Gejala Mata

SePeLe

yang Hampir Merusak Momen Berharga

23 Agustus 2026 | by Ella Fitria

Ada momen yang paling ditunggu dalam hidup seorang ibu. Bagiku, momen itu adalah hari pertama anak sulungku masuk PAUD. Hampir empat tahun kami menjalani 24 jam bersama hingga akhirnya tiba saatnya dia memulai petualangan barunya.

Tentu saja beberapa hari sebelumnya, aku sibuk memastikan semua kebutuhannya sudah siap. Seragam, sepatu, tas, bekal, hingga name tag sudah masuk checklist. Aku juga memastikan baterai ponselku terisi penuh dan mengosongkan ruang penyimpanannya. Hal ini karena aku berniat mengabadikan setiap detik momen yang sudah lama kami nantikan.

Sayangnya, di tengah persiapan itu, aku lupa memperhatikan kondisi mataku. Padahal, sebelum kamera mengabadikan sebuah kenangan, ada mata yang lebih dulu menyaksikan momen itu, kan?

Aku baru menyadari kondisi mataku saat ustadzah mengajak seluruh orang tua keluar kelas. Perasaanku mulai bercampur aduk. Ada rasa berat dan ragu meninggalkan anakku di dalam kelas, terlebih ketika bola mata kami beradu saling tatap. Ternyata, begini ya rasanya melepas langkah kecilnya untuk mulai mengenal dunia barunya. Aku terus berusaha menenangkan diri sambil meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Di tengah momen haru itu, rasanya mataku makin terasa perih, sepet, dan tidak nyaman. Aku mencoba berkedip berulang kali dan berharap rasa tidak nyaman itu segera hilang. Alih-alih larut menikmati momen yang sudah lama kami nantikan, perhatianku justru terbagi. Sedih sekali rasanya.

Begitu semuanya berlalu, aku menyadari ternyata gejala mata kering yang tampaknya sepele bisa merusak momen yang tidak akan pernah terulang dalam perjalanan kami sebagai ibu dan anak.

Saat mengingat kembali beberapa hari sebelumnya, ketidaknyamanan pada mataku sebenarnya bukan muncul tiba-tiba di hari pertama anak masuk sekolah. Ada tanda-tanda yang sudah terasa lebih dulu, tetapi aku sepelekan.

Mata Kering
dan Lapisan Pelindung yang Terganggu

Setelah rasa sepet itu terus muncul, aku mulai penasaran. Sebenarnya, apa yang terjadi pada mata ketika terasa kering?

Selama ini aku membayangkan mata kering sesederhana tubuh yang kekurangan air. Jadi, tinggal minum air putih dan semuanya akan beres. Namun, ternyata tidak begitu. Mata memiliki lapisan pelindung yang terus bekerja setiap kali kita berkedip. Lapisan air mata ini yang membantu permukaan mata tetap lembap, licin, dan nyaman.

Ternyata kalau diingat-ingat, gejala mata kering yang aku alami disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya saat terlalu fokus mengejar deadline, aku sering lupa memberi jeda pada mata hingga tanpa sadar jarang berkedip. Hal ini diperparah juga setelah laptop ditutup, mataku masih harus berpindah ke layar smartphone.

Padahal, berkedip bukan sekadar gerakan otomatis. Setiap kedipan membantu meratakan kembali lapisan air mata di permukaan mata. Ketika kita terlalu fokus menatap layar, tanpa sadar kedipan bisa berkurang, lho. Akhirnya, permukaan mata lebih lama terpapar udara dan air mata lebih mudah menguap.

Di titik ini aku mulai memahami satu hal, mata kering bukan selalu karena air mata tidak ada, tetapi bisa jadi karena perlindungannya tidak bertahan cukup lama.

Ketika air mata lebih cepat menguap, permukaan mata kehilangan kelembapannya. Konsentrasi berbagai zat yang terkandung dalam air mata pun berubah. Nah, kondisi ini bisa membuat permukaan mata mengalami tekanan dan memicu respons peradangan.

Permukaan mata yang terganggu membuat lapisan air mata makin tidak stabil yang bisa memicu mata makin mudah kering dan lebih mudah mengalami iritasi. Mata kering sama halnya dengan tanaman yang kekurangan air terus menerus. Awalnya mungkin hanya terlihat layu, tetapi jika dibiarkan, kondisinya bisa makin memburuk. Begitu pun dengan permukaan mata, kalau tidak mendapatkan kelembapan yang cukup, mata bisa lebih mudah terasa sepet, perih, dan tidak nyaman.

Ketika lapisan pelindung mata terganggu, muncul sensasi seperti ada pasir atau sesuatu yang mengganjal. Mata juga bisa terasa perih, panas, berat, dan cepat lelah. Lapisan air mata yang tidak stabil juga dapat membuat penglihatan terasa kurang nyaman bahkan kadang bisa membuat buram.

Yang lebih mengejutkan, mata kering tidak selalu membuat mata kering dari luar. Ketika permukaan mata mengalami iritasi, tubuh dapat merespons dengan mengeluarkan air mata lebih banyak. Jadi, mata yang berair pun belum tentu berarti permukaan matanya dalam kondisi baik.

Apa yang Sebenarnya
Terjadi pada Mataku?

Aku merasa menyesal karena sebelumnya menganggap gejala yang aku alami “hanya mata sepet”, ternyata terlalu menyederhanakan masalah. Terlebih, ketika gejala itu mulai mengganggu aktivitas. Membaca artikel yang sedang kukerjakan menjadi kurang nyaman, menatap layar terasa lebih melelahkan, bahkan pada hari yang seharusnya menjadi salah satu momen paling berkesan sebagai seorang ibu, aku harus membagi perhatian antara rasa haru melihat anakku mulai mandiri dan rasa tidak nyaman pada mata.

Lambat laun, dampak mata kering yang berlangsung berulang bisa merembet ke cara kita bekerja, membaca, menggunakan perangkat digital, berkendara, bahkan menikmati momen sederhana bersama orang-orang yang kita sayangi.

Hal ini menjadi alasan mengapa gejala mata sepet, perih, dan cepat lelah tidak seharusnya dianggap sebagai keluhan kecil. Memang bukan berarti setiap mata sepet merupakan mata kering. Namun, ketika gejala muncul berulang atau mulai mengganggu aktivitas, bisa menjadi tanda bahwa mata perlu diperhatikan.

Persentase Orang Mengalami Mata Kering

0%

Hal ini sejalan dengan meta-analisis global terbaru yang menggabungkan 119 penelitian dengan lebih dari 15,2 juta peserta dengan perkiraan sekitar 34,6% orang mengalami mata kering. Sederhananya, angkanya mendekati satu dari tiga orang. Banyak juga, ya?

Aku juga menemukan data dari 10 penelitian yang melibatkan 2.365 pengguna perangkat digital. Hasilnya menunjukkan bahwa menatap layar lebih dari 4–5 jam sehari memiliki keterkaitan dengan meningkatnya gejala digital eye strain. Makin relate dengan kondisiku karena setiap hari harus menatap layar laptop 8-10 jam.

Penyebab yang Selama Ini
Sering Terlewat

Bagiku, setiap hari memang terasa sangat padat. Pekerjaan sebagai administrator leader secara remote membuatku hampir selalu berada di depan layar. Final check artikel, meeting online, assign task ke member hingga memastikan task berjalan sesuai timeline. Selain itu, aku juga aktif menulis artikel di blog pribadi dan mengedit video untuk akun Instagramku.

Bekerja sebagai administrator leader secara remote di depan laptop 8+ jam sehari dan selalu sedia Insto Dry Eyes
Bekerja sebagai administrator leader secara remote di depan laptop 8+ jam sehari dan selalu sedia Insto Dry Eyes

Di sela-sela itu, aku tetap menjalankan peran sebagai ibu yang sedang mendampingi anak beradaptasi dengan hari-hari pertamanya di PAUD. Belum lagi saat ini daerah tempat tinggalku sedang dilanda kekeringan. Air bersih sulit didapat sehingga aku harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan kebutuhan rumah sebelum mandi di rumah orang tuaku.

Hari-hariku pun dimulai lebih awal, sementara malam hari sering berakhir lebih larut karena pekerjaan belum selesai dan pikiranku masih dipenuhi proses adaptasi anak di sekolah. Mengingat, pada minggu pertama, anakku sempat mengalami separation anxiety atau kecemasan saat harus berpisah denganku.

Minggu pertama menjadi masa bagi si kecil untuk beradaptasi, terutama saat harus berpisah dari orang tua dan mulai belajar mandiri di sekolah.
Minggu pertama menjadi masa bagi si kecil untuk beradaptasi, terutama saat harus berpisah dari orang tua dan mulai belajar mandiri di sekolah.

Setiap pagi, ada saja air mata si kecil yang membuatku diliputi rasa khawatir. Aku terus bertanya-tanya, apakah anakku memang belum siap masuk PAUD atau justru ini merupakan proses yang wajar setelah hampir empat tahun kami selalu bersama setiap hari.

Kini ketika mengingat semuanya, aku baru memahami bahwa penyebab mata keringku bukan hanya satu. Waktu menatap layar yang lama, kebiasaan lupa berkedip, paparan AC, terpaan angin saat berkendara, kurangnya waktu istirahat, hingga beban fisik dan emosional selama masa adaptasi anak, semuanya saling bertemu. Gejala mata sepet, perih, dan cepat lelah yang semula kuanggap sepele ternyata merupakan tanda bahwa mataku membutuhkan perhatian.

Nah, sebelum mencari cara mengatasinya, aku ingin memahami apa yang sebenarnya terjadi saat mata terasa kering. Ternyata, air mata bukan sekadar cairan saat menangis, tetapi berperan menjaga mata tetap lembap dan terlindungi. Menariknya, air mata terdiri dari tiga lapisan, yaitu lapisan minyak, lapisan air, dan lapisan mukus.

lapisan minyak
(mencegah penguapan)

lapisan air
(memberi nutrisi)

lapisan mukus
(membantu air mata
menempel di
permukaan mata)

Kalau salah satu lapisan terganggu, mata kita akan terasa kering. Karena itu, aku mulai berusaha untuk menerapkan pola sederhana demi menjaga kesahan mata.

Hal-Hal yang Kini Selalu Kuusahakan untuk
Menjaga Kenyamanan Mata

Pengalaman itu mengajarkanku bahwa menjaga kesehatan mata tidak bisa menunggu sampai gejalanya muncul. Berikut ada beberapa kebiasaan sederhana yang selalu kuusahakan agar mata tetap nyaman di tengah rutinitas sebagai ibu sekaligus pekerja digital.

Terapkan Metode 20-20-20

Memberi waktu istirahat untuk mata. Hal wajib saat bekerja di depan laptop, aku menerapkan aturan 20-20-20, yaitu setiap 20 menit mengalihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar 6 meter selama 20 detik. Kebiasaan sederhana ini membantuku mengurangi ketegangan akibat menatap layar terlalu lama.

Sering Berkendip

Lebih sadar untuk berkedip. Menurut laporan TFOS DEWS II, penggunaan perangkat digital dapat menurunkan frekuensi berkedip sehingga air mata lebih cepat menguap dan mata lebih mudah terasa kering. Faktanya, saat menatap layar, kita cenderung berkedip lebih sedikit dan sering kali tidak menutup kelopak mata dengan sempurna. Akhirnya, lapisan air mata yang seharusnya melindungi permukaan mata menjadi lebih cepat menguap.

Tetap Terhidrasi

Menjaga tubuh tetap terhidrasi. Sekarang aku lebih disiplin minum air putih karena kesehatan mata juga dipengaruhi oleh kondisi tubuh secara keseluruhan.

Hindari Paparan Angin

Melindungi mata dari paparan angin dan udara kering. Rutinitas mengantar-jemput anak dengan motor membuat mataku sering terpapar angin. Karena itu, aku menggunakan kacamata saat berkendara dan menghindari hembusan AC yang langsung mengenai wajah. Lingkungan yang berangin atau kelembapan rendah dapat mempercepat penguapan air mata.

Jangan Anggap SePeLe

#MataSePeLeJanganSepelein, mungkin ini pelajaran terpenting yang kudapat. Dulu, aku menganggap mata sepet, perih, dan cepat lelah hanya tanda kelelahan biasa. Kini, aku memilih mendengarkan sinyal yang diberikan tubuh agar gejala tidak makin mengganggu aktivitas.

Kebiasaan-kebiasaan itu memang sederhana. Namun, justru dari perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten, aku belajar bahwa menjaga kenyamanan mata berarti menjaga kualitas setiap momen bersama keluarga.

Menemukan Insto Dry Eyes di
Tengah Rutinitasku

Meski sudah berusaha mengubah berbagai kebiasaan, ada hari-hari ketika gejala mata kering tetap muncul. Di momen seperti itu, mata kembali terasa sepet, perih, dan cepat lelah.

Aku pun mulai mencari tetes mata yang memang diformulasikan untuk membantu meredakan gejala mata kering, bukan sekadar digunakan ketika mata terasa lelah. Dari berbagai informasi yang kubaca, aku menjatuhkan pilihan ke #InstoDryEyes.

Pakai Insto Dry Eyes untuk membantu meredakan gejala mata kering
Pakai Insto Dry Eyes untuk membantu meredakan gejala mata kering

Yang membuatku memilih INSTO DRY EYES karena produk ini mengandung hydroxypropyl methylcellulose (HPMC), yaitu bahan yang bekerja sebagai pelumas untuk membantu memberikan kelembapan pada permukaan mata. Jadi, begitu Insto Dry Eyes diteteskan ke mata, seketika mata terasa segar dan dingin.

Harganya pun terjangkau hanya sekitar Rp16 ribuan saja dengan isi 7,5 ml sehingga mudah dibawa ke mana-mana. Cara pakainya juga mudah. Sebelum menggunakannya, pastikan tangan kita sudah bersih, ya.

  • 1. Teteskan Tetesin insto dry eyes 1–2 tetes pada setiap mata yang terasa kering atau tidak nyaman.
  • 2. Reapply Gunakan saat mata mulai terasa sepet atau kering, sesuai kebutuhan dan petunjuk pada kemasan.
  • 3. Tutup Setelah digunakan, segera tutup botol dengan rapat agar tetap bersih dan terhindar dari kontaminasi.

Setelah meneteskan Insto Dry Eyes, biasanya aku memejamkan mata sejenak sebelum kembali melanjutkan aktivitas. Sederhana, tetapi jeda singkat ini membuatku lebih sadar bahwa mata juga perlu diberi waktu untuk beristirahat.

Insto Dry Eyes New Packaging

Jangan Tunggu
Sampai Momen Berharga Terganggu

Sekarang, setiap kali mengantar anak ke sekolah, aku masih sering mengabadikan momen-momen kecil yang mungkin terlihat biasa bagi orang lain. Senyumnya saat berpamitan, langkah kecilnya menuju kelas, hingga cerita-cerita sederhana sepulang sekolah. Semua itu adalah kenangan yang tidak bisa diulang.

Pengalaman di hari pertama sekolah anak mengajarkanku bahwa mata sepet, perih, kering, dan cepat lelah bukan sekadar rasa tidak nyaman yang bisa terus diabaikan. Gejala yang tampak sepele itu ternyata dapat mengurangi kenyamanan di momen-momen yang paling berharga.

Karena itu, selain membangun kebiasaan baik untuk menjaga kesehatan mata, aku juga selalu menyiapkan Insto Dry Eyes sebagai pertolongan pertama saat gejala mata kering muncul. Dengan begitu, aku bisa kembali beraktivitas dengan lebih nyaman dan menikmati setiap momen berharga bersama keluarga, karena #BebasMataKering membuatku bisa tetap hadir sepenuhnya tanpa terganggu mata kering.

Bagiku, kenangan indah bukan hanya tentang foto dan video yang tersimpan di galeri. Lebih dari itu, kenangan adalah tentang bagaimana kita benar-benar hadir, menyaksikan, dan merasakan setiap detiknya dengan mata yang nyaman.

Jadi, kalau suatu hari Mata SEpet, PErih, LElah (SePeLe), atau ada Gejala Mata Kering, jangan anggap itu hal biasa. Karena gejala SePeLe memang tidak seharusnya diabaikan. Ingat, Mata Kering Jangan Disepelein ya!

 

Sumber & Referensi:

  • Mataftsi, A., Seliniotaki, A. K., Moutzouri, S., Prousali, E., Darusman, K. R., Adio, A. O., Haidich, A.-B., & Nischal, K. K. (2023). Digital eye strain in young screen users: A systematic review. Preventive Medicine, 170, 107493. https://doi.org/10.1016/j.ypmed.2023.107493
  • Stapleton, F., Alves, M., Bunya, V. Y., Jalbert, I., Lekhanont, K., Malet, F., Na, K.-S., Schaumberg, D., Uchino, M., Vehof, J., Viso, E., Vitale, S., & Jones, L. (2017). TFOS DEWS II epidemiology report. The Ocular Surface, 15(3), 334–365. https://doi.org/10.1016/j.jtos.2017.05.003
  • Xiao, K., Li, L., Zhang, X., Ye, Y., Yao, Y., Liu, Y., Chen, W., Wang, X., Gu, C., He, M., Liang, L., Liu, Y.-C., & Zhu, Z. (2026). Global prevalence of dry Eye: A systematic review and meta-analysis. Contact Lens and Anterior Eye, 49(2), 102627. https://doi.org/10.1016/j.clae.2026.102627

  • Olah foto dan dokumentasi oleh Ella Fitria
  • Olah grafis oleh Ella Fitria dari sumber gratis Freepik

Yuk Bantu Bagikan Tulisan Ini!

5 1 vote
Rating Artikel
guest
0 Komentar
Terbaru
Terlama Paling Banyak Vote