Review Pengilon Edupark Temanggung: Singgah Saat Mudik yang Penuh Cerita

Pengilon Edupark

Table of Contents

Perjalanan ini sebenarnya sudah kami rencanakan jauh-jauh hari.

Sejak awal, aku, suami, dan dua toddler memang menyusun perjalanan mudik ke Kendal, Jawa Tengah dengan satu titik singgah. Bukan sekadar berhenti, tetapi tempat untuk istirahat sejenak dan menikmati suasana yang lebih tenang.

Pilihan kami jatuh ke Pengilon Edupark Temanggung.

Bukan keputusan dadakan. Kami memang sengaja memilih tempat ini sebagai “jeda” di tengah perjalanan panjang. Ekspektasi kami pun sederhana: tempat yang nyaman, anak-anak bisa bebas bermain, dan kami bisa benar-benar beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.

Lokasi Pengilon Edupark Temanggung

Perjalanan menuju Pengilon Edupark terasa makin sepi seiring kami melaju lebih dalam. Jalanannya nggak ramai, kanan kiri mulai didominasi pepohonan dan area terbuka. Sempat ada momen aku melirik suami, “ini bener nggak ya?”

Tapi begitu sampai, rasanya langsung berubah. Udara sejuk langsung terasa di kulit. Nggak ada suara kendaraan berseliweran, nggak ada bising khas kota. Cuma angin, langit yang terasa lebih dekat, dan pemandangan hijau yang bikin mata istirahat.

Secara lokasi, Pengilon Edupark memang berada agak masuk dari jalan utama, jadi wajar kalau suasananya lebih sepi. Namun, aksesnya masih cukup bersahabat. Memang ada beberapa bagian jalan yang lebih sempit dan harus pelan, tetapi motor dan mobil tetap bisa masuk tanpa masalah berarti.

Lokasi tepatnya ada di Dusun Sawah, Desa Pengilon, Kec. Bulu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Begitu sampai di lokasi, anak-anak langsung lari begitu saja. Bebas. Tanpa takut kendaraan, tanpa harus aku teriak “awas!” Aku duduk pelan. Melihat mereka bermain, tanpa distraksi, tanpa layar, tanpa suara bising.

Di momen itu aku sadar, ternyata yang aku butuhkan bukan tempat yang mewah. Cukup tempat yang memberi ruang untuk pelan.

Tawa Ceria di Kolam Renang yang Jernih

Sebenarnya, cerita di kolam ini dimulai bahkan sebelum kami benar-benar “check-in”.

kolam renang pengilon edupark

Kami datang lebih awal dari jam masuk. Saat mencoba mencari resepsionis, ternyata arahnya ke area cafe di Pengilon Edupark. Jadi, di sini memang satu area dengan cafe.

Aku sempat bertanya ke penjaga cafe-nya, apakah ada ruang tunggu, lobby, atau setidaknya kami bisa menunggu di dalam cafe?

Namun, jawabannya, cukup membuat bingung. Intinya, kami tidak bisa menunggu di cafe karena cafe baru buka jam 14.00 WIB dan penjaganya juga mau pergi. Cara penyampaiannya pun terasa kurang ramah dan terkesan “bodo amat”. Dan di situ aku sadar, memang tidak ada lobby atau ruang tunggu yang proper. Jadi, kami benar-benar harus menunggu seadanya.

Padahal sebenarnya, dengan sedikit penjelasan saja, situasinya bisa terasa jauh lebih nyaman, ya. Misalnya, Masnya bisa bilang dengan jelas bahwa tamu yang datang lebih awal bisa menunggu di area luar, di gazebo, atau bahkan dipersilakan menikmati kolam renang dulu sambil menunggu waktu check in.

Hal sederhana seperti itu mungkin terdengar sepele, tetapi buat tamu terutama yang datang dengan anak kecil itu sangat membantu. Minimal kami punya gambaran harus menunggu di mana dan bisa melakukan apa, tanpa merasa “dibiarkan” begitu saja.

Nggak lama setelah itu, datang satu keluarga lain membawa bayi. Dan ternyata mereka juga mengalami hal yang sama, ikut “ngemper”.

Untungnya, area kolam renang sudah bisa diakses. Di dekatnya ada gazebo sederhana, dan akhirnya kami memutuskan untuk menunggu di sana. Duduk seadanya, sambil menjaga anak-anak yang mulai nggak sabar.

Berenang di Pengilon Edupark

Dan seperti yang sudah bisa ditebak, anak-anak langsung minta berenang. Airnya jernih banget. Bahkan, aku sempat ragu, ini benar kolam renang atau bukan, karena hampir nggak ada bau kaporit.

Anak-anak langsung nyemplung. Ketawa. Main air. Ciprat sana-sini.

Dari yang tadinya agak rewel karena harus menunggu, langsung berubah jadi super happy. Aku duduk di pinggir kolam, memperhatikan mereka, sambil sedikit lega. Akhirnya nemu “penyelamat” di situasi tanpa ruang tunggu tadi.

Review Penginapan Pengilon Edupark

Setelah urusan menunggu yang cukup panjang, akhirnya kami bisa masuk ke area penginapan di Pengilon Edupark. Kesan pertama, bangunannya sederhana dan unik. Nggak yang mewah atau fancy, tetapi justru terasa menyatu dengan suasana sekitar yang alami.

Lingkungannya cukup tertata. Area sekitar terlihat rapi, dengan jarak antar bangunan yang masih terasa lega. Nggak sumpek, dan masih enak buat jalan santai sambil lihat anak-anak eksplor sekitar. Begitu masuk ke kamar, aku langsung cek satu per satu, kebiasaan kalau bawa anak, kan? Ehehehe

Ternyata fasilitasnya cukup lengkap: ada air mineral, teh dan kopi, teko listrik, handuk, sandal, dan TV. Menariknya, di kamar ini tidak ada AC maupun kipas angin. Namun, nggak jadi masalah, karena udara di sini sudah alami sejuknya. Bahkan, terasa lebih segar dibanding ruangan ber-AC, apalagi kalau malam hari, dinginnya benar-benar terasa. Cuma kalau siang, agak pengap dikit, sih.

anak - anak menonton TV

Untuk kamar mandi, ukurannya luas dan bersih. Hanya saja, kami sempat menemukan selang toilet yang sedikit bocor dan sabun mandi yang sulit dikeluarkan dari botol yang menempel di dinding. Memang bukan masalah besar, tetapi kalau dibenahi, pengalaman menginap di sini bakal sempurna.

Cafe Pengilon Edupark

Karena kami datang di bulan Ramadan, cafe di area penginapan jadi bagian penting dari pengalaman kami. Kami buka puasa di sana. Tempatnya sederhana, tetapi cukup nyaman. Nggak terlalu ramai, dan suasananya cenderung tenang cocok untuk berbuka tanpa distraksi.

Cafe Pengilon Edupark

Untuk pelayanan dan harga cafe-nya oke banget. Mas-masnya semua ramah, bisa request menu khusus untuk anak-anak. Meskipun sempat ada miss komunikasi sehingga pesanan saya lama sekali datangnya. Harganya terjangkauuuu pula.

Malam & Realita di Baliknya

Sejujurnya, aku pikir malam akan jadi bagian paling tenang. Sampai suara itu datang.

“cit… cit…”
“gludug… gludug…”

Aku langsung membuka mata. Suami juga. Kami saling pandang, dan tanpa perlu banyak kata, kami tahu.

Tikus.

Suaranya jelas. Dari atap, dari samping bangunan. Dan karena suasana begitu sunyi, semuanya terdengar lebih keras. Anakku pun terbangun.

Pagi harinya, rasa penasaran itu terjawab. Aku lihat ke samping kamar dan menemukan tumpukan sampah cukup banyak. Padahal, tempat ini sudah punya suasana yang begitu nyaman. Sayang sekali, hal seperti ini cukup mengganggu pengalaman menginap kami.

Harga 200 Ribuan, Worth It Nggak?

Waktu itu kami dapat kamar di kisaran 200 ribuan per malam. Jujur, di harga segitu aku nggak berharap banyak. Namun, setelah merasakan langsung suasana yang adem, kolam renang yang jernih, dan kamar yang bersih, tentu saja ini sangat worth it.

Apalagi, kalau tujuannya memang untuk singgah sebentar di perjalanan panjang. Tempatnya bisa kasih jeda yang cukup berarti, terutama buat keluarga kecil seperti kami.

Cafe Pengilon Edupark dari atas

Penutup: Ingin Kembali, dengan Harapan Lebih Baik

Awalnya, kami datang ke sini hanya sebagai bagian dari perjalanan mudik. Sekadar berhenti sebentar, melepas lelah, dan memberi ruang untuk bernapas di tengah perjalanan panjang. Ternyata, kami pulang membawa lebih dari itu.

Ada tawa anak-anak di kolam yang masih teringat jelas. Ada momen duduk diam, melihat mereka bermain, tanpa terburu-buru. Ada rasa tenang yang pelan-pelan hadir, meski hanya sebentar.

Memang, tidak semua berjalan sempurna. Ada hal-hal kecil yang cukup mengganggu kenyamanan. Namun, semua itu tidak sepenuhnya menghapus kesan yang kami rasakan di tempat ini.

Justru yang tersisa adalah perasaan hangat dan sedikit rindu. Dan mungkin itu alasannya, suatu hari nanti, kami ingin kembali ke Pengilon Edupark. Bukan untuk mencari yang sempurna, tetapi untuk menemukan lagi rasa tenang yang pernah kami rasakan di sana.

Yuk Baca Lainnya!

Yuk Bantu Bagikan Tulisan Ini!

0 0 vote
Rating Artikel
guest
0 Komentar
Terbaru
Terlama Paling Banyak Vote