Museum Ranggawarista: Menyimpan Berbagai Warisan Budaya Jawa Tengah

oleh Ella Fitria
Museum Ranggawarsita

Kita sarapan dulu, ya? Mau sarapan apa? Tanyanya saat kendaraan kami membelah jalanan kota Semarang.

Nanti deh, belum pingin sarapan. Ke Museum Ranggawarsita dulu, yuk. *sambil nyedot susu kotak

Negosiasi untuk sarapan nanti-nanti ternyata nggak digubris, padahal perut sudah diisi sekotak susu. Akhirnya kami mencari sarapan terlebih dahulu sebelum sampai di Museum Ranggawarsita.
Dulu, pertama kali ke Museum Ranggawarsita kami ‘kecelik‘ alias kecewa karena nggak tahu jadwal operasional museum ini. Makanya saat ada kesempatan ke Semarang lagi, wishlist pertama yang kami masukkan adalah menuju Museum Ranggawarsita, berharap setibanya di lokasi nggak tutup lagi.
Sesampainya di area parkir, mataku menjelajah ke arah bangunan Museum. Dari kejauhan tidak tampak adanya pengunjung. Dalam hati ngomong sendiri “duh kayaknya zonk lagi nih”. Kami melangkahkan kaki, meski saat itu udara Semarang terasa menyengat padahal baru menunjukkan pukul 08.45 WIB tapi nggak membuat kami mengurungkan niat untuk mengexplore sudut Kota Semarang. Kami saling tatap, menebak-nebak, apakah museum ini tutup lagi? Ternyata saat masuk ke area pembelian tiket beberapa rombongan keluarga sedang mengantre. Yes!!! Buka! Ahahaha. Nggak sabar melihat pameran berbagai jenis “wayang” di dalam museum ini.

Museum Ranggawarsita, Belajar Warisan Budaya Jawa Tengah

Museum Ranggawarsita adalah museum yang menyimpan dan memamerkan berbagai warisan budaya dan benda budaya Jawa Tengah. Museum ini diresmikan tanggal 5 Juli 1989 dan memiliki koleksi 59784 koleksi. Wohoho, koleksinya banyak banget nggak sih?
Setelah ikut mengantre, dua tiket sudah berada di tangan. Lalu, kami menyerahkan tiket ke petugas jaga. Senang deh, karena petugas-petugasnya ramah dengan raut wajah sumringah. Sambil menyiapkan kamera, kami berjalan menuju Golden Room. Kata doi, dengan pengetahuan sok tahunya, bangunan museum ini terdiri dari 4 gedung yang masing-masing menceritakan sejarah berbeda. Ternyata benar, setahu kami Golden Room ini terpisah dari 4 bangunan yang sudah di kelompokkan berdasarkan cerita sejarahnya. Di Golden Room berisi sejarah tentang “emas” dari berbagai kerajaan dan fungsinya pada masa lampau.
Puas melihat koleksi emas di Golden Room, lantas kami menuju ke gedung A lantai satu. Di dalam gedung A ini terdapat koleksi mengenai Geologi dan Geografi, berbagai sejarah bebatuan yang ditemukan di wilayah Jawa Tengah tertata rapih di sana. Lalu, lantai dua gedung A juga berisi wahan tentang Paleontologi (tentang zaman purba), agak serem sih karena terdapat hewan yang diawetkan. Apalagi di lantai dua sepi banget, nggak ada pengunjung sama sekali. Padahal di lantai satu cukup ramai.
Kami bergegas menuju gedung B. Di sana terdapat peninggalan budaya dan kerajinan dari peradaban Hindu Budha yang ada di Jawa Tengah. Sedangkan lantai dua gedung B menyuguhkan koleksi berbagai jenis dan model keramik serta batik.
Sementara gedung C lantai satu, berisi ruang perjuangan bersenjata dengan koleksi benda-benda yang dipakai saat pertempuran, di sana juga terdapat diorama perjuangan bangsa Indonesia saat merebut kemerdekaan. Lalu, di lantai dua gedung C terdapat ruang koleksi teknologi dan kerajinan tradisional, teknologi industri dan transportasi, serta beragam model kerajinan rumahan. Di gedung C lantai dua ini bener-bener aku nggak mau berlama-lama saking sepi dan horornya.
Koleksi Wayang Museum Ranggawarsita
Dengan cepat, kami beralih ke gedung D yang memamerkan tentang pembangunan, tradisi nusantara, dan ruang intisari. Sementara di lantai dua  gedung D merupakan tempat favoritku karena di sana terdapat berbagai jenis koleksi wayang. Keren banget Tuhan, mulai dari proses pembuatan wayang hingga koleksi berbagai wayang antara lain; wayang Beber, Wayang Kidang Kencana, Wayang Gedhog, Wayang Potehi, Wayang Purwa, Wayang Golek, Wayang Buddha, dll tertata rapih. Mungkin kalau ku hitung, ada ribuan koleksi wayang di sana. Sayangnya semua gedung di lantai dua nggak ada pengunjung selain kami. Pencahayaannya pun minim banget, lantainya juga berdebu. 🙁

Harga Tiket Masuk Museum Ranggawarsita

Dengan harga tiket Rp. 4 ribu/orang, menurutku murah banget karena museum ini sangat luas dengan koleksi benda warisan budaya Jawa Tengah yang super lengkap, cuma keliling 4 gedung aja kaki rasanya gempor
Fasilitas yang ku suka adalah adanya loker gratis yang disediakan untuk menaruh ransel dan barang bawaan lainnya. Apalagi karena memang nggak boleh bawa masuk makanan dan minuman. Museum Ranggawarsita buka setiap hari pukul 08.00 WIB-15.00 WIB. Kecuali hari Minggu tutup pukul 14.00 WIB.

Lokasi Museum Ranggawarsita

Museum Ranggawarsita terletak di Jl. Abdul Rahman Saleh No.1, Kalibanteng Kidul, Semarang Barat, Kalibanteng Kidul, Kec. Semarang Bar., Kota Semarang. Jika ditempuh dari Simpang Lima kira-kira membutuhkan waktu sekitar 15 menitan.
Sebenarnya pingin ke sana lagi tapi nggak mau cuma berdua karena kalau naik ke lantai dua, horornya nggilani banget dan berujung nggak menikmati koleksi dengan sepenuh hati. Setelah keluar dari dari Museum Ranggawarsita ada rasa sedih di lubuk hati sana, ya gimana nggak sedih? Tempat bersejarah macam gini sepertinya kurang diminati masyarakat bahkan anak mudanya. Sedih juga karena gedung lantai duanya seperti kurang terawat 🙁
Ella Fitria

You may also like

0 komentar

Yustrini 5 September 2020 - 14:48

Museum memang kurang menarik buat anak muda, pasti ada alasannya. Mungkin salah satunya karena kurang terawat dan suasananya agak seram.

Balas
Ella Fitria 14 Juli 2020 - 22:23

Ada banyak mbak Anies 🙂

Balas
dear anies 9 Juli 2020 - 04:54

ada koleksi wayang kulit ya?

Balas
Ella Fitria 18 Juni 2020 - 01:44

ahahaha, kebetulan bgt doi juga suka tempat yang berbau sejarah, xixixi
iya kl mau main ke semarang nunggu corona pergi dlu yaaa

Balas
Ella Fitria 16 Juni 2020 - 14:16

Iya kakkk. Buanyak bgt koleksi wayangnya, uhu
Nunggu pandemi berakhir varu traveling yaa 😀

Balas
Nonanomad.com 14 Juni 2020 - 08:56

Wah, keren koleksi wayangnya. Murah lagi tiket masuknya cuma 4rb aja. Saya masukkin ke list kalau main ke Semarang.

Balas
Ella Fitria 14 Juni 2020 - 01:46

iya mbak Ainun, tp kl lantai satunya ruamai rombongan anak2 pd antusias liat replika hewan2. kl di lantai atas duh, nyerah deh kl cm berdua, horor. Lampu penerangannya dikit, lantainya juga berdebu seperti jarang dibersihkan, huhu

Balas
Ella Fitria 14 Juni 2020 - 01:44

iya mas, sayang bgt. Tp kl di lantai satu lumayan ramai rombongan anak sekolah. hhh

Balas
Harmansyah 13 Juni 2020 - 22:50

Sayang juga yah peninggalan yang cukup bersejarah gitu tidak terlalu diperhatikan oleh pemerintah setempat dan lagi anak-anak mudanya kurang begitu berminat tentang sejarah wilayah tempat tinggal mereka.

Balas
Ainun 13 Juni 2020 - 22:50

sayang sekali ya mba lantai dua bisa sepi begini, aku kayaknya nggak kesana kalo sendirian, mending rame rame juga, lahh membayangkan ruangan segitu dengan 2 orang pengunjung dan suasana sepi sunyi senyap, macam krik krik nanti
padahal kalo diamati kayaknya koleksinya bagus dan dari sini bisa dapet ilmu baru.
mungkin saking sepinya pengunjung, lantainya jarang disapu ya

Balas
Ella Fitria 13 Juni 2020 - 13:13

iya mbak diah, sedih padahal tempat sekeren ini tp lantai duanya terlihat kurang terawat, 🙁

Balas
Dyah 13 Juni 2020 - 03:48

Saya belum pernah ke Museum Ranggawarsita. Boleh juga nih jadi tujuan wisata setelah masa pandemi selesai. Tempatnya berdebu dan nampak kurang terawat? Yah … itulah salah satu gambaran umum museum di Indonesia. Mungkin karena kurang ada kesadaran dari pemerintah untuk menjaga warisan budaya ya … Atau karena memang masih banyak kebutuhan lain yang menjadi prioritas negara.

Balas
Ella Fitria 13 Juni 2020 - 01:36

aamiin mbak Rey, semoga pandemi segera usai biar bisa jalan2 lagi 😀

Balas
Ella Fitria 13 Juni 2020 - 01:35

iya mas, mungkin orang2 skrg lebih suka liburan yg memacu adrenalin drpd liburan sejarah begini, hhh
rasanya di lantai atas berdua aja serem nggak ketulungan 🙁 apalagi sendiri, nggak bisa bayangin

Balas
1 2

Beri Komentar

%d blogger menyukai ini: