ASUS Zenbook DUO (UX8406)

Let's Duo It

Berdua Lebih Asyik, Multitasking Makin Melejit
bersama ASUS Zenbook DUO (UX8406)

Rahasia melakukan multitasking yang sebenarnya bukanlah mengerjakan banyak hal secara bersamaan. Melainkan fokus yang ekstrem dan organisasi yang baik.

Melalui quote dari Joss Whedon, aku sepakat bahwa poin utama multitasking bukan mengerjakan banyak hal secara bersamaan. Melainkan, kemampuan untuk mengorganisir pekerjaan dengan efektif dan menjaga fokus yang baik. Dengan begitu, pekerjaan pun menjadi lebih efisien dan bisa selesai tepat waktu.

Menerapkan gaya bekerja yang tepat tentu bisa membuat pekerjaan terasa lebih mudah. Salah satu gaya bekerja yang sedang nge-tren adalah melakukan pekerjaan multitasking dengan multiple display atau penggunaan beberapa layar sekaligus. Nah, penggunaan beberapa layar dalam waktu bersamaan tentu memiliki kelebihan, misalnya efisiensi yang berujung meningkatnya produktivitas dalam bekerja.

Aku menggunakan dual screen saat meeting
Aku menggunakan dual screen saat meeting

Saat bekerja, aku pun menggunakan dua layar. Terlebih, sejak aku fokus menjadi content writer di salah satu perusahaan asing. Hampir setiap hari aku mengandalkan layar eksternal untuk membantu me-manage beberapa task supaya lebih teratur dan terarah. Aku merasa lebih maksimal jika bekerja menggunakan dua layar sekaligus, yaitu layar laptop sebagai layar utama dan layar eksternal sebagai extended monitor.

Begitu tahu ASUS merilis laptop dual screen ASUS Zenbook DUO (UX8406), aku sangat antusias sekali dong! Teman-teman nggak salah baca kok, memang laptop tersebut betul-betul memiliki dua layar yang sama luasnya. Hayo lho, bisa membayangkan bagaimana tampilan laptop dengan dua layar sekaligus? Ah, sangat imersif, bukan?

Nah, sebelum aku membahas lebih detail ASUS Zenbook DUO (UX8406), aku ingin sedikit berbagi cerita tentang seluk-beluk aktivitas multitasking digitalku. Selain itu, aku juga akan mengulas bagaimana laptop ASUS Zenbook DUO (UX8406) dapat meningkatkan produktivitasku sebagai digital nomad.

Menjadi

Multitasking Digital Nomad Mother

Apa yang terlintas di pikiran teman-teman saat membaca istilah “Multitasking Digital Nomad Mother? Sibuk? Capek? Atau justru senang karena bisa bekerja di mana saja? Yap! Istilah tersebut bisa dibilang penggambaran aktivitasku saat ini karena lebih sering melakukan pekerjaan remote dari mana saja dan kapan saja sambil tetap menjadi seorang ibu.

Jujur, menjadi ibu baru sambil bekerja dari rumah terkadang terasa berat. Meskipun suami dan ibuku sigap membantu meng-handle anak, kadang tangisnya mengalihkan fokusku. Selain itu, mental dan fisikku juga butuh jeda untuk sekadar istirahat. Namun, pelan-pelan aku mencari ritme kerja yang sesuai hingga bisa bertahan dan berada di titik sekarang ini. Siapa sangka, seorang ibu rumah tangga dengan bayi berusia 16 bulan bisa berpenghasilan yang cukup hanya dari rumah saja?

Pencapaian tersebut nggak lepas dari support system orang-orang di sekelilingku dan penyesuaian management kerja yang baik. Salah satunya karena dukungan perangkat yang memadai seperti laptop, ruang kerja, dan jaringan internet. Dengan kombinasi dukungan perangkat dan penyesuaian kerja yang optimal, aku bisa dengan mudah mengatasi tantangan yang silih berganti. Kira-kira tantangan seperti apa sih yang sering digital nomad mother hadapi? Yuk, simak artikel ini hingga selesai!

Multitasking: Semua Dilibas Padahal Berat di Realitas

Siapa nih yang sering multitasking saat bekerja? Kalau teman-teman sering melakukannya, berarti kita samaan, lho. Toss dulu, yuk! Sebagai content writer, blogger, dan seorang ibu, sering kali aku harus melakukan multitasking sepanjang waktu. Serius deh, rasanya ada saja pekerjaan yang harus aku kerjakan dalam waktu yang hampir bersamaan. Nah, sebenarnya, apakah multitasking ini memang perlu dan efektif?

Menurut laman verrywellmind, “multitasking melibatkan pengerjaan dua atau lebih tugas secara bersamaan, berpindah-pindah dari satu hal ke hal lain, atau melakukan sejumlah tugas secara berurutan.” (Cherry, 2023). Meskipun terdengar memiliki kelebihan karena bisa menyelesaikan banyak tugas dalam waktu singkat, beberapa penelitian menunjukkan bahwa sebenarnya otak manusia nggak terlalu baik jika menangani banyak tugas secara bersamaan, lho.

Faktanya, ada juga penelitian yang menyebutkan bahwa sebenarnya multitasking dapat menghambat produktivitas, mengurangi pemahaman, kinerja, ketelitian, dan membuat seseorang rentan terhadap kesalahan. Karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa multitasking merupakan aktivitas yang berat untuk dilakukan. Mungkin beberapa orang beranggapan bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Namun, kenyataannya mereka hanya mengalihkan fokus dari satu hal ke hal lain dengan cepat.

Beberapa orang beranggapan bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Namun, kenyataannya mereka hanya mengalihkan fokus dari satu hal ke hal lain dengan cepat.

Karena itu, aku selalu berusaha memusatkan fokus dan membuat skala prioritas saat melakukan multitasking. Misalnya nih, aku menggunakan dua layar saat bekerja untuk membantu mengatur dan memetakan prioritas task. Biasanya, aku menggunakan layar utama untuk lembar task penting. Sementara itu, layar kedua aku gunakan sebagai asisten atau tools pendukung pekerjaan utama. Dengan cara ini, rasanya aku bisa tetap fokus pada pekerjaanku tanpa terdistraksi oleh hal yang kurang penting. Selain itu, aku juga bisa beralih fokus dengan lebih mudah tanpa harus mengorbankan perhatian pada layar utama.

Ilustrasi me-manage skala prioritas saat menggunakan dual-screen
Ilustrasi me-manage skala prioritas saat menggunakan dual-screen

Digital Nomad: Kerja Fleksibel, Komitmen Jadi Dobel

Tantangan berikutnya berkaitan dengan komitmen bekerja sebagai digital nomad. Barangkali ada teman-teman yang belum familiar dengan istilah digital nomad, aku coba ulas sedikit, ya. “Digital nomad adalah istilah bagi seseorang yang bekerja tanpa terikat oleh waktu dan tempat. Istilah nomad itu sendiri berasal dari kata ‘nomaden’, alias berpindah dari satu tempat ke tempat lain.” (Ningtyas, 2021).

Bisa bekerja tanpa terikat oleh waktu dan tempat membuat pekerjaanku sebagai content writer menjadi superfleksibel. Aku bisa memulai dan mengakhiri jam kerja kapan saja. Biasanya, aku mulai bekerja sebelum anak bangun di pagi hari. Kemudian jeda sebentar untuk mengurus anak dan beberes rumah, lalu lanjut kerja lagi. Rata-rata, aku menghabiskan 9 jam untuk bekerja setiap hari dan menyisakan weekend untuk family time atau sekadar refreshing. Cukup fleksibel bukan?

Karena digital nomad menawarkan fleksibilitas yang tinggi, pekerjaan ini memerlukan komitmen yang tinggi, terutama dalam mengatur jam kerja.

Namun, karena digital nomad menawarkan fleksibilitas yang tinggi, pekerjaan ini memerlukan komitmen yang tinggi, terutama dalam mengatur jam kerja. Contoh kecilnya, jika aku terlalu santai dan nggak mulai bekerja sejak pagi, tentu aku perlu mengorbankan waktu di malam hari untuk tetap bekerja agar performaku bisa dinilai baik. Selain itu, aku juga harus mampu mengatur target supaya nggak perlu terlalu ‘ngoyo‘ di akhir bulan untuk mengejar target yang belum tercapai.

Selain fleksibilitas waktu, menjadi digital nomad juga memberiku fleksibilitas bekerja dari mana saja. Memang sebagian besar waktu kerja aku habiskan di rumah saja, tetapi sesekali aku juga membutuhkan suasana baru. Misalnya, bekerja sambil hangout di cafe, mall, di ruang tunggu ketika medical check-up, atau tempat lain.

Bekerja sambil hangout di cafe ditemani ASUS Vivobook 13 Slate OLED
Bekerja sambil hangout di cafe ditemani ASUS Vivobook 13 Slate OLED

Beruntungnya, saat ini aku menggunakan laptop ASUS Vivobook 13 Slate OLED yang bisa digunakan kerja di mana saja karena menawarkan portabilitas tinggi. Hanya saja, aku nggak bisa lagi menggunakan dual screen saat bekerja di luar rumah. Makanya, hadirnya laptop dual screen seperti ASUS Zenbook DUO (UX8406) rasanya bisa menjadi solusi untuk memaksimalkan produktivitasku sebagai digital nomad.

Mother: Satu Kata, Banyak Kerjanya

Last but not least, yaitu tantangan menjadi ibu itu sendiri. Sejak zaman dahulu, sosok ibu menjadi entitas dari pewujudan “multitasking“. Terlebih, seorang ibu sering dianggap dan dituntut untuk serbabisa. Makanya, saat pertama kali menjadi ibu, rasanya kaget luar biasa karena pengorbanan dan dedikasi seorang ibu ternyata sangat besar dalam work-life balance.

Sejak zaman dahulu, sosok ibu menjadi entitas dari pewujudan "multitasking". Terlebih, seorang ibu sering dianggap dan dituntut untuk serbabisa.

Nggak jarang, aku juga merasa kehabisan waktu dan tenaga ketika menjalani rutinitas harianku. Merawat anak, mengurus pekerjaan rumah, dan bekerja tentu sangat take times dan menguras tenaga plus mental. Belum lagi konsentrasi yang sering terpecah karena harus mengutamakan urusan dan kebutuhan anak terlebih dahulu.

Ilustrasi ibu sebagai sosok yang serbabisa
Ilustrasi ibu sebagai sosok yang serbabisa

Namun, terlepas dari semua rasa lelah dan capek, aku sangat bersyukur bisa menjadi seorang ibu yang membersamai anak di rumah. Kadang, saat terasa lelah, menatap kedua bola mata si kecil dan melihat senyumnya seakan mengembalikan power seorang ibu. Tangki cinta ibu untuk anaknya nggak pernah berkurang meskipun harus menghadapi segambreng pekerjaan dan rutinitas.

Sebenarnya, tantangan Multitasking Digital Nomad Mother bisa diminimalkan asalkan mampu memaksimalkan skill dan teknologi yang ada. Tak hanya itu, untuk menghadapi tantangan di atas, aku juga perlu menjadi sosok yang bisa menikmati hidup, menyadari betapa hebatnya menjadi seorang ibu yang tetap bisa produktif di era digital saat ini. Karena aku yakin, setiap orang memiliki power untuk mewujudkan mimpi dan keinginannya, asalkan ada kemauan dan action yang nyata. Berikut ini, aku share beberapa upaya kecil yang aku lakukan untuk terus berkembang di era digital.

Tetap Produktif

di Era Digital Nomad dan AI

Dalam menghadapi berbagai tantangan di era digital dan kecanggihan Artificial Intelligence (AI), perlu upaya dan pendekatan open minded. Pokoknya, jangan hanya terpaku pada pencapaian masa lalu atau stuck pada situasi saat ini. Jika ingin mengambil jeda untuk sekadar istirahat, boleh banget! Namun, setelah mengambil jeda, kudu siap nge-gas lagi dong. Hal ini supaya kita nggak tertinggal dengan tren atau teknologi di era digital yang serbacepat.

Bagiku, modal utama agar tetap produktif di era digital adalah mengikuti perkembangan dan tren terkini serta berkolaborasi dengan hal baru. Tentunya, aku juga perlu sehat mental dan fisik untuk terus produktif dan meningkatkan skill. Supaya lebih jelas, aku coba jabarkan secara singkat kiat-kiat kecil yang aku lakukan supaya tetap produktif di era digital.

Work-life Balance

Mungkin beberapa orang beranggapan jika makin giat dan lama durasi bekerja, makin bagus hasil yang akan mereka peroleh. Namun, beberapa research menunjukkan bahwa dengan tetap menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi justru dapat meningkatkan produktivitas, kepuasan hidup, serta memperkuat hubungan keluarga atau teman. (Weissang, 2023).

Ilustrasi work-life balance dan dampaknya terhadap seseorang
Ilustrasi work-life balance dan dampaknya terhadap seseorang

Oleh karena itu, menjaga keseimbangan antara bekerja dan keluarga merupakan kunci penting bagi seorang ibu yang bekerja sebagai digital nomad sepertiku. Dengan tetap menjaga keseimbangan ini, aku bisa bekerja tanpa tekanan berlebih (burnout) dan tetap bisa menjalin kebersamaan dengan keluarga.

Untungnya, pekerjaanku sebagai content writer memberiku fleksibilitas yang tinggi. Hal ini memungkinkanku bekerja dari mana saja dengan lingkungan yang nyaman dan jam kerja yang fleksibel. Dengan begitu, aku bisa memaksimalkan work-life balance dengan lebih baik.

Manajemen Waktu dan Komunikasi

Untuk mendukung work-life balance, tentunya membutuhkan manajemen waktu yang tepat, bukan? Tanpa sadar, ternyata manajemen waktu yang baik juga bisa mencegah burnout, lho. Selain itu, secara nggak langsung manajemen waktu juga berperan penting dalam menjaga komitmen kerja. Ya, meskipun jam kerjaku nggak begitu teratur karena harus mengurus anak dan keperluan rumah, aku masih bisa mengelola jam kerja menggunakan beberapa tools atau aplikasi.

Bersyukurnya, perusahaan tempatku berkerja menggunakan tools atau aplikasi yang sangat membantuku dalam menghitung berapa lama aku kerja, mencatat log, hingga bisa membantu memprakirakan target kerja. Tools ini juga akan merekam layar laptopku selama aku sedang absen masuk atau clock-in.

Manajemen waktu menggunakan tools untuk mencatat lama kerja dan log
Manajemen waktu menggunakan tools untuk mencatat lama kerja dan log

Selain manajemen waktu, komunikasi antar tim juga sangat krusial. Terlebih, aku juga harus selalu berkomunikasi dengan tim yang berada di Jepang supaya task-task bisa selesai sesuai standar yang ditentukan. Kami menggunakan aplikasi Slack untuk report harian dan diskusi mengenai proyek yang sedang berjalan. Untuk meeting online bersama pakar atau tim in-house, biasanya kami memanfaatkan Google Meet. Sementara itu, untuk menjalin komunikasi dengan tim Indonesia, kami menggunakan aplikasi Chatwork.

Berkolaborasi dengan AI, Bukan Menghindarinya

Dengan pesatnya perkembangan Artificial intelligence (AI) di era digital saat ini, mungkin ada sebagian orang yang merasa khawatir jika suatu saat pekerjaannya akan tergantikan oleh AI. Hal tersebut dapat dimaklumi karena munculnya AI, seperti ChatGPT, Microsoft Copilot, Google Gemini, dan sebagainya membawa potensi serta kekuatan besar untuk dijelajahi.

Nah, daripada merasa resah dan menghindarinya, aku prefer berkolaborasi dengan AI untuk meningkatkan produktivitas. Biasanya, aku menggunakan generatif AI sebagai asisten pribadi dalam penyelesaian tugas repetitif, menjadwalkan meeting, dan melakukan riset produk sebelum membuat outline artikel. Selama menggunakan AI, aku merasakan banyak manfaat, salah satunya bisa membantu untuk menyelesaikan tugas lebih cepat.

Peningkatan Produktivitas

0 %
pekerja berpengalaman

Peningkatan Produktivitas

0 %
pekerja baru

Sebenarnya, masih banyak hal lain yang bisa kita manfaatkan dari AI untuk meningkatkan produktivitas. Beberapa research seperti yang dilakukan oleh National Bureau of Economic Research (NBER) menunjukkan bahwa AI dapat meningkatkan produktivitas hingga 14% dalam bidang agensi costomer support. Bahkan, peningkatan produktivitas ini dapat mencapai 35% untuk pekerja yang belum berpengalaman (Salomon, 2023).

Tingkatkan Produktivitas dengan Multiple Display

Menggunakan multiple display atau beberapa layar adalah salah satu kiat peningkatan produktivitas yang paling aku sukai. Aku biasanya menerapkan gaya kerja multitasking menggunakan dual monitor seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya.

Nah yang menjadi pertanyaan, apakah pengunaan beberapa layar ini memang benar dapat meningkatkan produktivitas atau malah menjadi sumber distraksi bagi pengguna? Kalau menurut pengalaman pribadiku sih bisa dua-duanya. Di satu sisi, penggunaan dua layar bisa meningkatkan produktivitas. Namun, di sisi lain penggunaan dua layar juga bisa menjadi sumber distraksi. Hal ini sangat tergantung kebijakan user dalam menggunakan multiple display.

Peningkatan Produktivitas

0 %
menggunakan multiple display

Sementara itu, menurut riset dari Jon Peddie Research (JPR), penggunaan beberapa layar dapat meningkatkan produktivitas hingga 42%, lho. Data ini diperoleh dari survei pengguna yang sering menggunakan multiple display dalam bekerja seperti designer, engineers, hingga pekerja informasi (Jon Peddie Research, 2017). Menurut mereka, penggunaan beberapa layar memberikan banyak kelebihan yang nggak bisa diperoleh dengan penggunaan satu layar. Misalnya, pengganda resolusi, jendela tambahan, dan efisiensi waktu saat scroll. Selain itu, penggunaan dua layar juga memungkinkan user berpindah aplikasi tanpa harus repot switch beberapa aplikasi dalam satu layar.

Menurut teman-teman bagaimana, nih? Kira-kira penggunaan multiple display bisa meningkatkan produktivitas, nggak? Atau malah banyak di antara teman-teman yang sudah menerapkannya? Kalau ada yang belum pernah menggunakan beberapa layar karena terkendala nggak ada monitor atau sering bekerja mobile, aku punya solusinya, nih. Yuk, coba kenalan dengan laptop terbaru dan terbaik ASUS Zenbook DUO (UX8406). Penasaran? Sini-sini, akan aku ulas dengan detail supaya makin banyak yang kepincut dengan laptop canggih dan imersif ini.

ASUS Zenbook DUO (UX8406)

Laptop Dual-Screen OLED Terbaik

Menurutku, ASUS memang jago banget dalam hal memenuhi kebutuhan dan ekspektasi penggunanya. Coba deh lihat, ASUS mampu melihat tren di era digital sekarang, seperti makin banyak user menggunakan monitor tambahan untuk bekerja dan melakukan multitasking.

Dengan terus melakukan berbagai pengembangan dan inovasi terbaru, ASUS telah merilis laptop revolusioner dengan dual screen, yaitu ASUS Zenbook DUO (UX8406). Kehadiran laptop tersebut bisa menjadi jawaban dan solusi bagi mereka yang tetap ingin produktif menggunakan dual screen di mana pun dan kapan pun.

Tentunya, laptop ini akan menjadi perangkat yang bisa diandalkan oleh banyak pekerja multitasking, termasuk aku. Supaya lebih jelas, berikut ini aku coba ulas bagaimana laptop ASUS Zenbook DUO (UX8406) dapat meningkatkan produktivitasku sebagai content writer dan digital nomad.

Layarnya Dua, Produktivitas Berlipat Ganda

Layar merupakan komponen yang paling revolusioner dan inovatif dari laptop ASUS Zenbook DUO (UX8406). Laptop ini dibekali dengan dua layar OLED touchscreen yang masing-masing berukuran 14 inci beresolusi 3K (2880 x 1800) dengan aspect ratio 16:10. Menurutku, penggunaan aspect ratio 16:10 sangat bagus untuk meningkatkan produktivitas karena bisa menampilkan lebih banyak konten dan meminimalkan scrolling.

Layar Dual 3K OLED dan beberapa customizable color gamut menggunakan ASUS Splendid
Layar Dual 3K OLED dan beberapa customizable color gamut menggunakan ASUS Splendid

Nah, yang bikin seru adalah penggunaan dual-screen pada laptop ASUS ini juga bisa memperluas ruang kerja hingga 19,8 inci secara instan. Selain kelebihan tersebut, dual-screen built-in juga bikin hemat space karena nggak memakan tempat seperti saat menggunakan monitor eksternal. Jadi, aku nggak perlu memakai monitor eksternal lagi untuk mendapatkan benefit dari multiple display. Tentunya, buatku yang suka bekerja mobile, tetapi tetap ingin menggunakan multiple display, fitur ini merupakan solusi yang oke banget.

soda-glasscorning-glass

Soda Lime Glass VS Corning® Gorilla® Glass NBT™

Untuk segi kualitas, kedua layar laptop ASUS Zenbook DUO (UX8406) sudah dilapisi dengan Corning Gorilla Glass NBT yang enam kali lebih kuat dari kaca biasa. Visualnya juga nggak main-main, lho! Layar laptop ini menggunakan teknologi ASUS Lumina OLED yang menghasilkan tampilan yang sangat imersif. Warna yang ditampilkan begitu cemerlang dengan kedalaman hingga 1,07 miliar warna, color gamut hingga 100% DCI-P3 (133% sRGB), dan kontras yang tajam dengan rasio kontras 1.000.000:1. Tentunya, membuat tampilan layar menjadi lebih hidup dan nyata. Bahkan, layarnya sanggup menampilkan visual High Dynamic Range (HDR) dengan hitam pekat yang sudah terverifikasi oleh Vesa DisplayHDR True Black 500 dan Dolby Vision. Makin kepincut sama laptop ini nggak, sih? Uhuk!

Selain unggul dalam kualitas visualnya, performa layar dan fitur proteksi pada laptop ini juga patut diacungi jempol, lho. Layar premium ASUS Lumina OLED memiliki kecepatan refresh rate 120 Hz dan response time 0.2 ms. Dengan spesifikasi tersebut, layar laptop ini bisa menghasilkan gerakan halus sekaligus bisa mengurangi ghosting. Terlebih, gerakan layar yang smooth bisa mencegah flicker atau layar berkedip yang bisa menjadi penyebab ketegangan mata sehingga kerja pun lebih terasa nyaman.

Oh iya, bukan hanya hal di atas saja yang membuat kerja menggunakan layar laptop ini menjadi nyaman dan aman. Ada juga fitur low blue light yang sudah mengantongi sertifikasi dari TÜV Rheinland. Fitur ini dapat mengurangi paparan cahaya biru berlebih hingga 70% supaya kesehatan mata tetap terjaga, alhasil bisa meningkatkan kualitas tidur. Di samping itu, untuk meningkatkan pengalaman pengguna yang lebih baik, terdapat sensor cahaya yang berfungsi untuk mengatur tone dan kecerahan layar secara otomatis menyesuaikan lingkungan kerja. Menarik, kan? Kerja pun akan makin nyaman dengan laptop ini. Terlebih, bagi orang yang sering bekerja sampai malam sepertiku.

5 Versatile Mode: 5 Cara Asyik Pakai Laptop Unik

Laptop unik, cara pakainya juga nggak kalah unik, nih! ASUS Zenbook DUO (UX8406) memiliki 5 versatile mode yang semuanya asyik digunakan untuk berbagai keperluan. Laptop ini berhasil menggabungkan keunggulan efisiensi dari laptop tradisional dan kemampuan multiple display yang serbaguna dengan mempertahankan portabilitas yang luar biasa. Penggunaan lima mode ini membawa produktivitas ke level yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Yuk, tengok seasyik apa laptop ini!

Dual-screen mode + Keyboard

Mode dual-screen + keyboard Bluetooth adalah mode yang paling aku suka. Dalam mode ini, aku dapat meningkatkan produktivitas terutama selama meeting atau interview bersama para pakar. Layar bagian atas dapat aku gunakan untuk video conference, sementara layar bagian bawah cocok untuk membaca list pertanyaan dan mencatat hasil wawancara. Pastinya, kemudahan ini bisa meningkatkan fokus dan mengurangi distraksi, kan?

Untuk menggunakan mode ini, caranya cukup mudah. Pertama, buka built-in kickstand yang ada di bawah laptop dan sesuaikan sudut bukaannya mulai dari 40° hingga 70° agar mendapatkan ketinggian yang diinginkan. Kemudian, lepaskan detachable full-size keyboard dari layar lalu koneksikan menggunakan Bluetooth.

Dual-screen mode + Virtual Keyboard

Mode selanjutnya yaitu dual-screen menggunakan virtual keyboard. Berbeda dengan mode sebelumnya yang menggunakan dua layar untuk menampilkan display di kedua layar, mode satu ini mengubah layar bagian bawah menjadi keyboard virtual layaknya keyboard di smartphone. Penggunaan virtual keyboard memiliki berbagai kelebihan seperti fungsi gesture control yang praktis. Misalnya, kita dapat mengetuk layar dengan enam jari untuk menampilkan virtual keyboard, swipe ke bawah untuk membuka panel interaktif yang berisi Quick Key, Control Panel, Number Key, input tulisan tangan, dan panel lainnya. Selain itu, kita bisa mengetuk layar dengan tiga jari untuk menampilkan virtual touchpad.

Ada juga gesture lainnya, seperti menggeser ke luar dengan lima jari untuk memperluas jendela saat ini sehingga dapat mengisi kedua layar. Selain keyboard virtual, mode ini juga memungkinkan layar digunakan sebagai bidang canvas yang berguna untuk membuat gambar menggunakan ASUS Pen 2.0 yang presisi.

Desktop mode

Lagi on-fire multitasking kerjaan? Mode desktop ini sepertinya paling pas untuk dipilih. Mode ini memungkinkan aku menggunakan kedua layar laptop secara vertikal kanan dan kiri. Aku bisa memilih salah satu layar sebagai layar utama untuk menampilkan lembar kerja writing, sementara layar kedua sebagai layar tambahan untuk jendela referensi, dokumentasi, atau asisten AI.

Salah satu keuntungan menggunakan ke dua layar secara vertikal yaitu ruang keterbacaan yang lebih luas. Layar vertikal cenderung lebih nyaman untuk menampilkan konten panjang seperti teks, data spreadsheet, hingga percakapan di aplikasi chatting tim karena bisa menampilkan lebih banyak informasi tanpa perlu melakukan scrolling terlalu sering. Dengan begitu, produktivitas dan konsentrasi pun bisa lebih terjaga.

Sharing mode

Menggunakan dual-screen secara extend (perluasan layar) oke, lalu apakah laptop ini juga bisa digunakan secara mirror (duplikat)? Tentu saja bisa, dong! Aku bisa menggunakan mode sharing untuk membagikan tampilan konten ketika presentasi atau diskusi. Mode ini memudahkan aku dalam berdiskusi secara langsung dengan orang lain sehingga memungkinkan kami melihat konten yang sama secara langsung.

Untuk menggunakan mode ini juga sangat mudah, cukup buka layar hingga membentuk sudut 180° dan aktifkan mode sharing di aplikasi ScreenXpert, lalu pilih layar yang akan diputar atau dibagikan. Cukup simpel dan praktis bukan? Aku yakin deh sharing mode ini akan sangat berguna ketika harus berdiskusi dan berkolaborasi secara langsung dengan tim on-the-spot.

Laptop Mode

Nah, setelah membahas semua mode dual-screen dari laptop ASUS Zenbook DUO (UX8406), mode klasik atau laptop mode juga nggak ketinggalan. Mode ini memungkinkan user untuk menggunakan laptop dengan lebih fleksibel dan portable seperti dipangku, membawanya di tangan, atau menggunakannya di ruang yang terbatas. Untuk mengggunakan mode ini, cukup pasang detachable keyboard ke layar bagian bawah, kemudian keyboard akan langsung tersambung melalui koneksi Pogo pin dan mode laptop pun langsung aktif.

Oh iya, mode ini juga menawarkan sensasi pengalaman mengetik yang nyaman menggunakan ASUS ErgoSense Keyboard. Alasannya, keyboard ini menggunakan key caps 0.3 mm dan key pitch 19.05 mm untuk hasil ketikan yang presisi. Mengetik menggunakan keyboard ini juga nggak mengeluarkan suara berisik karena key travel 1.4 mm dan mekanisme scissor-key. Selain itu, kehadiran touchpad ultra-smooth dengan lapisan hidrofobik juga menambah kenyamanan dalam penggunaan.

Bagaimana? Sepakat kan kalau laptop ASUS Zenbook DUO (UX8406) adalah laptop dual-screen terbaik super portable yang bisa diandalkan baik itu di rumah ataupun saat berpergian? Membawa laptop ini ke mana pun nggak masalah karena desainnya yang tipis dengan ketebalan hanya 1,46 – 1,99 cm saja. Bobotnya juga ringan, hanya sekitar 1,35 kg tanpa keyboard dan 1,65 kg saat keyboard terpasang. Terlebih, desain yang superportabel tersebut juga diimbangi dengan keandalan dan ketahanan kelas militer MIL-STD 810H, lho!

49 menit
0%

Fast-charge hingga 60% dalam 49 menit

Dari sisi ketahanan baterai, laptop ini juga terbilang awet meski menggunakan dua layar. Dilengkapi dengan baterai berkapasitas 75Wh dan kemampuan fast-charge, laptop ini dapat mengisi daya hingga 60% dalam 49 menit. Ketika menggunakan satu layar, laptop ASUS Zenbook DUO (UX8406) bisa bertahan hingga 13,5 jam dan 10,5 jam ketika menggunakan kedua layar. Jadi, nggak khawatir lagi kehabisan baterai saat membawa laptop berpergian. Terlebih, laptopnya bisa diisi daya melalui power bank menggunakan port USB-C Power Delivery (PD).

Port yang tersedia di ASUS Zenbook DUO (UX8406)
Port yang tersedia di ASUS Zenbook DUO (UX8406)

Eh, ngomongin soal port, rasanya belum lengkap kalau nggak membahas konektivitas dan port yang tersedia di laptop ini. Apapun kebutuhan multitasking-nya, laptop ini sudah dilengkapi dengan port yang dibutuhkan mulai dari HDMI 2.1 (TMDS), audio jack, USB 3.2 Gen 1 Type-A, hingga dua Thunderbolt 4 USB-C. Sementara itu, untuk konektivitas jaringan tersedia Wi-Fi 6E(802.11ax) dan Bluetooth® 5.3. Lengkap banget nggak, tuh?

Intel® AI Boost & Copilot: Asisten AI untuk Lesatkan Kinerja

Dari tadi fokus membahas soal layar dan desainnya nih, sekarang saatnya membahas performanya. Apakah laptop ini juga wush-wush saat digunakan untuk kerja multitasking? Tentu saja, iya! Malah nggak cuma ngebut karena laptop ini dibekali dengan dedicated Intel® AI Boost (NPU). Nah, kira-kira apa sih kegunaan Neural Processing Unit (NPU)?

Jadi, NPU ini berguna banget untuk memproses aplikasi yang menggunakan AI secara lokal di mesin. Nantinya, semua aplikasi yang menggunakan AI dapat diproses secara efisien tanpa boros daya. Terlebih, penggunaan NPU ini dapat menghemat baterai hingga 1,57 kali dibanding tanpa NPU. Pastinya hal ini sangat bermanfaat bagi pengguna yang sering mengandalkan AI dalam pekerjaan mereka.

NPU on: 7.04 Jam
0%
NPU off: 4.49 Jam
0%

Perbandingan daya tahan baterai ketika NPU on dan off

Meskipun saat ini kebanyakan AI, seperti Windows Copilot, chatGPT, Google Gemini dan sebagainya masih dijalankan dan diproses secara cloud, tapi sekarang sudah mulai banyak implementasi AI di mesin lokal, misalnya ASUS AI Noise-Canceling Technology yang ada di laptop ASUS Zenbook DUO (UX8406). Dengan teknologi ini, NPU bisa memproses AI untuk memperbaiki panggilan konferensi atau meeting menjadi lebih baik. Sebagai contoh, Kamera ASUS AiSense bisa membuat gambar menjadi lebih jernih dengan mengurangi noise, mengoreksi pandangan mata, automatic framing, hingga pengurangan kebisingan.

noise-beforenoise-after

ASUS 3D Noise Reduction (3DNR) untuk menjernihkan video

eye-cor-beforeeye-core-after

Mengoreksi pandangan mata supaya mengarah ke kamera

Selain kemampuan di atas, aku yakin banget NPU dan kecerdasan buatan nggak lama lagi bakal digunakan untuk menangani tugas-tugas lokal, seperti pengenalan wajah untuk device unlock, penerjemahan, pengenalan tulisan tangan, pengenalan suara, dan sebagainya yang berjalan secara native di perangkat laptop. Keren, bukan? Bayangin deh bagimana ASUS Zenbook DUO (UX8406) memiliki potensi luar biasa dengan Intel® AI Boost yang dimilikinya!

CPU
Intel Core Ultra 9 185H

16 core 22 thread up to 5.1 GHz

RAM
32 GB

LPDDR5X

SSD
2 TB

M2 NVMe

Eh tunggu dulu, masih ada yang nggak kalah keren dari laptop ini, lho. Yuhu, selain NPU yang revolusioner, laptop ini juga dibekali CPU dan GPU yang powerful. Varian tertinggi dari laptop ini dibekali dengan prosesor Intel Core Ultra 9 185H (16 core, 22 thread up to 5.1 GHz,) serta integrated GPU Intel Arc yang sudah dilengkapi ray tracing. Di sisi lain, kapasitas RAM 32GB LPDDR5X dan penyimpanan 2TB M.2 NVMe juga menambah performa laptop ini nggak perlu diragukan lagi.

Advanced cooling system dan ketahanan MIL-STD 810H
Advanced cooling system dan ketahanan MIL-STD 810H

Dengan semua komponen powerful yang tersemat di laptop ini, tentu dibutuhkan sistem pendingin yang mumpuni agar laptop dapat memaksimalkan potensinya. Oleh karena itu, ASUS punya Advanced Cooling System canggih untuk mengurangi panas berlebih menggunakan graphene sheet, dua pipa, pelat heat spreader dan dua kipas. Komponen pendingin tersebut mampu meningkatkan performa laptop dan memastikan CPU serta GPU bisa bekerja dengan TDP 35W tanpa mengalami throttling.

Spesifikasi ASUS Zenbook DUO (2024) UX8406

Intel® Core™ Ultra 7 Processor 155H 1.4 GHz (24MB Cache, up to 4.8 GHz, 16 cores, 22 Threads); Intel® AI Boost NPU

Intel® Core™ Ultra 9 Processor 185H 2.3 GHz (24MB Cache, up to 5.1 GHz, 16 cores, 22 Threads); Intel® AI Boost NPU
Intel® Arc™ Graphics
 
Intel® AI Boost NPU
 
14.0-inch, 3K (2880 x 1800) OLED 16:10 aspect ratio, 0.2ms response time, 120Hz refresh rate, 400nits, 500nits HDR peak brightness, 100% DCI-P3 color gamut, 1,000,000:1, VESA CERTIFIED Display HDR True Black 500, 1.07 billion colors, PANTONE Validated, Glossy display, 70% less harmful blue light, Touch screen, (Screen-to-body ratio)91%, With stylus support
16GB LPDDR5X on board

32GB LPDDR5X on board
1TB M.2 NVMe™ PCIe® 4.0 SSD

2TB M.2 NVMe™ PCIe® 4.0 SSD

1x USB 3.2 Gen 1 Type-A
2x Thunderbolt™ 4 supports display / power delivery
1x HDMI 2.1 TMDS
1x 3.5mm Combo Audio Jack

Soft Keyboard
FHD camera with IR function to support Windows Hello

Smart Amp Technology
Built-in speaker
Built-in array microphone
harman/kardon (Premium)
with Cortana support

Wi-Fi 6E(802.11ax) (Dual band) 2*2 + Bluetooth® 5.3 Wireless Card (*Bluetooth® version may change with OS version different.)
 
75WHrs, 4S1P, 4-cell Li-ion
TYPE-C, 65W AC Adapter, Output: 20V DC, 3.25A, 65W, Input: 100-240V AC 50/60GHz universal
 
1.65 kg (3.64 lbs)
Weight of system: 1.35 kg
Weight of keyboard: 0.30 kg
31.35 x 21.79 x 1.46 ~ 1.99 cm (12.34″ x 8.58″ x 0.57″ ~ 0.78″)
MyASUS
ScreenXpert
System diagnosis
Battery health charging
Fan Profile
Splendid
Tru2Life
Function key lock
WiFi SmartConnect
Link to MyASUS
TaskFirst
Live update
ASUS OLED Care
AI Noise Canceling
Trusted Platform Module (TPM) 2.0
IR webcam with Windows Hello support
Stylus (ASUS Pen 2.0 SA203H-MPP2.0 support)
* Included accessories vary according to country and territory. Please check with your local ASUS retailer for details.

Microsoft Office Home & Student 2021

Hadir dengan sistem operasi Windows 11, ASUS Zenbook DUO (UX8406) juga merupakan laptop berfitur Copilot untuk dukungan AI. Copilot di Windows 11 melengkapi keahlian dan kreativitas Anda dengan bantuan kecerdasan serta jawaban relevan.

Selain itu, sudah dilengkapi Office Pre-Installed, agar Anda bisa nikmati semua manfaat dengan PC yang lengkap – PC sudah termasuk Office Home & Student 2021. Aplikasi Office versi lengkap (Word, Excel dan PowerPoint) memberikan semua fungsi yang dibutuhkan dan diharapkan oleh penggunanya.

Melampaui Batas

ASUS Zenbook DUO (UX8406) Bikin Produktivitas Makin Melesat

Jujur, dengan inovasi, performa, dan desain yang keren banget, aku makin kepincut dengan laptop ASUS Zenbook DUO (UX8406) ini. Membayangkan bekerja menggunakan laptop dual-screen tentu akan membuat kerja multitasking lebih nyaman dan efektif. Kerja di luar rumah bisa lebih leluasa tanpa repot menggotong monitor eksternal yang nggak mungkin dibawa bepergian.

Cukup membawa laptop laptop ASUS Zenbook DUO (UX8406) yang ringan, stylish, dan nggak memakan banyak space meskipun memiliki dua layar. Selain itu, saat bepergian bersama suami, kami nggak perlu repot membawa dua laptop karena laptop ASUS Zenbook DUO (UX8406) juga bisa digunakan suami untuk ngoding. The real dipakai berdua lebih asyik. Jadi, apapun multitasking-nya Let’s DUO It in saja!

Nah, kalau teman-teman juga tertarik dengan laptop ASUS Zenbook DUO (UX8406), bisa kunjungi webstore ASUS untuk pembeliannya, ya. Atau kalau mau beli offline juga bisa di mitra resmi ASUS yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Tenang saja, untuk harganya sebanding dengan performa yang ditawarkan kok. Mulai dari Rp33.999.000 saja sudah bisa merasakan sensasi laptop dua screen terbaik. Semoga tahun ini bisa upgrade laptop untuk mendukung kerja multitasking. Yuk, aminkan bareng, aamiin 

 

#ASUSZenbookDUO

Sumber & Referensi:

  • ASUS Indonesia. (2024). ASUS Zenbook Duo – Laptop Terbaik 2024. ASUS Indonesia. https://www.asus.com/id/laptops/for-home/zenbook/asus-zenbook-duo-2024-ux8406/

  • Cherry, K. (2023, March 1). The Cognitive and Productive Costs of Multitasking. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/multitasking-2795003

  • Jon Peddie Research. (2017, October 16). Jon Peddie Research: Multiple Displays can Increase Productivity by 42%. Jon Peddie Research. https://www.jonpeddie.com/news/jon-peddie-research-multiple-displays-can-increase-productivity-by-42/

  • Ningtyas, S. (2021, September 13). Apa itu Digital Nomad? Berikut 8 Tips untuk Jadi Digital Nomad! Niagahoster Blog. https://www.niagahoster.co.id/blog/digital-nomad-adalah/

  • Salomon, E. (2023). Measuring the Productivity Impact of Generative AI. NBER. https://www.nber.org/digest/20236/measuring-productivity-impact-generative-ai

  • Weissang, E. (2023, August). Work-Life Balance Statistics That Leaders Need to Know in 2023 | Runn. Www.runn.io. https://www.runn.io/blog/work-life-balance-statistics

  • Whedon, J. (2017). BrainyQuote.com. BrainyQuote.com. https://www.brainyquote.com/quotes/joss_whedon_551986

  • Olah gambar oleh Ella Fitria dari sumber gratis Freepik

Yuk Bantu Bagikan Tulisan Ini!

0 0 vote
Rating Artikel
Subscribe
Notifikasi
guest
5 Komentar
Terbaru
Terlama Paling Banyak Vote
Feedback Sebaris
Lihat semua komentar
Vivi
8 April 2024 05:56

Kalau ada yang kerja pake lebih dari satu layar, keknya pinter dan expert gitu lho…
Jadi teringat film-filn hacker hehe

Icha Marina Elliza
6 April 2024 14:10

Belum liat speknya laptop ASUS Zenbook DUO (UX8406)tapi saya udah kesengsem sama tampilannya.
Ya Allah nabung yuk kita biar cepat punya beginian.

Okti
6 April 2024 09:31

Haha,bener juga. Asus ZenBook Duo ini ibarat ibu rumah tangga ya, beberapa kata tapi mengerjakan banyak hal sampai tak terhingga

Mugniar
3 April 2024 19:31

Dengan ASUS Zenbook DUO (UX8406), menggunakan dual screen bisa di mana saja ya Ella, mengerjakan apapun jadi ringan dan lebih mudah.

Surya Adhi
1 April 2024 09:27

laptop baru dari ASUS ini bener-bener cocok buat kerja multitasking, apalagi speknya yang kueren poll, btw semoga harapan buat bisa upgrade pake laptop ini bisa terwujud ya mbak, amin 😀

Edit Content

VIRTUAL KEYBOARD

Edit Content

EASY-ACCESS TOOLS

Edit Content

VIRTUAL TOUCHPAD

Edit Content

EXPAND TO FULL-SCREEN

Edit Content

ASSIGN WINDOWS