Sepenggal Kisah Menebar Kebaikan untuk Malaikat Kecil

oleh - April 12, 2020

Ilustrasi Bayu di Sekolah
Tiap pagi langit halaman sekolahku dipenuhi senyum dan doa dari para orang tua yang mengantar anaknya. Aku ingat betul ketika pertama kali masuk ke ruang kelas dan berkenalan dengan anak-anak pada awal semester lalu. Minggu pertama, formasi anak-anak masih lengkap, mereka terlihat semangat dan menikmati kelas baru.

Masuk minggu kedua, ketiga, hingga keempat salah satu anak mulai sering tidak berangkat tanpa ada keterangan. Tiap kali dia kembali masuk, aku berusaha mencari tahu alasan kenapa dia tidak berangkat sekolah. Bahkan selain sering bolos, dia juga sering tertidur di kelas. Anggap saja namanya Bayu. Bayu seharusnya sudah kelas 5 SD, namun karena pernah berhenti sekolah, saat ini dia baru duduk di bangku kelas 2 SD. Bukan tanpa alasan Bayu berhenti sekolah, bukan tanpa alasan pula Bayu sering bolos dan tertidur di kelas.

Awalnya, aku mengira Bayu ini anak pemalas. Dia sering terlambat, jarang mengerjakan PR, jarang mandi, bahkan ketika dinasihati kadang tidak peduli. Aku kembali memutar otak, mencari cara agar bisa masuk ke dunia Bayu, mencari tahu penyebab kenapa dia bertingkah seperti itu.

Bayu, Malaikat Kecil yang Butuh Diperhatikan

Setelah mengumpulkan informasi, ternyata Bayu hanya tinggal bersama neneknya. Ibunya sudah meninggal sejak dia masih kecil, ayahnya sudah beristri lagi dan mengadu nasib di ibu kota. Ah ya, aku salah menilainya. Mulai saat itu juga aku berjanji pada diri sendiri, berjanji sebisa dan semampuku memberi perhatian lebih kepada Bayu. Seringkali, hatiku ngilu saat mendengar alasan Bayu tidak berangkat sekolah. Bibir mungilnya berkata lirih sambil senyum-senyum tak berdosa:
Nenekku tidak punya uang buat uang sakuku, bu. Aku mau berangkat sekolah tapi malu sama teman-teman kalau tidak jajan. Mau sarapan banyak biar di sekolah tidak lapar ternyata cuma ada nasi kemarin, ya udah jadinya aku tidur lagi pas nenek berangkat ke kebun.
Foto Anak-anak Makan Siang Bersama
Please ini tahun 2020, di depan mataku persis ada sosok malaikat kecil yang sering menahan lapar ketika anak-anak yang lain jajan hingga perut kenyang. Ketika teman-temannya dibawakan bekal oleh ibunya, Bayu hanya mampu membeli nasi goreng dengan harga seribu rupiah di kantin sekolah. Gusti. Aku jahat sekali.

Perlahan aku selalu memberinya energi positif. Aku selalu meyakinkan Bayu, kalau pun Bayu tidak mendapat uang saku, bu guru siap memberi Bayu uang saku. Tetapi dengan syarat, Bayu tidak boleh bolos-bolos lagi, Bayu juga tidak boleh tertidur di kelas lagi, Bayu harus rajin salat lima waktu. Iya aku belum memiliki anak, aku belum merasakan menjadi seorang ibu, akan tetapi aku bisa merasakan apa yang Bayu rasakan karena aku juga anak broken home, meskipun tidak kekurangan apapun tetapi di titik tertentu pernah merasakan dunia seolah berhenti berputar.

Hampir tiap kali Bayu menerima uang Rp 2.000,- wajahnya selalu sumringah seolah mendapat uang ratusan ribu. Gusti, sungguh aku selalu menahan tangis bahagia setiap melihat perkembangan Bayu. Semangat Bayu yang luar biasa mampu mengubah kebiasaan buruknya. Kalian percaya tidak? Mulai saat itu juga Bayu selalu melaksanakan salat jamaah lima waktu di mushala terdekat. Aku tahu karena neneknya datang ke sekolah sebelum berangkat berkebun. Meskipun raut wajahnya dipenuhi garis-garis keriput, namun terpancar bahagia dengan mata yang sedikit basah. Beliau menyampaikan rasa terima kasih diiringi dengan ribuan doa. Serius, berbagi kebaikan tak hanya dengan materi, tetapi bisa dengan kasih sayang dan ketulusan yang berasal dari hati.

Dunia Kita Sama tetapi Terasa Berbeda

Pernah juga setelah pulang sekolah, aku mengajak Bayu untuk memotong rambutnya yang sudah panjang ke tukang cukur yang ada di Pasar Manis, kalian tahu bagaimana ekspresi Bayu? Wajahnya langsung berbinar, bola matanya tak mau berhenti melihat kanan kiri, dia sangat bahagia. Padahal Pasar Manis ini tidak jauh berbeda dengan pasar yang ada di desa-desa. Tetapi bagi Bayu, Pasar Manis menjadi tempat mewah karena jarang dikunjungi. Selesai potong rambut, dia berbisik kepadaku.
Bu, aku lapar. Pengin bakso tapi ditraktir bu guru lagi, ya? Hehehe
Katanya sambil nyengir. Aku mengiyakan sambil mengusap kepalanya.

Dan kalian tahu bagaimana perasaanku saat melihat Bayu menyantap bakso dengan lahap? Lagi-lagi aku menahan air mata, rasanya campur aduk. Pergulatan batin yang luar biasa, ya Gusti. Padahal kalau aku mau, aku bisa makan bakso setiap hari. Sedangkan Bayu? Mungkin setahun sekali juga belum tentu. Saat aku membayar bakso yang telah kami makan, Bayu protes ke penjual baksonya.
Kenapa aku sama bu guru makan dua mangkuk doang harus bayar mahal banget, pak? Biasanya aja aku beli siomay 3 ribu banyak banget!
Padahal kami hanya habis sekitar Rp. 30.000,-.

Kegiatan KBM di dalam kelas
Hari-hari kami lalui dengan semangat dan kehangatan di dalam kelas. Aku yang tiap hari dibekali jus alpukat oleh ibuku membuat Bayu heran hingga terlontar pertanyaan dari Bayu
Bu, bu guru punya buah alpukat banyak, ya? Kok tiap hari bawa jus alpukat terus sih? 
Aku cuma tersenyum, dan melempar tanya.
Bayu mau jus alpukat? *sambil mengusap kepalanya.
Lagi-lagi senyumnya mengembang dan menjawab dengan nada pelan
Mau bu, aku belum pernah minum jus alpukat, nggak tahu rasanya jus alpukat seperti apa.
Seketika mataku panas, ada anak dengan usia hampir 13 tahun belum pernah merasakan jus alpukat, sedangkan setiap hari bahkan sampai bosan aku minum jus ini. Gusti, sungguh aku merasa tertampar.

Esok harinya, ibuku membuatkan jus alpukat untuk Bayu. Wajahnya terlihat bahagia bukan main, seolah tidak percaya saat kubawakan dua botol jus alpukat. Jemarinya dengan lincah membuka tutup botol tak sabar, mata bulatnya terpejam lalu mulutnya seolah membaca mantra. Satu tegukan, perlahan Bayu membuka mata sambil mengecap-ecap lidah.
Bu, kenapa jus alpukat rasanya kaya daun, ya? Emmm. Tapi enak juga sih *sambil meneguk jus
Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum. Sekarang malaikat kecil yang ada di depanku ini sudah menuntaskan rasa penasarannya dengan jus alpukat, jenis minuman yang mungkin akan Bayu nikmati lagi jika ada yang memberinya.

Lockdown Membuat Bayu Kehilangan Kehangatan

Tidak disangka pandemi covid-19 merebak ke seluruh dunia termasuk Indonesia hingga berdampak kegiatan belajar dilakukan di rumah  masing-masing. Terhitung, hari ini masuk minggu ke tiga kami tidak saling tatap muka. Kangen anak-anak? Iya, sudah pasti. Keceriaan mereka, kepolosan, dan keisengan mereka menjadi kehangatan tersendiri untukku. Apalagi saat terakhir kami masuk sekolah, aku mengumumkan kegiatan belajar dilakukan di rumah tetapi tetap kupantau melalui Whatsapp Grup. Aku juga berpesan kepada anak-anak untuk mengurangi berkumpul, bermain di luar rumah, serta tetap menjaga kebersihan. Sontak raut wajah mereka bahagia, yeay libur. Yeay! Suara mereka saling sahut. Tapi tidak dengan Bayu.

Saat selesai berkemas dan berdoa, seperti biasa anak-anak bersalaman denganku. Giliran Bayu bersalaman sambil menundukkan kepala dan bertanya
Bu, kalau aku di rumah merasa bosan tetap nggak boleh main ke rumah teman? Terus bagaimana aku bisa mengerjakan tugas, bu? Nenekku aja nggak bisa baca, bu guru juga tahu kan kalau aku belum lancar membaca? Bagiamana bu guru akan menilai tugasku, sedangkan nenekku nggak punya Whatsapp?
Ilustrasi seorang anak yang terisolasi karena lockdown
Sungguh aku menuliskan cerita ini dengan hati yang berkecamuk, pertanyaan Bayu masih terngiang-ngiang sampai sekarang. Bagaimana tidak? Saat anak seusia Bayu belajar di rumah didampingi oleh orang tua, Bayu hanya bisa berusaha keras belajar sendiri. Aku pun tidak bisa terhubung dengan Bayu karena tidak ada akses yang bisa kuhubungi. Sepintas aku membayangkan, bagaimana Bayu menjalani keseharian di tengah pandemi ini. Mungkin saat ini Bayu seolah berada di dimensi lain, satu-satunya muridku yang mengalami lockdown di tengah lockdown. Dunianya tiba-tiba sepi tanpa bisa bermain dengan teman, tanpa bisa merasakan ketenangan, dan hangatnya dekapan seorang ibu.

Doaku semoga kita semua selalu sehat, semoga pula pandemi Covid-19 segera berakhir. Aku sudah menyiapkan kurma, madu, susu, biskuit, dan beberapa kebutuhan gizi untuk Bayu. Untuk menyambut bulan Ramadan yang sebentar lagi datang. Alhamdulillah, kemarin sempat mengantarkan paket ini untuk Bayu dengan menitipkannya di posko penanganan Covid-19 di komplek rumah Bayu. Sebenarnya aku ingin sekali bertemu dengan Bayu, setidaknya untuk menanyakan kabar dan memberi semangat. Namun Bayu dan neneknya harus melakukan isolasi mandiri karena tepat di samping rumah Bayu terdapat satu orang positif rapidtest. Hatiku makin tak karuan saat mengetahui berita tersebut, mulutku tidak berhenti merapal doa-doa baik untuk Bayu dan neneknya, untuk malaikat kecil yang semoga kelak dapat merasakan kehangatan dan ketenangan di masa depan.
Menebar Kebaikan dengan Berbagi
Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). Q.S Al-An'am : 160
Dear teman-teman, cerita di atas benar-benar nyata. Ada banyak Bayu-Bayu lain di luar sana. Semoga Tuhan selalu melembutkan dan membuka hati kita untuk berbagi. Berbagi tidak hanya dengan materi, apalagi di saat dunia sedang berduka seperti ini. Tidak perlu muluk-muluk untuk berbagi kebaikan, tidak perlu berpikir mengharap balasan dari Tuhan. Toh harta yang kita miliki juga milik mereka yang membutuhkan.

Kebaikan Berbagi Membuka Pintu Rezeki

Kebaikan Berbagi sepertinya menjadi jalanku untuk membuka pintu-pintu rezeki yang lain. Meski aku hanya seorang guru honorer, tetapi tidak menjadi penghalang untuk berbagi. Justru aku merasakan rizekiku bertambah berlipat-lipat, janji Tuhan memang benar adanya. Bersedekah membuat rezeki melimpah dan berkah, karena berbagi tidak akan mengurangi harta yang kita miliki. Sebaliknya, dengan bersedekah harta kita akan bertambah. Sedekah bukan hanya dengan materi, tetapi juga melakukan hal-hal baik yang bisa bermanfaat dan membantu meringankan masalah sesama. Yuk, mulai berbagi untuk orang-orang di sekeliling kita, kalaupun tetangga kita merupakan orang-orang yang berkecukupan, teman-teman tetap bisa berbagi melalui cara lain seperti menebar kebaikan bersama Dompet Dhuafa.

Menebar Kebaikan bersama Dompet Dhuafa

5 Pilar Program Utama Dompet Dhuafa
Dompet Dhuafa merupakan lembaga filantropi Islam yang berkhidmat dalam pemberdayaan kaum dhuafa dengan pendekatan budaya melalui kegiatan filantropis dan wirausaha sosial. Dompet Dhuafa  mengelola dana ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf) yang berdiri sejak tahun 1993. Lembaga nirlaba ini memiliki 5 pilar program utama yang memiliki tujuan besar dalam mengentaskan kemiskinan mulai dari bidang Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, Sosial dan Dakwah, hingga Budaya. Dompet Dhuafa memiliki cabang yang tersebar di 27 Provinsi seluruh Indonesia dan 5 cabang di luar negeri seperti; USA, Hongkong, Jepang, Korea, hingga Australia.

Pendidikan Sebagai Salah Satu Program Utama Dompet Dhuafa

Bukan hanya fokus untuk pengelolaan zakat saja, Dompet Dhuafa juga fokus dalam penggalangan infak dan sedekah. Berbagai program kegiatan yang menyita perhatianku salah satunya di bidang pendidikan. Dompet Dhuafa berkomitmen menyediakan akses pendidikan seluas-luasnya untuk kaum dhuafa seperti Bayu ini. Terdapat 6 program utama di bidang pendidikan yang diberikan oleh Dompet Dhuafa untuk ikut andil menyelesaikan permasalahan Bangsa, diantaranya;
  1. SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah menengah berasrama yang bebas biaya dan memiliki program akselerasi. Didedikasikan untuk anak-anak yang memiliki keterbatasan ekonomi namun berprestasi dari seluruh Indonesia. SMART Ekselensia ini didirikan pada tahun 2004, hingga tahun 2019 penerima manfaat sebanyak 575 siswa.
  2. Sekolah Literasi Indonesia, program ini berkosentrasi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengembangan culture sekolah dengan pendekatan khas literasi, terdapat lebih dari 54 Sekolah Literasi Indonesia yang tersebar di 16 provinsi.
  3. eTahfidz merupakan pembinaan insentif untuk para santri agar menjadi seorang hafidz dan juga pemimpin masyarakat. Harapannya para santri yang telah dibekali dengan ilmu dapat membantu merubah peradaban Bangsa menjadi semakin sejahtera.
  4. Beastudi Etos diberikan kepada mahasiswa berprestasi yang memiliki keterbatasan ekonomi. Beasiswa ini tidak hanya berupa uang namun juga fasilitas asrama, pembinaan, dan pendampingan mahasiswa sehingga terbentuk profil pemuda kontributif. Hingga saat ini penerima manfaat Beastudi Etos telah mencapai 2.366 mahasiswa yang tersebar di 20 Perguruan Tinggi Negeri terbaik di Indonesia.
  5. Beasiswa Aktivis Nusantara atau dikenal dengan BAKTI NUSA merupakan beasiswa pengembangan kepemimpinan bagi aktivis mahasiswa untuk membentuk pemimpin yang berintegritas, cendikia, transformatif, dan melayani. Terdapat 282 mahasiswa penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara di 20 Perguruan Tinggi Negeri terbaik di Indonesia.
  6. Makmal Pendidikan, program ini melingkupi kajian strategis, advokasi, riset, dan development tentang pendidikan serta menjalin kualitas mutu kelembagaan. 
Pendidikan merupakan kunci untuk melahirkan generasi bangsa. Perjuangan pendiri bangsa ini belum usai, kita harus selalu bersinergi dan berkontribusi bersama supaya anak-anak seperti Bayu bisa  menikmati pendidikan yang lebih layak. Salah satunya melalui Dompet Dhuafa kita bisa bekerjasama untuk mewujudkan Indonesia lebih sejahtera. Seperti cuplikan video pemanfaatan zakat Dompet Dhuafa di bidang Pendidikan berikut ini:



Berbagi Di Tengah Pandemi Bersama Dompet Dhuafa

Sudah kita ketahui bahwa kemanfaatan ZISWAF (Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf) yang dikelola oleh Dompet Dhuafa terbilang tepat sasaran. Selain pemanfaatan di bidang pendidikan, Dompet Dhuafa juga sangat peduli dengan masalah kemanusiaan yang sedang dihadapi Indonesia. Aku pun sempat terharu saat melihat donasi Ayo Lawan Corona di website Dompet Dhuafa. Target donasi Rp. 60.000.000.000 hampir terkumpul berkat kepercayaan teman-teman kepada Dompet Dhuafa untuk menyalurkan kebaikan.

Dengan berdonasi Ayo Lawan Corona melalui Dompet Dhuafa berarti kita ikut membantu dalam pembagian sembako kepada kelompok rentan, membantu pemasangan instalasi Disinfectant Body Chamber di Wisma Atlet Kemayoran, ikut andil membantu pembagian Hygiene Kit ke kelompok rentan, serta membantu proses penyemprotan cairan disinfektan di beberapa tempat fasilitas umum, dan membantu penyediaan alat perlindungan diri (APD) untuk tenaga kesehatan.

Alasan Memilih Dompet Dhuafa Sebagai Pengelola Dana ZISWAF

Buatku memilih lembaga untuk menyalurkan dana ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf) harus jeli supaya dana yang kita keluarkan dapat bermanfaat dan tepat sasaran, tentunya harus memilih lembaga yang berkompeten dan amanah di bidang pengelolaan dana ZISWAF. Aku mempercayakan Dompet Dhuafa sebagai lembaga penyalur dana ZISWAF, nah berikut ini beberapa alasannya:
Alasan Memilih Dompet Dhuafa

Memiliki Legalitas Hukum yang Jelas

Dompet Dhuafa memiliki Akta Pendirian Nomor 41 tanggal 14 September 1994 dibuat dihadapan H. Abu Jusuf, S.H., Notaris di Jakarta dengan Akta Perubahan Terakhir No. 2 tanggal 19 Juli 2004 yang dibuat oleh Herdardjo, Notaris di Tangerang. Lalu mendapat Persetujuan Operasi dari Departemen Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia yang telah disahkan oleh Menteri Kehakiman RI Nomor. 162/A.YAY.HKM/1996/ PN.JAK.SEL dan diperbaharui oleh Dirjen Administrasi Hukum No. C-HT.01.09-88, tertanggal  21 September 2004. Dan juga memiliki Surat Keputusan Menteri Agama No. 439 Tahun 2001 tentang dikukuhkannya Yayasan Dompet Dhuafa Republika sebagai Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah (LAZ) tingkat Nasional.

Proses Mudah dan Praktis

Dengan perkembangan teknologi dan inovasi yang semakin berkembang, saat ini kita dimudahkan untuk bersedekah dan membayar zakat melalui Dompet Dhuafa. Kita bisa mengeluarkan sedekah dan zakat dimana pun kita berada asalkan terkoneksi dengan internet. Cukup dengan smartphone, kita bisa langsung menghitung berapa besar zakat/infak yang harus kita keluarkan melalui fitur kalkulator zakat di website Dompet Dhuafa. Metode pembayarannya pun beragam, mulai dari pilihan berbagai bank hingga dompet digital. Atau kita juga bisa memanfaatkan layanan jemput zakat, nantinya akan ada petugas Dompet Dhuafa yang membantu kita dalam menunaikan kewajiban.

Pengelolaan Profesional Sesuai dengan Syariah

Kwitansi Setoran Donasi
Setelah menyalurkan dana melalui Dompet Dhuafa, kita akan menerima kwitansi pembayaran by email dari Dompet Dhuafa yang bisa kita gunakan sebagai laporan untuk lampiran SPT Tahunan Pajak Penghasilan. Dari hal kecil ini terlihat pertanggungjawaban dari Dompet Dhuafa sangat terperinci, ya. Selain itu, aku juga mendapat laporan via telpon dari pihak Dompet Dhuafa. Customer carenya ramah banget, rasanya adem mendengarkan doa-doanya. Apalagi saat CSnya menjelaskan pemanfaatan donasi yang kemarin aku salurkan. Karena kemarin memilih donasi untuk Lawan Corona, maka pemanfaatannya untuk pembelian APD, masker, handsanitizer, serta kebutuhan bahan pangan untuk dibagikan ke kaum dhuafa. Padahal kemarin donasinya nggak seberapa, tetapi pihak Dompet Dhuafa melaporkan dengan sangat rinci. Nah, ini sebagai salah satu bukti transparansi pengelolaan dana ZISWAF. Dompet Dhuafa juga selalu mengupdate dana yang terkumpul, bahkan ada laporan pengelolaan dana tiap tahun yang bisa kita download.

Pengelolaan Dana ZISWAF Menjadi Program Pemberdayaan

Salah satu hal yang menjadi pertimbanganku menyalurkan dana ZISWAF adalah program yang dimiliki Dompet Dhuafa untuk mengentaskan kemiskinan dan permasalahan manusia dalam 5 program pemberdayaan. Mulai dari bidang Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, Sosial dan Dakwah, hingga Budaya. Ibarat seperti amal jariyah ya, dana yang kita keluarkan tepat sasaran untuk berbagai program pemberdayaan.

Jangkauan Secara Global

Bagi teman-teman yang tinggal di lingkungan berkecukupan, teman-teman tetap bisa berbagi membantu orang-orang di luar sana yang mungkin lebih membutuhkan bantuan kita. Melalui Dompet Dhuafa teman-teman bisa membantu orang-orang yang ada di pelosok negeri bahkan sampai penjuru dunia karena pemanfaatan dana ZISWAF Dompet Dhuafa menerapkan jangkauan secara global.

Mudahnya Menebar Kebaikan Melalui Dompet Dhuafa

Untuk berdonasi melalui Dompet Dhuafa juga sangat mudah, kita cukup klik https://donasi.dompetdhuafa.org/ lalu memilih jenis donasi yang kita inginkan. Isi data diri dan nominal donasi. Berdonasi di Dompet Dhuafa tidak harus dengan nominal banyak kok, cukup dengan minimal Rp 10.000,- kita bisa sama-sama berbagi. 

Mudahnya Menebar Kebaikan Melalui Dompet Dhuafa
Sekali lagi, kebaikan berbagi bukan hanya soal banyak atau sedikitnya bantuan yang kita berikan, tetapi soal rasa kemanusiaan dan solidaritas antar sesama. Setidaknya kita telah berusaha membantu menyelamatkan Indonesia dengan berbagi kebaikan bersama. Berbagi kebaikan tidak sulit kok, bisa dimulai dari diri sendiri dengan hal terkecil sekalipun.

Katanya, kita akan merasakan kebahagiaan ketika bisa membahagiakan orang-orang di sekitar. Kebahagiaan hakiki bukan diukur dengan materi, melainkan dengan menebar kebaikan. Kalaupun kita tidak bisa berbuat baik, setidaknya jangan berbuat jahat. Apalagi sampai merampas "hak" orang lain. Mari mulai membiasakan diri untuk berbagai bersama menebar kebaikan. Seandainya teman-teman hanya memiliki kuota internet, bisa tetap berbagai kebaikan dengan cara menshare link donasi dari Dompet Dhuafa.

*aku sengaja tidak memasukkan foto Bayu karena mempertimbangkan berbagai hal. Pun menggunakan nama "Bayu" sebagai nama samaran. Semoga kelak ketika Bayu tumbuh besar dan menemukan tulisan ini bisa menjadi penyemangat dalam hidupnya karena ada seseorang yang diam-diam menyayanginya.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”



Mungkin Kamu Suka

127komentar

  1. smeoga bayu bisa menggapai apa yang dicita-citakan ya mbak ella
    suka sedih klo liat cerita anak seperti ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Mas Ikrom.. Terima kasih doanya :)

      Hapus
  2. Story telling nya bikin nympe pesannya. Masih bnyk bayu2 lainnya mungkin yg belum seberuntung bayu ini, diperhatikan bu guru .

    Jus alpukat rasanya kaya daun ,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas Idris.. Katanya jus alpukat rasa daun :(
      Huhu.. Semoga Bayu-Bayu di luar sana bisa ktmu orang2 yg sedikit memberi perhatian :)

      Hapus
  3. baru kelihatan button follownya XD
    done follow. ^^

    BalasHapus
  4. Ini pasti pengalaman pribadi mbak Ella yaa, msh banyak banget Bayu" lain disekitar kita yg mmng butuh perhatian dan suport dr sesama, semoga mbak Ella diberkahi kesehtan dn rizki yg lancr yaa.. Moga"menang lomba blognya mbk dan dpt terus membantu Bayu"yg lainnya 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mbakk. Makasih yaaa.. Semoga juga Bayu-Bayu di luar sana bisa terbantu oleh orang2 sekitar yaa

      Hapus
  5. sedih aku bacanya. Disini juga ada temen anakku kelas 6 SD dan tiba-tiba berhenti sekolah. Katanya susah ngerjainmatematika, ortunya buruh gt jd pasrah aja

    Semoga Bayu bisa mencapai cita2nya ya. Dan mbak Ella dapat keberkahan berlimpah atas kebaikannya ya. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mbakk. Iya pasti banyak Bayu-Bayu yg lain di luar sana. Huhu

      Hapus
  6. Tulisan ini menyentuh sekali, Mbak Ella. Semoga Bayu-Bayu di Indonesia bisa terbantu dengan uluran-uluran di Dompet Dhuafa. Dan semoga wabah ini secepatnya berlalu sehingga semua bisa kembali bercengkerama seperti sedia kala.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mas.. Aamiin semoga byk orang baik yg peka dg keadaan sekitar. Huhu

      Hapus
  7. dunia kita sama tapi terasa berbeda, kayak lagunya siapa gituu pernah denger :D.. btw ceritanya memang sedih, di luar sana masih banyak bayu lain yang butuh pertolongan kita, semoga saja dengan adanya dompet duafa bayu tidak lagi sedih, ya hehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lagunya siapa mas? Nggak tau malah. Wkwk
      Iya aamiin

      Hapus
  8. bentar aku ikut cirambai bacanya, keinget jaman aku kkn juga ketemu anak SD spt Bayu, di kelas kurang semangat belajarnya dan gurunya meminta kami buat sedikit bantu. Mudah2an anak-anak spt Bayu selalu dalam pertolongan Tuhan dan ketemu orang-orang baik ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Iya Marfa, semoga Bayu-Bayu di luar sana masih tetap bisa sekolah, mendapatkan hak sebagai seorang anak

      Hapus
  9. Dompet Dhuafa ini salah satu 'penyalur' zakat yang aku pilih. Aku percaya mereka amanah. Efeknya, semoga anak-anak seperti Bayu ini bisa terbantu untuk melanjutkan kehidupan yang layak dan mencapai cita-citanya seperti anak-anak lainnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mas. Sama. Buat masalah infaq, sadaqah, zakat emg praktis bgt di Dompet Dhuafa.. Tepat sasaran pula.. Makasih doanya ya.. Aamiin

      Hapus
  10. Kadang kita gak sadar kalau ada Bayu di sekitar kita. Terima kasih telah membagikan kisah yg inspiratif mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener mbak. Awal2 q juga nggak sadar tp alhmdulillah Tuhan sayang sm Bayu..

      Hapus
  11. Pagi2 baca postingan ini dari paragraf pertama sampai terakhir.
    Memprihatinkan..dan sikap bu ella menginpirasi dan mengingatkan...

    Swmakin sukses

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mas. Semoga hati kita selalu dilembutkan untuk berbagi ke sesama

      Hapus
  12. jadi sedih banget bacanya, jadi kepikiran seandainya ad di lingkungan sekitar saya gmana hemmmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak harus gimana2 mas. Cukup kasih perhatian dan kasih sayang. Hhh

      Hapus
  13. masya Allah. Menginspirasi kisahnya, Mbak :)

    BalasHapus
  14. Duh, aku belum bisa jadi seperti bi guru, yang peka. Semoga kita menjadi orang yang peka terhadap lingkungan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku jg masih kurang peka nih kak. Hhh
      Iya semoga hati kita dilembutkan untuk selalu berbagi kebaikan ya

      Hapus
  15. Pandemi ini memang mengerikan, dari sini kita sadar jika orang Indonesia itu saling membantu. Kelihatan dari antusias mereka dalam berbagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap bener, Mas. Kadang kl liat video2 di timeline orang2 pd berbagi kebaikan bikin hati trenyuuuh

      Hapus
  16. alhamdulillah ini kegiatan nya keren bnget mba... semoga barokah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Terima kasih doanya yaa

      Hapus
    2. siap mba hehe. baguuss. bisa dilanjutkan terus..

      Hapus
    3. siaaapp, semoga Allah selalu melembutkan hati kita untuk berbagi ke sesama yaa

      Hapus
  17. Semoga wabah ini cepat hilang dan semoga semua anak-anak bisa mengecap pendidikan yang layak dan hidup dengan layak juga. Aamiin..

    BalasHapus
  18. Mbak sayang, tadi komenku pertama bacanya sekilas. Sekarang aku baca pelan-pelan. Asli perasaanku campur aduk banget. Terhanyut dengan kisahnya dan juga penulisannya yang bagus sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak papa mbak Hasnah, terima kasih yaa

      Hapus
  19. Membaca cerita bayu bikin air mata merembes ya. Karna aku laki laki jadi harus kuat. Malu liat hape sambil nangis. Dan mbaknya baik banget. Salut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan nangisss ya. Cup cup cup. Wkwkw
      Nggak mas, kebetulan dikasih rasa oleh Tuhan. Kebetulan juga dikasih rizeki oleh Tuhan, jd bisa sedikit berbagi ke Bayu. Huhu
      Gini doang mataku berkaca2 :(

      Hapus
  20. Salam hormatku utk Bu Guru Ella. Besok2 nek sudah kondusif ajakin Bayu ke pasarpon tak traktir nyobain kopi susu boleh, esspresso ada, vietnam drip bisa, v60 oke. mau robusta siap, arabika jg ready. 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaaaaa siaaappp. Kayake Bayu seneng bgt diajakin nyicip kopi, duh wis kaya cafe bae komplit bangeeeet. Aku mau es kopi susunya ya ommmm

      Hapus
  21. Kasihan Bayu ya, masih kecil sudah ditinggal ibunya, bapaknya juga kawin lagi. Sekolah juga jadi terlantar. Untung ada mbak Ella sebagai guru yang baik hati dan mau membantu. Tapi sejak ada Corona jadi berpisah lagi ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Doaku semoga Bayu bisa menjadi sosok yg baik di masa depan. Huhu. Gini doang mo mewek. Hhh
      Aamiin mas Agus

      Hapus
  22. terharu bacanya bu guru T_T.. story tellingnya bagus dan pesannya dapet,, dan ikut merasakan apa yg bu guru rasakan ttg Bayu.. :(

    P.S. semoga menang lombanya..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih doanya, Mas Bara.. Semoga Bayu-Bayundi luar sana brtmu dg orang baik supaya bisa memberi kehangtan wlpun sbntr

      Hapus
  23. Duuuhhh2!!...Bu guru Ella bikin aku berlinang air mata saja nih..😭😭😭

    Yaa memang usia anak dari 5 sampai 12 tahun jika sudah tidak ada orang tua pola pikirnya semakin lebih dewasa dan apa adanya. Karena keadaan hidup serta tekanan ekonomi yang mengharuskan ia berpikir keras. Walau dirinya sebenarnya belum waktunya untuk berbuat seperti itu. Terlebih iapun bingung jika harus menuntut banyak dari sang nenek.

    Sebenarnya ini pelajaran juga yaa bagi setiap orang tua, Terlebih yang ingin bercerai tanpa perduli sama jiwa sang anak. Serta kedua orang tua yang sibuk bekerja tanpa pernah memperhatikan kejiwaan anak, Karena tak selamanya anak nyaman bersama babysister atau neneknya serta keluarga lainnya.😊😊

    Dan bicara soal lockdown ini saya jadi teringat waktu berbagi rezeki terhadap seorang anak pengojek online yang tabah untuk tidak meminum susu sebelum ayahnya pulang mencari rezeki untuknya. Jadi mewek gw nulisnya.😭😭😭😭

    Yaa semoga bayu2 diluaran sana tetap tegar dan mau terus belajar demi masa depan untuknya yang memang banyak batu sandungannya. Ok tetap semangat yaa bayuu!!..😊😊

    Dan untuk Bu guru Ella, Semoga bisa selalu sabar serta ikhlas dalam mengayomi murid-muridnya. Karena guru juga bisa jadi pengganti orang tua murid, Meski hanya sebatas disekolah saja. Ok sukses selalu yaa buat Bu guru Ellanya.😊😊🙏🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Satria kenapa bikin mewek sih? :(((
      Terima kasih ya mas sudah berbagi rezeki ke yang membutuhkan. Huuhu
      Terima kasih juga atas doa2 baiknya.. Semoga Tuhan selalu melembutkan hati kita untuk selalu berbagi yaa

      Hapus
  24. Jika mau membuka mata dan telinga lebar-lebar, banyak Bayu-Bayu yang lain di sekitar kita. Sayangnya, kita terkadang tidak melihat kehadiran mereka karena sibuk meratapi diri, padahal keadaan kita berbeda jauh dari mereka. Kurangnya rasa syukur adalah salah satu penyebabnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dalem bgt ini komennya. Huhu
      Benerrr bgt, kadang kita sibuk berkeluh kesah pdhl masih banyak orang2 yg lebih susah drpd kita :(

      Hapus
  25. Saya juga mrebes mili Mbak baca tulisan ini. Inspiratif sekali. Semoga terus ada guru-guru yang peduli anak didiknya. Semoga menjadi bahan renungan bagi siapa saja yg membaca. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mbak Dian, terima kasih doa baiknya yaaa :)

      Hapus
  26. Semangat untuk bayu kak, semoga bisa mencapai segala apa yang ia impikan...semangat terus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Doakan Bayu yaa semoga bisa menjadi sosok hebat di masa depan..

      Hapus
  27. Duh, suka sedih baca cerita seperti ini. Semoga Bayu bisa mendapatkan kehangatan kembali dan meraih semua cita-citanya ya, aamiin. Salut dengan dompet duafa yang selalu semangat berbagi kepada sesama ☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Semoga doa baiknya juga kembali ke kakak. Semoga pula Bayu bisa menjadi orang hebat di kemudian hari. Iya nih Dompet Dhuafa bisa mnjd wadah untuk berbagi kebaikan

      Hapus
  28. Duh MasyaAllah jadi sedih bacanya, mungkin banyak Bayu-bayu lain di luar sana yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan kita. Salut juga sama Mbak Ela, semoga banyak guru-guru lain yang peduli dengan anak didiknya. Memang pandemi ini jadi mengasah kepekaan sosial kita, karena banyak yang kondisi ekonominya ikut terdampak, duh harus selalu lihat "kiri kanan", pasti banyak di sekitar kita yang tengah dilanda kesulitan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak Mei. Adanya pandemi ini mengasah kepekaan kita di lingkungan sekitar. Semoga Allah selalu melembutkan hati kita untuk selalu berbagi ya

      Hapus
  29. Masyaa Allah... Bagus sekali, Mbak.
    Ini pencampuran antara penulisan gaya fiksi dan non fiksi yang apik bgt. Ceritanya bikin mewek yg baca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih belajar mbak. Hhh
      Iya aku aja tiap baca ulang sambil nahan air mata :(

      Hapus
  30. Tulisannya berhasil bikin saya brebes mili , Bu Guru Ella T_T Semoga Bu Guru selalu diitambahkan keberkahan rezeki, panjang umur, sehat2 selalu dan sll menginspirasi bnyk org. Dan untuk Bayu, semoga semakin kuat dan bisa meneladani kebaikan hati dan semangat belajar Bu Guru Ella. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, aamiin. Terima kasih doanya mbakkk. Semoga doa baiknya kembali ke mbak juga yaa

      Hapus
  31. Mbak ellaaaaaaaa, aku jadi ikut sedih bacanya. Kasihan si Bayu harus merasa dikunci ditengah-tengah lockdown ini. Kita walaupun hanya di rumah saja tapi ada ponsel yang membantu kita berkomunikasi, tapi gimana dengan Bayu?? Duh, aku jadi ikut mbrebes mili..

