Kebimbangan Menolak Hingga Pukulan Telak

oleh Ella Fitria
Suatu sore di sebuah Pelabuhan

Pada hati yang siap mendengarkan, aku ingin bercerita suka maupun duka. Kemarilah, duduk di sampingku. Selagi hujan turun, selagi gerimis berlangsung akan kumulai cerita supaya kau tak perlu tahu jika air mataku jatuh secara tiba-tiba.

Pada sesal yang sudah tertinggal jauh. Aku berusaha menolak karena perasaan mengajakku membelalak. Aku selalu mempunyai alasan untuk menolak, tetapi aku tak bisa beralasan kenapa aku terpikat. Tiap detik aku selalu membaca situasi, maka aku harus tahu porsi. Tiap menit aku selalu introspeksi diri, maka dari itulah aku harus sadar diri.

Kau memang benar, tetapi aku tidak salah. Kau memang benar, maka jangan salahkan perasaan yang menggelegar. Mungkin waktu tak tepat, atau aku kurang akurat? Entahlah. Yang pasti aku percaya, Tuhanlah yang sepenuhnya menggengam hati kita supaya tidak ada yang “merasa” tersakiti diantaranya.

Aku tak ingin merusak, karena aku pernah merasakan sampai terisak. Heiii kau, terima kasih sudah menguatkan, terima kasih sudah berbagi, terima kasih sudah selalu mengkhawatirkan kondisi, dan terima kasih sudah selalu menemani disegala keadaan.

Tanpa harus kuucap beribu kata, aku yakin kau tahu apa yang ada dalam benak jiwa. Tak apa, aku baik-baik saja. Kau tak perlu bergegas menguatkanku, lambat laun aku pun akan terbiasa tanpamu.

Heeiii kau, berbahagialah… Agar kau terjaga dari sakit akan luka. Dan ingatlah. Di sana, di tempat yang paling dekat dengan napasmu ada hati yang harus kau jaga. Bahagiakan ia, jangan sampai kau buat terluka. Aku tak apa, bahagiaku sederhana. Bermain bersama robotmu, misalnya.

Terima kasih kau tak segera beranjak dari sampingku, meski aku tahu, jika membahas perihal “hati” kau selalu saja ingin menyudahi. Yah tak apa, setidaknya saat ini aku dan kau sama-sama belajar. Belajar untuk tidak lagi mengkahwatirkan, dan belajar untuk sama-sama melepaskan.

Ella Fitria

You may also like

0 0 vote
Rating Artikel
guest
0 Komentar
Feedback Sebaris
Lihat semua komentar
Qudsi Falkhi
8 November 2018 15:16

Semoga belajarnya berhasil ya mbak, untuk keputusan terbaik, hehehe.

Masandi Wibowo
8 November 2018 15:16

Udah lepasin aja…. kan udah ada Robot-robotannya. bisa kan bahagia main sama Robotnya. 🙂

si dia udah ada yang lain ya? #Kepo.
Loh kok tau? itu di dekat napas ada yang harus di bahagiakan. 🙂

Ramadani Idaham
8 November 2018 15:16

Kalau begitu, duduk lah dipangkuan ibumu dan ceritakan tentang kita, ingat jangan terlalu lama duduk dipangkuan ibumu, berat tau hehe

Niki s
9 November 2018 23:59

semoga cita-citanya tercapai mba
indah banget ya pemandangannya

Tuteh
10 November 2018 10:55

Perempuan yang dalam kecewa (tafsir dari yang saya baca) mampu menulis sebijak ini, luar biasa. Dia dipilih Allah SWT untuk merasakan sakit, sakit, dan sakit, karena Allah SWT tahu dia mampu, mampu, dan mampu melewatinya. Semangat Kak Ella!

Ikrom Zain
13 November 2018 02:01

belajar untuk melepaskan…. ah sulit tapi harus bisa…..
apa kabar Mbak Ella?

sukses selalu ya..

M. Rifan Fajrin
17 November 2018 03:21

tetap semangat, ketika harus memilih mana jalan yang terbaik untuk semuaaa

Ella Fitria
3 Desember 2018 08:50

Iyaaaaa!!! Udah aku lepasiiin, nih lg main sama robot2nya��
Mas Andi mah ngledek mulu

Ella Fitria
3 Desember 2018 08:51

Hahaha. Kan kampret mas Idaham

Ella Fitria
3 Desember 2018 08:53

Mbak Tuteh boleh peluk kamu nggak sih? Huhu
Makasih yaaa, sun jauh :*

Ella Fitria
3 Desember 2018 08:54

Bisa dong, harus mas!
Alhamdulillah kabar baik, Mas Ikrom juga sehat to? Sukses selalu jugaaaaaa yaaa

Ella Fitria
3 Desember 2018 08:55

Harus dong mas, makasih yaa. . Makin termotivasi nih, eheheh

Bang Day
1 Januari 2019 08:42

Nanti jadi PDKT.
Pernah Dekat Kemudian Terlupakan

Ella Fitria
2 Februari 2019 03:58

hahahah, akronimnya lucu ih