Kenali dan Jaga Kesehatan Mental dengan Mudah

oleh Ella Fitria
Kesehatan Mental
Ngomongin kesehatan mental selalu bikin flash back beberapa tahun lalu. Tepat tahun 2017 setelah sidang skripsi, aku mengalami kecelakaan hingga kepalaku cidera. Katanya, saat dibawa ke rumah sakit darah segar mengucur dari kepalaku, mual muntah tak bisa lagi ditahan. Saat itu aku masih tersadar, mataku masih bisa melihat langit-langit ruang IGD meskipun lama kelamaan memudar hingga pandangan kabur dan gelap. Cidera kepala membuatku berusaha sekuat tenaga untuk bertahan dari gangguan mental hingga akhirnya bisa kembali ‘normal’ seperti sekarang, meskipun kadang mood berantakan tapi masih wajar.

Cidera Kepala yang Berujung Cidera Mental

Enam bulan lamanya aku hanya bisa mengingat secuil masa lalu, awalnya ku kira gegar otak itu hanya ada di sinetron, tapi ternyata gegar otak nyata adanya. Meskipun dokter mendiagnosa gegar otak ringan, namun perjuangan adaptasi dengan keadaan nggak semudah membalikan telapak tangan. Iya, rasanya enam bulan hampir ‘gila’. Aku benar-benar membatasi diri, kepercayaan diri lambat laun mulai hilang ketika teman-teman menjengukku. Aku butuh waktu untuk bertemu orang lain, karena tiap mereka mengajakku ngobrol, aku merasa menjadi orang bodoh sebodoh-bodohnya meskipun di depan mereka aku mencoba biasa saja. Namun, ketika mereka beranjak pulang, aku nggak bisa mengontrol emosi, seringkali menangis sesenggukkan menjadi kebiasaanku setiap hari.

Ketika teman-temanku asyik mengobrol, aku hanya pura-pura ikut tertawa dan menanggapi. Padahal sebenarnya aku nggak ngerti dan nggak paham obrolan mereka. Marah, benci, nggak percaya diri, merasa nggak ada yang bisa ngerti, merasa nggak diperhatikan, dan paling parah merasa nggak berguna hidup di dunia campur menjadi satu. Sampai pada akhirnya orang yang kusayang meninggalkanku kembali saat aku mengalami gangguan mental. Makin hancur? Iya pasti! Bukan merangkul dan mensupport melainkan memilih pergi. Saat itu, aku benar-benar merasa kehilangan diriku sendiri, makin nggak berani membuka diri. Takut kalau teman-temanku mengetahui kesehatan mental yang kualami akan meninggalkanku sama seperti orang yang kusayang. Bersyukur memiliki Ibu yang tangguh dan sabar luar biasa. Sentuhan dan pelukkan beliau selalu aku rasakan ketika aku mulai nggak ‘normal’.

Mengenal Kesehatan Mental

Mengenal Kesehatan Mental

Dua tahun lamanya aku nggak pernah berani membalas chat dari teman-teman lamaku. Meskipun di medsos aku terlihat sehat dan baik-baik saja. Fisik kelihatan sehat, tapi apakah kesehatan mental juga baik-baik saja? Jawabnya belum tentu! Definisi sehat bukan hanya kesehatan fisik semata, melainkan meliputi sehat mental, sosial, dan sehat jiwa. Menyeluruh. Menurut WHO, kesehatan mental adalah keadaan dimana seseorang sadar akan potensi yang dimilikinya. Sedangkan gangguan mental adalah jika seseorang memiliki pola perasaan, pikiran, atau perilaku yang pada akhirnya menimbulkan distres untuk dirinya sendiri sehingga membuat dirinya kehilangan potensi untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Sederhananya, gangguan mental akan terjadi jika muncul konflik seperti harapan dan kenyataan yang berbeda. Ketika mind kita maunya yang menyenangkan saja sedangkan kenyataannya nggak sesuai dengan apa yang kita mau, hal semacam itu bisa membuat mental cidera. Penyebab mental cidera ada banyak sekali, mulai dari permasalahan pendidikan, kesehatan, asmara, karir, keluarga, dll. Jujur hayooo, siapa yang pernah mengalami gangguan mental? Sebenarnya perasaan sedih, marah, benci,  dll wajar kita rasakan ketika kita mengalami suatu masalah, namun saat perasaan dan pola pikiran mengganggu aktivitas sehari-hari atau bahkan sampai melakukan self harm (menyakiti diri sendiri) serta produktivitas kita menurun, maka sudah saatnya kita meminta pertolongan ke ahli. Please, jangan meremehkan kesehatan mental yang kita alami. It’s okay kalau kita masih bisa mengolah emosi, kalau kita masih bisa mengontrol diri. Yakinlah, gangguan mental ini bukan aib. Gangguan mental ini akan berlalu asal kita bisa melakukan treatment dan penanganan yang tepat.

Langkah Mudah Menjaga Kesehatan Mental

Langkah Mudah Menjaga Kesehatan Mental

Semua orang berpotensi mengalami gangguan mental, jadi buat kamu di luar sana yang sedang stres, depresi, atau mengalami kecemasan hebat dan susah mengontrol emosi, percayalah kamu akan baik-baik saja. Kamu nggak sendirian dan kamu mesti berjuang karena sebenarnya banyak orang yang peduli denganmu. Peluk jauh dulu, sini. Nggak apa-apa, semua bakal baik-baik aja. Yang penting percaya dan yakin kalau kita bisa melewatinya. Sama halnya aku, untuk membedakan hewan serigala dan harimau aja nggak bisa, karena benar-benar nggak ingat. Jadi mau nggak mau kudu belajar dari nol lagi supaya bisa menjalani kehidupan โ€˜normalโ€™. Sekuat aku berlatih mengenal hal yang sebenarnya sepele. Kadang marah, emosi, ngomong sama diri sendiri โ€˜ih nginget nama hewan aja nggak bisa, nggak tahu. Kalah sama anak TKโ€™. Tapi balik lagi, aku meyakini semua bakal berlalu. Nah, berikut ada beberapa langkah sederhana menjaga kesehatan mental:

Kontrol Emosi 

Jujur, nggak mudah memang mengontrol emosi. Kita harus mencoba mengenali diri sendiri supaya nggak mudah tersinggung omongan orang. Sebisa mungkin pilah omongan-omongan yang masuk ke hati. Biasanya kalau aku sedang emosi, memilih diam barang sebentar. Lalu mendoktrin pikiran dengan hal-hal yang menyenangkan. Mencintai diri sendiri dengan menerima apapun keadaan yang terjadi akan membantu mengolah emosi yang kita rasakan. Sakit hati, nggak papa. Terima aja, jangan dilawan. Toh nanti bakal pergi sendiri kalau kita sudah menerimanya.

Mencoba Hal Baru

Kadang kalau sedang kalut dan bosan dengan rutinitas aku mengalihkan kegiatan dengan mencoba hal baru yang aku sukai. Istirahat sejenak dari rutinitas memang membantu mengcharge mood supaya makin produktif. Hal baru yang belakangan kucoba adalah berkenalan software editor. Aku punya prinsip meskipun sakit hati nggak akan bisa menghentikanku untuk selalu berkarya. Nggak lain, demi menjaga kewarasan kan? Hhhh

Bercerita kepada Orang lain 

Poin ke tiga ini mesti hati-hati, jujur meskipun aku banyak omong di depan teman-teman tapi hanya satu dua teman yang menjadi teman cerita. Memilih teman bercerita memang sangat penting, nggak mau kan ketika kita bercerita justru mendapat judgment (kurang salat, jauh dari Tuhan, lebay, atau bahkan alah masalah sepele doang). Teruntuk kamu, terima kasih sudah menjadi teman tumbuh yang sabar dan menguatkan.

Jalan-jalan

Btw, poin keempat jangan dilakukan dulu ya. Soalnya lagi pandemi, kudu di rumah aja. Ahahaha. Jalan-jalan versiku adalah pergi ketempat sejuk yang bisa membuat pikiran adem, sawah, laut, hutan, sungai, danau atau tempat apapun yang asri-asri. Karena lagi masa pandemi, keluar rumahnya cukup di halaman rumah aja sambil berkebun menaman bunga atau biji sayuran.