    Di luar sana memang banyak sekali Bayu-Bayu yang lain. Dan semestinya kita semua membantu mereka di saat-saat sulit seperti ini. Kalau ada tenaga dan keberanian, ya, bantu tenaga sebagai relawan, kalau ada uang tapi gak ada keberanian bisa ikut nyumbang, kalau gak ada uang dan gak ada keberanian cukup di rumah aja (itu pun bisa bantu gak menambah penyebaran penularan). Semoga masa-masa sulit ini segera berakhir ya, Mbak Ella.🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huhu iya Mbak Roem. Terima kasih doanya yaa.. Aamiin doaku sama semoga masa sulit ini segera berakhir yaa

      Hapus
  32. Indahnya berbagi, dompet dhuafa ini emang top banget selalu terdepan soal charity2 gitu., Btw Baca cerita Bayu ini jadi ikutan sedih huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak.. Pemanfaatnya tepat sasaran dan proses berbagi lewat Dompet Dhuafa juga mudah :)

      Hapus
  33. Terharu sampe netes eloh, nggak kebayang perasaan Bayu apa lagi di jaman sekarang, tidak sulit mengakses segala sesuatu, ini di tahun 2020 lo kok ya ono yg masih gitu, ngesakno semoga ada perubahan. Bayu bisa memutus mata rantai kemiskinan untuk keluarganya :)

    Di semangati lo Ibu guru agar bayu nggak putus sekolah kasian, q doakan semoga Ibu guru yg baik ini di mudahkan Rizkinya dan segera di mudahkan juga jodohnya Wkwk :)

    Emange di daerah mana kah itu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah aku aminkan kenceng bgt, Maas. Wkwk
      Ini di daerah Punggelan, Banjarnegara, Jateng, Mas..

      Hapus
  34. Nasib saya waktu kecil tak jauh beda dengan si Bayu
    Saya membacanya juga ikut prihatin
    Ikut senang, kini sudah ada Dommpet Duafa, yang bisa menjadi jembatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga Bayu bisa meniru semangat Bang Djangkaru. Semangat terus yaaaa

      Hapus
  35. Ya Allah, sedih banget saya membacanya, ikut mbrebes mili. Masih banyak anak-nak yang kurang beruntung di sekitar kita. Semoga Bayu kelak menjadi lelaki yang berguna bagi negara, agama, keluarga dan dirinya sendiri. Semoga dia tidak pantang menyerah, ya Allah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Allah. Terima kasih doa baiknya mbaak, semoga Bayu tetap semangat dan bisa menjadi anak yg berguna buat sesama di kemudian hari

      Hapus
  36. Salam buat Bayu, Mbak. Semoga Allah memudahkan jalannya mencapai cita-cita. Pupuk mimpinya, Mbak. Semoga suatu saat dia menjadi salah satu anak yang memberi benderang orang-orang sekelilingnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin aamiin. Terima kasih doanya mbakk.. Siappp. Semoga Allah selalu melembutkan hati kita untuk selalu berbagi ya

      Hapus
  37. Semangat ya Bayu, lebih semangat dari kak Ella ya... Semoga Bayu kelak jadi orang yang sukses

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Terima kasih Mas Roni. Semoga kelak Bayu membaca komen2an ini supaya menjadi makin semangat menjalani hari2 :(

      Hapus
  38. Mbak, terharu aku bacanya. Ternyata di era digital kaya gini masih ada yang belum terjemah fasilitas duniawi yang begitu dihambakan saat lock down gini ya... Terus Bayu akhirnya belajarnya gimana mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Jihan. Mau nggak mau kudu stay at home. Beberapa kali teman sekelasnya yg menginfokan tugas2 dan setor hasil tugas. Tp ini ada kabar kl tetangga samping rumah Bayu positiv covid-19. Rasanya aku campur aduk nggak karuan :(

      Hapus
  39. Titip salam semangat untuk Bayu ya mbak. Dan pasti masih banyak Bayu bayu di luar sana yang bernasib sama. Semoga kita bisa saling bersinergi untuk membantu sesama yang kurang beruntunh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap mas. Besok kl kondisi sudah membaik dan kami berangkat sekolah insya allah q sampaikan salamnya untuk Bayu :)
      Aamiin, semoga hati kita selalu dilembutkan Allah untuk terus berbagi kebaikan

      Hapus
  40. bayu T_T. mbak ella keren... titip salam buat Bayu dan anak-anak yg sedang berjuang diluar sana. semoga kondisinya lekas membaik. :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Rizqi. Insya allah besok kl kami masuk sekolah ku sampaikan salamnya yaa.. Aamiin semoga keadaan segera membaik :)

      Hapus
  41. Duh sedih bacanya. Nggak kebayang gimana dengan Bayu ketika sedang seperti ini. Dia nggak punya akses untuk whatsapp buat ngerjain tugas. Nggak semua anak beruntung punya orang tua yang peduli ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Yus.. Tp mau gmn lg kondisi lg kaya gini nggak memungkinkan kami buat belajar tatap muka. Karena rumah Bayu dan rumahku juga berjauhan. Huhu

      Hapus
  42. Terharu bacanya. Salam untuk Bayu ya mba. Tetap semangat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap mbak.. Semoga juga kita semua tetap semangat menghadapi kondisi seperti sekarang

      Hapus
  43. Duh bikin baper aja artikelnya Mbak. Semoga enggak ada lagi bayu bayu lain Di dunia ini ya. Salam utk bayu Mbak, sedikit apapun kebaikan pasti akan dibalas dg yg berlipat ganda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Mbak Salbiah. Semoga nggak ada Bayu2 yg kurang beruntung. Semoga jg kita selalu dilembutkan hatinya untuk terus berbagi kebaikan

      Hapus
  44. Banyak banget situasi ini, ya, Mbak Ela yang ternyata ada di lingkungan Kita. Ternyata jus alpukat bisa jadi hal mewah buat Bayu. Mari bantu mereka dengan bersekdekah di dompet dhuafa. Moga terpilih lagi, ya. Nice article, good infographics.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Lia. Kadang kl lg entry nilai anak2 cm nilai Bayu yg kosong karena nggak bisa laporan tugas. Huhu
      Terima kasih doanya yaaa :)

      Hapus
  45. Cerita yang sangat menyentuh, masih banyak Bayu Bayu yang lain di luar sana yang membutuhkan bantuan dan semoga dengan adanya dompet duafa ini banyak Bayu yang terbantu. Dan semoga masa sulit inipun segera berakhir..aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga Tuhan selalu melebutkan hati kita untak selalu berbagi :)

      Hapus
  46. Kalau liat kondisi orang yang seperti Bayu, suka bersyukur udah ada banyak lembaga infaq dan shadaqah yang kredibel semacam Dompet Dhuafa ini. Jadi energi sedihnya bisa tersalurkan lewat donasi.

    Grafisnya bagus banget mbaa. Semoga artikelnya kepilih jadi juara ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Ranti, sebisa kita smga bisa lebih peka dg lingkungan sekitar apalagi di masa pandemi ini. Huhu
      Aamiin, makasih mbak :)

      Hapus
  47. Terharu membaca cerita tentang Bayu. Semoga semua segera berlalu. Dan bayu bisa mendapatkan kehangatan lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Iya semoga suatu saat Bayu bisa merasakan hidup nyaman seperti kita..

      Hapus
  48. Semangat ya, Bayu! Sampaikan salamku buat bayu. Insyaallah aku juga akan doa buat dia, ya mba... Insyaallah perbuatan baikmu juga allah yang balas...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap mbak Nisya, besok kl kami sudah bisa ke sekolah lg insya allah salamnya q sampaikan ke Bayu. Terima kasih doa baiknya mbak :)

      Hapus
  49. Kisah bayu itu kisah nyata ka? Kalau kisah nyata, didaerah mana kalau boleh tau?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyata bgt mbak Iren.. Di kabupaten Banjarnegara, Jateng :)

      Hapus
  50. Betul mba di luar sana banyak bayu-bayu yang tidak bisa bersekolah dan susah makan. Kalau pulang dinas dan lihat anak-anak kecil ngamen rasanya miris banget. Sedih melihat mereka. Semoga Allah memberi jalan terbaik untuk anak-anak yang malang. Amin
    Semangat terus mba dalam mendidik anak-anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mbak Erin. Semoga Tuhan selalu melembutkan hati kita untuk selalu berbagi yaaa :)

      Hapus
  51. sedihnya, jadi sampai sekarang gak dengar kabar dari Bayu ya Kak?
    Semoga Bayu dan Neneknya sehat-sehat selalu ya.
    semoga paketnya ini juga bisa segera diterima Bayu jelang Ramadhan biar jadi penyemangatnya menyambut bulan penuh berkah, Aamiin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kmrin ada tetangganya yg satu kelas mengabarkan kabar Bayu. Tp skrg bner2 lockdown karena rumah samping bayu positif rapidtest :(
      Doakan Bayu dan keluarganya sehat selalu ya mbak :(

      Hapus
  52. Ikut sedih baca kisah si Bayu ...
    Semoga Bayu dan Bayu-Bayu yang lain yang sebenarnya masih sangat banyak ada di Indonesia ... kelak dapat menggapai cita-citanya.

    Salam buat adik Bayu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mas Him.. Terima kasih doa baiknya yaaa.. Insya allah besok kl sudah bisa berangkat sekolah kusampaikan salamnya untuk Bayu :)

      Hapus
    2. Maturnuwun, kak Ella 🙏

      Hapus
  53. Bayu kecil yang berusaha belajar sendiri di rumah, berusaha bisa untuk membaca dan mengerjakan tugas-tugas sekolah meskipun fasilitas terbatas.
    semangkok bakso pun dia lahap makannya, aku aja kalo dah kekenyangan dan isi basonya kebanyakan, malah nggak habis. Kebiasaan jelek

    semoga cepet berlalu wabah ini, dan bayu bisa berangkat sekolah tiap hari, biasanya suasana sekolah yang dikangenin kalo banyak libur ya kumpul kumpul sama guru dan siswa siswanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Ainun, apalagi bulan Ramadan kaya skrg. Nggak kebayang Bayu di rumah dg isolasi ketat karena tetangganya ada yg positive rapidtest :(

      Hapus
  54. Sudah tahun 2020 dan masih ada anak yang meringis melahan lapar seperti Bayu. Saya bacanya juga ikut sedih Mbak jadi nggak kebayang dengan kondisi Bayu sekarang. Bersyukurnya ada program berbagi kebaikan dari Dhompe Duafa yang bisa membantu anak2 yang hidupnya serba kekurangan seperi Bayu dan neneknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Siska. Semoga hati kita selalu dilembutkan untuk berbagi kebaiakan yaa. Meskipun nggak seberapa mungkin bagi orang lain sangat berharga :(

      Hapus
  55. Tampak anak sekolah dan bahagia
    Yang dewasa pun sangat bahagia
    Apalagi bisa berbagi suka dan harta
    Indahnya tiada tara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak.. Doaku masih sama smga pandemi ini segera berlalu supaya kita bisa beraktivitas lgi😊

      Hapus
  56. saling membantu membuat kita kuat…
    nice story

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyap, sepakat banget. Semoga banyak orang di luar sana yang memiliki pemikiran seperti njenengan, Mas. :)

      Hapus
  57. Mbakkkkk, kisah Bayu menyentuh banget, dan banyak anak-anak lainnya seperti Bayu di negeri ini. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang, makin banyak orang tua kehilangan pekerjaan, yang tentu berpengaruh ke pendidikan anak-anaknya.

    Bismillah Ya Allah, moga kita terus dimampukan untuk menolong malaikat-malaikat kecil seperti Bayu ini yaaa mbk, sekecil apapun bantuan yang kita berikan, ini manfaatnyaaa begitu besar buat mereka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mbak, apalagi udah masuk bulan Ramadan gini. kadang kl lg makan sahur atau berbuka keinget Bayu makan lauk apa :(

      Hapus
  58. masyaAllah Bayu, semoga kamu sehat dan semangat terus ya! thanks mbak ella udh sharing jd semakin respect bahwa kita tdk selamanya diatas, msh banyak yg perlu kita bantu :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar bgt mbak Elsa, semoga doa2 baiknya kembali ke mbak juga yaa.. aamiin :)

      Hapus
  59. Yang sabar yah bayu... semoga makin kuat menjalani kehidupan yg sulit ini.. Aminn. Bayu bersama bayu yg lainnya.. ahhahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Waaawww dua Bayu saling bersatu😅

      Hapus
  60. Masya Allah, jujur daku terharu dan mau nangis Mbak. Semoga Bayu baik-baik saja dan menjadi amal jariyah Mbak. Amiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin terima kasih doa baiknya mbak :)

      Hapus
  61. Betul, mbak... Bayu hanya salah satu contoh dari anak-anak yang butuh perhatian kita. Semoga dompet dhuafa mampu menyantuni baju-baju yang lain, sehingga mereka bisa juga sejahtera.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, iya mbak pasti banyak Bayu2 yg lain yg nasibnya mungkin lebih buruk, semoga byk orang yg membuka hati untuk selalu berbagi :)

      Hapus
  62. TUlisan yang menyentuh hati mbak.

    BalasHapus

Buka Yuk!
Join on this site

Jangan Ketinggalan, Klik Ikuti