Melihat Purbalingga Dari Puncak Sendaren

oleh Ella Fitria
Suasana pagi di Puncak Sendaren

Malam itu, kami memulai perjalanan tepat jam 22.00 WIB. Melewati beberapa tanjakan yang diapit oleh perkebunan tanpa lampu penerang jalan membuat perjalanan kami sedikit parno. Sesekali kali bau harum semerbak tercium, itu tandanya kami baru saja melewati pemakaman. Uhuk
Untungnya jarak tempuh menuju desa Panusupan hanya 20 menit dari rumahku.

Puncak Sendaren berada di desa Panusupan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga. Jika kalian dari kota Banjarnegara atau dari kota Purbalingga, maka membutuhkan waktu tempuh sekitar satu setengah jam untuk sampai disini. Akses jalannya lumayan mulus, meskipun ada satu dua tiga empat lima enam jalan yang berlubang. Hahaha

Setelah drama sukses melewati tanjakan dan pemakaman, kami tiba di tempat parkir puncak Sendaren. Legaaaa, akhirnya menemukan tanda-tanda kehidupan lagi *nyengir
Usai membayar tiket masuk 10ribu/orang kami langsung bersiap untuk trakking. Dalam hati aku bersorak riang, bahagianya bisa trakking lagi setelah berbulan-bulan nggak bercumbu dengan alam *girangnya tuh kaya mau ketemu jodoh di puncak, ckckck

Seperti biasa, sebelum trakking kami berdoa dan memastikan kondisi badan dalam keadaan sehat. Meskipun ketingguan puncak Sendaren hanya sekitar 700 mdpl, tapi kami tetap safty first dong. Dan tau nggak? Ini trakking teramai yang pernah ku lakukan. Biasanya kami trakking hanya berempat atau berenam, itupun udah ramai banget, lah ini berlima belas. Kebayang rusuhnya kaya apa kan? 😐 loh trakking kok rusuh? Iya rusuh, rusuh banget. Mereka suka usil sih. Hhh

Cahaya senter menerangi jalan setapak, kaki-kaki ini mulai melangkah dengan beban ransel di pundak. Sesekali berhenti untuk mengatur nafas. Sepanjang perjalanan tawa mereka masih kuat di telingaku. Aku memilih mendengarkan cloteh mereka sambil terus menggerkkan kaki menapaki anak tangga. Sebentar lagi kami sampai di puncak, terlihat beberapa lampu dan api unggun di atas sana.

Langkahku semakin lambat, sesekali berhenti lagi, dan pyaar!!!! Aku muntah sebelum sampai di puncak. Teman-temanku paniknya bukan main, karena mereka tahu baru 12 hari yang lalu aku keluar dari rumah sakit. Sambil menahan muntahan ke dua, aku pastikan ke mereka kalau aku baik-baik saja. *padahal dalam hati ku takut nggak kuat. Hahaha
Ini bukan kali pertama aku trakking, mungkin gara-gara baru keluar dari rumah sakit kali ya. Jadi gini deh, padahal kalau muncak tenagaku yang tetap stabil sampai di puncak dibanding dengan teman-temanku yang lain, meski capek trakking aku masih tetap petakilan. Lah ini K.O sebelum waktunya. Ngenesssss

Setelah memastikan kondisiku baik-baik saja, kami kembali melanjutkan trakking. Dan taraaaaa! Setelah dua jam trakking, kami sampai di puncak dengan disambut gerimis. Dududuu padahal tenda belum berdiri. Mengingat kondisiku belum stabil, aku buru-buru mengenakan mantel. Mereka sibuk memasang tenda, dan aku hanya duduk ngliatin mereka. Untung muncak sama anak-anak yang hobinya di alam, kan enak. Aku tinggal terima beres. *betapa nyusahinnya diriku, hahaha

Tenda sudah terpasang sempurna, aku langsung ganti baju. Saatnya masuk ke sleeping bag. Uwww, anget anget, meskipun nggak bisa tidur. Tapi seenggaknya bisa mengumpulkan tenaga untuk esok hari.

Nggak terasa udah jam 4 pagi, alhamdulillah setelah semalam haha hihi dan minum teh anget membuat badanku sedikit energik lagi. Usai shalat subuh, kami keluar tenda untuk menikmati sunrise. Berteman dengan udara dingin dan kabut tipis, kami membuat api untuk menghangatkan badan sambil menunggu matahari muncul malu-malu. Meski surisenya nggak begitu wah tapi lumayan lah, bisa buat ngobatin kangen.

Ketemu temen dari Purwokerto, yap kita narsis dulu

Di puncak Sendaren kami bisa melihat hamparan kota Purbalingga yang terlihat seperti miniatur. Ya gimana, kita di puncak kalau ngeliat kebawah kan semuanya berubah menjadi kecil. Pun sebaliknya, aku yang udah kecil ketika berada di puncak merasa tambah kecil. Apalagi kalau aku berhadapan dengan Tuhanku ya, ah entahlah.
Ohya, disini banyak spot instargamable banget, salah satunya ada sangkar burung. Kami bisa masuk ke dalam sangkar burung, senangnya tuh tiba-tiba ada yang motoin tanpa diminta *duh demen banget kalau begini kan. Hhh
Ehh satu lagi, ada jembatan dari bambu juga loh, kalau pagi-pagi tuh jembatannya kaya nyatu dengan awan gitu. Jadi pas foto pagi-pagi di jembatan, kami kaya lagi menapakan kaki di awan.

Bodyguard terkece😂
Fotonya kesiangan, so awannya keburu ngilang😂

Puas foto-foto, mereka (cowok-cowok) menyiapkan sarapan pagi, mulai masak nasi, bakar ayam, masak mie goreng, nyiapin minum. Aku tinggal duduk manis sambil menikmati pelangi, ckckck *betapa nggak bergunanya diri ini *hah
Selesai sarapan, kami berkemas. Kabarnya di dekat puncak Sendaren ada air terjun, kami sepakat untuk menuju air terjun (lupa namanya air terjun apaan).

Ketemu air terjun dekat puncak Sendaren

Yuhuy, setelah trakking sekitar satu jam. Kami menemukan air terjun. Saatnya basah-basahan, lepas ransel, lepas jaket, lepas sepatu, dan “byuur”. Airnya dingiiiiin banget, seger banget. Ya ampun ya ampun, rasa capek seketika hilang. Setelah selesai main air, lalu ganti baju. Kami masih harus melanjutkan trakking menuju tempat parkir.

Tracking menuju tempat parkir

Akhirnya kami sampai di tempat parkir dalam kondisi kelaparan. Hahaha
Untung aja ada warung kecil, menyediakan mie goreng, mie rebus, mendoan. Hmm, ini udah cukup banget buat aku, makan mie goreng sama telor tu udah kenikmatan yang haqiqi banget.

Noted : sebaiknya kalau mau ke puncak Sendaren gunakan kendaraan yang prima. Dapat diakses menggunakan mobil juga kok, tapi jalannya agak sempit. Dan jangan melakukan perjalanan malam hari, ngeri ih beneran

Ella Fitria

You may also like

Beri Komentar