Olahraga dan Makan yang Bergizi

Olahraga nggak harus muluk-muluk lari 1000 meter atau berenang berjam-jam kok. Dulu aku suka melakukan senam yoga hanya berbekal dari chanel youtube. Rasanya setelah melakukan senam yoga pikiran dan hati lumayan adem karena nggak terfokus ke masalah yang sedang dialami.

Meditasi

Yap! Meditasi ngefek banget di aku. Sungguh dengan meditasi pikiran yang ricuh bisa sedikit kucontrol. Teknik meditasi juga kudapatkan di chanel youtube, cukup dengan melakukan meditasi 10-15 menit perhari.

Istirahat yang Cukup

Gimana mau sehat kalau kurang istirahat, ya kan? Meskipun ini masih susah ku terapkan, jadi kalau lagi produktif bisa semalaman di depan laptop. Tapi bersyukur banget punya teman tumbuh yang nggak bosan mengingatkan. Kalau perlu batasi jam kerja dan penggunaan gadget supaya bisa istirahat lebih maksimal.

Konsultasi Dokter Online

Nah, itu tadi adalah pengalamanku ketika mengalami cidera kepala yang berujung cidera mental. Semoga melalui tulisan ini bisa membuat kita lebih aware terhadap issue kesehatan mental. Karena kesehatan mental bukan aib yang harus dibungkus rapat, melainkan harus mendapat treatment yang tepat dari ahli. Kalau sekiranya kamu mengalami gangguan kesehatan mental yang mengganggu aktivitasmu, kamu bisa coba konsultasikan ke ahli, ya. Atau bisa juga konsultasikan ke dokter Halodoc. Jangan lakukan self diagnose karena nggak akan menyembuhkan ke khawatiranmu.

Ella Fitria

You may also like

0 komentar

Ella Fitria 1 Juni 2020 - 11:58

Iya mbakk. Ahmdulillah sudah sehatan ๐Ÿ™‚
Semangat trs yaa.. Terima kasih sudah berjuang sejauh ini mbak ๐Ÿ™‚

Balas
Ella Fitria 1 Juni 2020 - 11:57

Buatku juga kontrol emosi masih susah diterapin mbak. Tp mesti belajar pelan2.. Kl dh lg emosi kudu bgt mikir rasional, tarik napas, biar agak lega. Hhh

Balas
Ainun 31 Mei 2020 - 13:50

kontrol emosi bagi sebagian orang mungkin agak susah juga diterapin, tapi kudu diusahain
mencoba hal baru sepertinya menarik untuk dicoba, bisa bikin otak refresh juga
kalo semuanya masih merasa nggak berhasil, langkah akhir ke dokter spesialis ini tadi

Balas
Ainun 31 Mei 2020 - 13:50

wkwkwkwk wahh sama nih sama riza, kalo gejala yang kayak ini rata rata pegawai kantoran mengalami

Balas
Ella Fitria 29 Mei 2020 - 07:29

Iya bner sekali mas. Merasa terbantu bgt dg adanya teknologi saat ini ๐Ÿ™‚

Balas
Arenapublik 27 Mei 2020 - 23:45

lagi-lagi halodoc mengambil peran sekali ya untuk jad dokter "online" nya masyarakat indonesia ehehe

Balas
Ella Fitria 27 Mei 2020 - 03:09

Iya mas. Alhmdulillah sudah pulih dan membaik. Kl itu sih bukan gangguan mental tp gangguan pengeluaran. Wkwk

Balas
Riza Alhusna 26 Mei 2020 - 01:45

Loh pernah jatuh to mbak? Alhamdulillah sekatang udah sehat lagi.

Aku juga kadang ngerasa gangguan mental. Terutama pas tanggal tua. Gajian belom masuk tapi tagihan udah antri kaya ular-naga-panjangnya-bukan-kepalang…

Balas
1 2

Beri Komentar

%d blogger menyukai ini: