resource Transparency with APR

As consumers who care about the environment, we must know where our products come from, right? Does it come from a renewable source? Is it managed responsibly? And other questions that often make us curious.

Interestingly, Asia Pacific Rayon (APR) launched the Follow our Fiber innovation. Follow our Fiber is a blockchain-based application for tracking the sourcing of fiber materials throughout the supply chain. Furthermore, we as customers can track the product’s journey from the production stage to the source of fiber cultivation to find out its origin.

Tampilan App Follow our Fibre

Through blockchain technology, production data starting from planting location, date, delivery is recorded in real time. This data can be accessed publicly and cannot be changed by anyone so as to guarantee data validity and transparency. Customers or stakeholders only need to scan the barcode using the application to see all production data. That way, all our questions and concerns about the origins of the products we use have been answered.

Remember, style doesn't need to destroy the world, but we can meet to give meaning to each other.

RGE acts as a supplier of environmentally friendly textile materials which is a pioneer in various companies that focus on sustainability and a better future. Meanwhile, our job is to be a wise and responsible consumer. Indirectly, by choosing eco-friendly products, we also support fashion industry brands that care about the environment and society.

Hopefully this article can soften our hearts and awareness to take a role in encouraging positive change, especially in the world of fashion and sustainable living. We can start with a simple way as I have written above. If not us, who else will take care of the earth for a better future? Remember, style doesn’t need to destroy the world, but we can meet to give meaning to each other.

Sumber referensi:

  • Ellen MacArthur Foundation, A new textiles economy: Redesigning fashion’s future, (2017, http://www.ellenmacarthurfoundation.org/publications)

  • https://www.wri.org/insights/numbers-economic-social-and-environmental-impacts-fast-fashion

  • https://www.wri.org/insights/apparel-industrys-environmental-impact-6-graphics

  • https://www.aprayon.com/en/media-english/articles/what-is-sustainable-fashion/

  • https://www.aprayon.com/en/media-english/articles/why-viscose-fabric-is-the-future-of-the-fashion-industry/

  • https://www.rgei.com/id/keberlanjutan/kepedulian-sosial

  • https://www.rgei.com/id/keberlanjutan/kepedulian-pada-negara

  • https://www.rgei.com/id/keberlanjutan/perlindungan-iklim

  • https://www.rgei.com/id/tentang-kami/perusahaan-kami

  • https://www.sateri.com/products/recycled-fibre-finex/
  • https://www.followourfibre.com/
  • https://www.rgei.com/attachments/article/1250/20190515%20-%20Follow%20Our%20Fibre%20Press%20Release.pdf

  • Personal photos and documentation
  • Photos and documentation from RGE
  • Graphic Design by Ella Fitria from source freepik
  • Animation by Ella Fitria from source lottiefiles
  • Icon Design from font awesome
0 0 vote
Rating Artikel
Subscribe
Notifikasi
guest
0 Komentar
Feedback Sebaris
Lihat semua komentar