Tiga Jam Terombang Ambing Di Sungai Serayu

oleh Ella Fitria
Team rafting the Pikas

Beberapa hari lalu grup whatsApp ramai membahas soal libur panjang natal dan tahun baru. Nggak biasanya aku antusias banget bahas piknik di kota sendiri, karena akhir tahun ini berbeda dengan akhir tahun lalu. Akhir tahun lalu mbolang sampai dua minggu, nah sedang akhir tahun ini aku nggak dapat izin piknik terlalu jauh karena kondisiku yang belum pulih pasca kecelakaan bulan Juli. So, aku memutuskan menghabiskan liburan di kota sendiri, jauh-jauhnya paling ke Purwokerto dan Cilacap. Menurutku liburan jauh dekat sama aja sih, yang membedakan cuma dengan sama siapa kita piknik, ya kan? Ya dong.. Eh lanjut-lanjut. Kali ini kita mau piknik yang nantang adrenalin, bukan piknik yang manja, sok cantik, takut kotor atau takut basah. Karena kita mau terjun bebas ke sungai Serayu. Rafting !!! Yeay.

Suara gemuruh air terdengar menggoda untuk segera berbasah-basahan. Seperti biasa, langit biru menjadi pemandangan yang tak pernah membosankan. Sembari menunggu giliran rafting, aku duduk menikmati mendoan di pinggir sungai Serayu. Sungai Serayu mengaliri lima kabupaten loh dari Kabupaten Wonosobo dan bermuara di wilayah Kabupaten Cilacap.

Sebelum rafting dimulai, kita dibriefing dulu. Kita dibekali banyak teori, mulai dari cara memegang dayung yang benar hingga bagaimana menyelamatkan diri ketika terjatuh dari perahu karet. Banyak istilah-istilah lain yang asing buat aku. Yang aku inget kalau guidenya bilang “boom” kita wajib masuk ke perahu. Jangan melakukan hal-hal yang membahayakan, pokoknya nurut aja deh sama perkataan guidenya. Agak deg-degan sih, karena ingatanku untuk mengingat teori-teori yang diberikan agak susah. Hahaha, maklum lah efek gegar otak masih aja ganggu.

Setelah briefing selesai kita siap mengarungi sungai Serayu sepanjang 14 KM, dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam. Mantap!!!

Formasi pertama team Rois, aku di belakang nggak keliatan

Satu perahu karet diisi oleh lima orang, ada Rois dan mas Jeim di bagian depan, aku dan bu Atut di bagian belakang, dan Mas Yuli sebagai guide di bagian belakang juga. Belum lima menit kita mendayung, tiba-tiba mas Yuli berkata “boom” dengan cepat kita langsung masuk ke perahu karet sesuai instruksi briefing. “byuuurrr” jeram Wellcome sukses membuat sekujur tubuh kita basah. “kembali ke posisi semula, ayo dayung depan, satu dua, satu dua. Silakan mas Rois pindah duduk di bagian paling depan, pegangan tali yang kuat ya!” kata mas Yuli.
Rois pun duduk di bagian paling depan, sementara aku maju menggantikan posisinya semula.

Asyik banget bisa nangkring di depan sendiri. Hahaha

Nggak lama Rois minta tukeran posisi, wah kesempatan nih. Aku dibolehkan tukeran posisi dengan Rois. Duduk nangkring di depan dengan hanya pegangan seutas tali. Amazing!!! Ini pengalaman hidup yang baru aku rasakan.
Emang hidup tu perlu nyoba yang beda, nyoba hal baru yang menurut orang lain nakutin justru buat aku nyenengin. Sambil ketawa dan berteriak dalam hati aku tetap mengucap syukur pada Gusti. Aku merasakan kembali atmosfir semangat dari dalam tubuh.

Sekali dua kali aku sukses melewati jeram tanpa jatuh. Tapi Rois yang duduk tepat di belakangku jailnya minta di sunat lagi deh. Soalnya kalau ada jeram dia pura-pura pegangin pelampungku, tapi nggak cuma pegangin malah sambil narik lalu didorong ke depan. Nyawa tuh kaya melayang. Tapi sekali lagi, ini asyik banget, berkali-kali aku duduk santai melawan jeram, dan berkali-kali juga Rois narik pelampungku.

Perahunya hampir terbalik

Ketika mas Yuli bertanya, “ada yang berani renang nggak?” Aku langsung ngacung, “aku mas aku. Tapi aku nggak pinter renang”. “iya gak papa mbak. Lompat aja” kata mas Yuli lagi. Belum selesai aba-aba aku udah menceburkan diri dengan suka rela ke sungai Serayu. Aku selalu inget pesan Ibnu temanku yang ngajarin renang, katanya tuh kalau diair jangan pernah berontak, jangan pernah dilawan airnya, rileks aja, santai. Kaya hidup, kalau makin dilawan yang ada kita cuma ngrasain sakit. Ceileh

Tiba-tiba Rois udah di belakangku ternyata dia ikutan nyemplung, tapi nggak lama. Dia takut, akhirnya naik ke perahu lagi. Tahu nggak? Cara naikin orang ke atas perahu tu kaya teh celup gitu, dicelupin dulu sampai tiga kali. Angkat, celup, angkat, celup, kata mas Yuli sih biar kuat aja nariknya. Tapi kayaknya bohong deh, cuma buat seru-seruan aja. Wkwkwk

Team mbak Idah dan mbak Neli nggak ada yang berani nyemplung. Hoahahaha, badan mereka gede-gede tapi pada takut air. Ckckckck eh tapi bu Atut berani nyemplung walaupun sebentar karena didorong oleh team rescue, mereka suka iseng, suka nabrakin perahu kita dan tiba-tiba nyipratin air pakai dayung. Ffffttt!!!

Tiba-tiba mas Yuli berteriak, “Naik perahu lagi, ada jeram di depan sana” aku langsung kecupakan mendekat ke perahu, mencoba meraih tali perahu karet. Rois dengan baik hati mencoba meraih pelampungku, tapi bukannya dia bisa ngangkat aku naik ke perahu justru Rois didorong oleh mas Yuli “Wush” Rois terpelanting jatuh ke sungai dan aku terlepas dari tali perahu yang dari tadi aku pegang. Dengan usaha mas Yuli meraih pelampungku, akhirnya aku bisa naik ke atas perahu. Malangnya nasib Rois udah didorong lalu diangkat dengan teknik teh celup bekali-kali. Hahaha

Setelah posisi kembali seperti semula, kita lanjut mengarungi sungai Serayu dengan terjangan jeram yang lebih dahsyat. Aku tetap duduk di bagian depan dengan pegangan seutas tali, berkali-kali aku jatuh ke dalam perahu karena dorongan dan tarikan Rois membuat aku kehilangan keseimbangan. Setiap kali melewati jeram, pasti ada air masuk ke dalam mulut, susah sih mau mingkem karena asyik berteriak-teriak. Kata mas Yulli kalau mau gemuk, aku harus rafting tiap hari, karena minum air sungai Serayu berliter-liter. Kampret!

Sesekali aku nanya ke mas Yuli, “finishnya masih lama kan mas?” kata mas Yuli “sebentar lagi sampai mbak”. Yaah padahal masih kurang, tapi udah mau finish aja. Tapi nggak apa-apa sih soalnya matahari siang itu sedikit jahat, bikin kulit belang-belang dan agak bikin kepala pusing.

Dititik jeram selalu ada mas photografer. Nah pas banget tuh di atas jembatan yang kita lewatin ada mas photografer. Mas Yuli berteriak “lihat atas, ada photografer. Coba mbak Ella lambaikan tangan mbak”. Lalu aku manut aja lambaikan tangan, otomatis melepas tali yang sedari tadi ku pegang. Pas baru dadah-dadah, tiba-tiba “byuur” aku jatuh ke sungai untuk kedua kalinya. Ternyata aku didorong, otomatis tubuhku jatuh ke sungai karena posisi nggak pegang tali. Ngeselin banget kan, tapi sih aku tetap ketawa-ketawa aja, karena nggak mungkin aku tenggelam atau kebawa arus. Ada team rescue yang handal banget kok, jadi buat kesempatan kecuapakan nggak mau naik perahu lagi. Hahaha

Detik-detik aku mau di ceburin

Akhirnya setelah tiga jam terombang ambing di tengah sungai Serayu, kita sampai finish dengan tenaga terkuras habis. Hahaha
Kita start dari Boja sampai The Pikas. Cukup membayar Rp. 220ribu/orang, kita bisa menantang adrenalin, bisa belajar mengendalikan diri di sungai, bisa teriak-teriak sepuasnya, kita juga dapat kelapa muda dan mendoan. Ada paket rafting lainnya loh, mulai dari Rp. 150ribu-350ribu. Kita tinggal pilih, yang membedakan hanya jarak tempuhnya kok.

Ketika menikmati kelapa muda dan mendoan, kita sempet ngobrol dengan rombongan dari Jogjakarta. Katanya jeram di sungai Serayu tu juara banget. Keren, lebih menantang daripada jeram sungai Elo Magelang. Nggak nyesel jauh-jauh rafting di The Pikas menaklukkan sungai Serayu Banjarnegara.

Terimakasih untuk The Pikas, mas Yuli sebagai guide, dan teman-teman seperjuangan satu perahu. Ini pengalaman yang nggak bakal aku lupakan. Semoga secepatnya kita bisa rafting lagi YAAAAA.. Hahaha

The Pikas Artventure
Alamat: Jl. Raya Madukara No. 1, Ds. Kutayasa, Kec. Madukara, Kec. Banjarnegara, Jawa Tengah
Jam buka: 08.00–17.00 WIB
Telepon: (0286) 593000
Reservasi: +628122662155 (Mas Fajar), +6281327143559 (Mas Firdaus), +6281585386575 (Mas Gundul)
IG : @ThePikasArventure
Ella Fitria

You may also like

0 komentar

Reyne Raea 7 Agustus 2020 - 22:18

Waahh ini mah seru banget, meski juga serem kalau dilihat-lihat, kalau kebalik itu banyak batu, mana kalau saya yang nggak bisa berenang ini, kayaknya udah jerit-jerit ga karuan deh 😀

Balas

Beri Komentar

%d blogger menyukai ini: