Yuk! Hidupkan Dongeng dengan Cerita Bergambar dari Let’s Read

oleh Ella Fitria

Beberapa hari lalu timeline ku dipenuhi oleh meme yang berisi sentilan-sentilan seputar perbedaan orang tua “bijaksana” dengan orang tua “biasa” dalam mendidik anak. Aku tersenyum, saat membaca satu dua meme karena sangat relate dengan pola asuh di lingkunganku. Memang nggak mudah menjadi orang tua “bijaksana” ya? Harus banyak belajar ilmu parenting supaya bisa masuk ke dunia anak dan memiliki kedekatan emosional serta dapat menerapkan pola asuh yang tepat.

Sebenarnya pola asuh yang tepat seperti apa sih? Menurutku pola asuh yang tepat adalah pola asuh yang nggak merampas hak anak. Kedengarannya sadis nggak sih? Merampas hak anak? Tapi tanpa sadar, banyak orang tua yang nggak memenuhi hak-hak anak terlepas dari berbagai faktor yang menghambatnya. 

Sudahkah Memenuhi Hak-hak Anak Secara Mutlak?

Ilustrasi Anak yang Tidak Memperoleh Haknya atas Perhatian dan Kasih Sayang

Memang aku belum berkeluarga dan belum memiliki anak, tetapi 3 tahun terakhir ini aku menghabiskan waktu lebih lama dengan anak-anak. Adanya pandemi membuat kami berpisah karena pembelajaran yang semula tatap muka dari pukul 07.00-14.00 WIB saat ini hanya bisa berinteraksi secara online. Kangen, sungguh kangen sekali. 

Banyak cerita yang aku dapatkan dari kepolosan anak-anak mengenai kehidupan di rumahnya. Memang, latar belakang orang tua sangat mempengaruhi pola asuh. Terlepas dari bagaimana para orang tua mendidik anaknya. Aku masih ingat betul, di suatu pagi setibanya aku di sekolah, dari kejauhan salah satu anak berlari menghampiriku. Ia masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar di mana aku menjadi wali kelasnya.

Bu… Bu… Assalamu’alaikum?”. (Ucapnya Sambil berjabat tangan dan mencium tanganku.)

Wa’alaikumsalam.. Ada apa ya, Mas? Pagi-pagi sudah lari-lari?”. (Jawabku terheran-heran.)

Anu bu, anu. Aku mau cerita tugas diskusi dengan orang tua yang bu guru kasih kemarin. Aku mau cerita sekarang, soalnya sudah kesal banget sama mama. Aku cerita ke mama persis seperti yang bu guru bilang, kalau batu bara tuh terbentuk dari endapan organik, pembentukan batu bara juga membutuhkan waktu ratusan tahun, bla bla bla. Bu guru tahu bagaimana tanggapan mamaku? Kata mama tuh nggak penting, toh mama nggak pakai batu bara. Abis itu, mama pergi begitu saja.” (Suaranya melirih di akhir cerita).

Wah iya, nggak apa-apa, Mas. Terima kasih sudah melaksanakan tugas dari Bu Guru ya. (Buru-buru aku menanggapinya).

Bayangkan, seorang anak yang sedang bersemangat mengeksplorasi pengetahuannya namun sebagian orang tua dengan mudah mengabaikannya. Boro-boro mau menanggapi ceritanya, mendengarkan cerita anak saja enggan. Kapan anak-anak akan mendapatkan haknya secara utuh? Bukan hanya materi yang anak butuhkan, melainkan kasih sayang dan perhatian juga diperlukan. 

Hak-hak Anak yang Harus Dipenuhi

Berkaca dari cerita di atas, sebagian orang tua masih saja tak memberikan hak anak secara utuh. Bahkan hanya menuntut anaknya untuk bisa ini dan itu. Nah mumpung lagi ngomongin hak anak, sebenarnya apa saja sih hak-hak anak yang harus dipenuhi? Menurutku ada dua hak anak yang sangat krusial yakni hak untuk mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang layak.

Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dan Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas UU Nomor 23 tentang Perlindungan Anak, perlindungan anak berasaskan Pancasila dan berlandaskan Undang-Undang Dasar 1945 serta prinsip-prinsip dasar konvensi Hak-Hak Anak meliputi:

Prinsip – prinsip dasar konvensi hak-hak anak

  1. Non-diskriminasi
  2. Kepentingan yang terbaik bagi anak
  3. Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan
  4. Penghargaan terhadap pendapat anak 

Hayo, sudahkah kita memenuhi hak-hak anak? Setiap tahun, peringatan Hari Anak Nasional seakan menjadi alarm untuk mengingatkan kita terhadap pemenuhan hak anak. Kebetulan tahun ini peringatan Hari Anak Nasional mengusung tagline ‘Gembira di Rumah’, mengingat kondisi pandemi Covid-19 yang mengharuskan kita untuk di rumah saja, termasuk proses belajar mengajar yang dilaksanakan secara daring. Kerjasama orang tua, guru, dan siswa sangat perlukan untuk menunjang keberhasilan pendidikan di masa pandemi ini dengan tetap gembira di rumah. 

Terlepas dari berbagai macam hak-hak anak yang harus dipenuhi, sudah sepatutnya orang tua well educated dan secara sadar memenuhi hak-hak anak secara utuh. Barangkali adanya pandemi ini membuat orang tua memiliki banyak waktu untuk lebih dekat dalam mendampingi kegiatan anak-anak di rumah. Semoga ya.

Tunjang Pendidikan Anak Melalui Budaya Literasi

Adik kecil yang sejak dini aku kenalkan budaya literasi membaca

Salah satu hak anak yang nggak kalah penting adalah mendapat pendidikan yang layak. Pendidikan erat kaitannya dengan dunia literasi bukan? Aku sepakat banget dengan slogan “buku adalah jendela dunia”. Memang terdengar klise, tapi buatku membaca buku menjadi terapi ampuh. Manfaat membaca buku bagi anak-anak pun sangat banyak, mulai dari merangsang kepekaan, dapat melatih kemampuan berpikir, meningkatkan pengetahuan dan wawasan, menambah perbendaharaan kosa kata, mengasah empati, dll.

Di era digital ini semakin banyak layanan penyedia “buku” digital yang bisa diakses siapa saja dan kapan saja. Buku bukan terbatas hanya berbentuk lembaran dan berwujud. Seperti inovasi Let’s Read ini yang menyediakan bahan bacaan anak digital dengan ratusan cerita bergambar. Dengan membangun pola kebiasaan budaya yang literasi, orang tua setidaknya telah berusaha dalam pemenuhan hak-hak anak dalam pendidikan.

Sama halnya penelitian The World’s Most Litarete Nations (WMLN) pernah merilis daftar panjang Negara dengan peringkat literasi di seluruh dunia. Hasil penelitian ini menempatkan Finlandia sebagai Negara paling literat. Pun Finlandia merupakan salah satu negara dengan pendidikan termaju, maka nggak bisa dipungkiri jika semua orang memiliki pola kebiasaan budaya membaca otomatis pendidikan kita akan lebih baik. 

Ciptakan Kebiasaan Membaca dengan Cerita Bergambar

Nggak tahu kenapa ya, tiap kali melihat teman-temanku di media sosial mengenalkan buku-buku kepada anaknya meskipun si anak masih balita sekalipun, aku ikutan senang. Rasanya bangga banget, karena semakin banyak orang tua yang peduli dan paham mengenai hak-hak anak. Ya meski di daerahku masih sangat jarang orang tua yang demikian.

Aku juga pernah menuliskan berbagai faktor yang mempengaruhi rendahnya minat baca anak di daerahku, salah satu faktornya karena minimnya kesadaran orang tua untuk menyediakan bahan bacaan (buku) anak. Maklumlah kami hanya tinggal di desa yang jauh dari toko buku, pun faktor ekonomi juga sangat berpengaruh. Makanya saat aku mengenal aplikasi Let’s Read pertengahan tahun 2020, aku langsung mengshare link unduh aplikasi Let’s Read di facebook, ternyata beberapa orang tua di daerahku menanggapi positif dan antusias banget langsung mengunduh aplikasi tersebut untuk anaknya. Semakin senang aku tuh!

Untuk membiasakan anak ‘mau’ membaca memang diperlukan kesabaran dan strategi yang tepat supaya anak nggak merasa dijadikan ‘obyek’. Salah satunya dengan mendongeng. Nah berikut beberapa cara sederhana untuk menghidupkan dongeng dengan cerita bergambar:

Cara Sederhana Menghidupkan Dongeng dengan Cerita Bergambar

  • Pertama, sediakan bahan bacaan cerita bergambar yang disesuaikan dengan minat atau kesukaan si anak. 
  • Kedua, sempatkan untuk menemani anak saat kegiatan membaca, atau jika anak belum bisa membaca, orang tua dapat membantu membacakan dengan cara mendongeng. Nah supaya anak semakin tertarik, mainkan intonasi saat mendongeng seperti mengganti intonasi di setiap tokoh yang berbeda. 
  • Ketiga, selain mendongeng atau sekadar mendampingi anak ketika membaca usahakan berikan stimulus kepada anak. Misalnya bisa dengan mengajak anak untuk mengamati gambar-gambar yang ada di dalam cerita tersebut.
  • Keempat, ajak anak untuk berdiskusi setelah membaca / mendengarkan dongeng melalui cerita bergambar. Menurutku, pembiasaan membaca menyenangkan ini nggak harus lama kok, asal konsisten setiap hari pasti anak-anak akan ketagihan dan ingin mengeksplore dongeng yang lain.

Pengalaman Menggunakan Let’s Read untuk Menghidupkan Dongeng

Aplikasi Let’s Read ini ibarat dewa penyelamat untukku, adikku, dan anak-anak bimbelku. Bagaimana nggak dewa? Let’s Read menjadi solusiku saat anak-anak merasa bosan membaca buku paket dari sekolah. Yap! Meski pandemi, bimbelku tetap berjalan seperti biasa, namun tetap menerapkan protokol kesehatan dan membatasi jumlah anak setiap harinya. 

Let’s Read menyediakan cerita bergambar yang cukup lengkap, malah menurutku lengkap banget karena cerita-ceritanya sudah disesuaikan dengan tingkatan. Pun pilihan labelnya banyak sehingga bisa disesuaikan dengan jenis cerita yang disukai oleh anak. Akhir tahun lalu sebelum bimbel libur, aku mengajak anak-anak untuk menghidupkan dongeng melalui cerita bergambar dari aplikasi Let’s Read. 

Menceritakan Dongeng Let’s Read melalui media Proyektor

Sontak, mereka langsung antusias saat layar proyektor berubah menjadi cerita bergambar karena anak-anak memang cenderung menyukai dan lebih tertarik dengan cerita bergambar daripada buku cerita polosan tanpa gambar. Aku menyajikan 3 judul dongeng dengan label yang sudah aku sesuaikan terhadap minat anak-anak bimbelku, di antaranya:

Beberapa Cerita Bergambar dari Let’s Read

Kumpulan Awan Sampah

Judul cerita Kumpulan Awan Sampah merupakan cerita yang memiliki label science, adventure, nature, serta animals. Cerita ini mengajarkan anak untuk menjaga kebersihan dengan cara membuang sampah di tempat sampah. Dalam Kumpulan Awan Sampah digambarkan dengan sekumpulan awan sampah menggantung di atas kepala Cheekoo sehingga membuatnya menjadi gadis paling nggak bahagia di dunia akibat kelakuannya.

Kucing Kubus, Kucing Kerucut

Kalau cerita bergambar dengan judul Kucing Kubus memiliki tingkat kesulitan 2. Cerita ini mengajak anak-anak untuk mengenal beragam bentuk-bentuk benda. Dengan tetap mengangkat tokoh kucing serta benda-benda yang ada di sekitar kita akan membuat anak semakin antusias dalam mengenal bentuk benda.

Penjelajahan Tiwi dan Boni

Cerita ini memiliki tingkat kesulitan baca 3 dengan label science, adventure, problem solving, animals, mighty girls, family & friendship, critical thinking. Penjelajahan Tiwi dan Boni menceritakan penjelajah antariksa dengan misi menemukan sebuah planet. Di cerita bergambar ini seakan anak-anak diajak untuk bertualang dan memecahkan masalah yang dihadapinya.

***

Antusias anak-anak saat mendengarkan dongeng dan saling berdiskusi

Satu persatu aku membacakan cerita bergambar dari aplikasi Let’s Read. Sambil ku perhatikan raut wajah anak-anak yang tertutup masker, bola matanya sangat serius menatap layar proyektor, pun mendengarkan suaraku dengan penuh khidmat. Sesekali ada satu dua anak yang bertanya penasaran mengenai gambar dan cerita yang ia dengar.

Buatku menghidupkan dongeng melalui cerita bergambar nggak sulit kok, nah berikut ini aku akan berbagi hal-hal apa saja yang bisa menghidupkan dongeng melalui cerita bergambar:

  • Manfaatkan buku cerita bergambar untuk mendongeng, sehingga anak bisa mengamati gambar dan juga mendengarkan suara kita. Jika nggak ada buku cerita bergambar, manfaatkan aplikasi Let’s Read yang bisa diakses secara gratis kapan pun dan dimana pun.
  • Perhatikan improvisasi intonasi supaya anak nggak merasa bosan. Pastikan ketika mendongeng dengan intonasi yang mengikuti alur cerita kapan saat suara lembut, keras, atau tegas. Oya, jika anak menginginkan membaca sendiri, pastikan didampingi dan ajak diskusi mengenai isi dongeng tersebut. Kita juga bisa mengimprovisasi prabaca dengan bernyanyi terlebih dahulu untuk menarik perhatian anak.
  • Padukan gerakan tubuh saat mendongeng supaya isi dongeng tersampaikan dengan baik. Meskipun mendongeng dengan cerita bergambar, namun nggak ada salahnya kita tetap menggunakan gerakan tangan, kaki, atau anggota tubuh lainnya saat menirukan tokoh atau menyesuaikan alur cerita. 
  • Nah yang nggak kalah penting dalam menghidupkan mendongeng dengan cerita bergambar adalah menyesuaikan cerita dengan minat dan umur anak. Biasanya untuk anak umur 3-8 tahun cenderung menyukai cerita yang ringan dengan penokohan hewan, tumbuhan, dan beda-beda yang berbicara. Sedangkan untuk anak usia 8-12 tahun biasanya cenderung menyukai cerita tentang tokoh sejarah yang menampilkan kepahlawanan.

Manfaat Mendongeng dengan Cerita Bergambar bagi Anak

Jujur, dulu saat aku masih duduk di bangku kuliah rasanya skeptis banget saat mendengar dosenku berkali-kali membahas pentingnya menstimulus anak sejak dini dengan mendongeng. Bagaimana nggak skeptis, wong dari kecil aku nggak pernah mendengarkan dongeng dari orang tuaku atau dari saudara-saudaraku. Tapi ternyata ada banyak manfaat mendongeng untuk anak, nah apa saja manfaatnya? Yuk disimak!

Manfaat mendongeng dengan cerita bergambar bagi anak

Menumbuhkan Kebiasaan Membaca

Kata siapa minat baca anak Indonesia rendah? Menurutku bukan minat bacanya yang rendah, tetapi karena berbagai faktor yang mempengaruhinya. Salah satunya rendahnya kesadaran orang tua dan keterbatasan akses buku-buku anak. Lagi-lagi apakah hak anak sudah bisa kita penuhi seutuhnya? Jangan-jangan kita hanya sibuk dengan pekerjaan kita sendiri. 

Saat ini untuk menyediakan buku cerita bergambar nggak harus mahal kok, malah gratis tinggal download aplikasinya saja, pun nggak harus berjam-jam untuk membacakan dongeng kepada anak, karena satu cerita di aplikasi Let’s Read hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menitan saja. 

Aku yakin, kalau sejak kecil anak sudah dibiasakan mendengarkan dongeng dengan cerita bergambar, lama kelamaan dengan sendirinya si anak akan ketagihan dan tertarik untuk melakukan aktivitas membaca terlebih jika si anak sudah mandiri dalam membaca. 

Sarana untuk Mengekspresikan Diri

Kegiatan mendongeng dapat melatih anak untuk belajar bagaimana cara menghadapi hal baru yang ditemuinya karena biasanya dongeng menyajikan alur cerita yang mengandung konflik dan bagaimana cara menghadapi serta menyelesaikan konflik tersebut. Hal ini akan membantu anak dalam mengekspresikan diri, pun secara nggak langsung akan membuat anak percaya diri dan nggak takut untuk melakukan hal-hal baru. 

Selain itu, dengan mendongeng akan membantu daya imajinasi anak. Nah bagi anak-anak, daya imajinasi sangat bermanfaat karena berguna untuk memunculkan bakat, mampu berpikir kreatif, pintar dalam menganalisis, mandiri, membantunya untuk terampil berkomunikasi dan bersosialisasi, memperkaya wawasan, dan lebih percaya diri.

Sebagai Sarana Stimulus

Pernah nggak sih teman-teman ditanya bertubi-tubi oleh seorang anak mengenai banyak hal yang kadang orang dewasa pun bingung untuk menjawabnya? Aku sering banget, karena aku memiliki adik usia anak-anak. Di masa anak-anak ini sering kali tingkat keponya tinggi banget. Apa pun yang dilihat dan didengar selalu ditanyakan. Makanya repot banget kalau seorang anak melihat dan mendengarkan hal-hal yang kurang baik. 

Ada baiknya orang tua telaten memberikan stimulus dengan dongeng dan cerita bergambar. Supaya rasa keingintahuan anak seputar hal-hal positif. Dengan menyajikan dongeng dan cerita bergambar secara continue, bisa membantu anak untuk berpikir logis dan kritis.

Meningkatkan Kemampuan Komunikasi

Tanpa sadar jika kita rutin mendongeng membantu perbendaharaan kosa kata si anak loh. Dengan begitu, akan turut membantu kemampuan komunikasinya. Seperti bagaimana cara menyusun kata, pelafalan, dan penggunaannya dalam percakapan sehari-hari. Apalagi jika kita memilih dongeng yang menceritakan aktivitas sehari-hari atau kegiatan yang sering dilakukan oleh anak. Otomatis akan membuat anak menjadi lebih mudah menyerap tutur kata yang sopan. Selain itu, perkembangan linguistik anak yang sering dibacakan dongeng lebih meningkat dibandingkan anak yang nggak pernah mendengarkan dongeng.

Membangun Ikatan Orang Tua dan Anak

Dari kegiatan mendongeng bersama anak, maka bounding antara orang tua (ayah, ibu) dan anak akan terjalin dengan baik. Selain itu, aktivitas mendongeng dapat menjadi quality time terlebih di masa pandemi ini. Aktivitas mendongeng ini bisa menjadi sarana ayah dan ibu untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kemampuan anak terutama dalam hal berpikir. 

Temukan Ratusan Dongeng Cerita Bergambar di Aplikasi Let’s Read

Aplikasi Let’s Read dapat diunduh di Play Store

Dengan aplikasi Let’s Read, nggak ada alasan lagi kalau kita nggak bisa mendongeng dikarenakan ketersediaan bahan dongeng yang minim atau karena nggak ada bakat mendongeng. Aku yakin sih, semua orang tua sebenarnya mampu mendongeng dengan cerita bergambar, apalagi adanya aplikasi Let’s Read ini sangat membantu orang tua dalam menghidupkan dongeng dengan cerita bergambar.

Seperti yang sudah aku bilang, kalau Let’s Read ini merupakan perpustakaan digital yang fokus menyediakan ratusan cerita bergambar mulai dari seni, budaya dan pendidikan. Menurutku aplikasi Let’s Read menjadi salah satu inovasi digital yang mampu menjembatani keterbatasan akses buku fisik. Pun menurutku, Let’s Read bisa menjadi salah satu usaha orang tua dalam memenuhi hak anak khususnya di bidang pendidikan.

Fitur – fitur Let’s Read

Keunggulan perpustakaan digital ini bukan main-main, karena cukup dengan mengunduh aplikasi Let’s Read bisa diakses siapa pun, kapan pun, dan dimana pun, asalkan terkoneksi dengan jaringan internet. Tapi nggak perlu khawatir jika nggak tersedia jaringan internet karena kita tetap bisa mendongeng dengan cerita bergambar dari Let’s Read asalkan cerita tersebut sudah kita unduh. Pilihan bahasanya pun beragam, ada sekitar 44 bahasa yang tersedia loh. Sementara itu, kita juga bisa memilih level tingkat kesulitan, dan label/topik bacaan.

Harapanku semoga nggak ada lagi kisah-kisah perlakuan orang tua yang merampas hak-hak anak. Pun semoga di era digital ini semakin banyak orang tua yang paham bagaimana memberikan hak-hak anak termasuk dalam proses pendidikan daring yang saat ini diberlakukan. Aku percaya nggak semua orang tua seperti cerita di atas, pun aku meyakini banyak orang tua milenial yang pelan-pelan memenuhi hak-hak anak secara utuh. 

Yuk, memanfaatkan momen Hari Anak Nasional untuk menularkan kebiasaan membaca sejak dini, dimulai dari lingkup keluarga, supaya momen Hari Anak Nasional bukan hanya sekadar momen saja, melainkan dapat menumbuhkan kesadaran para orang tua dalam memenuhi hak-hak anak salah satunya memberikan perlindungan dan pendidikan yang layak. Mari penuhi hak anak salah satunya dengan menyediakan bahan bacaan, tinggal download aplikasi Let’s Read saja di play store atau bisa klik tautan berikut ini https://bit.ly/downloadLR3. Semoga, Gerakan Indonesia Cinta Membaca makin menggelora. Aamiin 

Sumber:

Let’s Read Indonesia

Pengalaman Pribadi

https://www.ibudanbalita.com/artikel/7-manfaat-memberikan-cerita-bergambar-pada-si-kecil

Infografis dan video : Ella Fitria

Raw Source: Freepik

Ella Fitria

You may also like

0 komentar

Ella Fitria 27 Januari 2021 - 04:01

ahaha, silakan pak Guru.. cerita yang ada di aplikasi Let's Read ini menyenangkan kok, fun, nggak susah dipahami anak 🙂

Balas
Ella Fitria 27 Januari 2021 - 03:59

hehe, iya mbak Dewi.. kebetulan anak2 suka kalau melihat layar proyektor.. karena disini masih menjadi hal langka 🙂

Balas
Ella Fitria 27 Januari 2021 - 03:58

iya kak Bayu, bisa dijadikan bahan mendongeng oleh ortu.. nggak ada alasan lagi susah mendapat bahan dongeng 😀 ya kan app Let's Read ini bisa diakses gratis, kapan pun, dan dimanapun

Balas
Ella Fitria 27 Januari 2021 - 03:57

betul sekali, Kak Marfa.. dulu aku merasakan susah sekali mendapatkan buku bacaan saat kecil. boro2 buku bacaan, buku paket sekolah saja dipinjami 1 buku untuk 3 anak. hhhh
nah pas gede gini auto seneng banget bisa mendapatkan buku apapun yg aku mau, pun pas kenal app Let's Read langsung ku share2 ke grup kelas dan grup keluarga biar nggak ada anak yang merasakan sepertiku dulu 😀

Balas
1 2 3 4

Beri Komentar

%d blogger menyukai ini: