Perjalanan Hanzalah Menghidupkan Harapan di Bukit Lawang

Table of Contents

“Meski sudah berbulan-bulan tidak ada kunjungan wisatawan, tetapi sampah tetap saja menumpuk” Kata Hanzalah pelan.

Pandemi Covid-19 telah membuat jalanan di Bukit Lawang menjadi sepi. Beberapa penginapan terlihat lengang, padahal biasanya dipenuhi oleh para wisatawan. Suara riang dan langkah pelancong yang dulu terdengar riuh di tepian sungai, sekarang berganti dengan sunyi. Suasana terasa hening, bahkan hanya menyisakan desir angin dan daun yang bergesekan di alam rimba.

Di balik kesunyian yang asri itu, Sungai Bohorok terus membawa sisa-sisa aktivitas manusia. Mulai dari sampah plastik yang tersangkut di batu, botol-botol yang hanyut, hingga kemasan makanan yang terselip di sela akar pepohonan. Meskipun alam perlahan pulih di masa pandemi, tetapi manusia masih meninggalkan jejak abadi. Melihat hal itu, Hanzalah tidak bisa berdiam diri.

***

Hanzalah Rangkuti merupakan pemuda asli Bukit Lawang yang berprofesi sebagai pemandu wisata. Dia lahir dan besar di kaki Taman Nasional Gunung Leuser. Tempat di mana hutan dan sungai menjadi sumber kehidupan. Karena itu, di Bukit Lawang keindahan dan duka seakan berjalan berdampingan.

“Bukit Lawang terkenal dengan orangutan dan keasriannya. Jika kita tidak menjaga kebersihan dan lingkungan, apa yang akan dilihat wisatawan selain tumpukan sampah?” Kata Hanzalah.

Pernah suatu kali, Hanzalah melihat seekor orangutan yang sedang memungut plastik, kemudian orangutan tersebut mencoba untuk memakannya.

Orangutan sedang memungut plastik dan mencoba untuk memakannya
Orangutan dan anaknya sedang memungut plastik dan mencoba untuk memakannya (Dokumentasi: Hanzalah)

“Momen itu tidak pernah terlupakan. Jika tidak dijaga, dua atau tiga tahun lagi mungkin saja mereka bisa mati karena sampah manusia.” Tutur Hanzalah dengan nada pelan.

Dari peristiwa tersebut, kesadarannya makin tumbuh. Saat ini, menjaga Bukit Lawang bukan lagi sebuah pilihan, melainkan tanggung jawab yang harus dipikul bersama.

Ironi Di Balik Keindahan Hutan Tropis

Bukit Lawang terletak di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, berjarak sekitar 80 km dari Kota Medan. Para wisatawan lokal maupun mancanegara datang ke Bukit Lawang untuk melihat orangutan Sumatera di habitat aslinya. Satwa ini termasuk hewan langka yang populasinya kini diperkirakan hanya sekitar 14 ribu ekor di seluruh hutan tropis Sumatera.

Letak dan jarak Bukit Lawang dari Kota Medan (Dokumentasi: Google Map)

Hutan tropis yang rimbun, udara sejuk, dan air jernih Sungai Bohorok membuat kawasan wisata ini menjadi favorit para wisatawan. Namun, dibalik keindahan itu, ada masalah sampah yang belum selesai.

Sudah bertahun-tahun, kawasan wisata Bukit Lawang belum memiliki tempat pembuangan akhir yang layak. Sampah rumah tangga biasanya dikelola seadanya. Sebagian dari sampah tersebut dibakar, sebagian yang lain ada yang hanyut bersama dengan aliran sungai. Bagi beberapa warga, hal itu adalah pemandangan yang sudah biasa terjadi di sana.

“Selama ini orang buang sampah di halaman kemudian dibakar atau ada juga sampah yang dibuang ke sungai. Tidak ada TPA yang tersedia.” Kata Hanzalah.

