Gagal Berburu Lonceng di Pasar Triwindu Ngarsopuro

oleh Ella Fitria
Pasar Triwindu Ngarsopuro

Mobil kami melaju pelan menyusuri sudut kota Surakarta. Backsound elegi esok pagi terdengar nyaring menemani perjalanan kami menuju Pasar Triwindu. “Kalau jadi ke Solo, kita main ke Pasar Tri Windu yaa. Aku pengin beli lonceng mini yang warna emas itu lho” sahutku saat kami merencanakan perjalanan ke Kota Solo.

Berburu Lonceng Mini

Dan sore ini, setelah mengunjungi Temurun Privat Museum. Kami melanjutkan perjalanan menuju Pasar Triwindu. Sesekali aku melirik jam di ponsel menunjukan pukul 16.05, “semoga pasarnya masih buka, ya.. Udah sore banget, padahal tadi aku mandinya udah cepat banget” kataku memecah kesunyian saking menikmati lancarnya jalanan kota Kota Solo.

Masih buka, masih. Baru jam 16.00 kan? Ini bentar lagi sampai kok…” timpalnya sok tahu.

Pasar Triwindu

Benar saja, beberapa menit berselang kami sampai di depan Pasar Triwindu, mataku mulai menjelajah ke berbagai arah. Menengok kanan kiri mengamati sekitar, yeeay! Akhirnya sampai juga di Pasar Triwindu. Kami melangkahkan kaki agak cepat, tak sabar ingin memilih lonceng-lonceng lucu dengan berbagai warna dan model, namun baru membaca tulisan Pasar Triwindu di plang depan pasar dahiku mengkirut. Perasaan nggak enak mulai bergelayut, Pasar Triwindu dalam bayanganku ramai dengan penjual dan pembeli nyatanya sepi seolah tak berpenghuni. Iya sepi. Hanya ada dua toko yang masih buka, pun penjualnya terlihat sibuk sedang berkemas memasukkan berbagai macam barang dagangannya ke dalam toko mereka.

Patung-patung yang dibiarkan di luar toko Pasar Triwindu

Kami terus melangkahkan kaki, berharap masih ada toko yang belum tutup namun ternyata nihil. Mata kami masih sibuk mengamati sudut pasar yang terlihat hidup meski nggak ada aktifitas. Berbagai barang yang dibiarkan pemiliknya di luar toko membuat pasar ini terasa hangat. Puluhan topeng kayu, piring antik, lampu, patung, dll memenuhi sebagian dinding pasar. Meski agak kecewa karena nggak ada toko yang buka, kami saling menatap takjub. Mungkin seandainya kami berkunjung pasar ini nggak kesorean bakal menemukan lonceng mini itu.

Ah sudahlah, meski nggak mendapatkan barang yang kumau. Aku sudah senang, menyusuri toko-toko tutup dengan berbagai barang antik yang sengaja ditinggal pemiliknya di luar toko. Mungkin pasar ini memang aman kali ya, jadi banyak barang yang sengaja ditinggalkan. Macam aku yang kau tinggalkan begitu sajaaaa~~~ ahahahaha

Topeng Kayu Pasar Triwindu
Pasar Triwindu merupakan pasar barang
tiruan, antik, dan onderdil khusus (klithikan) yang berada di Kota Surakarta. Menurut laman Wikipedia disebut Triwindu karena dibangun pada tahun 1939 oleh KGPAA Mangkunegara VII sebagai peringatan 24 tahun (tiga windu) masa pemerintahannya. Hampir setiap kota besar memiliki pasar sejenis pasar Triwindu ini ya, menyediakan berbagai barang antik dan barang-barang tempo dulu. Kaya pasar barang antik di Semarang dan Yogyakarta. Oya, pasar Triwindu ini memiliki dua lantai, tapi sayang banget kami nggak menjelajah ke lantai atas karena lorong-lorongnya lumayan gelap, takut adaaaaa.. Eh
Suasana Pasar Triwindu Sore Hari

Lokasi Pasar Triwindu

Pasar Triwindu terletak nggak jauh dari Pura Mangkunegaran, tepatnya ada di Jl. Diponegoro, Keprabon, Kec. Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Pengin banget suatu saat main ke sini lagi. Buat teman-teman kalau ke Solo coba deh sempatkan mampir ke pasar Triwindu, kujamin bakal senyum-senyum melihat berbagai barang tempo dulu. Seolah-olah kaya lagi reuni, ahahaha

PS : Kalau main ke Pasar Triwindu, jangan kesorean. Jam 16.00 WIB toko udah pada tutup. Uhu

Ella Fitria

You may also like

0 komentar

Ella Fitria 17 Februari 2020 - 03:46

Aaaaa berat kl bawa2 kenangan mantan. Wkwkw

Balas
Ella Fitria 17 Februari 2020 - 03:31

Iya mbak, senang banget ngeliat barang2 macam ini. Tp kl udah beli suka mlas lap2 debunya. Wkwk

Balas
Greatnesia 12 Februari 2020 - 22:55

Mungkin maling jaman now bingung mau jual barang antiknya kemana. Yang mereka tau jual barang antik ya ke pasar triwindu itu, jadi ketahuan deh kalau jual lagi barangnya disana 🙂

Balas
dear anies 12 Februari 2020 - 05:57

ini mungkin syurga bagi pengumpul barang2 antik

Balas
Alfan Ismail 11 Februari 2020 - 21:48

weh dah sampai solo ya mbak,,mantep jalan-jalan terus

Balas
Khanif 11 Februari 2020 - 10:25

topeng kayunya rada nyeremin juga ya itu, kalo di pajang di kamar malem-malem pasti kelihatan menakutkan 😀

Balas
Riza Alhusna 11 Februari 2020 - 10:24

Kalo namanya pasar antik biasanya yang antik-antik juga banyak mbak. Kaya mantan, dia masuk kategori barang antik.

Balas
devina 11 Februari 2020 - 10:24

mungkin bisa di coba lain waktu ya mbak, tapi paling tidak sudah kesampaian untuk ke sana walau sudah tutup hehehehe

Balas
Vicky Cahyagi 11 Februari 2020 - 10:24

Solo terkenal dengan barang-barang antik dan kerajinan tangan yang unik. Nice info

Balas
Kisah Kampungku 10 Februari 2020 - 22:13

Saya justru jadi penasaran dengan pasar Triwindu apakah dipasar itu selain topeng kayu ada juga pantung wayang mbak.

Sepertinya pasar Triwindu memang khusus barang antik yang punya nilai seni tinggi nih.

Balas
rizal hidayat 10 Februari 2020 - 22:12

Selama ini di Solo paling cuma lewat doang kalau naik Bus AKAP. Belum pernah bener-bener niat jelajah kotanya wkwkwk…
Tapi kayaknya bisa tuh dicoba main ke pasar Triwindu

Balas
Ayo Dolan 10 Februari 2020 - 22:12

Satu hal lagi, ternyata Mba Ella suka barang antik. Etapi, itu beneran patung-patung itu di luar toko mba? Aga yang jagain gak? Kalau gak ada yang jagain, nanti tak rencanakan pergi ke sana…

Balas
Reyne Raea 10 Februari 2020 - 22:12

Pokoknya kalau saya ke SOlo lagi, mau banget blusukan di sini, buat foto-foto aja juga gapapa hahahah.

Saya kurang suka koleksi-koleksi barang sih, membayangkan rempong diberesinnya hahaha, ngelap debunya, dasar emang saya mental tukang bersih-bersih 😀

Balas
CREAMENO 10 Februari 2020 - 22:12

Pasar barang antik yang pernah saya kunjungi yang di Yogyakarta saja, belum pernah yang di Solo hihi. Semoga one day bisa ke sana, tapi by the way, lonceng mininya mau buat apa mba? Buat di depan rumah kah? Hihi ~ saya senang dengar bunyi lonceng mini di depan rumah kalau kena angin soalnya 😀

Balas
Arenapublik 10 Februari 2020 - 13:28

kerennn keren nih barang nya… nyari jam antik boleh juga tuh

Balas
Bang Day 10 Februari 2020 - 07:49

Mba Ella untuk foto terakhir bekgronnya bukan pad foto2 ke3 dan ke4.. ntar susah kita bedain xixixixii

Balas
Nasirullah Sitam 10 Februari 2020 - 01:02

Ke pasar ini kudu sabar, biar nggak khilaf. Biasanya saya iseng nyari buku atau apa kalau di tempa seperti ini

Balas
www.ratutips.com 9 Februari 2020 - 22:27

Triwindu kayanya baru denger deh ka ella.. kayanya seru ya banyak lonceng2 hehehehe

Balas
Dewi Elsawati 9 Februari 2020 - 13:20

barang-barang tempo dulu itu kayak menyimpan sejarah ya, dengan melihatnya kita bisa merasakan nilai waktu. asal jangan kenangan mantan aja, hahaha.

Balas
morishige 9 Februari 2020 - 13:20

Baru sekali saya mampir ke Triwindu. Ketemu buku terjemahan lawas pakai ejaan Ophuijsen tentang Alexander the Great. 😀

Balas
1 2 3

Beri Komentar

%d blogger menyukai ini: