Upaya Mengurangi Sampah Demi Melindungi Bumi dan Keanekaragaman Hayati

oleh Ella Fitria
Biodiversity Preservation

Akhir-akhir ini kampanye bijak penggunaan plastik makin gencar terdengar di telingaku, ada rasa haru dan muncul harapan baru untuk Bumi kian lestari. Pencemaran lingkungan, perubahan iklim, pemanasan global, kemerosotan Keanekaragaman Hayati dan sumber daya alam memunculkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keseimbangan lingkungan bagi kehidupan yang lebih sejahtera. Menurut laporan earthday.org Indonesia masuk urutan ke dua penyumbang plastik di dunia sebanyak 3,22 juta ton metrik pertahun. Teringat beberapa pekan lalu sebelum banjir melanda Ibukota, timelineku dipenuhi dengan video seorang bapak di Cicadas yang rela masuk ke dalam gorong-gorong untuk mengambil sampah-sampah yang menyumbat saluran air, padahal saat itu kondisi air cukup deras dan tinggi. Ya lagi-lagi permasalahan tentang sampah.

Bumi ini bukan hanya diisi oleh manusia, tetapi diisi juga oleh keanekaragaman hayati. Ada jutaan spesies tanaman, hewan, serangga, dan mikroorganisme yang tersebar di berbagai ekosistem dari sungai – hutan hingga gurun dan lautan. Setiap spesies, sekecil apapun memiliki peran penting dalam ekosistem alami.  Segala sesuatunya saling berhubungan, hewan memakan tumbuhan, lebah dan serangga membantu penyerbukan tanaman, tanaman membutuhkan cahaya matahari untuk berfotosintesis, begitu seterusnya. Namun ketika membaca laporan dari WWF yang Mengungkap Besarnya Dampak Manusia Terhadap Planet, 29 Oktober 2018 rasanya hatiku ngilu. Sedih banget karena populasi mamalia, burung, ikan, reptil, dan amfibi, rata-rata berkurang ukurannya sebesar 60% hanya dalam 40 tahun. Penggerak terbesar hilangnya keanekaragaman hayati saat ini adalah eksploitasi berlebihan dan argikultur, keduanya terkait dengan konsumsi manusia yang terus meningkat.

Kenyataan pahit yang dialami oleh hutan, lautan, dan sungai yang disebabkan oleh tangan kita sendiri terutama terkait dengan permasalahan sampah yang menyebabkan berbagai dampak dalam kehidupan. 

Permasalahan Sampah Di Indonesia 

Permasalahan sampah dan dampaknya

Pada dasarnya manusia dan sampah memang tidak dapat dipisahkan, setiap saat manusia menghasilkan berbagai jenis sampah. Menurut KLHK dan Kementerian Perindustrian tahun 2016, jumlah timbunan sampah di Indonesia sudah mencapai 65,2 juta ton pertahun. Dari hasil riset waste4change dan Data Dinas Kebersihan DKI, setiap hari Jakarta menghasilkan 6.270 Ton sampah. Sekitar 79℅ sampah Jakarta dibuang ke TPS Bantar Gerbang Bekasi dan 21% sampah dibiarkan tidak diangkut. Kemudian pengelolaan sampah Jakarta sekitar 74% sampah ditumpuk dan dibuang, 19% dipilih, dan 2% dibakar. Padahal beberapa jenis sampah yang kita buang memerlukan waktu tidak sedikit untuk terurai secara alami. Jenis sampah kertas dan tissue memerlukan waktu beberapa minggu untuk terurai. Sedangkan jenis sampah seperti tas plastik, nilon, filter rokok, kaleng, botol plastik dan botol kaca memerlukan puluhan hingga ribuan tahun untuk terurai. Lain lagi dengan sampah jenis styrofoam yang tidak dapat terurai selamanya.

Dampak Sampah Bagi Lingkungan

Statistik Sampah di Seluruh Dunia

Sampah plastik tidak hanya merusak ekosistem darat maupun laut, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup. Menurut penelitian Jenna R. Jambeck dari Georgia University pada 2010 menyebutkan, ada sekitar 275 juta ton sampah plastik yang tersebar di seluruh dunia, dengan sekitar 4,7 hingga 12,7 juta ton sampah berada di lautan. Ini artinya, setiap satu menit, sampah plastik yang dibuang ke laut setara dengan satu truk penuh. Aku nggak bisa membayangkan betapa tersiksanya hewan-hewan yang hidup di laut dengan sampah yang kita hasilkan. Apalagi saat melihat kondisi Pantai Sikucing di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, lautan pasir berubah menjadi lautan sampah. Ya Tuhan, sedih pasti, marah iya. Semesta yang seharusnya dijaga justru malah tanpa sadar kita rusak seenaknya dengan berbagai tumpukan sampah.

Lautan Sampah Pantai Sikucing, Kendal, Jawa Tengah

Selain mencemari laut, sampah yang menumpuk di darat juga akan menghasilkan cairan yang bisa mencemari lingkungan dan tanah. Tumpukan dan penanganan yang tidak baik secara tidak langsung berkontribusi terhadap bencana banjir (World Bank) dan sumber penyakit seperti diare (UN-Habitat, 2010). Pelestarian lingkungan memang sudah sepatutnya kita mulai dari sekarang, dampak dari sampah yang tidak dikelola dengan tepat memang sangat mengerikan. Salah satu dampak yang nyata terjadi adalah banjir yang melanda Ibukota Indonesia. Mungkin kalau teman-teman yang terkena banjir memiliki Asuransi Umum tidak akan  begitu khawatir, karena dapat mengurus klaim akibat banjir.

Dampak Sampah Bagi Kesehatan

Ketika kita membakar sampah, ternyata sampah yang kita bakar mengandung 75 zat beracun. Belum lagi binatang yang suka mengelilingi sampah seperti lalat yang membawa penyakit. Tumpukan sampah juga menghasilkan limpasan cairan beracun yang disebut leachate yang dapat mengalir ke sungai, air tanah, dan tanah. Efek tidak langsung sampah organik dapat mengakibatkan meningkatnya penyakit yang dibawa vektor nyamuk (vektor borne disease) dan tikus (rondent borne disease).

Sementara, sampah anorgaik, seperti mikroplastik, terutama diapers atau popok sekali pakai yang bahan mayoritasnya limbah impor, mengandung super adsorbent polymer (SAP). Memiliki efek perusak hormon pada biota perairan. Limbah plastik, sangat mungkin terjadi reaksi kimia pada suhu tinggi yang mengakibatkan senyawa mikroplastik lebih mudah terlepas ke lingkungan atau alam. Selanjutnya, masuk ke tubuh makhluk hidup, termasuk sangat mungkin terakumulasi dalam tubuh manusia.

Dampak Sampah dari Segi Estetika

Sampah memang menjadi problem kita sejak dulu, pengelolaan sampah yang kurang tepat menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir. Selain menghasilkan bau yang tidak sedap, tumpukan sampah juga mengganggu keindahan lingkungan sekitar. Apalagi jika sampah-sampah yang ditimbun dekat dengan tempat wisata.

Upaya Kecil Meminimalisir Sampah yang Dapat Kita Lakukan dalam Kehidupan Sehari-hari adalah sebagai berikut :

5R untuk Lingkungan yang Lebih Baik

Refuse (Menolak)

Menolak penggunaan kemasan sekali pakai tentunya akan mengurangi jumlah sampah yang kita hasilkan. Bukan hanya kemasan sekali pakai, namun selebaran seperti brosur dan pamflet yang isinya tidak kita minati, lebih baik kita tolak dengan halus, ya. Daripada barang yang tidak kita butuhkan hanya berakhir menjadi sampah. Yuk mulai dari diri sendiri untuk melakukan perubahan-perubahan kecil yang konsisten.

Reduce (Mengurangi)

Sebisa mungkin, kita juga harus mengurangi pembelian barang yang tidak terlalu dibutuhkan, demi mengurangi penumpukan sampah yang sulit terurai. Kalau bisa kontrol nafsu untuk tidak membeli barang yang belum dibutuhkan.  Belilah barang yang memang benar-benar dibutuhkan. *ngomong sama diri sendiri*

Reuse (Menggunakan Kembali)

Menurutku poin ini memang sangat penting karena menggunakan kembali barang-barang yang kita miliki dapat membantu suksesnya kampanye bijak penggunaan plastik. Bukan hanya bijak dalam penggunaan kantong plastik, namun juga bijak dalam penggunaan sedotan, botol, kaleng, dll. 

Recycle (Daur Ulang)

Mungkin aku termasuk salah satu orang yang suka mengisi waktu luang dengan memanfaatkan sampah menjadi hal baru yang lebih berguna. Dengan adanya proses daur ulang, setidaknya dapat mengurangi penumpukan sampah yang tadinya tidak memiliki nilai ekonomis. Dari survai sosial ekonomi nasional modul ketahanan sosial tahun 2017 sebanyak 66,8% sampah dibakar begitu aja, dan hanya 1,2% sampah didaur ulang. Padahal asap dari pembakaran sampah dapat menimbulkan masalah baru.

Rot/Compost (Mengkomposkan)

Kalian pernah membayangkan berapa juta ton sampah organik yang dihasilkan setiap saat oleh manusia? Sampah organik yang dihasilkan dari Sampah Rumah Tangga (STR) dapat diolah menjadi kompos atau pupuk alami. 

Caraku Meminimalisir Sampah di Lingkungan Sekitar

5 Magical Cards untuk Meminimalisir Sampah

Terlepas dari semua permasalahan di atas, aku mengajak diri sendiri untuk lebih bijak mengelola sampah terutama penggunaan  kantong plastik Untuk Masa Depan Yang Lebih Baik salah satunya dengan tetap menggunakan barang bekas yang masih bisa digunakan, dan lebih cerdas memilih mana kebutuhan mana keinginan. Ya meski masih tetap menghasilkan sampah, tetapi setidaknya ada gerakan kecil yang dilakukan secara terus-menerus demi janji kehidupan di masa depan. Gerakan kecil yang kulakukan memang sangat sederhana, mungkin belum bisa berdampak apa-apa bagi lingkungan. Namun, aku percaya jika banyak orang yang melakukannya, dampak positif perlahan akan terasa. Berikut konsep 5 Magic Cards yang bisa dilakukan untuk meminimalisir sampah.

1. Mulai Memilah Sampah Sesuai Jenisnya

Bank Sampah, Proklim Cilongok

Secara umum sampah dibagi menjadi tiga, yakni sampah organik, sampah anorganik, dan sampah B3. Dimulai dari dapur rumah yang memang menyediakan dua tempat sampah (sampah organik dan anorganik) supaya memudahkan ketika dikumpulkan dan disetor ke Bank Sampah. Adanya bank sampah memang sebagai salah satu upaya pengelolaan sampah demi Bumi makin tetap terjaga. Setidaknya mulai dari diri sendiri dan orang-orang terdekat untuk tidak membuang sampah sembarangan dan mulai memilah sampah sesuai jenisnya supaya pengelolaannya tepat. 

2. Menyulap Barang Bekas menjadi Barang yang lebih Bermanfaat

Disela-sela waktu enam hari kerja, aku memang sangat suka membuat sesuatu bermodalkan barang bekas yang ada di sekitarku. Selain untuk menghilangkan kejenuhan, menyulap barang bekas menjadi barang yang lebih bermanfaat juga melatih kreatifitas. Belum lama ini, aku iseng membuat gantungan baju menggunakan pipa bekas yang tidak terpakai. Berbekal tutorial dari chanel youtube, aku memulai mengukur pipa bekas, memotong, dan memastikan tidak ada yang keliru. Cukup bermodalkan 30 ribu untuk membeli perlengkapan yang kurang. Alhamdulillah pipa bekas yang tadinya hanya memenuhi gudang akhirnya bisa lebih berguna. Dan tentunya tidak perlu membeli gantungan baju yang harganya beratus-ratus ribu. Hemat!

Memanfaatkan Pipa Bekas Untuk Gantungan Baju
Selain membuat gantungan baju dari pipa bekas, aku juga senang memanfaatkan botol dan kaleng bekas untuk pot bunga maupun kaktus. Berawal dari banyaknya botol bekas yang kujumpai di pinggir jalan saat berangkat ke sekolah, aku berinisiatif membawa pulang dan menggunting separuh badan botol. Setelah botol-botol bekas ini dipotong, langkah selanjutnya memberi lubang pada bagian bawah botol, lalu dibalut menggunakan karung goni bekas supaya terlihat aestetik. Hasilnya ciamik. Baguuuussss. Nggak terlihat dari botol bekas yang kupungut di pinggir jalan. Selain bisa memanfaatkan sampah botol bekas, hobi menanam pohon juga membuat udara makin sejuk.

Memanfaatkan Botol Plastik Bekas untuk Pot Kaktus

Bulan lalu aku dibuat kaget saat main ke kampung Proklim Cilongok, Banyumas. Masyarakat di sana sangat peduli dengan pengolahan sampah, memberdayakan ibu-ibu untuk membuat berbagai kerajinan dari plastik kemasan. Hasilnya bagus, cantik-cantik. Katanya hasil dari penjualan kerajinan dari sampah ini bisa menambah uang belanja bulanan.

Daur ulang plastik kemasan kopi instan dijadikan tempat pensil oleh ibu-ibu Proklim Cilongok, Banyumas

3. Membawa Tumbler Setiap Bepergian

Selalu Bawa Tumbler saat Bepergian

Kebetulan memiliki hobi traveling dan suka melakukan perjalanan ke tempat-tempat baru membuatku sering menaiki transportasi umum, terkadang perjalanan yang ditempuh membutuhkan waktu hingga berjam-jam. Aku membiasakan diri setiap kali bepergian  selalu membawa tumbler, selain lebih praktis karena ketika merasa haus bisa langsung minum, dengan membawa tumbler saat bepergian juga sebagai bentuk mencintai bumi karena lagi-lagi meminimalisir penggunaan sampah botol/kaleng minuman. 

4. Menggunakan Totebag saat Berbelanja

Menggunakan Totebag saat Berbelanja

Sebenarnya nggak harus totebag yang terbuat dari kain kok, bisa juga memanfaatkan kantong plastik bekas. Saat ke warung/toko/minimarket aku pun membiasakan membawa totebag/kantong plastik bekas dari rumah. Bukan karena pelit enggan membeli kantong plastik baru, tetapi kalau mengingat berapa lama plastik ini bisa terurai rasanya mengerikan. Aku belum siap jika karena keteledoran dan keserakahan manusia, keanekaragam hayati makin terancam.

Dari Survai Sosial Ekonomi Nasional dalam Modul Ketahanan Sosial tahun 2017 hanya 8,7% orang membawa tas belanja sendiri, 9,9% sering membawa tas belanja, dan 26,5 kadang-kadang membawa tas belanja, serta 54,8 tidak pernah membawa tas belanja. Duuuh, makin miris nggak sih? Please, yuk biasakan bawa kantong belanja sendiri.

5. Mengajak Orang-orang Terdekat Untuk Peduli dengan Lingkungan

Mengajak orang lain untuk berbuat baik nggak ada salahnya, kan? Asal cara kita mengajak nggak seolah-olah menggurui. Kebetulan aktivitas keseharianku bermain bersama anak-anak, dari senin-sabtu. Aku banyak belajar dari mereka, dari tingkah lucu dan kepolosan mereka terkadang membuatku lebih peka. Aku masih teringat saat minggu pertama kami dipertemukan di dalam ruang kelas. Setiap bel istirahat berbunyi, mereka berlarian tak sabar menuju kantin, lalu kembali ke dalam kelas dengan tangan penuh membawa berbagai makanan dan minuman termasuk gelas plastik. Aku selalu mengamati, tapi juga tidak lantas melarang atau menghakimi.

Beberapa hari kemudian, ada salah satu anak dengan semangat bercerita tentang apa yang dia saksikan di televisi. Katanya, bu guru. Kemarin aku lihat televisi, trus ternyata banyak ikan hiu mati terdampar di pinggir pantai karena perutnya berisi sampah plastik, botol bekas, gelas plastik, kaleng dan banyak lagi. Kok bisa hiu-hiu itu makan sampah ya, bu? Sampah kan di darat, bukan di laut. tanyanya sambil penasaran. Aku tersenyum, anak-anak yang lain mulai antusias memperhatikan jawabanku. Aku pun mulai masuk ke dunia mereka, menceritakan bahaya sampah yang setiap hari kita hasilkan. Edukasi sejak dini memang sangat penting untuk Generasi Mendatang. Berharap kelak anak-anak ini mencintai lingkungan sekitar.

Suasana Kelas Saat Jam Istirahat

Ternyata diluar dugaanku, hari berikutnya anak-anak membawa bekal dan botol minum semua. Mereka janjian membawa tempat makan dan botol minum demi meminimalisir sampah. Aku terharu banget, sungguh. Padahal saat itu aku sama sekali nggak melarang mereka membeli makanan dan minuman dengan kemasan plastik. Aku sempat kaget, nggak menyangka anak-anak ini menyadarkan bagaimana peduli terhadap lingkungan dengan action nyata, anak-anak kecil yang baru duduk di kelas dua sekolah dasar. Alhamdulillah saat ini, ketika anak-anak jajan di kantin mereka membawa botol kosong dan tempat makan sendiri. Meski masih menghasilkan sampah, tetapi setidaknya mereka sudah belajar meminimalisir. Nulis begini aja mata sambil berkaca-kaca. Huhu

Yuk Mulai dari Diri Sendiri

Coba kita bayangkan jika banyak orang yang memulai dari diri sendiri untuk lebih peduli dengan sampah yang kita hasilkan setiap hari, maka dampak positif terhadap pengelolaan sampah pasti akan lebih terasa. Ya masa kita yang udah gede dan dewasa kalah dengan action anak-anak kelas dua sekolah dasar? Yuk sayangi bumi, karena keanekaragaman hayati harus selalu kita jaga. Dimulai dari hal kecil, dari diri sendiri bijak dalam mengelola sampah.

Pencapaian Rehabilitasi Suaka Margasatwa Paliyan

Semoga keberlangsungan bumi ini masih bisa dirasakan oleh generasi mendatang termasuk anak dan cucu kita. Ya ampun, udah mikirin cucu aja. Ehehehehe. Btw, ikut bahagia kalau ada kegiatan Pelestarian Lingkungan seperti programnya MSIG Biodiversity saat Rehabilitasi Suaka Margasatwa Paliyan untuk memulihkan hutan hijau demi mempertahankan komunitas dan memerangi perubahan iklim. Fyi, MSIG merupakan asuransi bagian dari MS & AD Insurance Group, yang memiliki visi terciptanya industri asuransi umum yang sehat dan dinamis, serta memiliki kapasitas nasional yang kuat, guna mendukung pertumbuhan ekonomi.


Nah, kalau MSIG punya program keberlanjutan keanekaragaman hayati, kamu punya program apa untuk menjaga keanekaragaman hayati di bumi ini? Yuk share yuk, siapa tahu dapat menginspirasi banyak orang untuk ikut peduli dengan bumi.

Sumber bacaan:

  1. Katalog Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2018 : Pengelolaan Sampah di Indonesia
  2. https://kumparan.com/kumparansains/begini-dampak-sampah-plastik-bagi-lingkungan-dan-kesehatan-manusia-1sExfNL4Tky
  3. Earthday.org
  4. KLHK dan Kementerian Perindustrian tahun 2016, jumlah timbunan sampah di Indonesia
  5. Hriset waste4change dan Data Dinas Kebersihan DKI
  6. https://www.mongabay.co.id/2019/07/03/tidak-hanya-ganggu-kesehatan-sampah-juga-merusak-lingkungan
Foto & Infografis : Ella Fitria
Ella Fitria

You may also like

0 komentar

AuL Howler 15 Januari 2020 - 07:34

Keren memang kalau sampahnya udah bisa terkelola dengan baik

Itu bank sampahnya berfungsi dengan baik mbak?
Wahhh

Ngerti banget deh tentang efek negatifnya buat lingkungan dan manusia
Kebetulan ngajar itu. Aku dosen kesling. Hihihi

Balas
Qudsi Falkhi 15 Januari 2020 - 07:34

Jadi instropeksi nih, karena masih sering pakai plastik untuk belanja padahal seriing baca info kalau plastik sulit diuraikan. Hiks.
Pot goninya cantik mbak Ella, 🙂

Balas
Sabda awal 15 Januari 2020 - 06:07

Buang sampah ke laut, di laut ikan termakan mikroplastik, lalu manusia memakan ikan, bukti nyata bahka siklus ini akan kembali ke kita, sudah waktunya mengambil langkah serisu untuk bijak mengelola sampah

Saya sudah melakukan langkah 3 dan 4 mbak, bawa tumbler dan tote bag selalu,

Balas
Agus rusdi 14 Januari 2020 - 22:26

wah syukurlah Indonesia mulai menggalakkan hal ini semoga lingkungan kita bisa lebih bersoh dan sehat dengan pengendalian sampah dan pengolahan kembali limbah plastik

Balas
Mas Donda 14 Januari 2020 - 11:00

Kalau ingin hidup sehat dan nyaman, kembalikan bumi ini seperti sedia kala. Selain sampah, pembangunan infrastruktur juga banyak menggerus fungsi lingkungan. Tanah yang subur dan bisa menyerap air kini jadi jalanan beraspal atau cor-coran. Semakin banyak merubah struktur alam, semakin semakin sengsaralah manusia itu sendiri. Dan sampah kini telah merubah aroma alam, menjadi bau bacin dan menmpuk dimana-mana…hehehehe.

Balas
sofyan Ya-an 14 Januari 2020 - 05:51

problematika kita masih pada cara dan usaha pengelolaan sampah. Termasuk sampah eletronik alias bisnis barang bekas

Balas
Nurul Sufitri 14 Januari 2020 - 05:14

Pelepah pisang bisa jadi gantungan baju? Wah, keren. Masih banyak aneka kerajinan yang dibuatd ari daur ulang sampah ya mbak. Btw kasihan ada paus atau hiu atau ikan2 lain yang mati gara2 makan sampah di laut. Susah sih ya urusan sampah ini mesyinya dimulai dari rumah tangga lalu RT, RW dst bersama2 menanggulanginya supaya sehat semua dan mengurangi musibah banjir dll.

Balas
Khanif 14 Januari 2020 - 05:14

menurut gw beberapa orang udah pada tau kalo plastik adalah sampah yang paling susah untuk di hancurin, di minimarket aja, sekarang udah gak di sediain plastik kalo belanja, jadi memang hafus bawa sendiri 🙂

Balas
dear anies 14 Januari 2020 - 05:04

assalamualaikum… selamat tahun baru 2020… maaf laa baru sempat nak datang jenguk ke blog ni… insya allah sy akan kembali fokus sm mcm sebelum ni…. harap2 tak serik utk terjah blog sy nanti ya…

Balas
Djangkaru Bumi 13 Januari 2020 - 22:04

Saya membaca artikel ini sebenarnya merasa tersindir juga
Saya dibilang paling royal dengan plastik.
Wah harus mulai bijak nih

Balas
Reyne Raea / Rey 13 Januari 2020 - 22:04

Sampah bikin sedih, sedih karena ingat saya masih sangat kurang berperan dalam menjaga sampah dengan menguranginya.
Bahkan saya masih sering buang sampah pakai kantung plastik hiks.

