Alun-alun Batang Tak Pernah Tidur

oleh Ella Fitria
Langit Purwokerto

Mendung menggelayut manja menghiasi langit Purwokerto. Sore itu aku sudah siap dengan tas ransel dan sepatu kesayanganku. Sembari menunggu sepupuku datang, aku duduk di teras kos membayangkan perjalanan yang akan kami lakukan. Sebenarnya ini bukan kali pertama aku diajak sepupuku touring bersama anak YMCI (Yamaha Mx Club Indonesia) tetapi ini kali pertama aku akan menginjakan kaki di Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Perlengkapan sudah ku persiapkan dari hari sebelumnya, mulai dari obat-obatan, baju ganti, kaos kaki, sarung tangan, jaket, sandal hingga jas hujan. Bawaanku selalu paling banyak, paling ribet, paling lengkap diantara mereka. Padahal mereka kalau touring cuma bawa tas slempang kecil. Barang-barang mereka cukup ditaruh di bagasi motor, *maklum lah, aku cewek! Jadi barang bawaanku banyak, cewek tu selalu benar ya. Catet itu!

Jam 17.00 WIB sepupuku datang menjemputku, kami menuju meet point di Purbalingga. Setelah menunaikan shalat maghrib, kami melakukan perjalanan pukul 18.30 WIB. Meski sedari tadi rintik hujan membasahi aspal jalanan, bahkan semakin deras, tetapi tidak menyurutkan niat kami untuk melakukan perjalanan ini.

Kali ini aku bukan cewek satu-satunya yang ikut touring. Ada Sari yang setia banget nemenin Yoyo kemana pun Yoyo pergi. Mereka sepasang kekasih, uwwww.. Bikin ngiri nggak? Nooo!!! Karena iri itu tanda tak mampu, dan aku sebenarnya mampu kaya mereka. Hahahaha

Denger-denger perjalanan Purbalingga-Batang membutuhkan waktu tempuh sekitar tiga jam. Bukan sombong yes, tapi kalau touring bareng mereka waktu tempuhnya selalu abnormal, misal harusnya tiga jam, kami hanya perlu waktu dua jam untuk melakukan perjalanan. Itu pun berhenti berkali-kali. Hampir setiap pom bensin aku minta berhenti, ya kan karena hujan, dingin pula, penginnya pipis mulu. 😬

Belum lagi perutku bentar-bentar lapar, padahal waktu itu udah berhenti di Belik Pemalang mampir ke abang sate. Setelah kenyang, baru melanjutkan perjalanan eh tapi baru jalan sebentar udah pengin jajan, akhirnya ketemu minimarket ku minta berhenti lagi. Keluar dari minimarket langsung kena protes teman-teman sepupuku. Katanya ribet kalau touring bawa ella, setiap pom bensin musti berhenti, bentar-bentar lapar, udah gitu barang bawaannya kaya orang mau pindahan dan blablabla.. *toyor kepala sendiri

Hujan lebat kembali turun. Semua sudah menggunakan jas hujan, namun kecepatan kendaraan tidak berkurang sedikitpun. Aku teriak-teriak kegirangan menikmati air yang sesekali memaksa masuk ke wajah meski kaca helm tertutup rapat. Ya Gusti, nggak ada yang lebih indah selain naik motor kencang malam-malam di tengah hujan lebat. Tapi tenang sodara, tenang! Meski kecepatan tidak berkurang kami selalu mengutamakan safty first kok, kami sudah mempertimbangkan resiko-resiko yang mungkin terjadi.

Hujan mulai reda, tak terasa kami memasuki jalur pantura. Yihahhh, ini sempurna kaya di film-film action. Menyalip truk-truk besar, sesekali motor kami nyelip ditengah dua truk yang berjalan sejajar. Satu dua kali bunyi klakson truk membuat telingaku penging. Ah ya deg-degan tapi ada kenikmatan sendiri setelah berhasil melewati truk-truk tersebut. Hahaha

Lalu apa yang terjadi di jalur pantura?
Sari tiba-tiba melambaikan tangan, motor Yoyo berhenti perlahan. Memaksa kami untuk ikut berhenti di jalur pantura. Aku sedikit panik, ada apa sebenarnya. Ternyata Sari sakit pinggang. Dibawa duduk pun nyengir-nyengir kesakitan. Ya Gusti, nggak mungkin puter balik pulang juga. Setengah jam lagi kami sampai di alun-alun Batang.

Aku sibuk membongkar obat-obatan yang ku bawa, mencari apapun yang bisa meredakan nyeri. Yes nemu salon pas. Buru-buru ku tempel di pinggang dia, tapi entah berfungsi atau nggak, karena badan dia gede banget 🙁 *pisss yak piss.. Wkwkwk
Lagi panik gini ada aja yang nglawak, ada yang nglepas celana karena celananya basah kena hujan, dia cuma berkolor doang coba. Lagi haha hihi tiba-tiba ada mobil patroli menghampiri. Satu polisi turun dari mobil dan menyapa kami:

Polisi : Selamat malam mas mbak, ada yang bisa saya bantu?

Temanku : Malam pak, teman kami sakit pinggang udah nggak bisa ditahan. Jadi kami terpaksa berhenti di pinggir jalan.

Polisi : Mohon maaf mas, kalau bisa berhentinya di rest area saja. Di depan ada rest area, tidak jauh dari sini. Berhenti di pinggir jalan pantura sangat berbahaya.

Temanku : Siap pak, nanti menunggu temanku sedikit baikan. Kami akan berhenti di rest area depan.

Polisi : Baik, terima kasih. Ohya, bolehkan saya minta foto bareng mas dan mbaknya? Untuk laporan patroli saja kok.

Hmm akhirnya mereka narsis bareng pak polisi yang sedang patroli. Aku sih masih sibuk olesin freshcare ke pinggang Sari.

Jalur Pantura

Setelah Sari bisa duduk kembali, kami melanjutkan perjalanan dengan mengurangi kecepatan, berharap sakit pinggang Sari bisa berkurang. Dan, yuhuy sampai alun-alun Batang kami sudah disambut anak-anak YMCI Banjarnegara, Kendal, Pekalongan, dan Semarang. Ruame banget. Dan tau nggak? Alun-alun Batang tu tetap ramai dari malam sampai subuh. Banyak yang jualan makanan. Salah satunya nasi megono khas Pekalongan, aku sih nggak doyan, nggak nyicipin juga. Tapi sepupuku doyan banget, entah karena lapar atau memang enak. Wkwkwk

Nasi Megono @mechtadeera

Alun-alun Kota Batang

Alun-alun Kota Batang

Fasilitas alun-alun Batang nggak jauh beda dengan alun-alun pada umumnya. Namun yang bikin alun-alun Batang beda adalah alun-alun ini tidak pernah tidur, dari sore-malam-pagi. Paginya aku sarapan di alun-alun juga udah ramai penjual dan pembeli makanan. 🙂 coba kalau dibandingkan dengan alun-alun di karsidenan Banyumas, hhh beda jauuuh…

Ini cerita hari pertama di Kota Batang. Besok hari ke dua lanjut cerita pantai Ujung Negoro yes 🙂

Ella Fitria

You may also like

Beri Komentar