Ratusan Koleksi Masterpiece Di Temurun Privat Museum Surakarta

oleh Ella Fitria
Temurun Privat Museum

Suara peluit terdengar nyaring dari balik jendela kaca menandakan Kereta Api yang kami tumpangi siap diberangkatkan. Dalam hati, aku merapel doa supaya perjalanan menyenangkan dan selamat sampai tujuan. Surakarta atau Solo lebih dikenal dengan budaya Jawanya, dikenal juga dengan Kota Liwet dan Kota Batik membuat kami memutuskan menuju kota ini.

Derit gerbong kereta membangunkan kami saat kereta hendak tiba di Stasiun Solo Balapan, sekitar dua setengah jam kami menempuh perjalanan. Dengan mata masih mengerjap, kuraih ransel lalu perlahan menuruni tangga peron. Rasa kantuk mulai sirna saat kami bergegas melangkahkan kaki keluar dari Stasiun. Kami tersenyum, mata kami beradu bahagia. Yassss Soloooo! Akhirnya kesampaian juga setelah mencari waktu dan kesempatan yang klik. Kami menyempatkan mencari sarapan di sekitar Stasiun sebelum menuju Temurun Privat Museum.
Stasiun Solo Balapan
Alhamdulillah zona merah ojol di stasiun Solo Balapan jaraknya nggak terlalu jauh. Makin bahagia kan, nggak perlu jalan kaki sambil ngos-ngosan gendong ransel segede gaban.

Cara Berkunjung ke Temurun Privat Museum

Baru kali ini aku masuk museum yang kudu mendaftar via online H-2 sebelum kunjungan. Biasanya main ke museum mah tinggal datang, bayar tiket, lalu masuk. Tapi berbeda dengan Temurun Privat Museum, kalian harus mendaftar via web http://www.tumurunmuseum.com/ H-2 sebelum kunjungan. Meski mendaftar via web, tapi nggak ribet kok. Kalian cukup pilih waktu kunjungan, lalu mengisi formulir. Selanjutnya akan ada email masuk ke kalian. Kalian cukup mengisi formulir menggunakan data satu orang, nah satu orang itu boleh membawa rombongan maksimal lima orang. Iya lima orang aja, nggak usah banyak-banyak memang mau apa? Arisan? Kalau memang mau rombongan lebih dari lima orang, berarti salah satu teman kalian harus ikut mengisi formulir juga. 
Temurun Privat Museum

Sesampainya di Temurun Privat Museum, kami agak kaget. Sempat meragukan, lokasi museum karena nggak ada plang atau tulisan yang menandakan itu Temurun Museum Privat. Tetapi karena kami sudah melakukan penelusuran jauh-jauh hari mengenai lokasi Museum ini, bismillah aja masuk meski pintu gerbang masih tertutup rapat. Saat kami mau masuk ada dua satpam yang sigap menyambut kami. Benar-benar privaaaaat, data kami dicocokan terlebih dahulu dengan data yang mereka miliki, barulah pintu gerbang dibuka.

Setelah menunggu kurang lebih setengah jam, kerena kami sengaja datang lebih awal supaya nggak ketinggalan tur. Ya gimana kami hanya memiliki waktu 60 menit untuk menikmati isi museum ini. KAN NGGAK MAU JAUH-JAUH KE SANA TELAT MASUK MUSEUM! Sebelum masuk ke museum kami dibriefing terlebih dahulu, mas guidenya sedikit menjelaskan sejarah Temurun Privat Museum dan aturan-aturan saat kami berada di dalam museum.

Mengenal Temurun Privat Museum

Tidak lain tidak bukan karena the power of medsos aku tahu Temurun Privat Museum ini. Kudet banget kan, ya? Masya allah. Saat iseng-iseng mencari destinasi wisata di Solo, aku menemukan Temurun Privat Museum. Yang membuat kami ngebet ke sana karena museum ini memiliki buanyak lukisan-lukisan maestro, nggak ngerti juga kenapa aku suka banget melihat lukisan, padahal aku ngegambar aja nggak bisa.

Temurun Privat Museum ini merupakan museum pribadi milik Iwan Kurniawan Lukminto. Beliau membuat Museum ini karena terinspirasi koleksi alm. ayahnya. Ada ratusan karya seni masterpiece, mulai dari lukisan modern hingga karya seni kontemporer. Semuanya adalah milik pribadiiiii. Nah keren banget nggak tuh?

Sekitar 300 karya seni berupa lukisan, seni rupa patung, mobil antik klasik, radio antik, meja, dan banyak lainnya tertata rapih di sana. SUMPAH INI MUSEUM TERKEREN DAN TERNYAMAN YANG PERNAH KUDATANGI.

Museum ini terbagi menjadi dua lantai, lantai pertama berisi karya seni kontemporer. Pertama kali kami masuk disambut dengan “Floating Eyes” tumpukan bola mata berukuran besar mengkiap. Floating Eyes ini merupakan istalasi karya Wedhar Riyadi yang pernah menjadi sorotan dalam ajang Artjog 2017 di Yogyakarta.

Floating Eyes Temurun Privat Museum
Floating Eyes Temurun Privat Museum

Aku paling takjub lihat lukisan The Last Supper versi Hanacaraka. Gilaaaak keren buangeeet, lukisan terkenal buatan Leonardo da Vinci dilukis ulang oleh Eddy Susanto dengan teknik menyusun kombinasi huruf hanacaraka yang membentuk gambar The Last Supper Monokrom. Apalagi nggak cuma dilukis di canvas, tapi Eddy Susanto juga melukisnya di meja dengan media kayu. Oh gustiiiii, ini bikin mlongoooo. Ya kali aku nulis aksara hanacaraka aja cletat-cletot lha ini dijadikan lukisan.

Sketsa Lukisan The Last Supper versi Hanacaraka Eddy Susanto
Lukisan The Last Supper versi Hanacaraka Media Kayu oleh Eddy Susanto
Lukisan The Last Supper versi Hanacaraka Media Canvas oleh Eddy Susanto

Selain lukisan Eddy Susanto yang menyita perhatianku lukisan A Heaven Tale oleh JA Pramuhendra, lukisan hitam putih ini dilukis menggunakan arang. IYA ARANG. Ya ampun, aku udah nggak bisa ngomong apa-apa lagi, cuma bisa mengangkat kamera, mengambil gambar sebanyak yang kubisa, keren gilaaaak gustiii.

Lukisan A Heaven Tale oleh JA Pramuhendra. Dilukis menggunakan arang
Sedangkan lantai dua berisi karya seni Modern art, terdapat lukisan old master seperti Affandi, Ahmad Sadali, Antonio Blanco, Hendra Gunawan, S Sudjojono, Johan Rudolf Bonnet, Walter Spies, Basoeki Abdullah, dan Raden Saleh. Tapi kami nggak bisa masuk ke lantai dua karena nggak dibuka untuk publik. Huhuhu. Sedih.

Nggak papa meski nggak masuk ke lantai dua, kami udah bahagia banget. Takjub banget, dikasih kesempatan untuk menikmati karya seni sekeren ini. Ya pantes nggak ada HTM karena mau bayar berapapun menurutku nggak bakal sebanding dengan apa yang bisa kami nikmati di dalam museum. Duh pengin ngucapin makasih sama keluarga Lukminto ih. Nggak nyesel ke Solo dengan tujuan utama Temurun Privat Museum.

Baca juga : Mahakarya Muesum Affandi Yogyakarta 

Lokasi Temurun Privat Museum

Lokasi Temurun Privat Museum nggak jauh dari Stasiun Solo Balapan, sekitar 1.5 KM doang. Bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun empat, yaiyalah kan di kota. Tepatnya berada di Jalan Kebangkitan Nasional No. 2, Sriwedari, Laweyan, Solo. Telp. 0271-7463320. Kalau kalian mau tanya-tanya soal Temurun Privat Museum bisa melalui WhatsApp +6281227002152

Ella Fitria

You may also like

0 komentar

Ella Fitria 7 November 2019 - 05:17

kerennya memang kebangetan ini mbak

Balas
Rohyati Sofjan 25 September 2019 - 07:21

Saya suka dengan lukisan pakai arang itu. Keren banget yang bikinnya. tahu bagaimana membentuk gambar dengan media arang, seakan hati-hati menyusun komposisi.sehingga bagian yang tidak gelap ikum membuat bentuk tersendiri. Cowoknya ganteng. Tatapan matanya seakan dalam dan serius kala memandang buku. Jadi ingat Reza Rahadian, sih. Hi hi.
Andai bisa lihat lukisan karya Walter Spies dan Rudolf Bonnet. Pengen banget bisa ke sana.

Balas
Ella Fitria 23 September 2019 - 10:27

Pol mas. Ini musim ternyaman yang pernah ku kunjungi

Balas
Ella Fitria 23 September 2019 - 10:27

Iya, Mas.. Kece bangeeet, maesteo semua tuh

Balas
Ella Fitria 23 September 2019 - 10:26

Iyaaa, transportasi tercintaaaa ya kereta api. Hhh
Gila emg lukisannya indah2 buangeeet. Kerennn

Balas
Ella Fitria 23 September 2019 - 08:50

Bisa cek google ya mas, kenapa penamaannya solo dan surakarta. Kl ku yg jelasin nanti takut salah. #ngelessss

Balas
1 2

Beri Komentar

%d blogger menyukai ini: