Apa Kamu Pernah Merasa Kehilangan?

oleh Ella Fitria

Aku membutuhkan hening untuk sekedar menyapamu. Menanyakan satu dua hal yang barangkali kamu melupakannya. Belakangan ini aku hanya mampu merebahkan kenanganmu, merangkul sepimu dan menggandeng apa yang menjadi masa lalumu. Berkali-kali aku melawan rasa yang Tuhan titipkan tetapi berkali-kali pula aku kalah. Aku tidak akan menyerah. Tidak. Aku akan menempatkan titipan rasa dari Tuhan di tempat yang jauh di sana, tempat di mana manusia tidak bisa berbuat dusta, tempat di mana manusia pulang setelah jauh mengembara.

Kau tahu? Saat ini di belakangku ada banyak sekali orang yang hidup dengan bantuan alat-alat yang menempel di tubuhnya, ada orang-orang yang hanya bisa berbaring lemah menunggu keajaiban dari Tuhan, ada orang-orang yang sedang merasa dirinya sama sekali tidak berguna, ada orang-orang yang sangat ingin mengakhiri hidupnya. Lalu apa yang mereka butuhkan? Mereka sangat membutuhkan kekuatan dari orang-orang sekitar, orang-orang yang tulus membantu demi kesembuhannya, orang-orang yang rela mempertaruhkan hidupnya demi keselamatannya. Aku disadarkan Tuhan saat mengunjungi mereka setiap pekan. Bahwa hidup bukan melulu soal rasa penyesalan.

Ketetapan dan ketentuan Tuhan tidak pernah keliru. Aku mencoba meyakini kembali. Aku memulai menerima apapun rasa yang saat ini aku rasakan. Tidak dengan melawan lagi, tetapi dengan menerimanya. Menerima dengan penerimaan yang tulus dan memahami dengan pemahaman yang baik. Jika ada pertanyaan seberapa sering aku kehilangan, akan aku menjawab “tidak pernah”. Betapa serakahnya manusia yang kadang merasa kehilangan seseorang, padahal diri kita saja bukan milik kita. Meski sudah tidak bertegur sapa, tidak lagi ada interaksi, bukan berarti kita kehilangannya. Kita masih dapat beinteraksi dengan rasa yang terus terjaga. Kita masih bisa terus menyebut namanya dalam doa-doa terbaik hingga suatu saat kita memutuskan berhenti untuk tidak lagi menyebut namanya dalam setiap doa.

Benar kata orang, jika hujan memiliki banyak kenangan. Aku sepakat. Hanya dengan mendengar suara hujan yang menghantam atap rumah kemudian jatuh satu persatu membasahi tanah dapat membuat ingatanku berlari secepat kilat membuka memori yang sudah lama tersusun rapi, bahkan satu dua sudah ada yang berdebu. Jika sudah seperti itu, aku tidak akan melawannya. Aku akan membiarkan semampu dan sekuat otakku berkompetisi dengan hati. Silakan saja. Jika nanti sudah bosan, akan berhenti sendiri. Di luar sana aku yakin, ada banyak orang yang sama sepertiku. Susah payah melatih diri sendiri untuk berdamai dengan siapapun termasuk dengan diri sendiri. Beruntunglah orang-orang yang pintar mengolah rasa, orang-orang yang bisa menyederhanakan sesuatu, dan mengetahui kelemahan dirinya sendiri sekaligus bisa mencari solusi.

Hai… Kemarilah aku ingin bicara denganmu. Namun jika kau sudah lelah, silakan rebahkan lelahmu dulu supaya terlelap. Tidak perlu membangunkan mereka yang sudah susah payah kau rebahkan. Kemarilah, duduk bersamaku, ceritakan harimu. Aku selalu suka ketika kau bercerita tentang Tuhan dengan semangat menggebu-gebu, sesekali merayu otakku untuk ikut menari-nari bersama argumenmu. Kemarilah, ceritakan juga betapa sibuknya kau menyiapkan bahan diskusi untuk dibahas bersamaku. Ceritakanlah doa-doa yang setiap hari kau panjatkan, tentang mimpi yang kau yakini dalam-dalam, tentang beban yang mereka sandarkan, tentang ide yang tersimpan, tentang apapun yang kau punya. Kehebatan apalagi yang sudah kau capai hingga hari ini? Ceritakanlah padaku. Aku takkan keberatan kau habiskan. Sama sekali tidak. Karena meskipun aku tidak melakukan apa-apa kau akan tetap berjalan menghabisku. [WAKTU]

Ella Fitria

You may also like

Beri Komentar