Titik Balik Pandemi Menuju Alam Lestari

Pandemi Covid-19 menjadi titik balik dan menjadi momen penting untuk Bukit Lawang. Ketika itu, pandemi yang datang tanpa aba-aba memukul habis sektor pariwisata. Padahal, sekitar 70% warga Bukit Lawang menggantungkan hidup di sektor wisata. Ada yang menjadi pemandu, pemilik penginapan, atau pedagang kecil. Ketika aktivitas pariwisata terhenti, otomatis ekonomi di Bukit Lawang ikut lumpuh.

“Saat itu, tidak ada tamu sama sekali. Tetapi saya heran dengan sampah yang masih berdatangan.” Kenang Hanzalah.

Kebingungan itu membuatnya sadar. Jika tanpa wisatawan pun sampah masih menumpuk, bisa jadi sumber masalahnya juga datang dari warga lokal. Hal ini yang mendasari Hanzalah bergerak melakukan aksi bersih-bersih bersama beberapa temannya setiap seminggu sekali.

Meskipun berawal dari ide kecil yang sering dianggap sepele, aksi bersih ini mulai tumbuh menjadi gerakan yang sangat berarti. Bahkan, langkah ini melahirkan ide besar pembuatan bank sampah. Gagasan ini tidak hanya akan menyelamatkan alam, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Terlebih, saat itu Bukit Lawang memang belum memiliki lahan pembuangan sampah yang terpusat. Sampah dikelola oleh rumah tangga seadanya. Nah, dengan adanya bank sampah, masyarakat bisa menyulap sampah-sampah ini menjadi lebih bernilai karena bisa menghasilkan nilai ekonomi.

Tabungan dari Sampah yang Terkumpul Menjadi Rupiah

Pandemi tidak hanya memberi waktu bagi alam untuk pulih kembali, tetapi juga melahirkan ide brilian bernama Sumatera Trash Bank. Sebuah bank yang menyulap sampah menjadi tabungan bernilai ekonomi. Setiap nasabah dapat mengumpulkan sampah plastik, botol, atau logam bekas. Nantinya sampah ini akan disortir, ditimbang, dicatat, dan dihargai sesuai jenisnya. Plastik dan botol dihargai sekitar Rp1.000 hingga Rp5.000 per kilogram, sedangkan aluminium atau logam lainnya bisa mencapai Rp15.000.

Proses pemilahan dan pencacahan di Sumatera Trash Bank (Dokumentasi: @sumatera_trashbank)

Saat ini, Sumatera Trash Bank sudah memiliki nasabah aktif sekitar 400 orang yang tersebar di tiga desa. Pengelolaan bank sampah ini dilakukan oleh 4 pengurus dan 8 pekerja. Setiap harinya mereka menjemput sampah dari rumah ke rumah serta terus mengedukasi masyarakat supaya terbiasa memilah sampah sejak dari dapur.

Dari hasil pengumpulan sampah ini, Sumatera Trash Bank dapat mengelola sekitar 12-15 ton sampah sortiran setiap tahun. Sementara itu, sekitar 30 ton sampah campuran lainnya belum bisa dikelola karena masih banyak warga yang belum memilah sampah dari rumah.

Masalah ini makin pelik karena sampai sekarang masih banyak masyarakat yang membuang sampah di lahan kosong dekat area Sumatera Trash Bank. Mereka mengira pekerja Sumatera Trash Bank yang akan menyortir sampah-sampah yang dibuang ke lahan kosong tersebut. Padahal, Sumatera Trash Bank bukan tempat pembuangan akhir yang memiliki sistem untuk menampung dan mengolah seluruh sampah yang masuk.

“Awalnya, kami ingin Bukit Lawang bersih. Ternyata kalau tidak dibarengi dengan edukasi, masyarakat malah membuang sampah begitu saja ke lahan kosong dekat bank sampah.” Tegas Hanzalah.

Hanzalah dan tim Sumatera Trash Bank masih terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat di Bukti Lawang untuk memilah sampah dari rumah. Bukan malah menganggap adanya Sumatera Trash Bank dijadikan sebagai tempat pembuangan akhir.

Timbunan sampah di area pembuangan Sumatera Trash Bank (Dokumentasi: Hanzalah)

Pengelola Sumatera Trash Bank setidaknya menghabiskan hampir 30 juta rupiah untuk merapikan area pembuangan di belakang bank sampah. Biaya ini termasuk menyewa excavator supaya timbunan sampah tidak menimbulkan bau dan banjir saat hujan.

Berkat edukasi dan sosialisasi yang konsisten, masyarakat mulai terbuka dan sadar terhadap sistem baru ini. Anak-anak sekolah pun ikut berpartisipasi lewat bank sampah unit di sekolah masing-masing. Mereka belajar memilah, menimbang, mencatat, dan kemudian menjual hasilnya.

Edukasi dan sosialisasi tentang memilah sampah bersama anak sekolah (Dokumentasi: @sumatera_trashbank)

“Kalau anak-anak sudah terbiasa memilah sampah, ketika besar nanti mereka tidak akan buang sampang sembarangan.” Ujar Hanzalah tersenyum.

Sampah yang telah dipilah akan dimanfaatkan sesuai kualitasnya. Misalnya, plastik-plastik kualitas biasa akan dibuat menjadi ecobrick atau dijual ke perusahaan untuk diolah kembali. Sementara itu, plastik yang memiliki kualitas HDPE atau PET akan diolah menjadi berbagai produk kerajinan seperti pot bunga, sisir, carabiner, tatakan gelas, hingga tempat sabun.

Produk kerajinan hasil olahan sampah plastik (Dokumentasi: @sumatera_trashbank)

Produk-produk hasil kerajinan ini dijual ke wisatawan asing asal Eropa dan Asia yang berkunjung ke Bukit Lawang. Hal ini karena minat wisatawan lokal terhadap hasil kerajinan bank sampah cenderung masih rendah.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga turut mendukung gerakan ini dengan memberikan bantuan berupa mesin pencacah dan becak sampah. Meskipun begitu, biaya operasional sepenuhnya masih bergantung pada kerja keras pengurus Sumatera Trash Bank.

Untuk menjaga semangat pekerja Sumatera Trash Bank, Hanzalah memberikan bonus tambahan bila pekerja berhasil mengumpulkan sampah 200 kg/bulan. Selain itu, Hanzalah juga memastikan seluruh pekerja Sumatera Trash Bank telah mendapat vaksin, mengingat setiap hari mereka berhadapan langsung dengan sampah dan bekerja penuh waktu dari pukul 08.00-16.00 WIB.

“Jadi, selain gaji bulanan, pekerja Sumatera Trash Bank akan mendapatkan bonus setiap berhasil mengumpulkan sampah sesuai target. Biar semangatnya tidak padam.” Katanya.

Gerakan Kecil, Berdampak Besar

Kini, Bukit Lawang mulai bangkit kembali. Menurut data Dinas Pariwisata Langkat tahun 2024 tercatat bahwa kunjungan wisata pada tahun tersebut mencapai 208.400 orang. Data ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan masa pandemi yang membuat kawasan Bukit Lawang sempat sepi.

Dampak perubahan dari gerakan Sumatera Trash Bank juga kian terasa. Saat ini warga sudah mulai terbiasa mengumpulkan dan memilah sampah di rumah. Mereka tidak lagi membakar atau membuang sampah di sungai. Aksi bersih setiap pekan juga masih berjalan. Bahkan, kini di setiap dusun, anak-anak sudah hafal warna-warna untuk kantong sampah.

Pembagian hasil tabungan bank sampah kepada nasabah
Pembagian hasil tabungan bank sampah kepada nasabah (Dokumentasi: @sumatera_trashbank)

Ada sekitar 65% nasabah aktif merasa terbantu secara ekonomi. Uang hasil dari tabungan sampah cukup untuk membeli kebutuhan kecil seperti sabun atau keperluan sembako. Selain nasabah, manfaat juga dirasakan oleh pekerja di Sumatera Trash Bank. Salah satunya adalah Kasiati yang bergabung sejak 2023.

Kasiati membagikan ceritanya menjadi bagian dari Sumatera Trash Bank (Dokumentasi DAAI Magazine)

“Saya bekerja di sini dari tahun 2023. Sekarang sudah bisa beli apa saja yang saya mau tanpa minta suami. Bisa beli sendiri karena sudah berpenghasilan sendiri.” Ujarnya sambil tersenyum. “Dulu saya tidak tahu mana sampah yang bisa didaur ulang, kalau sekarang sudah bisa membedakan. Jadi bangga kerja di sini.”

Selain itu, ada juga Kevin yang merupakan staf muda bagian produksi. Dia turut membagikan harapan untuk masa depan Sumatera Trash Bank.

“Saya bagian yang bikin daur ulang dari tutup botol. Harapannya kalau bisa makin banyak orderan, supaya produk kami juga makin dikenal.” Kata Kevin penuh harap.

Bagi Hanzalah, semua gerakan dan usaha ini bukan hanya tentang sampah, tetapi tentang rasa memiliki dan peduli terhadap kampung halaman.

“Saya ingin Bukit Lawang dikenal bukan cuma karena orangutan saja, tetapi juga karena warganya sadar akan lingkungan.” Kata Hanzalah.

Selain membawa manfaat bagi warga dan pariwisata, kesadaran lingkungan ini juga berdampak pada keberlangsungan hidup ratusan orangutan. Bukit Lawang menjadi rumah bagi sekitar 150 hingga 200 orangutan rehabilitasi dari Taman Nasional Gunung Leuser.

Setiap kali Hanzalah melihat orangutan bergelantungan di atas pohon, dia seperti diingatkan bahwa alam tidak pernah berhenti berjuang. Kesadaran ini yang membuatnya bertahan meski terkadang rasa lelah datang menghampiri.

“Terkadang saya merasa capek karena sampah terus menerus datang. Kalau saya berhenti, besok lebih banyak lagi sampah yang hanyut.” Ujarnya mengenang.

Satukan Gerak, Terus Berdampak

Ada satu momen yang melekat dalam ingatan Hazalah saat namanya diumumkan sebagai penerima SATU Indonesia Awards. Di panggung itu, Hanzalah membawa harum nama kampung, sungai, dan seluruh pekerja Sumatera Trash Bank yang selama ini membantu memungut sampah-sampah. Bagi Hanzalah, penghargaan ini menjadi titik awal bahwa perjuangannya dilihat, didengar, dan perlu digaungkan supaya makin banyak yang tergerak.

Hanzalah Rangkuti menerima penghargaan SATU Indonesia Awards 2025 (Dokumentasi: @sumatera_trashbank)

Setelah menerima penghargaan SATU Indonesia Awards, langkah Hanzalah dan kawan-kawan makin mantap. Penghargaan itu menjadi motivasi mereka untuk terus berjuang dan memperluas gerakan. “Kami ingin setiap desa punya bank sampah sendiri.” Kata Hanzalah penuh harap.

Tahun depan, Hanzalah berencana memperluas gerakan dengan membentuk unit bank sampah di setiap desa di Kecamatan Bahorok. Di kecamatan ini, terdapat 23 desa yang semuanya akan diajak bergabung dalam sistem pengelolaan sampah terpadu. Nantinya, Sumatera Trash Bank berperan sebagai bank induk yang membina dan menampung hasil pengumpulan dari bank sampah unit desa.

Di setiap desa sudah ada badan usaha desa dan koperasi Merah Putih yang nantinya bisa menjadi mitra strategis dalam pengelolaan operasional. Melalui sinergi antar desa dan badan usaha ini, Hanzalah berharap gerakan dan pengelolaan sampah dapat berjalan dengan lancar, teratur, berkelanjutan, dan memberikan dampak ekonomi langsung pada masyarakat.

Selain itu, dampak dari gerakan ini juga mulai menjalar ke generasi muda di Bukit Lawang. Banyak dari anak muda mulai tergugah untuk ikut serta menjadi penggerak lingkungan. Saat ini, mereka tidak hanya menjadi pemandu wisata saja, mereka turut turun ke sungai, membersihkan sampah, hingga membuat konten edukatif yang mereka bagikan ke media sosial untuk menebar pesan cinta alam.

Mahasiswa KKN dan pemuda ikut turun ke sungai membersihkan sampah (Dokumentasi: @sumatera_trashbank)

Dukungan juga datang dari berbagai arah, termasuk dari wisatawan mancanegara yang pernah berkunjung. Mulai dari wisatawan yang melakukan fundraising secara sukarela dan mengirimkan hasilnya untuk membantu operasional, hingga CSR luar negeri yang memberikan dana hibah.

Satu gerakan kecil ini kini menjalar ke seluruh elemen dan lapisan masyarakat. Dari satu tangan ke banyak tangan lainnya. Memberikan dampak ke pengurus bank sampah, ibu rumah tangga, hingga anak muda. Semuanya menjadi bagian dari rantai semangat perubahan.

Semangat yang sejalan dengan filosofi “Satukan Gerak, Terus Berdampak”. Bahwa perubahan tidak selalu dari hal besar, tetapi perubahan tumbuh dari hal kecil, dari sebuah desa, dari tangan sederhana, dan dari niat tulus untuk menjaga bumi.

***

Sumber:

  • Wawancara eksklusif bersama Hanzalah (pendiri Sumatera Trash Bank, Bukit Lawang, Langkat, Sumatera Utara, 2025)
  • Dinas Pariwisata Langkat (2024)
  • https://www.instagram.com/sumatera_trashbank/
  • https://www.youtube.com/watch?v=RZS8fmEmH4g
  • SATU Indonesia Awards Astra

Yuk Baca Lainnya!

Yuk Bantu Bagikan Tulisan Ini!

0 0 vote
Rating Artikel
guest
7 Komentar
Terbaru
Terlama Paling Banyak Vote
Feedback Sebaris
Lihat semua komentar
Riana Dewie
25 November 2025 11:28

Aaaaa… sedih banget pas ada orangutan ambil plastik dan memakannya. Disini jadinya ada dua hal yang mengundang perhatian, yaitu lahan orangutan yang tergeser karena aktivitas bisnis manusia sehingga cari makan pun susah. Dan Kedua, mslh sampah yang merata di beberapa daerah. Tapi, langsung happy saat ada solusi olahan sampah jadi sovenir cantik.

Mugniar
23 November 2025 04:42

Apa saja yang diuangkan selalu menarik perhatian untuk dilakukan. Ide mengadakan Sumatera Trash Bank ini tepat, sesuai dengan kebutuhan akan uang. Semoga semakin berkembang dan menghasilkan perbaikan alam yang lestari.

Icha Marina Elliza
22 November 2025 18:37

MasyaAllah keren Hanzalah . pemuda setempat yang bergerak karena kepedulian terhadap lingkungan dan alam.
Semoga gerakan ini bisa ditiru oleh tempat wisata lain agar lingkungannya tetap terjaga.

Vivi
22 November 2025 17:57

MasyaAllah, ceritanya indah banget! 🌿✨
Perjalanan Hanzalah di Bukit Lawang ini berasa bukan cuma jalan-jalan, tapi juga perjalanan hati. Banyak nilai yang bisa dipetik—tentang harapan, ketulusan, dan bagaimana setiap tempat bisa mengajarkan sesuatu.

Bagian refleksinya juga bikin adem… kayak diajak ikut duduk di tepi sungai sambil merenung bareng. 😌💚
Bacanya bener-bener bikin rindu udara segar dan suasana hening yang cuma alam yang bisa kasih.

Terima kasih sudah berbagi kisah penuh makna ini. 🌿🤍

Okti
20 November 2025 14:51

Sosok Hanzalah sangat menginspirasi. Semoga muncul Hanzalah lainnya yang begitu peduli akan keberadaan sampah yang memang sangat meresahkan ini

mutia
20 November 2025 11:27

Produk kerajinan dari tutup botol itu lucu-lucu banget, dan justru sayangnya wisatawan lokal masih kurang minat, ya. Tapi memang perubahan pola pikir itu pelan-pelan sih mbak. Selamat untuk Hanzalah dapat SATU Indonesia Awards. gerakan kecil, kalau konsisten, bisa dilihat sampai nasional. keren.

Rudi Chandra
18 November 2025 14:36

Keren dan menginspirasi kisahnya, semoga kita semakin sadar dengan sampah yang kita produksi dan bisa memanfaatkan sampah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.