Tapi memang sekarang lebih berusaha minim sampah, dengan memilah sampah, beberapa sampah di reuse, meski masih semata bikin pot buat nanam-nanam sih, tapi lumayan lah 🙂

Balas
CREAMENO 13 Januari 2020 - 22:04

Saya masih berusaha banget nih untuk mengurangi sampah karena mulai terasa efek buruknya. Kalau sekarang beberapa cara yang saya pakai masih nggak jauh dari penggunaan plastik. Seperti nggak pakai kantung plastik lagi saat belanja dan memilih bawa tas belanjaan sendiri 😀 lalu bawa botol minum ke mana-mana, dan bawa sendok plus garpu personal :>

Ohya, saya juga mulai mengurangi belanja yang nggak dibutuhkan karena ternyata kebanyakan belanja pun ujungnya pasti beberapa barang akan jadi sampah. Hehe. Masih terus belajar, dan masih terus baca-baca informasi yang ada termasuk dari tulisan mba Ella, semoga ke depannya semakin banyak yang aware dan bersama kita bisa menjaga keanekaragaman hayati 😀

Balas
Eksapedia 13 Januari 2020 - 11:52

Saya paling seneng kalau ngelihat inovasi yang inspiratif kayak gini, mengolah sampah menjadi sesuatu yang bisa kita gunakan kembali.. yaaa meskipun saya belum bisa melakukanya minimal cuma bisa bawa pulang sampah sampah yang bisa didaur ulang biasanya saya kumpulin terus tak kasih ke pemulung yang lewat..
Semoga masyarakat kita jg pada sadar akan dampak dari sampah itu sendiri..

Balas
Imron Fhatoni 13 Januari 2020 - 11:35

Artikel yang keren. Soal sampah ini memang menjadi perhatian. Di NTB, pemerintah sedang menggalakkan kampanye Zero West demi upaya menyelamatkan lingkungan.

Tulisan ini cukup lengkap anyway. Salam

Balas
Adie Riyanto 13 Januari 2020 - 11:35

Mengurangi dampak sampah terhadap lingkungan itu tidak bisa dilakukan orang perorang.Harus dilakukan secara kumulatif dan bersama-sama. Saya sendiri dari poin 1 sampai dengan 5 sudah melakukannya. Apalagi di komunitas lari yang saya ikuti mewajibkan memakai tumbler dan kantong belanja untuk membawa bekal apapun. Jadi, go green banget 🙂

Balas
Hanila PendarBintang 13 Januari 2020 - 07:40

Negara kita sudah masuk dalam status"darurat sampah"
Jujur, aku sendiri miris dan sedih melihat gunung sampah di Pulau Serangan, Bali sepertinya sudah overload dan bingung juga mau digimanain.

Ada Keputusan Gubernur yang melarang pemakaian tas plastik sekali pakai, dan sangsinya lumayan kalau satu toko menyediakan plastik kresek.

Tapi, limbah atau sampah rumah tangga tetap butuh penyelesaian. Tingkat kesadarn rendah masyarakat membuatnya mau gampang tanpa memikirkan dampak.

Balas
iidyanie 13 Januari 2020 - 03:54

Ngomongin sampah jadi inget banjir di jakarta kemaren deh miris ya, memang butuh perhatian khusus ttg sampah dari semua pihak btw ide membuat gantungan bajunya boleh juga tuh jadi mau coba juga 🙂

Balas
Nasirullah Sitam 13 Januari 2020 - 03:05

Kalau di laut sampahnya banyak kiriman, jadi sulit untuk mengantisipasi. Kalau untuk keseharian juga butuh kesabaran. Sehari bisa tanpa menggunakan plastik aja sudah menjadi prestasi.

Balas
Enny Ratnawati 13 Januari 2020 - 02:38

Banyak cara yang bisa dilakukan ya untuk menjaga lingkungan.itu kok ngeri banget sampai di pantai Kedal ya. kmrn liat juga sampah di Pantai Kuta Bali. Sedih ya kak. Semoga makin banyak yang mempunyai kesadaran ini ya. thx sharing nya kak

Balas
Agus Warteg 13 Januari 2020 - 00:48

Miris memang melihat sampah, terutama sampah plastik, makin banyak saja. Aku juga kemarin ke pantai Tegal dan lihat sampah plastik, tapi belum sebanyak di pantai sikucing sih.

Balas
1 2 3

Beri Komentar

%d blogger menyukai ini: