Menyusuri Sudut Kota Lama Semarang

oleh Ella Fitria
Kota Lama Semarang
Kota Lama Semarang

Siang itu jalanan Kota Semarang tak begitu padat. Panas terik menemani perjalanan kami. Entah sudah berapa kali kami melewati lampu merah di persimpangan kota ini. Motor kami melaju lambat, sembari memutar otak memilih destinasi terdekat dengan lokasi kami. Kebetulan kami punya hobi sama, sama-sama penggemar rocket chicken, jadi sudah bisa dipastikan jika kami sedang bersama wishlist rocket chicken berada diurutan teratas. Kami memutuskan menepi ke rocket chicken dekat stasiun Semarang Poncol, mengisi perut sembari mempertimbangkan estimasi waktu jika melipir ke Kota Lama Semarang sedangkan jadwal tiket keberangkatan kereta api beberapa jam lagi.

Kawasan Kota Lama Semarang

Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Lama Semarang, kota ini memiliki julukkan “Little Netherland” konon karena kawasan kota Lama Semarang cukup luas dan terpisah dengan kawasan lain. Kami masih memiliki waktu kurang lebih 2,5 jam untuk berkeliling di tempat ini. Kota Lama Semarang merupakan kawasan pusat perdagangan pada abad 19-20. Di kawasan ini terdapat benteng bernama Vijhoek. Tepatnya terletak di Jl. Letjen Soeprapto.
Kota Lama Semarang
Semarang Kreatif Galeri
Kota Lama Semarang
Semarang Kreatif Galeri

Setelah melewati jalanan berdebu karena kebetulan sedang ada perbaikan jalan di kawasan Kota Lama Semarang, sepeda motor kami diparkir persis di depan Old City 3D Trick Art Museum Semarang. Aku sengaja meminta jalan kaki, alasannya supaya lebih banyak menangkap dan merekam bangunan tua tempoe doeloe di kawasan ini. Kami melangkahkan kaki menuju Semarang Kretif Galeri di Jl. Letjen Suprapto No.7, Tj. Mas, Kec. Semarang Utara, Kota Semarang. Awalnya  kunggak tahu isi dalam galeri seperti apa, eh saat dorong pintu masuk galeri rasanya nyessss dan wangi banget, lalu disambut dua satpam dan beberapa mannequin. Wagilasih ini galeri ternyata isinya berbagai produk UKM Semarang. Jadi berandai-andai Banjarnegara punya galeri semacam ini. Hhh

Kota Lama Semarang
Rumah Akar Kota Lama Semarang

Rumah Akar Kota Lama Semarang

Kami melanjutkan menyusuri kota Lama Semarang. Meski terik, tapi semangat kami nggak kalah dong. Tujuan awal ke kawasan ini sebenarnya ke Rumah Akar, beberapa kali membuka maps untuk memastikan jalan menuju Rumah Akar. Beberapa kali kami nyasar masuk gang yang salah karena gang menuju Rumah Akar ditutup sementara akibat perbaikan jalan. Kami saling tatap beberapa detik, hening lulu tertawa. Menertawai kebodohan kami, ya gimana jalan muter-muter ujungnya ketemu gang yang ditutup lagi. Akhirnya  kami menemukan jalan lain meski harus melewati aktivitas bapak-bapak yang sedang memperbaiki jalan, rela menginjak pasir, material, dan melewati beberapa alat berat, kami sampai di Rumah Akar ini. Alhamdulillah. Kami saling tatap dengan senyum lebar.

Kota Lama Semarang
Kota Lama Semarang

Kenapa disebut Rumah Akar? Mungkin karena akar pohonnya menempel di rumah, atau rumahnya yang menepel di pohon? Entahlah, yang jelas akar ini bisa dikatakan sebagai tembok rumah tersebut. Pohon besar yang menjulang tinggi dengan akar yang kokoh menjadi spot instagenic pengunjung Kota Lama Semarang. Jiwa petakilanku nggak bisa direm, kulangsung manjat ke akar pohon lalu duduk pose di dekat jendela rumah. Duh ya Allah. Mau belajar kalem tapi tahun depan ajalah~ 

Rumah akar ini udah nggak beratap, banyak lumut yang menempel di dinding rumah membuat kesan rumah makin tua. Tapi nggak menyeramkan kok, persis di dekat Rumah Akar juga terdapat warung tenda lengkap dengan kursi dan meja.
Setelah puas berfoto (sebenernya belum puas) tapi udah banyak yang antre, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat parkir sepada motor kami. Suasana sore Kota Lama makin syahdu ketika suara biola terdengar. Ternyata di depan bangunan G. P. I. B Immanuel ada laki-laki paru baya sedang asyik memainkan biola, pemandangan yang tak kalah menyejukkan adalah ketika burung-burung berterbangan seolah ikut menikmati alunan biola. Duh nggak pengin pulang, huhuhu
Kota Lama Semarang
Bangunan yang masih aktif digunakan
Cafe Spiegel Kota Lama Semarang
Kota Lama Semarang
Kota Lama Semarang

Btw, aku nggak bisa menghitung jumlah bangunan kuno di sini, yang jelas ada puluhan bangunan yang masih kokoh dengan ornamen-ornamen yang identik dengan gaya Eropa. Beberapa kali langkah kami terhenti mengamati bangunan yang sudah tidak terawat, hampir semua bangunan kuno disini memiliki ukuran pintu dan jendela yang cukup besar, penggunaan kaca-kaca berwarna, serta bentuk atap yang unik. Selain bangunan yang tidak terawat, pun ada bangunan yang sedang direnovasi tanpa menghilangkan ciri khas bangunan awal. Beberapa bangunan juga terlihat masih aktif digunakan sebagai office bank, cafe, dan minimarket.

Kota Lama Semarang
Bangunan yang sedang direnovasi
Kota Lama Semarang
Kota Lama Semarang

Kami terus berjalan sembari membicarakan apa saja yang terlintas dipikiran. Muka kluwes karena debu akibat perbaikan jalan dan panas terik nggak bikin kami mengeluh. Kaki pegal, pundak linu karena gendong ransel nggak bikin kami kapok main ke sini. Malah penasaran dengan wajah baru kota Lama Semarang  kalau revitalisasi sudah selesai. Sepertinya bakal nyaman karena beberapa tempat duduk di pinggir jalan sudah mulai disediakan di beberapa titik. Duh, mau lagi keliling Kota Lama Semarang, maukkk! 

Ella Fitria

You may also like

0 komentar

Ella Fitria 7 November 2019 - 05:40

yo ayok ke semarang buat explore kota lama.. sekarang makin rapih lohh

Balas
Ainun 13 Juli 2019 - 07:04

Blom kesampaian explore kota tua nih, rumah akar memang unik keliatannya, nggak salah kalo jadi spot Poto paporit rang orang ya

Balas
Ella Fitria 23 Juni 2019 - 04:50

Wujudin mimpinya dong

Balas
Ella Fitria 23 Juni 2019 - 04:50

Cus ke sana lah mas

Balas
Ella Fitria 23 Juni 2019 - 04:49

Cieeee kota penuh kenangan. Cieeee

Balas
Michael "Dije" David 23 Juni 2019 - 00:01

Kan, jadi pengen ke sini, kan.. tanggung jawab mba wokwowkowowkokw =))

Balas
Aorlin 23 Juni 2019 - 00:01

Punya mimpi, bisa keliling-keliling kota semarang! hehehe

Balas
Bang Day 20 Juni 2019 - 00:24

Coba aja mba, nanti diceritain lagi di blog 🙂

Balas
Aris Armunanto 18 Juni 2019 - 10:11

Mbak Ursula, ngontel di kota lama yg panas apa nggak banjir kringat hehehe

Balas
Aris Armunanto 18 Juni 2019 - 10:11

Baca artikel ini jadi kangen kota lama dan juga kangen Semarang, kota penuh kenangan

Balas
1 2

Beri Komentar

%d blogger menyukai ini: